ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEPOLOSAN JAKA


__ADS_3

Pagi kembali datang. Setelah usai shalat subuh, tampak Ki Karta begitu sibuk mempersiapkan semua barang bawaannya. Dia kali ini pulang sendirian menuju kampung ijuk, karena Gayatri sudah menjadi tanggung jawab Surip, dan putrinya memutuskan untuk tinggal bersama suaminya. Meski mendapat paksaan dari keluarga Surip untuk tinggal menetap di sini, namun Ki Karta tetap kekeuh untuk pulang. Karena mau bagaimanapun dia lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, di sana dia bebas melakukan apapun tanpa harus memikirkan sedikitpun rasa pamrih.


Setelah persiapan selesai, Darto bergegas mengeluarkan mobil milik Kakung dari dalam garasi. Harti juga ikut kali ini, Darto sengaja membawanya dengan alasan ingin berekreasi. Setelah Darto selesai memanasi mesin mobil, dia bergegas membawanya parkir tepat di depan rumah Kakung.


"Wah... Benda apa ini, kang? Kita tidak jalan kaki?" Tanya Jaka dengan mata berbinar, menyaksikan mobil mengkilap yang baru saja selesai Darto parkir.


Darto tertawa, dia melihat Jaka yang sama seperti dirinya dulu. Bedanya Jaka tidak tau sama sekali dengan mobil, sedangkan Darto hanya belum pernah saja melihatnya secara langsung meski sudah sering mendengar cerita tentang kendaraan roda berempat tersebut. Dalam rasa lucunya Darto berkata pada Jaka "Kalau kita jalan kaki bisa seminggu lebih baru sampai. Kamu pasti baru pertama kali kan, lihat mobil?"


Mendengar itu Jaka langsung mengangguk. Dia mengitari mobil Kakung dengan mata yang terus berbinar, sembari terus mengelus setiap bagian mobil tersebut. Dalam rasa kagumnya, dia berkata "Kalau balapan sama sapi menang mana, Kang?"


"HA HA HA HA HA! Sapinya bisa pingsan kalau balapan sama ini, Jak!" Sahut Darto terbahak, dia tidak menyangka yang di tanyakan oleh Jaka akan begitu lucu.


Jaka sedikit menyesal karena sudah mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya, dia benar-benar malu karena ditertawakan oleh Darto. Pipinya langsung memerah, setelah melihat Darto yang terus terbahak hingga memegang perut di depannya.


"Ah... Maaf. Mana barang kamu? Kita di jalan paling cepat 3 hari. Kamu bawa pakaian, kan?" Sambung Darto setelah berhenti tertawa.

__ADS_1


Mendengar itu Jaka langsung mengangguk. Dia menjulurkan jarik yang membungkus tiga helai kaos lusuh dan dua celana yang tidak kalah lusuh di dalamnya. Darto yang sedikit penasaran mengintip apa isi buntalan yang Jaka bawa, dan seketika itu Darto langsung membanting pandangannya ke tanah. Dalam rasa iba dia berkata kepada Ki Karta yang baru selesai menaruh barang di bagasi "Ki... Kita mampir pasar dulu, ya?"


"Terserah kamu, Dar. Mau dibawa ke irian jaya dulu juga nggak apa-apa. Yang penting antar saya sampai rumah he he he," jawab Ki Karta sedikit terkekeh, dia faham dengan maksud Darto ingin mengunjungi pasar terlebih dahulu.


"Yasudah, yuk kita berangkat," ucap Darto sembari menatap Harti, Jaka dan Ki Karta secara bergantian, dan langsung mendapat anggukan kepala dari mereka bertiga.


Darto langsung berpamitan kepada dua kakeknya, dan setelah itu dia langsung melesat mengendarai mobil menuju pasar. Jaka begitu menikmati perjalanan, dia bahkan terus membuka dan menutup jendela belakang mobil tersebut. Sesekali kepalanya keluar dari jendela, hanya untuk merasakan hembusan angin yang begitu sepoi pagi hari itu.


Setelah sampai di pasar, mereka langsung mencari warung bakso dan melakukan sarapan. Jaka sangat senang bisa memakan makanan yang begitu lezat untuk pertama kalinya, meskipun di sisi lain dia merasa takut melihat keramaian. Seumur hidupnya dia hanya melihat penduduk kampung miliknya saja, jadi dia sedikit kikuk setelah melihat puluhan bahkan ratusan orang yang berjualan dan berlalu lalang membeli segala kebutuhan mereka.


"Sudah, tidak usah dipikir panjang. Di dalam rezeki yang baru saya terima, ada rezeki milik orang lain juga. Jangan menunduk begitu, harusnya kamu seneng, Jak," ucap Darto sembari membuka pintu mobilnya. Dia merasa kasihan setelah melihat Jaka terus menunduk sembari mengucapkan terimakasih tanpa henti-hentinya.


Ki Karta yang mendengar itu langsung meraih kepala Jaka, dilanjut mengelus kasar kepala Jaka sembari berkata "Darto itu kaya raya, Jak. Kalau cuma beli pakaian sih urusan enteng. Kalau kamu mau dia bisa belikan kiosnya juga, ha ha ha ha!"


Darto dan Harti langsung tertawa, dan wajah Jaka juga berangsur terangkat. Rasa segan di dalam dadanya mulai sedikit teratasi setelah mendengar ucapan Ki Karta. Dia kini bisa menatap wajah Darto dengan tatapan biasa sembari berkata "Besok kalau Jaka jadi orang kaya, Jaka akan lakukan hal yang sama seperti apa yang sudah Kang Darto lakukan ke saya."

__ADS_1


"Semoga saja ya, Jak. Dan juga semoga besok saya bisa menolong keluarga kamu di kampung, biar mereka bisa hidup di luar seperti yang lain," jawab Darto tanpa menoleh, dia fokus dengan arah laju roda yang tengah menggilas jalanan di depan matanya.


"Amin, Kang. Semoga Kang Darto selalu dilindungi Gusti Allah," jawab Jaka singkat. Mendengar itu semua orang di dalam mobil seketika memasang senyum sembari berkata "Amin."


Mobil terus melesat, hanya sekali saja mereka berhenti semenjak dari pasar. Mereka sempat berhenti dan mengisi tanki mobil beserta jerigen seperti biasa, dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka hingga tidak terasa sudah dua jam waktu berlalu.


Menurut Ki Karta, kampung kesemek sudah tidak jauh lagi. Mereka semua sedikit melenceng dari jalur ketika hendak mengarah ke kampung tersebut. Kondisi jalanan hampir mirip dengan jalur yang dilalui ketika menuju kampung kemoceng. Kampung kesemek dan kota terdekat juga terpisah oleh sebuah hutan, meski jarak hutan tersebut hanya membutuhkan satu jam perjalanan lamanya.


Setelah hutan berhasil dilewati. Akhirnya mereka pun sampai di sebuah Kampung seperti arahan Ki Karta. Kampungnya begitu asri, warganya juga tampak begitu antusias melihat kendaraan masuk. Banyak sekali bocah kecil yang berlarian menuju jalan, untuk melihat sumber suara bising yang berasal dari deru mesin mobil yang tengah Darto kendarai.


Anak-anak kecil itu berteriak dengan lantang, mengucap kata "MONTOR TEMPE! NJALOK DUITE!"


Bersambung,-


Montor tempe njaluk duite \= mobil tempe.. minta uangnya 😂

__ADS_1


(Nostalgia author pas jaman kecil kalau liet sedan) 😂🤣🤣


__ADS_2