ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
EMPAT


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang kita hadapi kali ini, Jak?" tanya Darto sembari mengacak kasar rambut Jaka.


"Cermin, Kang!" jawab Jaka antusias.


Setelah mengucap kata tersebut, Jaka menceritakan setiap kejadian yang dirinya alami, dari ketika dirinya menghisap kekuatan bayangan, hingga dia berhasil menghisap kekuatan cermin setelah melawan ribuan bayangan.


Semua teman Jaka langsung memasang ekspresi lega pada wajah mereka. Terutama Darto, dia langsung merangkul pundak Jaka sembari berkata, "Benar, kan? Kamu itu sebenarnya hebat, Jak. Asalkan tidak gegabah."


Jaka langsung tersenyum lebar, dia bagaikan seorang yang masih pubertas, yang selalu melambung ketika mendengar sebuah pujian.


Melihat wajah bahagia Jaka, semua temannya benar-benar terbahak, mereka mengejek dan meniru ekspresi Jaka sembari melangkah meninggalkan kamar nomor lima.


Tanpa terasa langkah kaki mereka sudah sampai pada pintu tujuan mereka, kali ini Darto dan lima kawannya sudah berdiri tepat di depan pintu nomor empat.


Sebelum membukanya Darto sempat menoleh ke arah singgasana, dari tempatnya berdiri dia hanya bisa melihat kursi besar yang terbuat dari tulang, namun tidak untuk pemiliknya.


"Belum saatnya, Dar... Aku tahu kamu ingin cepat ke tempat itu. Tapi jika Brahmana benar, kita bisa menghadapi lima mahluk sekaligus jika langsung ke sana," ucap Maung setelah melihat Darto memandangi kursi singgasana.


"Benar, Maung... Semoga tempat ini tidak merepotkan," jawab Darto sembari menatap Maung.


Sejurus kemudian Darto memalingkan pandangannya, dia kembali menatap pintu, sembari memutar gagang yang sudah dirinya pegang.


Pintu kembali terbuka, dan pemandangan yang tampak dari depan pintu sungguh berbeda dengan 19 pintu yang sudah Darto dan temannya masuki.


Dari depan pintu, tampak jelas sebuah gubuk lapuk yang berukuran kecil berdiri miring di dalam kamar.


Hanya itu satu-satunya bangunan yang bisa disaksikan oleh Darto dan lima temannya, tidak ada benda lain, maupun bangunan lainnya.


Bahkan tanah saja tidak ada, gubuk di depan kamar tersebut benar-benar tampak seperti mengambang di udara.


Darto bahkan sempat ragu untuk melangkah masuk, karena dia tidak melihat lantai yang bisa dijadikan pijakan ketika melangkah menuju gubuk.


Selain gubuk reyot, segala sesuatu yang tampak di tempat tersebut hanyalah warna putih, sama persis dengan tempat dimana Darto mendapatkan warisan energi di dalam tasbih milik Eyang Darma.


Namun Darto yang tidak memiliki pilihan saat itu memberanikan diri untuk memasukkan salah satu kakinya.


Dia mencoba memastikan apakah kakinya bisa menapak atau tidak, dan untungnya kakinya terasa menyentuh sesuatu, meski itu tidak kelihatan.


"Kita bisa jalan di sini," ucap Darto sembari melangkah maju kemudian sedikit melompat kecil.

__ADS_1


Kelima temannya langsung mengangguk, mereka mengikuti langkah Darto tanpa ragu-ragu, dan memasuki kamar nomor empat secara bergantian.


Hal yang sama kembali terjadi seperti pintu nomor lima. Pintu yang baru saja dilewati, tiba-tiba saja menutup dengan sangat kencang.


Suara pintu terdengar bagai bantingan, yang menandakan jika pemilik kamar sudah menunggu dan tidak suka dengan kedatangan enam orang asing tersebut.


Enam pria itu sontak menoleh ke belakang kembali, mereka menatap ke arah pintu setelah mendengar suara keras, dan mereka kembali mendapati jika pintu yang semula mereka gunakan sudah menghilang.


"Cermin lagi? Biar aku yang urus kalau begitu," ucap Jaka mencoba memberi masukan.


"Ingat, Jak... Jangan gegabah," tolak Darto sembari menahan tubuh Jaka yang hendak melangkah maju.


Darto benar-benar waspada kala itu, dia masih merasa sedikit terganggu, dengan tampilan di dalam kamar tersebut.


"Biar aku yang maju dulu, Dar," ucap Sastro.


Darto langsung mengangguk kala itu, dia membiarkan Sastro memimpin jalan sembari menyebarkan energi ke seluruh tubuhnya.


Darto sangat percaya dengan kemampuan Sastro yang bisa menahan setiap serangan, mengingat serangan gabungan yang pernah dirinya lancarkan bersama Jaka, bisa Sastro tahan hanya dengan sedikit saja energi mikiknya.


Selangkah demi selangkah Sastro terus menjauh, dia tidak memiliki masalah di dalam perjalanan, hingga semua orang langsung merasa aman setelahnya.


Melihat Sastro baik-baik saja sampai di depan gubuk, lima temannya bergegas mengikuti setiap langkah Sastro.


Jika dilihat dari jauh, lima pria yang tersisa benar-benar tampak seperti tengah melayang, mereka bagai berjalan di udara, dan tidak menggunakan pijakan sama sekali.


Ketika lima teman Sastro hampir sampai pada tempatnya berdiri, empat pria mengalami satu hal yang sangat mengejutkan.


Darto, Jaka, Wajana dan Komang tiba-tiba terjerembab, mereka berempat bagai jatuh dari ketinggian dan terus-menerus terjun bebas hingga tubuh mereka tidak terlihat lagi dari tempat Sastro dan dan Maung yang sedang kebingungan.


Tepat ketika mereka terjerembab, Darto yang sudah tahu bahwa itu adalah jebakan, dia sempat berteriak kepada Maung dan Sastro yang baik-baik saja di atas sana.


Dengan sekuat tenaga Darto mengucapkan sebuah kalimat di sela ketiga temannya yang sedang berteriak karena terkejut.


Saat itu Darto berkata, "Maung! Sastro! Kalian pasti bisa! Biar kami yang urus musuh dibawah kalau ada!"


Sastro dan Maung tidak menjawab, mereka hanya mengangguk sembari terkekeh, kemudian kembali melangkah menuju ke depan pintu gubuk.


"Kamu yakin mereka baik-baik saja? Apa perlu salah satu dari kita menyusul mereka?" Ucap Sastro sedikit khawatir, dia bertanya pada Maung, tepat sebelum tangannya membuka pintu.

__ADS_1


"Memang kau pikir siapa yang kamu khawatirkan, Sas?" jawab Maung mengejek, dia mendekat ke arah pintu, dan mendahului Sastro untuk membuka pintunya.


Tepat setelah pintu terbuka, Maung kembali berkata, "Yang ada mereka pasti menghawatirkan kita, Sas."


Sastro kembali terkekeh setelah mendengar ucapan kedua Maung, dia seketika mengingat kembali semua pertarungan yang belum lama terjadi.


Dari ke empat teman yang jatuh, dua diantaranya bahkan bisa menyelesaikan kamar dengan kekuatan mereka sendiri, sedangkan dia dan Maung sejauh ini hanya bisa dianggap sebagai bala bantuan saja.


"Benar juga ya... Sekarang sepertinya giliran kita," jawab Sastro masih terus terkekeh.


Sastro mulai menyelimuti seluruh tubuhnya dengan energi berwarna hijau. Bukan hanya tubuh miliknya saja yang dia lindungi, tanpa Maung sadari, tubuhnya sudah sempurna terbalut energi milik Sastro dalam waktu sekejap mata saja.


Setelah selesai membagi energi dengan Maung, Sastro bahkan masih terus menyebarkan energi miliknya, hingga perlindungannya mampu meraih ke tempat dimana empat kawannya sedang jatuh di bawah sana.


"Ini energi milik Sastro! Kang!" teriak Jaka sembari mengamati seluruh badannya.


Darto langsung tersenyum setelah melihat apa yang sedang terjadi pada dirinya dan tiga teman di sampingnya. Dia sedikit tertawa sembari berkata, "Sastro benar-benar hebat! Berkat ini, setidaknya tubuh kita tidak akan hancur di bawah sana. Siap-siap... kita sudah dekat."


Darto dan tiga temannya mulai bisa melihat benda di bawah mereka. Setelah cukup lama jatuh, pemandangan pertama yang bisa mereka saksikan adalah pucak dari sebuah pohon yang cukup rindang tengah menunggu di bawah kaki mereka.


Sedangkan Maung dan Sastro yang sudah membuka pintu gubuk, mereka bergegas melangkah masuk ke dalam tanpa berpikir panjang.


Setelah masuk, dua lelaki itu menyaksikan satu pemandangan yang berbanding berbalik dengan pemandangan sebelumnya.


Jika dilihat dari luar, gubuk tampak seperti mengambang di atas langit. Tetapi ketika masuk ke dalam gubuk, yang terpampang adalah sebuah akar besar yang memenuhi setiap sisi dari dinding gubuk tersebut.


Ukurannya juga ikut berbanding terbalik. Ukuran ruang di dalam gubuk sangat luas, bahkan cukup jika digunakan oleh ratusan orang secara sekaligus.


Tidak hanya itu, dinding gubuk dari bambu yang terlihat reyot dari luar, kini berubah menjadi dinding tanah dengan ribuan lubang yang berjajar diantara celah akar.


Melihat keanehan itu, Maung langaung membuka suara dan berkata, "Sastro... sepertinya kita akan melawan musuh yang menjijikkan lagi."


Mendengar perkataan tersebut, Sastro langsung terbahak, kemudian berkata, "Kamu takut?"


Tepat ketika Sastro menutup mulutnya, terdengar suara gemericik yang memenuhi setiap sudut ruangan tersebut.


Suara ribuan langkah kaki kecil terdengar begitu jelas dari dalam ratusan lubang yang menganga di sela akar, mereka seakan mendekat dan terus mendekat setiap detiknya.


Mendengar suara riuh tersebut, Maung mulai merubah wujudnya menjadi harimau, kemudian dia menoleh ke arah Sastro.

__ADS_1


Maung benar-benar tersenyum kepada lawan bicaranya, dia memamerkan barisan gigi tajamnya sembari berkata berkata, "Takut? Itu perasaan cengeng yang seharusnya dirasakan oleh musuh kita."


Bersambung....


__ADS_2