
Jaka dan Darto benar-benar tertegun melihat tempat aneh di depan mata mereka, dalam hati mereka langsung tercipta sejuta pertanyaan. Tentang siapa yang menanam padi, dan juga pemilik gubuk yang masih terletak jauh di sana.
"Kang ... ini padi beneran," ucap Jaka setelah meraih padi di depan matanya.
"Jangan asal petik, Jak. Ingat ini bukan dunia kita," jawab Darto sedikit ketus.
"Iya, Kang. Saya cuma mau memastikan," elak Jaka sembari melepaskan padi di tangannya.
Setelah cukup lama bergeming, Darto dan Jaka melanjutkan langkah kaki mereka. Dua orang itu menapaki satu-satunya jalan setapak yang tersaji lurus membelah persawahan padi yang luas itu. Satu-satunya jalan yang menghubungkan gubuk dan hutan yang sudah Darto dan Jaka lewati selama dua hari.
Mereka terus melangkah, mengikuti jalan setapak untuk membelah persawahan yang dipenuhi padi yang sudah berisi. Padi yang membungkuk di setiap sisi jalan, membuatnya terlihat seperti tengah menyambut kedatangan dua manusia muda yang ada dihadapan mereka.
Jaka dan Darto terus melangkahkan kaki, gubuk yang terlihat dekat rupanya cukup jauh untuk digapai. Langit jingga yang semula tersaji di atas kepala mereka, mulai berangsur menyajikan warna kelabu sebelum sepenuhnya berubah menjadi hitam.
Sudah hampir dua jam Darto dan Jaka terus melangkah menapaki satu-satunya jalan yang terpampang, namun mereka sama sekali belum merasa dekat dengan gubuk yang menjadi tempat tujuan.
"Kang ... kalau sekarang saya yakin, kita pasti jalan di tempat sedari tadi," ucap Jaka sembari menghentikan langkah kakinya.
"Mana ada kita jalan di tempat, lihat saja hutannya sudah jauh di belakang. Kita sekarang ada di tengah sawah, Jak," elak Darto sembari melihat ke belakang. Dia mencoba meyakinkan Jaka meski sebenarnya dia juga ragu dengan langkah kakinya sendiri.
Setelah mendengar ucapan Darto, Jaka hanya bisa mengangguk meski dia merasa tengah berjalan di satu tempat yang aneh. Mereka terus berada diantara gubuk dan hutan, meski sudah berjam-jam lamanya.
Mengingat sudah malam, Darto mengusulkan untuk melakukan shalat jamaah di tengah sawah. Mereka melakukan shalat setelah meraih air jernih yang memenuhi anakan kali yang digunakan oleh pemilik gubuk sebagai sumber air untuk padinya.
Air itu sungguh jernih, bahkan rasa manis langsung menyapa ketika mereka tengah berwudhu. Jaka yang merasakan manis dari air tersebut sempat menoleh pada Darto, dan dia langsung meneguk sepuas dahaga setelah melihat Darto juga tengah meraup air tersebut, kemudian menenggak habis semua air yang terjebak di atas kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Sungguh air itu terasa lebih manis dari air tebu, Darto dan Jaka yang terlena langsung meminum setelah indra pengecap mereka merasakan rasa dari air wudunya. Tidak ada rasa ragu untuk menenggaknya, mengingat air itu digunakan untuk kepentingan bertani, maka tidak mungkin air itu beracun.
Setelah puas meminum hingga hampir kembung, mereka berleha-leha untuk sejenak, kemudian melakukan shalat jamak Magrib dan Isya, setelah menyaksikan waktu yang ditunjukkan jarum jam pada arloji Darto sudah melebihi pukul tujuh malam.
Setelah usai melakukan kewajiban, mereka mengisi perut dengan bekal yang masih tersisa lumayan banyak. Kemudian setelah makanan sedikit tercerna, mereka kembali melanjutkan memacu langkah kakinya.
Anehnya, meski sudah berjam-jam lamanya mereka masih tetap sama, masih berada di tengah sawah diantara hutan dan gubuk yang sudah tidak terlihat karena gelap.
Kali ini Darto juga setuju dengan ungkapan Jaka sebelumnya. Dia juga merasa jika dirinya dan Jaka tengah berjalan di tempat yang sama, bahkan mereka tidak mendekati gubuk yang semula tampak tidak begitu jauh.
Menanggapi itu, Darto kembali membuka suara, "Kita tidur di sini saja yuk, Jak. Besok saja pas pagi kita lanjut jalan."
"Sekarang Kang Darto percaya, Kan? Sudah Jaka bilang dari tadi," sahut Jaka, dia masih mengungkit firasatnya, yang mengatakan mereka tidak mendekat ke tempat tujuannya.
"He he he ... ho-oh, Kang," jawab Jaka kemudian menahan tawa.
Darto kembali menower kepala Jaka, sebelum akhirnya mengacak kasar rambut adiknya itu sembari berkata, "Tapi kamu ada benarnya juga, Jak. Sepertinya kita belum di izinkan masuk ke rumah miliknya."
"Nggak apa-apa lah, Kang. Masih ada hari esok, kalau belum sampai juga, kita masak aja padinya, biar dia keluar sendiri pas tahu kalau padinya kita makan," usul Jaka.
"Mau masak pakai apa? Pakai perasaan?" Ledek Darto sembari terkekeh pelan.
Mendengar ledekan Darto, Jaka spontan terbahak. Dia merasa sangat aman ketika bersama Darto, meskipun mereka tengah berada di tengah hamparan padi yang berdiri di tempat yang jauh dari pengetahuan.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu dengan berbincang, mereka akhirnya merebahkan tubuh beralaskan sarung di atas tanah. Sesaat kemudian suasana sawah kembali tertekan hening, tidak ada lagi suara canda dan tawa dari kedua pemuda itu.
__ADS_1
Yang tersaji hanya suara jangkrik dan kodok yang saling bersautan. Kedua pemuda itu terlelap dengan tubuh telentang, setelah lelah menghitung bintang yang berjumlah lima kali lipat dari bintang yang pernah mereka lihat di dalam hidup mereka.
Langit yang terpampang di atas tubuh mereka, benar-benar sepenuhnya berbeda, dengan langit yang ada di atas kepala keluarga yang tengah menunggu kepulangan mereka.
Kedua pemuda itu sungguh pulas dalam tidurnya, mereka berdua tidak bermimpi sama sekali. Sungguh tidur yang sangat nyenyak, hingga terasa begitu pendek terlewatkan.
Darto bangun terlebih dahulu, dia bergegas membangunkan Jaka, kemudian melakukan shalat subuh setelahnya. Setelah melakukan shalat subuh, mereka kembali mengisi tenaga mereka dengan sisa bekal yang mereka bawa. Kemudian kembali melangkah, ketika gubuk kecil yang menjadi tujuan mereka mulai tampak setelah matahari menampakkan kegagahannya.
Mereka berjalan tanpa henti, namun masih tetap sama saja ,tidak mendekat maupun tidak menjauh dalam waktu yang sama. Dalam rasa bingung, secercah harapan datang menyapa mereka berdua.
Dari arah belakang mereka, tampak seseorang lelaki bercaping yang tengah memegang gagang cangkul, dia menyampirkan cangkulnya di pundaknya.
Lelaki itu terus berjalan mendekat, dan tidak lama setelah berhadap-hadapan, dia menyapa Darto dan Jaka yang terlihat menunggu kedatangannya.
"Kamu manusia?" Tanya lelaki itu, dia menatap Darto dan Jaka secara bergantian, dengan ekspresi heran yang terpampang di wajahnya.
"Iya, Pak. Kami sepertinya tersesat, meski jalan ini cuma ada satu," jawab Darto sembari menatap wajah lelaki di depannya, "Apa Bapak yang punya gubuk itu? Apa bapak itu Kanjeng semar?" Sambung Darto.
Lelaki yang tengah berdiri di depan Darto dan Jaka benar-benar seperti manusia. Tubuhnya kekar, punggungnya masih tegap, namun dia terlihat sudah cukup berumur, jika dilihat dari keriput dan jenggot yang hampir sepenuhnya memutih di bawah dagu miliknya.
Siapakah lelaki itu? Apakah itu orang yang ditunggu oleh Darto dan Jaka? Atau mungkin orang lain?
Mari kita saksikan di episode selanjutnya ...
Bersambung ....
__ADS_1