
Malam itu, setelah Jaka pergi menuju kamarnya, Darto tidak langsung tidur. Dia mempersiapkan segala kebutuhan yang mungkin akan diperlukan nantinya, mengingat besok subuh mereka akan berangkat melakukan perjalanan.
Setelah semua siap, barulah Darto pergi membaringkan badan lelahnya di dalam kamar, tidak butuh waktu lama juga untuknya agar terlelap. Malam itu berlalu begitu saja, mereka hanyut dalam tidurnya, hingga tidak terasa waktu subuh sudah menyapa.
Sepulang dari langgar, Darto dan Jaka berpamitan ke rumah Anto terlebih dahulu, mereka menitipkan banyak barang yang tidak mereka bawa, kemudian bergegas melakukan perjalanan dengan berjalan kaki.
Darto dan Jaka pergi menuju hutan mati, tempat di mana dulu Darto pernah mendapat perawatan dari Kanti. Mereka berdua berjalan dengan perbekalan seadanya, dengan kecepatan langkah kaki yang tertekan tergesa.
Satu jam, dua jan, hingga puluhan jam berlalu. Perkiraan Darto untuk sampai di hutan mati ketika malam ternyata meleset. Darto tidak mengira jika Jaka akan membutuhkan banyak istirahat di tengah jalan, namun meski begitu Darto tetap memaklumi kondisi dari teman perjalanannya yang masih tampak terlalu muda. Akhirnya malam ini mereka menginap ditengah hutan mati, untuk sekedar mengisi kembali tenaga.
Malam ini tampak begitu sunyi, Jaka sampai terus bergidik ngeri karena dirinya merasa asing dengan hutan tersebut. Jaka benar-benar heran dengan keadaan hutan, dalam bingungnya ia bertanya, "Kang, kenapa tidak ada suara hewan sama sekali?"
"Aku juga dulu mikir gitu, Jak. Hutan ini dinamakan hutan mati sama semua orang, karena memang tidak ada yang pernah dengar suara orang maupun binatang, kalau mereka sudah masuk ke hutan ini," jawab Darto sembari menatap Jaka.
"Pasti banyak hantunya ya, Kang?" sahut Jaka sembari mengelus tengkuk lehernya. Dia sedikit merasa takut setelah mendengar penjelasan Darto.
"Ada, Jak. Justru kita mau ketemu sama pemilik hutan ini," jawab Darto, dia sedikit merasa lucu dengan Jaka yang masih saja takut melihat penduduk sebelah, meski dirinya hampir setiap hari melihat mereka.
Jaka hanya bungkam, dia merasa takut hanya dengan membayangkan sosok yang akan dia temui. Dalam otaknya Jaka menggambarkan pemilik hutan merupakan sosok besar dan berbulu seperti penunggu pohon pisang di dekat rumah Darto.
Darto yang melihat Jaka ketakutan, akhirnya meminta Jaka untuk tidur terlebih dahulu. Jaka yang mendengar itu langsung mengangguk dan menyandarkan punggungnya pada sebuah batang pohon yang berdiri di dekatnya. Tidak butuh waktu lama, Jaka langsung tertidur, meninggalkan Darto berjaga sendirian.
__ADS_1
Melihat Jaka yang sudah tertidur, Darto ikut menyandarkan tubuhnya pada batang pohon yang sama. Untuk sejenak Darto menciptakan sebuah kubah energi yang melindungi tempatnya tidur mereka, dan akhirnya dia bisa terlelap hingga pagi menyapa.
Setelah menunaikan shalat subuh, Darto dan Jaka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Hanya dalam waktu tiga jam, mereka sampai pada tempat tujuan mereka, yaitu pohon beringin besar, yang Kanti gunakan sebagai rumah.
Darto yang baru sampai langsung duduk bersila di samping pohon tersebut, dia tidak bergeming, dan juga tidak bersuara sama sekali. Sedangkan Jaka, dia hanya bisa menunggu Darto dengan sabar, dia menuruti permintaan Darto, yang memintanya menunggu sebelum Darto duduk bersila tadi.
Setelah kira-kira lima menit berlalu, Darto membuka mata dan melihat ke arah Jaka sembari berkata, "Assalamualaikum."
"Wa'alaykumussalam, Kang" jawab Jaka sedikit bingung. Dia merasa aneh kepada Darto, karena tiba-tiba melemparkan salam kepadanya.
Ketika Jaka tengah kebingungan, tiba-tiba suara perempuan terdengar dari arah belakangnya, "Wa'alaykumussalam, anakku."
Mendengar suara itu, Jaka spontan menoleh ke arah belakang. Ketika dia sudah membalik tubuhnya, dia langsung terjungkal karena terkejut, setelah melihat sosok perempuan sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Saya bukan salam sama kamu, Jak. Pede sekali kamu, ha ha ha ha," Darto terkekeh kemudian berdiri menghampirinya dan berkata, "Kenalkan, Jak. Ini Si Mbok Kanti, kamu boleh memanggil dia Si Mbok juga kalau mau, dia teman Ibuku, sekaligus pemilik hutan mati."
Mendengar itu Jaka langsung berdiri dari posisi tersungkurnya, dia menyodorkan tangan sembari berkata, "Maaf saya sudah tidak sopan, nama saya Jaka, Nyai."
Kanti yang melihat kepolosan Jaka langsung terkekeh pelan, dia menutup mulutnya dengan sebelah lengan kemudian meraih uluran tangan Jaka dengan tangan satunya sembari berkata "Panggil saja Si Mbok. Anggap saja saya orang tua kamu juga, jangan panggil Nyai."
Jaka langsung mengangguk, dia bersedia memanggil Kanti dengan julukan Si Mbok, dia tidak menolaknya karena Darto juga memanggil wanita itu dengan panggilan tersebut. Justru Jaka malah merasa senang, karena Jaka merasa sudah dianggap keluarga oleh pemilik hutan, yang semula dia kira akan memiliki wujud yang seram.
__ADS_1
"Mari kita ke rumah," ajak Kanti , kemudian dia menepuk pundak dua lelaki di depannya. Dalam satu kedipan mata, mereka berpindah ke samping gubuk yang pernah Darto singgahi ketika terluka.
Jaka terus mengerjap mata miliknya, dia merasa aneh dengan pemandangan yang tiba-tiba berubah. Dia bahkan sampai memutar badan, untuk mencari keberadaan pohon besar yang semula ada di dekatnya.
"KANG! POHONNYA HILANG!" teriak Jaka dengan wajah berkeringat. Dia merasa panik karena kehilangan pohon yang begitu besar dalam waktu singkat.
Darto dan Kanti langsung terbahak, mereka bahkan sampai mengeluarkan bulir bening dari mata, setelah melihat kekonyolan Jaka yang sangat tidak terduga. Setelah itu, Kanti menjelaskan, jika dirinya sudah membawa Jaka masuk ke dalam rumah miliknya. Dia berkata jika pohon besar di hutan mati merupakan gerbang yang memisah dunia manusia dan tempat dimana mereka berdiri saat ini.
Mendengar itu, Jaka spontan mengangguk-anggukan kepala, meski sebenarnya dia tidak paham sama sekali. Darto yang tahu jika Jaka berpura-pura paham, langsung mengacak rambut Jaka sembari kembali tertawa.
"Mbok, saya mau tanya," ucap Darto dengan wajah serius.
"Aku tahu, pasti tentang energi di dalam tubuh Jaka, 'kan?" sahut Kanti sembari memandang Jaka. Dia tidak menatap lawan bicaranya sama sekali.
"Iya, Mbok. Kenapa energi itu bisa ada di sana?" tanya Darto kembali.
"Kalian tunggu dulu di dalam, mungkin Abirama tahu tentang ini. Secara dia pernah mengikuti Kanjeng Darma, mungkin dia pernah ikut andil saat melawan mahluk yang mempunyai energi, yang sama dengan energi milik anak ini," ucap Kanti sembari melangkah pergi.
Mendengar permintaan itu, Jaka dan Darto langsung masuk ke dalam gubuk milik Kanti. Mereka menunggu dengan sabar, tanpa melakukan apapun yang berarti.
Darto sangat berharap jika Abirama bisa menjelaskan kebenaran energi milik Jaka, karena jujur saja Darto masih meragukan energi di dalam tubuhnya itu. Dia berharap itu bukanlah suatu masalah, namun ... jika Abirama mengatakan energi itu berbahaya, maka Darto akan berusaha sebisa mungkin untuk menyingkirkannya dari dalam tubuh Jaka.
__ADS_1
Bersambung ....