ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
HALAL


__ADS_3

Pagi ini waktu terasa berhenti, telinga Darto serasa tuli, dadanya berdegup begitu memburu, nafasnya tertekan pendek dan tangannya tidak bisa berhenti gemetar. Darto benar-benar gugup, seluruh tubuhnya terasa kebas seperti mati suri saat ini.


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan," (Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan) ucap Darto dengan tatapan lurus menatap Kakung. Dia menjawab serentetan kata dari bahasa arab yang Kakung ucap sembari menjabat tangan kanannya. Darto tampak begitu mantap dalam menjawab kalimat Kakung, meski semua mata tengah menatap dirinya yang tengah duduk berdampingan dengan Harti di dalam masjid pesantren.


"Sah?" tanya Kakung sembari menyapu pandangannya menatap puluhan pasang mata yang duduk di belakang Darto dan Harti.


"Sah....!" sahut semua saksi yang tengah menyaksikan prosesi akad dari pernikahan Darto dan Harti secara serentak. Mereka ikut merasakan kegembiraan dari sebuah ikatan tersebut dengan cara bersorak dan tertawa melihat Darto memasang wajah sumringah.


"Alhamdulillah...!" teriak semua orang secara serentak.


Perasaan gugup yang Darto rasa seketika sirna, perasaan lega merambat dari ubun-ubun hingga ujung kakinya. Darto begitu puas karena bisa mengucapkan kalimat yang sudah dia hafal berhari-hari, tanpa kesalahan sedikitpun dalam pelafalannya.


Untuk pertama kali, pagi ini tangan Darto dipegang oleh gadis pujaannya. Harti menjabat Darto dan langsung mengecup punggung tangannya. Jantungnya kembali berdegup, serasa siap lepas dari dadanya saat itu juga. Sebuah perasaan yang begitu menggebu, langsung hadir di dalam dadanya. Belum lagi ketika Kakung menyuruh agar Darto mengecup kening Harti di depan semua orang. Pipi Darto dan Harti langsung meremang, rasa panas seketika hinggap di wajah mereka, hingga sebatas telinga.


Darto begitu kikuk, sama halnya dengan pasangannya. Mereka berdua bagaikan robot yang memiliki karat di setiap sendinya. Tubuh mereka bergerak kaku, apalagi ketika bibir Darto sudah begitu dekat dengan wajah yang dipenuhi riasan milik Harti.


"Cium.. Cium.. Cium..," teriak semua saksi. Disertai teriakan Bidin dan Surip yang mengucapkan kata sama, mereka bersorak agar Darto segera mengecup kening istri sahnya, dengan suara paling lantang diantara saksi yang lainnya.


Deg.. Deg.. Deg.. Deg..

__ADS_1


Darto serasa bisa mendengar degup jantungnya sendiri, suaranya begitu keras, serasa jantungnya berdegup tepat di depan gendang telinganya sendiri. Nafasnya kembali tertekan pendek, ketika melihat Harti yang semula menatapnya dengan wajah malu, kini mulai memejamkan mata dan sedikit menunduk, menyuguhkan keningnya kepada lelaki yang baru saja mengikat dirinya dengan sebuah janji.


Hening....


Sunyi...


Dalam sekejap suara gaduh menghilang, Darto tidak bisa mendengar apa-apa lagi selain degup jantungnya sendiri. Tatapannya sama sekali tidak memperdulikan apa yang ada di sekitarnya. Darto menatap lurus wajah Harti yang tengah memejamkan mata, tepat di depan wajahnya.


Perlahan Darto mendorong wajahnya maju, dia mendaratkan satu kecupan kecil di kening istrinya. Dan ketika bibirnya menyentuh kening Harti, suara bising seketika datang menyeruak masuk ke dalam telinganya. Darto kembali kikuk dan menarik wajahnya menjauh dari wajah Harti dengan buru-buru. Darto benar-benar merasa sangat malu, wajahnya begitu panas, serasa siap meledak saat itu juga.


Melihat Darto yang begitu malu, semua orang yang menyaksikan gelagat Darto langsung terbahak. Mereka tertawa lepas dengan nada sedikit mengejek, setelah melihat pipi dan telinga Darto berubah menjadi merah merona.


Setelah cukup lama menahan malu, Darto dan Harti pergi ke tempat Si Mbah dan kedua orang tua Harti yang duduk di belakang Kakung. Darto memeluk Si Mbah dengan penuh rasa syukur dan juga bahagia. Dalam dekapannya Darto membenamkan wajahnya di dada Mbah Turahmin, dia menangis sembari berkata "Terimakasih, Mbah. Sudah sabar mengurus dan merawat Darto sampai sekarang."


Si Mbah langsung mengencangkan rangkulannya, dia tidak bisa lagi menahan air yang sudah cukup lama tertampung di atas kantung matanya. Tangisan haru pecah saat itu juga, baik dari sepasang mempelai maupun orang tuanya. Mereka semua hanyut dalam momentum mengharukan, di hari bahagia yang tidak akan pernah mereka lupakan.


Setelah Darto selesai, hanya berselang beberapa menit saja Kakung kembali mengucapkan kalimat arab kepada dua insan yang akan di satukan. Kali ini Bidin dan Siti. Mereka tampak sama gugupnya dengan Darto, namun semuanya berjalan lancar. Bidin benar-benar mengucapkan kalimat Qabul dengan lantang dan tanpa salah. Bahkan dia mengecup kening Siti dengan begitu percaya diri. Darto dan Surip seketika terbahak melihat Bidin yang tidak punya malu sama sekali.


Setelah Bidin dan Sri selesai, Kakung kembali mengucap kalimat yang selalu diucap penghulu di depan Surip dan Gayatri. Surip benar-benar pucat, dia sangat gugup hingga bibirnya gemetar ketika mengucap Qabul. Melihat wajah Surip, Darto dan Bidin terbahak hingga bulir air bening keluar dari mata mereka. Mereka berdua mengejek Surip dengan suara keras hingga membuat semua saksi ikut tertawa mendengar ucapan mereka.

__ADS_1


Karena begitu gugup, Surip sudah mengulang kalimat pendek yang dia hafal berhari-hari sebanyak dua kali. Kakung bahkan sampai terbahak melihat Surip yang mengucap kalimat qabul dengan bibir gemetar, sama halnya dengan dua orang tua Surip dan Ki Karta, mereka juga ikut terbahak melihat tingkah Surip yang begitu konyol di depan mereka.


"Kalau salah sekali lagi, nikahnya ditunda lho, Sur," ejek Kakung melihat Surip yang begitu malu karena sudah salah dua kali berturut-turut. Lalu Kakung kembali berkata "Tarik nafas dulu, daripada nikahnya ditunda."


Mendengar itu, Surip langsung menghela nafas yang begitu panjang, dia mencoba untuk tenang, sembari terus mengulang kalimat yang akan dirinya ucapkan.


Setelah cukup lama, suasana kembali hening. Semua saksi bungkam, mereka memasang telinga untuk apa yang akan Surip ucapkan. Dan akhirnya Surip berhasil melafalkan qabul dengan lancar pada kesempatan ke tiga. Dia bahkan langsung melompat dari duduknya ketika semua orang berkata sah, dan juga langsung memegang wajah Gayatri dilanjut mengecup keningnya tanpa menunggu aba-aba.


Semua orang benar-benar terbahak melihat aksi Surip. Mereka semua tertawa hingga bulir bening terus mengalir dari kantung mata mereka, setelah melihat aksi Surip yang begitu kocak di hari pernikahannya.


Hari itu, merupakan hari yang begitu bahagia untuk tiga sahabat Darto. Selain Surip dan Bidin, Anto juga merasakan hal yang sama dengan mereka bertiga. Anto benar-benar sangat terharu melihat Darto, mengingat hanya Darto saja satu-satunya sahabat yang tersisa. Sahabat yang sudah menemaninya tumbuh, bersama dua sahabatnya yang sudah lama pulang terlebih dahulu.


Anto seketika mendongak, sesekali dia mengusap bulir air bening yang mengalir membasahi pipinya. Tatapannya menatap langit-langit masjid, namun pikirannya menerawang jauh menembus atap masjid. Dalam momen haru yang ia rasa, dia memamerkan barisan gigi sembari bergumam "Dining.. Satya.. Kalian bisa lihat Darto juga, Kan? Dari sana?"


Bersambung,-


...Karena author belum nikah, jadi mohon di maafkan ya! Kalau ada proses yang ketinggalan atau kelebihan....


...😆😆😆😆...

__ADS_1


__ADS_2