ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TIDAK GRATIS


__ADS_3

Setelah suara langkah kaki si pemuda itu mulai tak terdengar lagi, Gending mengintip dari celah dinding anyaman bambu rumahnya. Setelah dirasa punggung pemuda itu sudah tidak tampak lagi, Gending bergegas kembali membuka pintu. Dia hendak berlari untuk meminta perlindungan Darsa di rumahnya, namun suatu hal terjadi ketika dirinya baru membuka pintu rumahnya.


"Jangan pergi!"


Gending seketika menyapu pandangannya ke segala penjuru arah. Dia berputar, mendongak, menunduk hanya untuk memastikan dari mana suara itu berasal, dan juga memastikan siapa yang mengucap kata tersebut.


"Aku di sini," ucap suara itu kembali.


Karena suara itu terdengar lebih keras dari arah kanan, Gending seketika itu menoleh ke arah suara. Dia sedikit terkejut ketika melihat kepala ular seukuran ibu jari menggantung tepat di sudut mata kanannya. Spontan Gending meraih kepala ular itu, dia menariknya kencang, namun yang terjadi bukannya ular itu berhasil dia tarik, melainkan dia menjambak rambutnya sendiri.


Tanpa Gending duga, ular tersebut ialah jelmaan dari sang pemilik curug, dia menampakkan wujud ular kecil yang terbentuk dari rambut Gending. Entah untuk alasan apa, dia bersikeras menghalangi Gending untuk pergi meninggalkan rumahnya, sehingga Gending penasaran setengah mati di buatnya.


"Sudah tuju tahun! kamu belum memberi kami satupun jiwa!" ucap ular itu kembali, kali ini dia muncul dari sudut mata kiri Gending.


"Maaf, nyai, saya tidak tahu bagaimana cara memberi jiwa," ucap Gending dengan wajah menunduk, dia dirundung rasa gelisah seketika.


"Kamu tunggu saja di rumah, sebentar lagi akan ada orang yang datang memberikan jiwa mereka," ucap ular itu kembali, sembari merambat hingga melingkari leher Gending.


"Ta tapi, Nyai, saya takut jika lelaki tadi kembali," ucap Gending terbata, dengan bulir keringat yang mulai timbul di pelipisnya.


"Jangan membantah! sssttt Cetak!" sergah ular tersebut sembari mendesis dilanjut mematuk kening Gending.

__ADS_1


Gending seketika terbujur kaku, pandangannya kian memburam, keringatnya mengucur deras, dan tubuhnya berangsur kehilangan tenaga, ketika racun berbisa dari ular yang melilit lehernya mulai bereaksi di dalam tubuhnya. Tidak lama setelah ular itu menggigit kening milik Gending, Gadis itu langsung tergeletak di tanah depan rumahnya. Meski selang beberapa detik saja dia kembali terbangun, dengan ekspresi yang sungguh berbeda dari biasanya. Saat itu, sang ular benar-benar sudah mengambil alih tubuh serta kesadaran yang Gending punya.


Melihat Gending seperti itu di depannya, Darto hanya bisa melihat saja, meski bantinnya sudah menjerit ingin memberikan pertolongan untuk Gending yang tengah dikuasai. Sungguh sebuah tragedi yang amat sulit untuk diterima, baik oleh Darto maupun Qorin yang tengah menemaninya.


Setelah sang ular mengambil alih tubuh gadis itu, dia melangkah masuk kedalam rumahnya. Dan tak lama setelahnya, lima pemuda datang berbondong dengan wajah sangar di kepala mereka. Mereka saling memasang wajah bengis, sesekali mereka tersenyum masam, tatkala membicarakan apa yang hendak mereka perbuat nantinya.


"Gending! buka pintunya!" teriak lelaki yang tadi sempat didorong oleh Gending, dia kembali membawa empat temannya ke rumah yang Gending tempati.


"Woe! buka! tuli ya!" salah saru teman lelaki itu ikut berteriak sembari menggedor pintu rumah Gending.


Karena tidak mendapat jawaban. Kelima lelaki itu saling bertatap, mereka saling mengangguk, sebagai isyarat mereka setuju untuk mendobrak. Lalu setelah semua benar-benar setuju, lelaki si biang kerok langsung mengambil ancang-ancang. Beberapa langkah dia mundur kemudian berlari dan melompat menendang pintu rumah Gending.


"Brak! Brak! Brak! Brak! Brak!" lima kali gebrakan di lakukan oleh kelima pemuda tersebut, namun usaha mereka sia-sia.


"Cukup!" teriak Gending dari belakang pintu, kemudian membuka kunci pintu yang ternyata sebuah balok panjang yang di palang horizontal dari tulang ke tulang pintu satunya.


Melihat balok yang di gunakan sebagai palang kunci, lima pemuda terbahak seketika, mereka semua paham jika tenaga seorang yang segar bugar tidaklah mampu mendobraknya, karena bagaimanapun mereka harus merobohkan tulang terlebih dahulu jika ingin membuka kuncian pintu.


"Apa mau kalian? ganggu orang tidur saja!" ketus Gending, dengan tatapan mata tajam menyapu mata kelima pemuda di depannya.


"Oh sudah berani?" jawab si pemuda yang pertama kali datang dan memanggil temannya.

__ADS_1


"Oh... Sepertinya saya tau maksud busuk kalian semua. Saya bisa memberi apa yang ada di dalam pikiran kalian, tapi itu tidak gratis," ucap Gending sembari memegang dagu lelaki yang paling dekat dengannya, sembari mendekatkan wajahnya.


"Akan aku beri semua yang kamu mau, Dek. Asal kau mau tidur denganku," ucap lelaki itu, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Gending, hingga hidung mereka bertemu.


"Baik, aku bisa melayani kalian semua, jika kalian membayar harga yang sama," ucap Gending sembari memalingkan wajahnya, dia kini menatap empat pemuda yang tengah terpaku memperhatikan kecantikan yang Gending miliki.


Mendengar ucapan Gending, lima pemuda itu langsung tertegun dibuatnya, mereka meneguk saliva, dan terus membayangkan keindahan yang akan mereka lihat sebentar lagi.


"Kalian nanti! tunggu disini! saya yang punya ide, jadi saya yang pertama!" ucap pemuda si pembuat masalah, dia bergegas masuk sembari menggandeng tangan Gending, dan membiarkan empat temannya menunggu di luar rumah.


Suasana tampak sunyi, empat temannya menunggu dalam bungkam, mereka hanyut dalam lamunan masing-masing. Hingga selang beberapa waktu si pembuat onar keluar dari rumah Gending dengan senyum merekah, wajah dan badannya benar-benar dipenuhi keringat. Dia berjalan sembari membetulkan posisi kain yang dia kenakan sebagai celana, dan bergegas mendekati keempat temannya.


"Kita gimana ini, Mar?" tanya salah satu teman, sembari menghentikan langkah si pembuat onar yang ternyata bernama Umar.


"Kalian sudah di tunggu! ada surga di dalam rumah sana!" ucap Umar semangat, matanya berkaca-kaca dan bibirnya merekah memampangkan sudut yang terus mengambang.


Mendengar itu, ke empat temannya berebut, bahkan sampai melakukan hompimpa, untuk menentukan giliran. Dan setelah giliran di tentukan, empat pemuda itu masuk bergantian, satu persatu hingga semua mendapat bagian.


Hari itu adalah hari di mana Gending si gadis buruk rapa nan lugu, digerayangi dan digagahi Umar dan ke empat temannya, anehnya ketika Gending selesai melayani mereka berlima, tidak ada apapun yang terjadi, dan juga tidak ada bayaran yang diminta. Setelah selesai, mereka semua pulang dengan bibir mengambang di wajahnya, semua merasa puas dengan apa yang telah mereka lakukan, bahkan terus membahas dan membanggakan apa yang mereka perbuat sepanjang perjalanan.


Sedangkan di sisi lain, Gending terus menerus tersenyum simpul, dia merasa puas karena rencananya sudah berhasil. Rencana untuk memindahkan beberapa anak ular yang singgah di dalam tubuh Gending, melalui lubang saluran kencing kelima pemuda itu.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2