ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SUASANA YANG DIRINDUKAN


__ADS_3

Halo semua ... Kalian sehat, Kan? Maaf ya sudah buat kalian nunggu lama. Alhamdulillah sekarang punya waktu luang lagi buat melanjutkan cerita Darto cs, semoga kalian masih mau baca lagi 😅


maaf juga nggak bisa balas komen satu-satu, karena komen yang nunggu dibales sudah ada ribuan 😅


"Tolong... aku tidak ingin ada satupun dari kalian yang kenapa-kenapa. Jadi berusahalah untuk tidak mati, meskipun tubuh kalian terbelah menjadi puluhan," ucap Darto sendu, dengan tangan memegang pintu besar yang terbuat dari tulang belulang.


Mendengar ucapan Darto, seketika Jaka, Sastro, Wajana, Maung, dan Komang langsung mengangguk tanpa sedikitpun kata yang keluar dari bibir mereka. Tatapan yakin benar-benar terpancar dari netra mereka berlima, tidak ada rasa ragu yang terpampang meski itu sedikit saja.


Melihat ekspresi kelima temannya, Darto langsung mendorong pintu belulang itu sekuat tenaganya.


Seketika suara derit dari pintu besar yang tengah terdorong langsung terdengar, pemandangan gelap gulita mulai tersaji, ketika sedikit demi sedikit tulang itu berhasil Darto dorong menggunakan lengannya.


Melihat pintu terbuka, lima teman Darto langsung memasang posisi sigap, mereka takut jika ada serangan tiba-tiba, namun kekhawatiran mereka sama sekali tidak terbukti.


Setelah pintu terbuka lebar, di dalam ruangan itu tidak ada apapun yang terlihat, Darto dan lima temannya benar-benar hanya dapat melihat kegelapan yang sempurna.


"Mari masuk," ucap Darto singkat sembari menatap wajah lima temannya secara bergantian.


Setelah melihat kelima temannya mengangguk, Darto langsung memimpin langkah dan memasuki bangunan tersebut.


Enam lelaki itu terlihat seperti tengah dimakan oleh kegelapan itu sendiri, semakin kaki mereka melangkah masuk, semakin hilang punggung mereka dari pandangan.


Mereka benar-benar tidak bisa saling melihat satu sama lain kala itu, hingga sontak Darto berteriak memanggil satu persatu teman yang ikut masuk ke dalam bangunan tersebut.


"Jaka?! Sastro?! Wajana?! Maung?! Komang?!" Darto benar-benar terus mengulang teriakan tersebut, namun dia tidak mendengar satupun jawaban dari keempat temannya yang semula berada tepat di belakangnya.


Tanpa Darto dan semua orang sadari, mereka benar-benar saling memanggil sembari melangkah maju untuk mencari jalan keluar maupun cahaya yang mungkin bisa membantu penglihatan mereka di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Ruangan itu persis seperti ruangan dimana Darto pertama kali masuk ke dalam gerbang alam sebelah, dia bahkan tidak bisa melihat jemari tangan miliknya sendiri, karna disana tidak ada satupun cahaya yang menerangi di setiap sudutnya.


Setelah cukup lelah memanggil satu sama lain, lima lelaki itu duduk hampir dalam waktu yang bersamaan, mereka singgah di tanah, kemudian memasang posisi duduk bersila untuk sekedar menarik nafas dan menenangkan diri dari rasa gundah yang bersemayam lengket di dalam hati mereka.


Darto dan ke empat temannya memejamkan mata dalam posisi tersebut, hingga tanpa sadar kesadaran mereka benar-benar mulai pudar, dan terus memudar seiring detik yang terus berjalan dalam posisi duduk sila mereka.


Hingga tiba masanya, kesadaran mereka benar-benar pergi dari raga mereka, dan saat itu juga satu hal yang sangat mengejutkan terjadi di depan mata mereka.


Terasa sentuhan lembut menyapa pundak miliknya, disertai samar terdengar suara yang sangat Darto kenali mendenging di dalam telinga miliknya "Dar?! Bangun... Tidak baik tidur sore begini."


Mendengar itu, Darto spontan membuka kedua matanya. Darto mengerjap intuk sejenak dan ketika matanya sempurna membuka, dia benar-benar terkejut mendapati asal suara dan asal tepukan di bahunya itu berasal.


Bibir Darto benar-benar bergetar, matanya seketika sembab, dengan mata yang langsung menjadi layu menatap seseorang yang tengah duduk di sampingnya untuk mencoba membangunkannya.


"Mbah... Kenapa Si Mbah di sini? Apa Darto sudah menyusul Si Mbah?" Ucap Darto sendu, dia menunduk, sembari mencoba menyingkirkan bulir bening yang tanpa sadar sudah mengalir dari salah satu sudut matanya.


"Kamu ini bicara apa, Dar? Makanya jangan tidur sore! Mimpi aneh, kan jadinya?" Ucap Mbah Turahmin sedikit terkekeh. Sembari mengacak kasar rambut Darto kemudian berdiri dan berjalan pelan meninggalkan ruangan yang tengah Darto singgahi.


Mendengar penuturan Mbah Turahmin, Darto kembali tertunduk dengan bibir gemetar, dalam hati dia yakin bahwa semua ini tidak nyata, namun di satu sisi dia merasa sangat bernostalgia dan sedikit senang karena bisa mendengar suara maupun melihat sosok yang sudah tidak berada dalam satu dunia yang sama dengan miliknya.


Setelah Mbah Turahmin pergi dan menutup pintu kamar miliknya, Darto bergegas mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan miliknya, kemudian beranjak bangun dari dipan miliknya dan pergi menuju belakang rumah tempat dimana tersedia pancuran air, di toilet berdinding bilik miliknya.


Setelah selesai mengambil wudhu, Darto bergegas kembali menuju ke kamarnya, ketika dia tengah melewati dapur, dia melihat sebilah golok yang sering Si Mbah bawa ketika menuju sawah.


Dalam pikiran Darto terbesit sedikit niat untuk memenuhi rasa penasaran yang bersarang hebat di dalam hati miliknya. Tanpa pikir panjang, Darto meraih golok tersebut kemudian melepas sarung, yang membungkus rapat sebongkah besi pipih di tangannya itu.


Darto menempatkan ujung tajam golok tersebut pada telapak tangannya, kemudian tanpa pikir panjang pula Darto menggores telapak tangan miliknya.

__ADS_1


Rasa sakit dan Darah benar-benar tersaji kala itu, Darto benar-benar kebingungan karena mengira semua yang ada dihadapan matanya hanyalah mimpi.


'Sebenarnya apa ini? Dimana aku?' terus menerus kata tersebut terulang di dalam dada maupun kepala Darto, dia benar-benar menemui jalan buntu karena tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi pada dirinya dan kelima temannya.


"Kenapa tanganmu, Dar!" teriak Mbah Turahmin ketika melihat wajah Darto yang terus meringis sembari memegangi telapak tangan yang dipenuhi darah.


"Ndak apa-apa, Mbah. Darto cuma salah pegang golok Si Mbah, he he he," jawab Darto sedikit menutupi.


Mendengar jawaban tersebut, Mbah Turahmin hanya menggeleng kepala, kemudian meninggalkan Darto untuk sejenak, sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam rumah dengan sejumput dedaunan yang sudah berada pada tangan miliknya.


"Sini tanganmu," tukas Si Mbah sembari menyodorkan tangan kirinya.


Mendengar itu, Darto langsung menyerahkan tangan kirinya dan membiarkan Si Mbah menempelkan dedaunan yang dia peroleh di belakang rumah pada lukanya, sebelum akhirnya Si Mbah membungkusnya dengan kain dan mempersilahkan Darto untuk menunaikan shalat ashar.


Setelah selesai shalat ashar, Darto kembali menemui Si Mbahnya yang tengah duduk santai di ruang tamu rumahnya.


Benar-benar sama persis, itu adalah kebiasaan Si Mbah Turahmin yang selalu duduk melamun sembari mendongak, dengan sebatang rokok lintingan berbau kemenyan yang terselip di jemari tangan miliknya.


Melihat Si Mbah melamun, Darto pun bergegas duduk di sampingnya kemudian menepuk pundak Si Mbah Turahmin sembari berkata, "Mbah ... ada yang mau Darto tanyakan."


Mendengar itu, Mbah Turahmin langsung menoleh dan melepas senyuman kepada cucunya kemudian mengangguk tanpa sedikitpun membuka suara.


Melihat Si Mbah mengangguk, Darto pun langsung menarik nafasnya cukup dalam, kemudian dia bersiap bertanya pada sosok yang sangat dirinya cintai itu.


Namun tepat ketika Darto hendak membuka suara, Si Mbah melirik pada jam bandul yang menggantung di salah satu sisi ruang tersebut, kemudian ia berkata, "Tanya nanti saja, sekarang lebih baik kita siap-siap ke langgar dulu."


Mendengar itu, Darto pun sontak menoleh ke arah yang sama, dia memandangi jarum jam yang terpampang di ruang tersebut, dan hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan ajakan Si Mbahnya.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang terjadi? dimana Darto? dan dimana kelima temannya berada? apa ini hanya ilusi? kita nantikan kelanjutannya di episode selanjutnya ;)


Bersambung ...


__ADS_2