ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEBENARAN


__ADS_3

Malam ini, di bawah air terjun, tepat di tengah arus ada sebuah batu besar. Tampak lelaki tua bersama Cucunya tengah duduk bersebelahan dibatas batu tersebut, mereka membicarakan tentang kebenaran tentang mahluk sebelah.


"Jadi begini, Dar, golongan Jin itu bisa digolongkan menjadi macam-macam, sedangkan yang merasuki dirimu itu salah satu Jin Syabru, atau sering di sebut Qorin, dia sudah menemani leluhur kamu dari dia lahir, dia yang selalu menghasut sampai akhir hayat Eyang kamu, meski mungkin dia tidak berhasil menggoda. Namun meski begitu, Eyang kamu tidak membenci Jin itu, dia malah memberinya tugas untuk memilah kelayakan keturunannya dan juga menjaga tempat ini. Di sini Eyang kamu dulu selalu duduk menyendiri untuk ber-tahannuts, dan batu ini adalah tempat favorit miliknya," ucap Si Mbah sedikit berbisik.


"Lalu, Mbah. Apa hubungannya dengan kedua kakek penghuni cincin dan kalungku?" tanya Darto penasaran. Sama dengan Si Mbah, Darto juga berbicara dengan sedikit berbisik.


"Mereka berdua itu bisa kita sebut Khodam, Dar. Mereka sangat dekat dengan Eyang kamu dulu," ucap Si Mbah terhenti, dia membanting pandangannya ke arah perhiasan Darto tergeletak, lalu kembali memajukan bibirnya hingga hampir menempel pada daun telinga Cucunya.


"Kita tidak boleh percaya dengan golongan Jin, mereka tidak mungkin membantu manusia tanpa mengharapkan imbalan. Ingat, Dar, tidak ada satupun Jin yang sudi dikuasai manusia," bisik Si Mbah tepat di depan telinga Darto, kemudian menarik wajahnya sedikit menjauh setelah selesai mengucap kata tersebut.


Mendengar Bisikan Si Mbah, wajah Darto seketika memasang wajah bimbang. Di satu sisi dia sudah terlalu percaya dengan Kakek Sastro serta Wajana yang selalu menolongnya, dan di satu sisi lainnya dia lebih percaya dengan ucapan Si Mbah kandung miliknya.


"Lalu? apa tujuan kita datang kesini Mbah? jika kita tidak boleh meminta bantuan dari mereka?" tanya Darto sedikit memasang wajah serius.


"Di sini kamu di uji, Dar. Kamu harus mendapat pengakuan dari Qorin yang menunggu tempat ini, agar benda yang melekat di tubuhmu bisa jadi milikmu, ditambah ada satu benda lagi yang harus berhasil kamu bawa pulang," kembali simbah membuka suara, namun kali ini dia mengatakannya dengan lantang, tidak lagi berbisik.


"Uji? Benda?" Darto kembali mengernyitkan dahi di wajahnya.


"Nanti kamu juga tau sendiri. Sebelum mulai ada yang ingin Si Mbah ajarkan, ini di ajarkan langsung oleh Bapak Si Mbah. sebelum kamu melakukan ujian kamu harus menguasai ini," ucap Si Mbah sembari menyodorkan tangan miliknya.


Melihat Si Mbah menyodorkan tangannya, Darto langsung meraih dan menjabat tangan itu. Setelah cukup lama bersalaman simbah menatap tajam mata cucu di depannya.

__ADS_1


"Kamu ingat? keris yang di pinjamkan Wajana?" tanya Si Mbah yang hanya mendapat jawaban anggukan kepala Darto.


"Keris itu mempan di tubuh mahluk halus karena dia membaluti keris itu dengan energi hitam miliknya Dar. Sekarang coba kamu rasakan energi yang simbah alirkan di tangan kita," ucap Si Mbah kemudian memejamkan mata.


"Aduh!" teriak Darto sembari menarik tangan miliknya dari genggaman Si Mbah.


"Kenapa bisa panas sekali Mbah?!" ucap Darto sembari melihat tangan miliknya. Untuk sesaat Darto benar-benar merasakan tangannya terbakar, ketika cahaya putih keluar dari tangan Mbah Turahmin.


"Bukan Hanya Jin yang bisa membalut benda dengan energi, Dar. Kamu juga harus Bisa," ucap Si Mbah kemudian berdiri, dan pindah posisi duduk membelakangi cucunya.


"Cepat kamu ambil posisi sila, pejamkan matamu, kosongkan pikiranmu, Dar," ucap Si Mbah sembari menempelkan telapak tangan miliknya di punggung Darto.


"Buka matamu, Dar," ucap Mbah Turahmin sembari menyeka keringat di pelipisnya. Di malam sedingin ini, wajah kedua lelaki itu benar-benar basah kuyup dibanjiri keringat.


"Jadi begi Mbah caranya?" ucap Darto sembari memperhatikan tangan kanan miliknya yang kini memancarkan cahaya putih.


"Ha ha ha ha ha! mungkin benar kamu yang di tunggu leluhur kita! padahal belum Si Mbah ajarkan caranya, tapi kamu sudah bisa sendiri, Ha ha ha ha!" Mbah Turahmin heran hingga terkekeh di buatnya, dia sungguh tidak percaya, Cucunya bisa meniru apa yang ia lakukan hanya dengan sekali lihat.


Mendengar ucapan Si Mbah, senyum di bibir Darto langsung merekah. Dia benar-benar senang dengan pujian yang Si Mbah berikan.


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Mbah?" tanya Darto singkat.

__ADS_1


"Mulai sekarang, kamu duduk saja di sini, gunakan kekuatan itu untuk kebajikan, Dar. pejamkan saja matamu, mintalah pertolongan dari yang maha kuasa untuk kelancaran segala urusanmu," ucap Si Mbah kemudian berdiri.


"Dar, semoga kamu berhasil," kembali Si Mbah membuka suara, tatapannya sendu, dan kemudian membalik badan miliknya.


"Si Mbah mau kemana?" Darto kembali mengernyitkan Dahi di wajahnya.


"Si Mbah tunggu kamu di seberang kali. Ingat, Dar. Alangkah lebih baik jika kamu terus melantunkan 99 nama Yang Maha Kuasa sembari berdiam diri," sambung Si Mbah kemudian melompat ke dalam air. Dia berangsur menepi, meninggalkan cucunya sendiri di atas batu.


Melihat Si Mbah yang sudah tidak bisa digapai matanya lagi karena gelap, Darto bergegas menutup matanya. Dia duduk bersila sembari terus mengucap Asmaul Husna. Detik demi detik, menit demi menit hingga berjam-jam lamanya Darto terus berdiam diri, Tidak ada yang terjadi hingga waktu sahur sudah menyapa.


Tampak dari kejauhan Mbah Turahmin yang sepanjang malam terus menengok cucunya mulai memanggil. Dia melambaikan tangan kepada cucunya, kemudian menghampiri cucunya dengan sebuah barang di tangannya.


"Sahur dulu, Dar. Sepertinya kamu belum dipersilahkan," ucap Mbah turahmin sembari menyodorkan makanan dan jam tangan ke atas batu. Kemudian naik dan duduk di samping cucunya.


Mereka berdua melakukan ibadah sahur bersama, Si Mbah sudah menyanggupi akan berpuasa juga selama Darto di sini. Karena Si Mbah juga sedikit takut jika bekal yang dia bawa tidak cukup mencukupi kebutuhannya. Dengan sigap kedua lelaki itu membabat makanan di atas rantang yang mereka bawa dari pesantren. Tanpa menunggu lama, batang demi batang rokok pun sudah habis mereka hisap, hingga akhirnya mereka menunaikan shalat subuh setelah Si Mbah mengumandangkan adzan dari atas batu.


"Sekarang kamu bisa lanjut lagi, Dar. Semoga sekarang berhasil," ucap Si Mbah kembali melompat dari atas batu, dan kembali meninggalkan cucunya sendiri bersila di sana.


Bersambung,-


...berhubung hari senin, jangan lupa pada up vote ya 😆...

__ADS_1


__ADS_2