ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TEROR BARU


__ADS_3

Hari itu setelah membayar hutang yang di miliki orang tua Harti. Kakung, Darto Dan Harti singgah di rumah Bu Sumi hingga malam. Ibu Sumi meminta untuk menunggu Suaminya pulang dari sawah. Tentunya dia ingin mengenalkan Darto kepada ayah kandung Harti. Dan berkata ingin menyiapkan menu buka puasa untuk calon mantunya tersebut.


Setengah hari mereka membuang waktu di rumah itu. tampak Darto melanjutkan menghafal Al-Qur'an ditemani Harti. Mereka duduk di bawah pohon mangga di samping rumahnya. Sedangkan Kakung terus berbincang dengan Ibu Sumi tanpa jeda.


Waktu berlalu begitu saja, sore sudah tiba. Yang di tunggu pun akhirnya datang juga.


"Assalamu'alaikum dek," sapa Pak Subhi Ayah kandung Harti yang menyusul ke bawah pohon mangga, masih dengan cangkul yang dia bawa.


"Wa'alaikumsalam Pak!" Jawab Darto kemudian meraih tangan lelaki itu dan mencium punggung tangannya.


"Mari Dek masuk saja, sudah hampir magrib. Pamali di luar rumah jam-jam segini" ajak Pak Subhi yang langsung Darto dan Harti turuti.


Setelah memasuki rumah. Harti bergegas menuju belakang rumah hendak mandi. Menyisakan Darto dan orang tua Harti di ruang tersebut.


"Kakung kemana ya Buk?" tanya Darto kebingungan.


"Pak Kyai lagi cari rokok katanya Dek, paling sebentar lagi balik!"


"Owalah, Saya kira ditinggal pulang Buk hehe,"


"Enggak mungkin lah Dek, ada-ada saja Adek ini," jawabnya ketika tengah mempersiapkan hidangan buka puasa untukku.


"Maaf ya dek, menunya cuma kaya gini" ucapnya kembali setelah selesai menyuguhkan berbagai macam masakan serba tempe di atas meja.


"Selama saya tinggal sama Kakung, Kita beli makan terus Buk. Darto seneng bisa makan masakan Ibuk" jawab Darto cengengesan.


"Oh iya Pak, Ibu lupa kasih tau. Ini bakal jadi calon mantu kita" ucap Ibu Sumi mengalihkan pembicaraan dan berteriak kepada Suaminya yang baru selesai berganti baju.


"Beneran Buk?terus jura..,"


ucapnya tertahan kemudian melirik ke arahku.


"Juragan Pak? sudah di bayar sama Pak kyai!" seakan tau maksud dari suaminya, Ibu Sumi spontan menjawab pertanyaan tidak lengkap darinya.


"Betul Sum? Kamu enggak bohong kan?"


jawabnya tidak percaya.


"Iya Pak, bukan cuma di bayarin hutang, Pak kyai suruh kita pindah dari rumah kontrakan ini, di pesantren ada rumah yang enggak di pakai punya Pak Kyai"


Mendengar pernyataan sang istri, Pak Subhi hanya terdiam dan tertunduk. Dia merasa tertolong namun juga merasa malu.

__ADS_1


"Ini semua berkat Harti ya Buk, Bapak harus minta maaf sama Harti," ucap Pak Subhi lesu.


Suara adzan terdengar, setelah meneguk segelas air putih. Darto ijin melaksanakan shalat Magrib terlebih dahulu sebelum bergabung melakukan makan malam di meja makan rumah mereka.


"Kakung kok belum balik ya Buk?" ucap Darto menunggu di sebelah meja makan.


"Iya ya, Le. Padahal warungnya deket. Kamu mending makan dulu, kamu kan puasa sendirian, nanti Pak Kyai biar makan bareng kami"


Air liur Darto sudah tidak bisa lagi di bendung. Rasa lapar berhasil membuat Darto menuruti permintaan calon mertuanya untuk makan terlebih dahulu. Tidak sampai lima menit, Nasi di atas piring sudah tandas di habisi oleh si Darto.


"Makanannya enak banget Buk!" ucap darto menahan suara sendawa.


"Siapa dulu yang masak, hehehe" jawab Bu sumi dengan senyum terbesit di bibirnya.


"Saya juga mau cari rokok dulu ya buk" ucap Darto, kemudian hendak pergi membeli rokok, namun langkahnya ditahan oleh Pak Subhi.


"Ini ada rokok Dek," ucapnya seraya menyodorkan sebungkus rokok Djarum 76.


"Makasih Pak!" jawab Darto kemudian menyalakan rokok di sela jarinya itu.


"Rumahmu dimana Dek?" Tanya Pak Subhi membuka perbincangan.


"Sebelum ikut Kakung, saya lahir dan tinggal sama Simbah saya di dusun kemoceng Pak,"


"Almarhumah Bu Lastri ya Pak?" tanya Darto polos.


"Apa maksudmu dek?" timpal Ibu Sumi di barengi Pak Subhi yang mengernyitkan dahi.


"Ibu Lastri sudah meninggal Pak,"


"Inalillahi..," jawab mereka serentak.


"Meninggalnya kenapa Dek?" tanya Ibu Sumi.


Lantas Darto menceritakan sekedarnya saja, takut membuat mereka murka. Setelah bercerita, terdengar suara Kakung mengucap salam dari depan pintu rumah. Pak Subhi pun bergegas pergi membuka pintu.


"Kalian ikut pindah hari ini ya! barang kalian tinggal saja dulu, biar besok kita ambil lagi!" ucap Kakung dengan muka gelisah setelah masuk ke dalam rumah.


"Harti dimana?!" Ucap kakung dengan mata menyapu seluruh ruangan.


"Dia lagi mandi Kung," Jawab Darto sekenanya.

__ADS_1


"Biar Ibuk yang panggil. Masak mandi hampir satu jam!" timpal Bu Sumi, dan bergegas menuju wc yang terletak di belakang rumah


"Mari Pak Kyai, Ini makanannya hampir dingin" Ajak Pak Subhi.


"Kamu sudah makan Dar?" Tanya kakung yang sudah memegang sepiring nasi.


"Sudah Kung, Ku makan sendiri tadi, hehehe,"


"Mari Pak kita cepat-cepat habiskan langsung berangkat ke pesantren sehabis makan" ucap Kakung masih dengan wajah tergesa.


"Emang ada apa Pak Kyai?" tanya pak Subhi


"Sudah nanti kita bicarakan di pesantren!" Kakung menutupi sesuatu.


Apa yang kakung sembunyikan? Darto berfikir keras tentang apa yang hendak Kakung jelaskan. namun saat ini Darto hanya bisa bersabar.


"Pak! tolong!" teriak Ibu Sumi dari arah WC di belakang rumah. Teriakannya membuat kami bertiga serentak bergegas menuju belakang rumah. Sesampainya di sana, tampak Ibu Sumi yang tengah menggendong Harti.


"Kenapa ini Buk?!" tanya Pak Subhi kemudian meraih tubuh Harti yang tengah pingsan itu.


"Enggak tau Pak, Harti sudah baring di tanah pas ibu buka pintu WC" ucapnya panik.


"Sudah bawa saja ke mobil! kita tinggalkan rumah ini segera!" desak Kakung tergesa.


Lantas di gotong tubuh Harti yang terkulai lemas itu masuk kedalam mobil Kakung. Tanpa membawa apapun kedua orang tua Harti pun ikut masuk ke dalam. Merasa kebingungan, kedua orang tua Harti hanya terus bertukar pandang menyaksikan kesigapan Kakung dan Darto, yang berlari-lari kecil menuju mobil setelah berhasil mengunci pintu rumahnya Harti.


Tanpa pandang bulu, Kakung menginjak pedal gas dalam-dalam, jalanan berbatu di depannya seakan tidak jadi hambatan kala itu. Hingga hujan deras yang tiba-tiba turun, barulah Kakung menurunkan kecepatan laju mobilnya karena jarak pandangnya terbatas.


"Alhamdulillah dia sudah pergi," Ucap Darto yang tengah melihat ke arah belakang mobil dengan wajah yang berangsur lega.


"Belum Dar!" ketus Kakung yang tengah fokus mengemudi dan sesekali memperhatikan spion mobilnya.


"Duak!, Duak! Duak!" suara benturan benda berat dari atas mobil seketika berhasil menciptakan suasana mencekam malam itu.


Bergoyang hebat mobil itu di buatnya, Kakung dan Darto yang duduk di depan hanya bisa mengucap Dzikir dari mulut mereka. Lain dengan Pak Subhi dan Bu Lastri, mereka terus berteriak histeris setiap terdengar suara benturan dari atas mobil yang mereka tumpangi.


"Sebenarnya, Apa ini Pak Kyai?" tanya Pak Subhi yang sudah mandi keringat gara-gara ketakutan.


Tanpa menjawab, Kakung dan Darto terus berdzikir, terus melesat menyibak jalanan bebatuan gelap, tanpa satupun penerangan.


Bersambung,-

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya guys 😁


__ADS_2