ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SEBELUM PERTARUNGAN


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, tampak Darto dan sekumpulan lelaki separuh baya sudah berkumpul di depan rumah Darto. Dengan perlengkapan serta perbekalan melebihi cukup, mereka akhirnya memulai juga perjalanan menuju rawa lumpur.


Tampak setiap pria menenteng satu cangkul di tangan mereka, dan sebelah tangan lainnya memegangi karung goni yang berisi makanan. Mereka beriringan menyibak persawahan, kemudian memasuk hutan dan terus menyibak rerimbunan pohon di depan mereka.


Satu jam, dua jam, hingga berpuluh jam mereka lewati dengan semangat. Upah yang mereka terima setara dengan hasil panen dari ladang mereka, hingga tampak semua orang terus tersenyum sembari melangkahkan kaki. Tanpa henti juga candaan terus berlanjut dari bibir ke bibir semua orang kala itu, sungguh perjalanan yang berbeda dengan yang Darto pernah lakukan.


Singkat cerita, saat ini semua lelaki itu sudah merebahkan tubuh, waktu malam sudah menyapa, empat belas jam sudah terlewat dari keberangkatan mereka. Lain halnya dengan Anto dan Darto, dua lelaki itu masih terjaga, ketika semua orang sudah tertidur pulas malam itu.


"Jadi ingat dulu ya, Dar?! Kita lewat sini sama Satya," ucap Anto sendu, sembari membanting pandangannya ke arah tanah.


"Iya Tok, Aku jadi kangen sama dia," ucap Darto mendongak, melihat rasi bintang yang terus berkedip di atas kepalanya.


"Kalau saja dia masih ada, sekarang mungkin dia lagi merengek, bilang kakinya sakit," ucap Anto yang kini juga menatap langit gelap di atas mereka.


"Haha-- bener banget kamu, Tok. Sekarang kita berdoa saja semoga perjalanan dia lancar di alam sana," jawab Darto sedikit tertawa, memampangkan wajah pahit dalam senyumannya.


"Aku tidur dulu ya, Dar. Bangunkan saja kalau kamu sudah ngantuk, biar aku yang jaga nanti," ucap Anto kemudian membentangkan sarung yang semula dia kalungkan di lehernya, dilanjut bersandar kepada pohon di belakangnya.


Melihat Anto tertidur, Darto tanpa sadar ikut terlelap juga dalam posisi duduknya, hingga tak terasa waktu sahur sudah kembali menyapa. Darto bergegas memakan bekal yang ia bawa, dan membangunkan semua pria.

__ADS_1


Ketika shalat subuh sudah di tunaikan secara jamaah, tanpa menunggu waktu lama mereka melanjutkan perjalanan kembali. Terus melesat hingga masuk ke hutan mati, dan memutuskan untuk beristirahat setelah sampai di bawah pohon beringin tempat Darto menanam buntelan dulu.


Beberapa pria memutuskan untuk mandi. Tapi lain dengan Darto, saat itu dia berpesan kepada Anto untuk menuntun semua pria setelah pagi esok menyapa. Darto pergi seorang diri menuju rawa terlebih dahulu, mengingat masih ada tugas yang harus dia tuntaskan sore itu.


Darto tidak melewati tepi sungai, dia melewati jalan setapak yang di gunakan Lastri ketika menggendong Dining, dan hanya butuh waktu dua jam untuk dirinya sampai di rawa lumpur. Ketika Darto sampai di sana, langit benar-benar sudah menguning, waktu maghrib hampir menyapa. Darto kini tengah berkutat menancapkan ranting demi ranting di atas tanah, berkeliling mengitari rawa untuk memberi tanda tempat yang hendak digali oleh rombongan. Dan akhirnya Darto kembali beristirahat ketika 19 ranting sudah tertancap secara sempurna di atas tanah itu.


Setelah selesai, Darto mengambil wudhu di rawa tersebut, kemudian bergegas menunaikan shalat magrib di tepi rawa. Tidak lama setelah Darto selesai berdoa, dia mengeluarkan batu yang dihuni sang nenek dari dalam tas miliknya.


"Nyi... tolong panggil buto ke sini," ucap Darto kepada nenek yang sudah tampak di depan matanya.


Mendengar ucapan Darto, Wajah nenek berangsur memucat, dia merasa takut, namun juga tidak bisa menolak perintah Darto.


Setelah cukup lama terdiam, nenek tersebut akhirnya mulai memejamkan matanya. Dia mulai berbisik sebuah kata acak di depan Darto, hingga tiba-tiba rawa yang tenang mulai menunjukkan riak dengan air yang mulai bergelombang.


Wanita tua itu tidak menjawab, dia malah menoleh ke arah Darto kemudian berbisik kepada Darto "Jika buto tidak musnah, saya yang akan mati, Den."


Nenek itu terlihat takut, dia merasa khawatir jika sampai buto ireng melaporkan dirinya kepada Nyai Gending. Dan untuk menanggapi ketakutan sang nenek, Darto membuka suaranya kembali, "Terimakasih, silahkan istirahat lagi. Selama saya masih hidup, Insya Allah tidak akan ada yang mengganggu kamu."


Sang nenek berangsur memasang wajah lega, dia merasa sedikit tertolong dari rasa takut setelah mendengar ucapan Darto. Saat itu juga dia berpamitan untuk kembali masuk kedalam batu sembari berkata "Maka aku akan selalu berdoa untuk keselamatanmu, Den."

__ADS_1


Setelah nenek pergi, Darto langsung menoleh ke arah buto ireng yang tengah memasang posisi waspada di tepi rawa. Dia tidak berani naik ke daratan, mengingat dulu pernah dikalahkan oleh Darto dan temannya.


Buto ireng terus menyapu pandangannya ke arah sekelilingnya, dan ketika dia bisa memastikan Darto sendirian barulah dia tertawa dengan lantanganya.


"Ha ha ha ha! sombong sekali kau bocah! Kau datang sendirian?! Kalian, kemarilah!" teriak buto ireng begitu lantang, suaranya menggema hinga memantul berkali-kali.


Tidak lama setelah buto ireng berteriak. Air rawa kembali beriak, dan setelahnya muncul empat sosok yang memiliki bentuk dan rupa sama persis dengan buto ireng. Darto kali ini berhadapan dengan lima buto ireng secara bersamaan.


"Hey! Kita punya mangsa! malam ini kita akan makan jiwanya, meski aku lebih suka jiwa perempuan suci," ucap Salah satu buto setelah sampai di depan Darto, dia berkeliling memutari tubuh Darto yang masih duduk bersila sembari terus berdzikir.


"Bagaimana cara kita membagi jiwanya?" ucap buto lainnya yang kini juga ikut memutari tubuh Darto.


"Kalau begitu, bagaimana kalau begini?! Siapapun yang berhasil memberi serangan terakhir, dia yang dapat jiwanya," timpal buto ireng yang pertama muncul tadi, ucapannya mendapat senyum seringai dari empat buto yang lainnya.


"Oh? kau kira aku sendirian?" ucap Darto tiba-tiba, kemudian tersenyum dengan ekspresi percaya diri yang terpampang.


Mendengar ucapan Darto, kelima buto langsung melompat mundur. Mereka menjaga jarak karena cukup terkejut dengan Darto yang tiba-tiba membuka suara.


"Ha ha ha ha! Sudah main keroyok masih saja takut mendekat. Kalian memang pengecut yang tak punya rambut!" ejek Darto sembari beranjak bangun dari posisi duduk bersila. Setelah Darto berdiri sempurna, dia kembali memanggil kedua orang tua yang terus membantunya. "Sastro! Wajana! Mari selesaikan ini!"

__ADS_1


Mendengar panggilan Darto, Sastro dan Wajana langsung muncul di samping tubuh Darto dengan senyum di wajahnya. Mereka bertiga langsung memasang posisi siap dengan saling memunggungi, dengan lima sosok buto ireng yang terus menjaga jarak dan memutari mereka bertiga.


Bersambung,-


__ADS_2