
"Sastro! Wajana! Kalian pilih saja satu musuh, biar aku yang lawan tiga sisanya!" teriak Darto kepada dua lelaki di sampingnya.
Mendengar ucapan Darto, Sastro dan Wajana seketika mengangguk, kemudian melompat ke arah lawan pilihan mereka. Kini hanya tersisa tiga buto ireng yang terus memutari tubuh Darto.
Berbeda dengan Sastro dan Wajana, Darto hanya diam menunggu serengan dari mereka bertiga, dia bungkam sembari terus menyapu pandangannya. Darto benar-benar fokus memperhatikan gerak gerik tiga musuh di depannya, tanpa keraguan sedikitpun Darto terus memasang posisi siap. Melihat Darto yang hanya terus diam, salah satu dari tiga buto melompat tepat ke arah Darto. Dia benar-benar menyerang dengan kecepatan yang tidak masuk akal sama sekali, tubuhnya langsung hilang tak terlihat hanya dalam kedipan mata.
Melihat salah satu buto melompat ke arahnya, Darto langsung meluruskan dan merapatkan jari tangannya, kemudian meluruskan lengannya, dan 'Jleb!' Jari Darto berhasil masuk menembus leher buto ireng yang pertama kali melompat ke arahnya.
Buto ireng itu langsung terbakar, setelah Darto mengalirkan energi dari tangannya. Melihat itu dua sisanya benar-benar langsung waspada, sembari memikirkan tindakan yang akan mereka lakukan setelahnya.
"Cuma segitu kemampuan kalian?" ejek Darto yang seketika langsung mendapat suara raungan dari dua buto di depannya.
"Sombong sekali kau manusia! Yang kau bunuh itu yang paling lemah diantara kami!" teriak salah satu buto sembari terus merangkak memutari Darto.
Mendengar itu, Darto bahkan tersenyum di buatnya, dia benar-benar merasa lucu dengan ucapan buto.
"Hei! Kau kira kalian paling kuat? Kalian tidak ada apa-apanya di mata sang pencipta! ALLAHU AKBAR!" teriak Darto dengan mengibas tangan kosong yang mulai bercahaya ke arah dua buto di depannya.
Suasana berubah drastis. Hujan lebat datang tanpa permisi, bersamaan dengan itu angin ribut juga gemuruh petir terus bersautan ketika Darto tiba-tiba memegang cahaya panjang berbentuk cambuk di tangannya.
Salah satu buto terkena kibasan cambuk itu, hingga seketika tubuhnya terbakar tanpa menyisakan apapun di atas tanah.
__ADS_1
"Kemarilah, Umar!" teriak Darto kembali, setelah mendengar dengan seksama suara yang keluar dari bibir buto di depannya.
Mendengar Darto menyebut nama itu, Buto ireng benar-benar terkejut. dia terheran-heran memikirkan dari mana Darto mengetahui namanya, sedangkan Darto terlahir di jaman berbeda dengan kehidupan yang Umar jalani.
"Heh! Kamu sudah takut? Kenapa kamu diam saja?" ejek Darto kembali.
Seperti yang Kakung dan Si Mbah Turahmin jelaskan, sehebat apapun seseorang, dia akan menjadi lawan yang mudah jika dia bertarung menggunakan emosi. Dan saat ini Darto benar-benar tersenyum setelah mengalami langsung kejadian yang diyakini kedua Kakeknya itu.
"Siapa yang memberi tahu namaku padamu manusia!" ucap buto ireng kembali merangkak memutari Darto dengan liur yang terus menetes.
"Saya! Cucu! Darsa!" Teriak Darto sekencang yang ia bisa, sembari melompat ke arah buto ireng dibarengi cambuk yang terus memecut segala arah di tangannya.
"Glediar!!" suara petir menggelegar mengiringi tiap cambukan demi cambukan yang Darto kibaskan. Malam sunyi berganti menjadi malam gaduh, karena pertarungan terus berlanjut tanpa spasi.
Setelah melihat musuhnya lengah, Sastro dan wajana Benar-benar memanfaatkan momentum itu dengan sebaik-baiknya. Mereka menancapkan senjata mereka ke perut musuhnya, hingga akhirnya tugas mereka pun usai dibuatnya.
Setelah berhasil mengalahkan musuhnya, Sastro dan Wajana bergegas ingin memberikan bantuan kepada Darto. Mereka berlari terburu-buru untuk kembali ke arah rawa, tanpa istirahat mereka terus melangkah kaki dengan begitu cepat. keduanya benar-benar merasa khawatir, mengingat Darto melawan tiga dari musuh yang setara dengan lawan yang mereka hadapi tadi.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha!" Sastro terbahak hingga suaranya menggema ketika sampai di rawa, dia merasa lega, kagum dan juga tak percaya di waktu yang sama, setelah melihat Darto memegang cambuk putih bersinar di tangannya, dengan satu sosok buto ireng yang tengah tersungkur di depannya.
Melihat Sastro yang sampai terlebih dahulu dan terbahak di depan sana, Wajana bergegas menyusul ke arahnya. Akhirnya dia pun ikut terbahak hingga bulir air keluar dari kedua matanya, setelah menyaksikan kejadian yang sungguh tidak bisa ia percaya.
__ADS_1
"Kamu hebat, Dar! Tanpa bantuan kami pun, sepuluh buto Ireng bukan lagi tandingan kamu! Ha ha ha ha ha!" Sastro masih terbahak ketika sampai di tempat Darto berdiri, dia masih terus memuji energi yang Darto miliki.
"Benar, Dar! Kamu sudah sekuat Darsa... Tidak, mungkin kamu lebih kuat dari dia! Ha ha ha ha!" timpal Wajana yang kini juga sudah sampai di samping Sastro berdiri.
Darto tidak menggubris ucapan dua lelaki tua di sampingnya, dia malah duduk jongkok dan memegangi kepala botak milik buto ireng yang sudah kehilangan tangan juga kakinya.
"Dimana Gending? Jika kau memberitahuku akan aku sudahi penderitaan kamu," ucap Darto pelan dengan Cambuk yang perlahan mengecil di tangannya. Senjata yang Darto pegang tidaklah hilang, itu hanya berubah bentuk, menjadi sebuah sinar yang berbentuk seperti kujang.
"Tolong.. bunuh saja aku sekarang! Argh!" teriak Buto ireng yang sudah tidak bisa apa-apa lagi di depan Darto. Dia berusaha menggeliat namun tangan Darto menahan kepala botak miliknya.
"Katakan dulu, Dimana Gending!" teriak Darto kembali, sembari menyayat kulit wajah buto dengan kujang di tangannya.
"Di-dia berada di kaki gunung Kecubung," jawab Buto terbata.
"Aku tidak tanya di mana rumahnya! Aku tanya dimana Gending sekarang!" teriak Darto kembali, sembari menyayat lebih dalam pipi buto dengan kujang di tangannya.
"D di dia sedang di kampung Kemoceng, tolong bunuh saya!" teriaknya menangis menahan siksaan demi siksaan yang Darto berikan.
Mendengar ucapan buto ireng, Darto seketika membulatkan matanya, dia merasa heran karena rencana miliknya seharusnya belum bisa dilakukan, karena kehamilan istri Anto masihlah sangat muda.
"Di mana! sebutkan dengan jelas!" teriak Darto sembari memampangkan wajah geram.
__ADS_1
Buto ireng tidak menjawab, justru tubuhnya seketika kejang setelah memberitahu letak Nyai Gending berada, sepertinya sumpah serapah yang pernah ia ucapkan dengan Gending berhasil menahan lidahnya. Tak lama setelah buto ireng menggeliat sekarat, tubuhnya meleleh bagai es terkena air panas, semua anggota badannya berangsur mencair, menyisakan genangan air hitam berbau busuk di atas tanah.
Bersambung,