
Malam tampak seperti biasanya di sekeliling rumah Darto, suara jangkrik dan katak bersautan memecah suasana sunyi di sekita rumahnya. Kedua Kakek Darto sudah terlelap di atas dipan di dalam kamarnya, sedangkan Surip dan Bidin masih terjaga di ruang depan sembari menunggu kepulangan Darto.
"Darto kemana ya Sur, kok Lama banget," ucap Bidin, dia bertanya kepada Surip yang tengah tidur di sebelahnya.
"Iya ya Din, sudah hampir satu jam dia belum balik," jawab Surip sembari berdiri dari posisi tidurnya.
"Bagaimana kalau kita susul Darto lagi, Sur?" tanya Bidin kemudian ikut bangun dari posisi tidurnya.
"Udah lah Din, mungkin dia mampir ke rumah teman. Aku ngantuk, aku tidur dulu ya," jawab Surip kemudian kembali ke posisi tidur dan memejamkan matanya.
Melihat Surip yang mulai terlelap, Bidin ikut membaringkan badannya lagi, meski perasaannya tidak merasa enak, dia terus merasa ada yang janggal dengan keterlambatan Darto.
"Ki... Bangun Ki!"
Suara panggilan terdengar lirih menyapa telinga kedua orang tua yang tengah tidur berdampingan itu.
"Ki... kedua cucumu Ki,"
Mendengar suara bisikan itu, Kakung mulai bangun. Sesekali dia mengerjap mata kantuknya, kemudian menyapu sekeliling untuk memastikan dari mana suara itu berasal.
"Ada apa,?" tanya Kakung singkat. kepada sosok perempuan tua yang sempat mengikuti Sri di hari lalu.
"Kedua cucumu dalam Bahaya, Ki," ucap Nenek bungkuk yang kini bersimpuh, di samping dipan yang Kakung dan Mbah Turahmin gunakan.
Mendengar ucapan itu Kakung bergegas membangunkan Mbah Turahmin yang tengah terlelap, dan ketika Mbah Turahmin membuka matanya dia langsung menarik tubuhnya agar cepat bangun.
"Min, Darto Min!" teriak Kakung di samping telinga Mbah Turahmin.
"Iya Mat saya dengar!" ketus Mbah Turahmin sembari menggosok kuping karena gendang telinganya mendengung akibat teriakan Kakung.
"Ada apa Sama Darto?" tanya Si Mbah kepada Sosok Nenek bungkuk di depannya.
"Dia sedang di incar buto ireng, Ki. Bukan cuma Cucu pria Ki, Cucu perempuanmu juga di sana," jawab Nenek bungkuk dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
Mendengar itu, Simbah dan Kakung bergegas berlari keluar kamar, dan membuka pintu kamar Darto yang seharusnya di gunakan Harti. Benar saja, Harti tidak ada di dalam kamar Darto.
"Dimana mereka!" tanya Kakung pada sosok Nenek bungkuk, dengan mata memerah dan tangan mengepal.
"Utara kampung, Ki," jawabnya sembari menunduk kembali. tubuhnya bergetar, gemetar melihat dua lelaki tua sakti yang tengah murka di depannya.
"Ayo Mat, kita hajar si hitam itu!" ajak Mbah Turahmin kemudian mereka bergegas meninggalkan Anto dan Bidin yang tengah tertidur pulas di ruang tamu.
Dengan penuh rasa kesal dan juga khawatir, kedua lelaki tua itu berlari, menghiraukan nafas mereka yang sudah tidak panjang lagi, menuju tempat cucunya yang tengah dalam bahaya.
...***...
"Siapa kamu!" teriak Darto kepada mahluk berbalut kafan lusuh di depannya.
Mahluk itu tidak menjawab , malah justru kembali mendekatkan wajah busuknya ke wajah Darto.
Dengan penuh emosi, Darto mendorong tubuh mahluk itu sekuat tenaganya. Anehnya meski Darto merasa berhasil mendorong hingga tubuh mahluk itu terpental, Darto malah semakin bingung dengan sosok pocong yang masih berdiri tepat di depan matanya.
"Kurang ajar! kenapa kamu menganggu kami!" teriak Darto sembari meraih tubuh Harti yang terkulai lemas itu. Dia merasa bodoh hingga bisa ditipu oleh mahluk rendahan di depannya itu, juga dia merasa bersalah telah mendorong tubuh Harti yang semula dia kira hanya sebuah jelmaan.
"Aku tau kamu, kamu yang mengangkat mayat istri muda buto ireng di rawa, hi hi hi hi," pocong itu melompat sembari terus mengulang kata itu.
Mendengar kalimat yang terus pocong itu ucap, Darto seketika mengingat kejadian yang dirinya dan kedua temannya alami di rawa ketika menolong Dining. Akhirnya bulir keringat berhasil berkumpul di pelipis Darto setelah berhasil mengingat kejadian saat dia melihat lusinan pocong yang berdiri sepanjang rawa.
"Kamu istri buto ireng?!" tanya Darto sedikit ragu, matanya menyapu sekeliling, Darto merasa sedikit ragu dengan kemampuan yang dia miliki.
"Bukan aku! tapi Kami!" bentak pocong lusuh itu dan seketika lusinan pocong menampakkan diri, mereka berdiri mengitari tubuh Darto yang tengah memapah Harti.
Darto kebingungan untuk sesaat, sebelum akhirnya dia meletakkan Harti kembali di atas tanah, dan duduk bersila memainkan Tasbih yang selalu dia genggam.
Ayat demi ayat, Surat demi surat terus Darto lantunkan, sayangnya puluhan pocong seperti tidak memiliki telinga, meski ada beberapa yang menjerit dan bergegas menghilang, tetap saja masih banyak dari mereka yang benar-benar mengabaikan rapalan yang Darto lantunkan.
"Kamu akan mati, Darto,"
__ADS_1
"Kamu akan jadi teman kami, Darto,"
"Kami datang menjemputmu, anak muda,"
Bisikan demi bisikan terus di ucapkan sisa pocong yang masih berdiri mengitari Darto, hingga konsentrasi Darto benar-benar buyar dibuatnya. Keringat terus mengucur dari pelipis Darto, bahkan sesekali sampai menetes dari dagunya. Untungnya akhirnya bantuan yang selalu dia terima tiba juga, Bahkan kali ini dua benda yang di kenakan Darto menyala bersama.
"Silahkan, Jika kalian mampu," ucap Darto sembari membuka mata, dan berdiri dari posisi duduknya.
Cincin di tangan Darto memancarkan kemilau cahaya merah, dan kalung yang dia kenakan benar-benar memancarkan cahaya hijau yang sangat menyilaukan. Sosok pocong yang sedari tadi mengitari tubuh darto mulai terdorong mundur karena takut akan sinar yang terpancar dari dua benda itu.
"Mbah, Tolong Jaga Harti," ucap Darto sendu, sembari mengalungkan batu hijau itu di leher Harti.
Setelah mengalungkan kalungnya, Darto kembali berdiri, dengan sebilah keris hitam yang sudah berhasil dia genggam. Kakek Sastro sang penunggu kalung pun ikut menampakkan diri kali ini, dia duduk bersila tepat di samping tubuh Harti, menjaga Harti dari serangan yang tidak terduga.
Melihat keris yang Darto genggam, hampir separuh jumlah pocong lari kocar-kacir ketakutan di buatnya. Dan sebagian yang melawan berhasil di bakar selayaknya tubuh Lastri yang menjadi abu di atas tanah.
Malam itu berlalu dengan hembusan angin yang begitu kencang, petir dan dan guntur ikut bersorak meramaikan pertarungan Darto dan belasan mahluk di depannya.
Setelah cukup lama, gangguan berhasil di musnahkan satu persatu. Darto kembali menuju tempat Harti terbujur itu, wajah Darto yang penuh keringat mulai bisa memampangkan mimik lega.
"Makasih Kek, Sudah bantu Darto," ucap Darto dengan bibir merekah kepada Mbah Sastro di depannya.
Tidak menjawab, Mbah Sastro malah justru kembali memejamkan matanya di hadapan Darto.
"Dar! masih belum!" teriak lelaki dengan suara penuh wibawa, suara yang sangat Darto kenali, menyapa dari arah punggungnya.
"Maksud Mbah Wajana Apa?" tanya Darto heran, Darto sedikit kebingungan dengan pernyataan Mbah wajana si penunggu cincin yang tiba-tiba menampakkan diri itu.
"Dia disini, Dar!" ucap Mbah Wajana pelan, kemudian dia menatap lurus ke arah kegelapan sawah.
Setelah Darto memicingkan matanya, tampak dari kejauhan sosok botak dengan tubuh hitam legam, sehitam arang. Tengah merangkak sembari meneteskan air liur dari bibirnya, terus mendekat menuju tempat Darto berdiri.
Bersambung.
__ADS_1