ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MASUK KE DALAM GOA


__ADS_3

Perlahan mata Darto terbuka, dia mengerjapkan matanya berkali-kali karena merasa bingung dengan tempat asing yang dirinya lihat saat ini. Darto menoleh ke segala arah dan kemudian terpaku ke satu arah setelah melihat Jaka yang tergeletak dengan bekas cairan hitam yang sudah mengering di sudut bibirnya.


"Jak ... Jaka!" teriak Darto sembari menggoyang tubuh Jaka sedikit kasar.


Setelah tubuhnya tergoyang, Jaka perlahan membuka matanya dan menyaksikan wajah Darto yang masih tampak buram, namun jelas tergambar ekspresi khawatir dari suara yang keluar dari bibirnya.


"Alhamdulillah, Kang. Kamu bangun juga," sahut Jaka sembari mengucek mata miliknya.


"Di mana ini, Jak? Kenapa kita bisa sampai di sini?" tanya Darto sembari membantu Jaka duduk.


"Kamu kena duri ngengat, Kang. Lihat tangan kamu," sahut Jaka sembari mengacungkan jari ke arah lengan Darto.


Darto langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Jaka, dia langsung membulatkan mata sembari berkata, "Siapa yang mengobati saya, Jak? Aku benar-benar tidak tahu jika racunnya akan bekerja begitu masuk ke dalam tubuhku."


"Racunnya memang kuat, Kang. Tapi tidak sesakit air yang kita minum di gubuk milik Eyang Semar," sahut Jaka sedikit tersenyum.


"Kamu yang mengeluarkan racun dari tubuhku?" tanya Darto lagi.


"Iya, Kang. Alhamdulillah masih sempat," jawab Jaka sembari memasang wajah lega, "Kalau Komang dan Maung tidak memberi tahu jika Kang Darto kena racun, mungkin Kang Darto akan terlambat mendapat pertolongan, dan yang jelas aku juga mungkin mati jika melawan mahluk itu sendirian," sambungnya lagi.


"Terimakasih banyak, Jak. Tapi ... di mana Maung dan Komang?" ucap Darto kemudian kembali bertanya pada Jaka.


"Komang mengalihkan perhatian ngengat itu, Kang. Maung menyusul karena khawatir. Aku juga tidak tahu sekarang mereka di mana," jawab Jaka sembari menggeleng kepala.


Setelah mendengar semua penjelasan Jaka, Darto hanya bisa mengangguk kemudian mengajak Jaka untuk keluar dari dalam goa. Namun Jaka menolak ide Darto, karena dia beranggapan jika mereka pergi dari goa, bisa-bisa Maung dan Komang tidak bisa bertemu lagi.


Setelah mendapat penolakan Jaka, Darto akhirnya menurut dan mengurungkan niatnya untuk mencari. Mau bagaimana pun alas ireng merupakan tempat asing, yang salah satu dari mereka tidak ada yang menghafal letak denahnya.

__ADS_1


Setelah cukup lama berdiam diri, Jaka yang merasa bosan karena menunggu terlalu lama menoleh ke arah sisi dalam lubang goa, lubang itu masih terus berlanjut dan belum tampak ujungnya. Dia merasa penasaran dan memutuskan untuk masuk lebih dalam sembari menunggu kedatangan dua temannya.


"Mau kemana kamu, Jak?" teriak Darto ketika Jaka sudah cukup jauh dari tempatnya duduk.


"Cari air, Kang. Tenggorokan Jaka kering sekali," sahut Jaka sejenak menoleh ke belakang, kemudian kembali menghadap depan dan melanjutkan perjalanan.


Darto yang melihat Jaka terus masuk ke dalam goa, dia merasa sedikit khawatir dan langsung mengikuti langkah Jaka. Dia menyusulnya dengan langkah cepat hingga akhirnya langkah mereka sejajar setelahnya.


Darto dan Jaka terus masuk ke dalam goa, dia bisa merasakan hawa sejuk yang sungguh berbeda dengan udara di luar goa. Jelas saja, karen goa itu terletak di dalam tebing, yang semakin masuk maka akan semakin dalam tubuh mereka memasuki bawah tanah.


"Kang! Ada air!" teriak Jaka setelah melihat air yang menetes dari stalaktit yang menggantung di atap goa.


Tetesan air itu sudah menggenang hingga menjadi danau kecil, sehingga Jaka berfikir air itu akan cukup untuk mandi dan juga minum selama bertahun-tahun lamanya.


Darto yang sempat memisah langkah untuk mencari air langsung bergegas berjalan menuju arah Jaka, dia langsung meraup air dari dalam genangan itu dan langsung mendekatkan tangannya ke depan bibirnya.


"Saya dulu yang minum," ucap Jaka karena dia merasa bisa mengatasi racun.


Mendengar ucapan Jaka, Darto hanya bisa menurut, karena dia benar-benar tidak memiliki pengalaman jika sudah berhubungan dengan racun. Darto hanya bisa mengangguk kemudian menyaksikan Jaka mencicipi air yang menggenang luas di depan wajahnya.


Jaka langsung meraup air itu dengan telapak tangannya, kemudian meneguk tanpa berpikir panjang. Air yang melewati tenggorokannya begitu dingin, hingga rasa haus yang Jaka rasa malah justru bertambah dan membuatnya ingin meneguk lebih banyak lagi.


Namun karena Jaka masih sedikit trauma dengan racun, dia menahan hasrat hausnya untuk melihat reaksi setelah meminum air di depannya, hingga setengah jam lamanya mereka menunggu dan tidak ada tanda-tanda keracunan pada Jaka.


Setelah yakin, Darto dan Jaka langsung meneguk air itu sebanyak mungkin, untuk menghilangkan dahaga yang membuat tenggorokan mereka kering. Mereka bahkan sampai sedikit kembung, karena cukup banyak meneguk air yang begitu segar di depannya.


Setelah cukup puas, Darto dan Jaka berniat untuk kembali berjalan menuju tempat semula, karena mereka berfikir jika goa itu tidak ada ujungnya. Namun ketika Jaka hendak menoleh ke arah semula dirinya datang, sudut matanya menangkap sesuatu benda yang terlihat janggal di seberang genangan.

__ADS_1


Dia memicingkan mata untuk memastikan apa yang sempat dirinya lihat, namun benda itu tidak terlalu jelas karena pencahayaan di sana sangat minim setelah mereka masuk cukup dalam.


Di dalam goa yang remang-remang itu Jaka terus menoleh ke arah yang sama hingga Darto bertanya, "Lihat apa kamu, Jak?"


"Tidak, Kang. Tadi seperti ada yang gerak di seberang sana," jawab Jaka sembari menunjuk tempat yang membuatnya penasaran, "Mungkin Jaka cuma salah lihat, Kang," sambungnya lagi.


Mendengar ucapan itu, Darto hanya mengangguk kemudian merangkul Jaka untuk mengajaknya berjalan.


Namun ketika langkah mereka mulai menapak, sesuatu benda yang tadi membuat Jaka penasaran kembali bergerak, dia sampai menciptakan suara gesekan, hingga Darto dan Jaka menoleh ke arah sumber suara itu secara bersamaan.


"Memang ada sesuatu di sana, Jak. Kita harus hati-hati," ucap Darto sembari memasang posisi sigap.


"Coba serang arah itu, Kang," ucap Jaka sembari menunjuk tempat yang tadi.


Darto langsung mengangguk, dan menciptakan busur panah bercahaya kembali. Namun belum sempat dirinya menciptakan anak panah, mata Darto dan Jaka sudah sempurna membuat karena melihat sesuatu yang kini sudah tampak jelas, setelah senjata Darto tercipta.


Senjata milik Darto yang bersinar menunjukkan apa yang sebenarnya ada di dalam goa tersebut. Puluhan, ratusan atau mungkin ribuan kelelawar seukuran manusia tengah menggantung tepat di atas kepala mereka. Mereka menggantung berhimpit-himpitan hingga membuat pemandangan sempurna berwarna hitam. Mereka bergerombol dengan satu kelelawar yang sangat besar, yang menggantung di tengah kerumunan di seberang genangan.


Sungguh satu pemandangan yang akan membuat siapapun bergidik, setelah melihat itu dengan mata kepala sendiri.


Karena tidak ingin membuat keributan, Darto menghilangkan senjata di tangannya kemudian menarik Jaka agar cepat pergi dari sana. Mereka berjalan dengan langkah mengendap, dan berangsur menjauh secara berkala.


Ketika langkah mereka sudah cukup jauh, terdengar suara kepakan sayap dari arah belakang mereka. Suara kepakan yang menciptakan angin sepoi yang menyapa pucuk kepala mereka, sehingga Darto dan Jaka tahu jika sudah ada yang menyadari keberadaan mereka berdua.


Darto dan Jaka serentak menoleh, mereka melihat dengan jelas satu kelelawar ukuran sedang tengah terbang mengambang sembari mengepak sayapnya. Dia terbang di tempat sembari menatap dua manusia di depannya, sebelum akhirnya dia berteriak dengan suara melengking dan membangunkan seluruh koloninya yang tengah menggantung.


Belum selesai dengan lawan pertamanya, kali ini Darto dan Jaka berhadapan dengan sosok yang tidak disebutkan oleh Abah Ramli dulu kala. Sosok yang selalu bekerja untuk membersihkan kekacauan ketika malam, dan tidak ada yang mengetahuinya karena semua saksi mata langsung mati saat mereka melihatnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2