
"Dek, Bangun Dek, sudah subuh," tukas Ibu penjual kelontong, Dia sedikit menepuk pundak Bidin yang tengah tidur paling ujung.
Mendengar suara Ibu penjual, Bidin langsung terbangun dan segera menggoyang tubuh Darto juga Surip di sebelahnya, mereka bertiga langsung berdiri setelah sejenak mengerjap-ngerjap mata mereka.
"Mau subuhan di sini atau ikut Ibu ke masjid, Dek?" ucap Ibu kelontong kembali setelah melihat ketiga pemuda itu sudah bangun dari tidurnya.
"Kami ikut ke masjid saja Buk," jawab Darto singkat kemudian berdiri dari posisi duduknya.
"Yasudah, mari ikut Ibu," ajak penjual sembari melangkah keluar rumahnya.
Mengikuti Ibu penjual, Darto dan kedua temannya di ajak menyusuri gang-gang kecil, hingga sampai di satu masjid yang lumayan megah, dan bergegas mereka menunaikan shalat subuh jamaah setelah selesai membasuh diri mereka dengan air wudhu.
"Buk, di daerah sini ada tukang ojek nggak ya?" ucap Darto seusai memaki sendal jepit miliknya seusai shalat ditunaikan.
"Ojek banyak, Dek. Nanti Ibu antar ke pangkalan," jawab Ibu penjual kemudian berjalan menuju rumahnya untuk pulang.
Mendengar ucapan Ibu penjual Darto dan kedua temannya benar-benar merasa lega, mereka takut jika hendak berjalan lagi, karena tempat mobilnya kehabisan bensin cukup jauh, di tambah jerigen yang hendak mereka bawa juga pati sangat berat jika harus di tenteng.
Kembali mereka menyibak jalanan gang kecil menuju rumah penjual kelontong. Sesampainya di rumah, Darto dan kedua temannya memesan tambahan minum dan cemilan. Mereka menunggu matahari terbit, karena kata penjual kelontong, pom bensin biasa buka sekitar jam 7 pagi, jadi mau tidak mau mereka harus kembali menunggu di warung tersebut.
...***...
"Mereka sudah di kota belum ya, Mat," ucap Mbah Min sembari merokok di bahu jalan.
"Pasti sudah, Min. Sebentar lagi juga pasti mereka sampai sini," jawab Kakung dengan wajah yang sedikit ragu juga.
"Sini, Nduk. Simbah masih ada bekal lumayan banyak," ucap Kakung memanggil Harti yang terus saja mengurung diri di dalam mobil.
"Njih, Mbah Harti belum lapar," jawab Harti dari dalam mobil.
"Sudah siang ini Nduk, enggak baik kalau telat sarapan," timpal Mbah Min.
Mendengar ucapan Mbah Min, Harti bergegas menyusul kedua orang tua itu di samping jalan, kemudian memakan sarapan yang sudah di persiapkan di atas tikar pandan, meski rasa lapar tidak kunjung datang karena terus menghawatirkan keselamatan calon suami juga kedua temannya.
Waktu berlalu begitu saja, tak lama setelah mereka memakan sarapannya, terdengar bising suara kenalpot terus mendekat dari arah kota.
__ADS_1
Si Mbah, Kakung dan Harti bergegas berdiri dari posisi duduknya, untuk memastikan siapa gerangan yang tengah mendekat.
Dari kejauhan Tampak Darto tengah membonceng seorang lelaki paruh baya, di atas vespa super lampu bulat berwarna biru yang orang itu kendarai, dengan jerigen yang di taruh di dek depannya.
"Mbah!" teriak Darto sembari melambaikan tangan ketika melihat kedua Kakeknya tengah menunggunya.
"Bidin sama Surip dimana Mas?" tanya Harti setelah Darto turun dari vespa.
"Mereka nunggu di warung kelontong, Dek," jawab Darto singkat, kemudian mengambil jerigen berisi bensin di dek vespa.
"Berapa ya, Pak?" tanya Darto sembari merogoh saku celananya.
"Sepuluh ribu, Dek. Maaf ya Dek, agak mahal soalnya jauh," Jawab tukang ojek sembari menadah tangan.
"Enggak papa, Pak. Saya yang harusnya bilang terimakasih, tadi di pangkalan kalau tidak ada bapak saya harus jalan kaki," ucap Darto sembari menyodorkan uang 15.000 rupiah di tangannya.
"Ini banyak sekali, Dek?" ucap tukang ojek, setengah bingung setelah menghitung uang yang sudah ia genggam.
"Bawa saja Pak, itu rejeki bapak," timpal Kakung yang kini berada di sampingnya.
"Amin!" jawab serentak Darto dan Kakung.
Setelah selesai membayar, Darto dan Kakung bergegas mengisi tanki bensin mobilnya. Tak lama setelah itu mobil pun berhasil di nyalakan kembali, dan perjalanan pun kembali mereka lanjutkan.
Setitik senyum lega kembali terpampang ketika mobil yang Kakung kendarai sampai juga di kota. Mereka langsung bergegas melesat menuju warung kelontong tempat Surip dan Bidin menunggu.
Dan ketika sampai di depan warung kelontong tempat Surip dan Bidin menunggu, Kakung sedikit terkejut melihat sang penjual dan Istrinya.
"Yati? Riski?" ucap Kakung sesudah sampai di depan warung kelontong.
"Pak Kyai?!" ucap serentak pasangan suami istri penjual kelontong, kemudian bergegas meraih tangan Kakung dan mencium punggung tangannya.
"Kalian yang nolong Cucu saya?" ucap Kakung kepada kedua penjual tersebut.
"Mereka cucu Pak Kyai?" tanya Ibu penjual.
__ADS_1
"Yang ini cucu kandungku, dan mereka berdua teman dekatnya," ucap Kakung memperkenalkan Darto.
"Anak Kang Darmin?" tanya penjual penasaran.
"Iya Ris, mirip banget kan wajahnya kaya si Darmin," jawab Kakung sembari menoleh ke arah Darto.
"Subhanallah, dunia memang kecil ya Pak Kyai," ucap bapak penjual sembari tersenyum, di sambut senyum sang Istri di sampingnya.
"Bener, Ris. Bagaimana kabar kalian? sudah punya momongan belum?" jawab Kakung sembari bertanya.
"Belum Pak Kyai, kami belum di beri titipan sama yang kuasa," ucap Ibu penjual kemudian menunduk.
"Yang sabar, nanti juga pasti di kasih kalau kalian rajin minta," ucap Kakung kembali.
"Bantu Doa juga ya Pak Kyai, Biar saya cepat punya momongan," ucap Ibu penjual sedikit tersenyum malu.
Mendengar permintaanya, Kakung hanya mengangguk dengan senyum mengambang di bibirnya.
"Kakung kenal dimana sama bapak dan ibu ini?" tanya Darto penasaran, setelah mendengar obrolan Kakung.
"Mereka belajar di pesantren juga, Dar. Sampai mereka menikah baru mereka pergi dari pesantren. Kira-kira 5 tahun lalu," jelas Kakung menceritakan kisah kedua penjual kelontong.
"Lik Riski, sama Bulik Yati tinggal di sini?" timpal Harti sedikit tersenyum.
"Iya Nduk, Kamu cantik sekali sekarang," jawab Ibu penjual.
"Iya dong, Lik. Masak jelek terus, nanti Mas Darto ndak mau dong sama saya he he he," jawab Harti sembari tersenyum sendiri, dan berhasil membuat pipi Darto sedikit memerah.
Mendengar ucapan Harti semua orang langsung tertawa lepas begitu saja. Waktu begitu cepat berlalu, pertemuan yang sudah lama tidak bisa dilakukan pun bisa terjadi di balik kesialan yang mereka alami. Tampak Kakung terus saja bercerita banyak hal setelah sampai di warung tersebut, begitu juga Harti yang ternyata juga mengenal penjual kelontong, tanpa di duga dia benar-benar dekat dengan kedua penjual.
"Jika Harti sudah aku anggap Cucu, Mereka berdua ini yang aku anggap anak sendiri, Dar," ucap kakung tiba-tiba menjelaskan posisi kedua orang di depannya.
Mendengar penjelasan kakung, Darto hanya bisa tersenyum dan mengangguk sebagai upaya untuk menjawab. Dia tidak ingin menganggu reuni yang membuat senyum di bibir Kakung dan Harti merekah. Sungguh mereka berdua seperti tengah dipertemukan kembali dengan keluarga yang sudah lama terpisah.
Bersambung,-
__ADS_1
Buat pembaca yang ingin gabung Group Chat Alam Sebelah bisa langsung PC author ya. Nanti langsung otor kirim undangannya. 😁