
Nasi Goreng Babat Pete sudah tandas mereka telan, rasa kenyang bersarang rapi di dalam perut mereka berlima. terutama Darto, yang sudah makan dua kali.
sembari merokok, kembali kakung menceritakan sebuah kisah yang sangat dia pahami di waktu dulu.
"Jadi begini..." Ucap Kakung memulai cerita panjangnya.
"Juragan Agam itu murid pesantren sini dulu, dia murid terpintar kala itu, aku yang ngajari dia secara khusus, karena dia memang pentolan pesantren di masa itu" ceritanya terhenti karena Kakung tengah mengisap rokok di sela jarinya itu.
"Awalnya tidak ada yang aneh sama dia, semuanya normal. Dia baik, periang, juga penurut. kamu tau istri juragan yang pertama Sum?" Kakung bertanya kepada Bu Sumi yang tengah menyimak ceritanya itu.
"Saya tidak kenal Pak Kyai, tapi saya pernah lihat dia beberapa kali, di samping dia jarang keluar, kami juga jarang bertamu ke rumah juragan selain ada keperluan panen ataupun hutang" Jawab Bu sumi dengan pandangan menerawang masa lalu, mengingat sosok istri pertama Juragan Agam.
"Namanya Retno, Sum, dia juga murid pesantren sini, tapi dia bukan orang jawa" jawab Kakung
"Oh pantas.?! setiap kita menyapa dia jawabnya pakai bahasa indonesia Pak Kyai" jawab Subhi yang juga tengah memasang telinga akan cerita Kakung.
"Memang berapa istrinya Kung?" kali ini Darto yang bertanya.
"Ya sekarang dia enggak punya Dar, makanya dia mau narik Harti," kembali kakung menghisap rokok di sela jari, setelah membuang abu di ujungnya.
__ADS_1
"Apa hubungannya sama aku Mbah?" tanya Harti
"Makanya dengerin dulu Har, Simbah juga baru cerita sedikit" ucapnya kembali.
"Nah ketika pertama mereka ketemu, Agam yang jadi santri terbaik di kala itu mulai berubah, dia mulai bolos ngaji, malas menghafal bahkan sering berulah, yah Aku masih maklum, karena namanya orang lagi kasmaran memang bawaannya pengen ketemu terus, iya kan Dar?" sindir kakung melirik Darto dan harti yang seketika tertunduk malu.
"Hahaha dasar kalian ini, namun Dar, beda sama Kamu dan Harti, si Agam enggak bisa ketemu sama orang tua Retno, karena rumahnya memang jauh. dan Agam bukan orang berduit seperti sekarang, di tambah si Retno juga kentara tidak tertarik dengan si Agam, tapi meski begitu, Agam bukan orang yang gampang kalah, Simbah kenal betul seberapa kokoh pendirian dia, kalau sudah pengen sesuatu, dia rela mandi kotoran asal apa yang dia pengen itu bisa dia miliki" ucapnya terhenti ketika rokok di sela jarinya sudah sangat pendek, dan kembali meraih sebatang rokok baru, kemudian menyalakannya.
"Nah satu ketika Orang tua Retno datang kesini, menjenguk putri semata wayangnya itu. kalian tau apa yang Agam lakukan?" Kakung memandang wajah mereka yang tengah bungkam mendengar ceritanya satu persatu. dan hanya mendapat gelengan kepala sebagai jawaban.
"Dia langsung melamar Retno di depanku kala itu, ketika Retno beserta orang tuanya tengah duduk di ruang ini, sama kaya kalian sekarang. dan kalian tau apa yang Retno dan Orangtuanya katakan?" kembali kakung mendapat gelengan kepala.
"Agam yang baik dan pintar berubah menjadi Agam yang culas setelah kejadian itu, dia pergi dari pesantren, sampai 2 bulan dia tidak pulang, dan pas dia pulang, aku lihat mahluk yang ganggu kita tadi sudah terus ikut di punggung Agam, perilaku agam menjadi sombong di mata murid lain, dan anehnya, Retno yang sedari awal tidak tertarik ,mulai mendekati Agam. hingga akhirnya mereka pacaran, dan pamit meninggalkan pesantren, tak lama setelah itu Aku dapat kabar bahwa Agam sudah menikah dengan Retno di seberang sana. setelah setahun Agam tinggal di rumah Retno, Agam beli rumah yang sekarang dia pakai di desamu Sum, dia pulang ke sana sama Retno yang hamil tua. dia beli tanah banyak sekali, dan dari perjalanan yang sudah dia tempuh, dia kenal beberapa pedagang yang memasok sayuran, dan diapun menekuni usaha itu sampai sekarang, berawal dari menyewakan tanah, hingga bisa menjadi juragan seperti sekarang" Kakung menghela nafas panjang sebelum kembali bercerita.
"Retno mati pas melahirkan anak pertamanya itu, bukan cuma Retno, tapi dukun yang membantu kelahirannya juga ikut mati semalam setelah membantu kelahiran anak Agam itu, karena dukun itu melihat bentuk asli anak yang keluar dari rahim Retno" Ucap kakung menggeleng kepala.
"Apa anaknya yang tadi siang kita lihat kung?"
Tanya Darto terkejut.
__ADS_1
"Iya Dar, anak yang dilahirkan Retno bukan anak Agam tapi Anak Genderuwo yang menjadikan Agam sekaya sekarang, kamu pasti terkejut kan Dar? pas lihat anaknya Juragan punya ekor dan penuh bulu. dia sudah melenceng dari apa yang dia pelajari sejak kecil di pesantren, dia rela bersekutu dengan mahluk itu hanya karena pingin memiliki Retno, sungguh Kakung sangat menyesal enggak bisa cegah dia sebelum semua terjadi" Kakung menunduk lesu.
"Anak juragan berbulu?" Harti mengernyitkan dahi, karena dia juga bisa melihat sosok hantu namun kenapa dia tidak bisa melihat bentuk asli anak juragan.
"Iya Har, kamu sudah di tandai, jadi kamu tidak mungkin bisa melihat bentuk asli anak si Agam. uang yang orang tua kamu pinjam itu sama saja bisa di jadikan perantara perjanjian. tapi Simbah masih bersyukur kamu belum menikah dengan Agam, jika kamu menikah, kamu juga bakal mati pas melahirkan anak genderuwo itu, sama kaya istri pertama dan istri kedua Agam" jawab Kakung dengan raut lega.
Mendengar cerita panjang yang Kakung lontarkan, Bu Sumi dan pak Subhi benar-benar gemetar. Rasa takut terpampang jelas di wajah mereka.
"Terimakasih Pak Kyai, berkat Pak Kyai kami tidak jadi menikahkan anak kami, betapa biadabnya kami jika Harti sampai jatuh ke tangan Juragan, sedangkan kami tidak pernah berusaha membesarkannya, namun setelah dia besar, kami hendak membunuhnya, hanya demi uang yang tidak pernah dia cicipi" ucap Ibu sumi yang mulai terisak.
"Ndok.. Bapak minta maaf" ucap Pak Subhi yang juga sudah berkaca kaca.
"Sudah Pak, Buk, Harti tidak pernah marah sama kalian, Harti juga bersyukur karena sekarang bisa berkumpul lagi, dan yang pasti Harti sangat amat bersyukur, karena Simbah yang membesarkan harti adalah Simbah yang hebat. mungkin ini takdir yang di atas, Gusti Allah pengen mempertemukan Harti dan simbah melalui perbuatan kalian" jawab Harti sesenggukan. Dia menangis lantang, air matanya terus menetes dari dagunya. Darto dan Kakung hanya bisa yang menatap penuh iba. Menyaksikan momentum dikala sebuah keluarga yang sempat terurai, bersatu dan utuh kembali.
'Andai Aku bisa memeluk kedua orangtuaku seperti yang harti lakukan sekarang'
Gumam hati kecil Darto, menyaksikan Harti meringkuk didalam pelukan kedua orang tuanya.
Bersambung,-
__ADS_1
jangan lupa jejaknya ya.. dan jangan lupa bahagiakan orang tua, sebelum semuanya jadi sebuah angan-angan 😁