ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PANEN


__ADS_3

Setelah mendapat penolakan dari Darto dan Jaka, Eyang Semar membawa kedua pemuda itu ke tempat yang berbeda. Kini Darto dan Jaka tiba di sebuah bangunan besar, yang tidak kalah megahnya dengan kerajaan Sendang Langit yang pernah mereka lihat di dalam ujian. Eyang mengajak mereka masuk ke dalam untuk bertemu dengan seseorang yang tengah duduk di sebuah singgasana.


"Ada apa Romo sampai menyempatkan diri datang kemari? Bukannya sudah hampir waktu panen?" tanya seseorang yang memiliki tubuh yang sangat gagah. Wibawa terpancar dari setiap lekuk tubuhnya namun wajahnya memancarkan kebijaksanaan yang sempurna.


"Saya mau titip cucu saya, kamu lagi nggak ada kerjaan, kan?" sahut Eyang sembari menunjuk Ke arah Darto dan Jaka yang sedang bingung di belakangnya.


Untuk sesaat pria itu memperhatikan Jaka serta Darto dengan seksama. Tatapannya menelisik setiap lekuk tubuh dua pemuda di depannya, hingga sejurus kemudian dia berkata, "Darma dan Surya?"


Eyang tersenyum melihat ekspresi pria itu, kemudian sembari tersenyum Eyang membalas perkataannya, "Mereka keturunannya."


Sang pria langsung maju mendekat pada Darto dan Jaka, kemudian mengulurkan lengan kanannya sembari berkata, "Saya Samasta, cucu dari Amerta, buyutnya Darma."


Darto benar-benar terkejut dia langsung meraih uluran tangan Samasta sembari berkata, "Saya Darto, Mbah. Saya masih memiliki garis darah anda."


Samasta langsung mengusap kepala Darto sembari tersenyum kemudian dia menoleh pada Jaka dan bertanya sembari mengulurkan tangannya, "Siapa nama penerus Surya ini?"


"Jaka," jawab Jaka singkat masih dengan wajah tidak percaya.


"Kalian bingung, kan?" tanya Eyang Semar sedikit terkekeh. Dia merasa lucu dengan Darto dan Jaka yang terlihat menimbun sejuta pertanyaan.


Mendengar pertanyaan Eyang, Darto dan Jaka hanya mengangguk dan menunggu penjelasan kelanjutannya.


"Dia sudah aku anggap cucuku, Dar, Jak. Dia punya tugas untuk tinggal di sini," Eyang menjelaskan.


"Dia manusia?" sahut Darto tanpa basa-basi.


"Memang ada manusia yang hidup ribuan tahun?" timpal Eyang kembali bertanya.

__ADS_1


Jaka langsung menggeleng, sedangkan Darto hanya menunduk. Darto tidak memberi tanggapan sama sekali atas apa yang dikatakan Eyang, dia justru malah terlihat murung.


Melihat Darto yang murung Eyang langsung mengalihkan pembicaraan kembali, "Samasta ... Tolong latih mereka."


Samasta langsung mengangguk, dia bersedia menampung Darto dan Jaka tanpa sedikitpun menawar. Setelah mengangguk Samasta kembali bertanya pada Eyang di depannya, "Siapa lawan mereka?"


"Sama seperti Darma dan Surya, tapi aku yakin kali ini mereka pasti bisa mengalahkan mahluk itu," sahut Eyang.


"Baiklah ... kalau begitu semuanya akan aku ajarkan kepada penerusku dan juga temannya ini," ucap Samasta dengan bibir mengambang.


Setelah mendapat persetujuan Samasta, Eyang berbicara pada Darto dan Jaka di depannya, "Kalian berlatih saja di sini sembari menunggu panen. Orang di depan kalian pernah mengalahkan mahluk yang bahkan lebih hebat dari banaspati."


Darto dan Jaka langsung mengangguk tanpa pikir panjang. Mereka setuju untuk mengikuti saran Eyang tanpa sedikitpun keraguan.


Setelah Darto dan Jaka setuju, Eyang meninggalkan bangunan itu sendirian. Dia menitipkan Darto dan Jaka kemudian melangkah menuju rumah miliknya kembali.


Sedangkan Darto dan Jaka yang masih asing dengan tempat tinggal barunya, mereka diberi satu kamar yang memiliki dua dipan di dalamnya. Kemudian setelah melihat kamar mereka, Samasta mengajak mereka berkeliling untuk memperkenalkan tempat tinggalnya.


Jaka tampak kebingungan dan langsung bertanya, "Maksudnya?"


Samasta yang melihat Darto menunduk tidak jadi melanjutkan pertanyaannya. Dia membuat pertanyaan baru untuk mengalihkan perbincangan, "Kalian baru pertama kali bertemu Eyang?"


Jaka dan Darto langsung mengangguk, dan Samasta pun kembali membuka pertanyaan, "Mau latihan sekarang, atau kalian mau istirahat dulu?"


"Kalau boleh aku mau langsung latihan saja, satu hari sangat berharga bagiku, jadi alangkah lebih baiknya kalau tidak membuang waktu," jawab Darto sembari berangsur mendongak, sedangkan Jaka langsung setuju dengan cara mengangguk.


Melihat kesungguhan keinginan di mata Darto dan Jaka, Samasta langsung tersenyum dan mengajak mereka ke dalam sebuah bangunan mirip pendopo. Di sana Darto dan Jaka diajari cara untuk menggunakan energi terlebih dahulu.

__ADS_1


Cara Samasta menggunakan energi energi benar-benar berbeda. Samasta tidak perlu membentuk energi miliknya menjadi senjata terlebih dahulu, karena Samasta menganggap senjata yang tak tidak berbentuk merupakan senjata yang paling berbahaya.


Darto dan Jaka langsung teringat dengan cerita Abah Ramli yang mengucapkan jika pemimpin ngengat bisa membunuh ratusan pria tanpa memperlihatkan wujudnya, dari hal itu Darto dan Jaka langsung setuju untuk mempelajari cara menggunakan energi yang diajarkan oleh Samasta.


Satu minggu berlalu, Darto dan Jaka sudah bisa menggunakan energi seperti yang disarankan oleh Samasta, tiga minggu yang tersisa Darto dan Jaka dilatih untuk membiasakan diri menerapkan ajaran yang lalu di dalam pertarungan.


Darto dan Jaka terus menerus bertarung satu sama lain selama dua minggu, dan satu minggu terakhir merupakan waktu yang tersisa untuk Darto dan Jaka menghadapi Samasta.


Kemajuan tampak begitu mencolok dari dua pemuda tersebut. Samasta bahkan sampai tidak bisa mempercayai kecakapan dua anak didiknya itu.


Samasta benar-benar kewalahan menghadapi Jaka dan Darto ketika mereka menyerang bersamaan, meski pun jika Darto dan Jaka sendirian dia masih bisa mengatasinya dengan sedikit berusaha.


"Darto ... Jaka?! Semoga kalian bisa mengakhiri nasib yang ditanggung keluarga kita. Aku benar-benar berharap kalian orang terakhir yang aku latih, dan tidak ada lagi keturunan kita yang datang ke sini," ucap Samasta sendu. Dia merasa iba dengan nasib yang dipikul oleh dirinya maupun semua garis keturunannya.


"Si Mbah tenang saja, sekarang Kang Darto punya bantuan yang hebat. Jadi kita pasti menang, he he he he," jawab Jaka cengengesan.


Melihat tingkah Jaka, kekhawatiran di dalam hati Samasta dan Darto berangsur sirna, mereka kembali saling tertawa, disela waktu yang terbuang untuk menunggu kedatangan Eyang Semar yang belum juga menjemput mereka.


Setelah satu hari terlewat, Eyang Semar datang membawa setumbu padi yang masih terbungkus kerak, dan belum menjadi beras di tangannya. Dia menyerahkan tumbu tersebut kepada Samasta sembari berkata, "Maaf terlambat, kemarin aku panen dulu, ini jatah buat kamu Samasta."


"Saya dapat juga, Romo?" sahut Samasta.


"Sudah terima saja, ini hadiah karena sudah merawat cucuku selama sebulan," paksa Eyang.


Mendengar paksaan Eyang, Samata langsung mengangguk sembari tersenyum. Dia tampak sangat senang ketika meraih benda yang Eyang ulurkan. Dalam senyumnya dia mengucap kata terimakasih yang tidak terhitung jumlahnya.


Setelah memberi sedikit hadian pada Samasta, Darto dan Jaka kembali diajak pulang menuju rumah Eyang. Mereka berjalan melalui jalan yang sempat mereka lewati, dan sempat berhenti di kampung dayang untuk sekedar membagi hasil panen yang sudah Eyang bawa di dalam kantong miliknya.

__ADS_1


Setelah semua jatah makanan sudah dibagikan, Darto dan Jaka langsung pergi menuju rumah Eyang dengan senyum di wajah mereka. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk bisa bertemu dengan keluarga tercintanya.


Bersambung ....


__ADS_2