ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PENJAGA GERBANG


__ADS_3

Angin berhembus cukup kencang di sekitar mulut goa, debu yang semula tergeletak menenggelamkan kaki empat pria itu mulai beterbangan menyatu dengan kabut yang begitu tebal di tempat tersebut.


Pandangan Darto, Jaka, Maung serta Komang benar-benar terhalang sempurna. Mereka hanya bisa mendengar arahan dari masing-masing temannya, dan sama sekali tidak melihat wujud tubuh dari asal suara.


"Kalian bisa mendekat ke arahku?" tanya Darto sembari memutar badan, dia merasa gelisah karena suara langkah kaki terdengar semakin mendekat, namun ketiga temannya malah justru hilang bagai ditelan kabut dan debu yang beterbangan.


"Saya sudah di belakang kamu, Kang," sahut Jaka yang semula paling dekat dengan Darto, dia hanya bergeser selangkah saja agar bisa menemui Darto yang memang sangat dekat kala itu.


Maung dan Komang berusaha mencari suara Darto dengan terus berteriak. Namun mereka justru malah menjauh. Suara dari bibir Darto benar-benar menggema hingga mereka justru merasa pantulan dari gema lebih dekat dan mereka spontan mengarah ke arah tersebut.


Maung dan Komang begitu jauh kali ini, tanpa sadar mereka justru berpencar hingga terpisah cukup jauh dari Darto dan Jaka. Sedangkan Darto dan Jaka hanya bisa terus waspada dengan semua langkah kaki yang seakan sudah sampai di depan wajah mereka.


Darto mengganti panah di tangannya menjadi sebuah parang panjang, sedangkan Jaka masih tetap menggenggam gagang tombak menyala di tangannya dengan erat.


"Lancang! Berani-beraninya kaki kotor kalian menginjak tempat ini!" teriak suara lelaki. Suaranya begitu lantang, dengan nada yang sangat besar dan juga bergetar.


Mendengar teriakan tersebut Darto dan Jaka langsung menghunus senjata mereka ke arah yang sama, yaitu arah di mana semula goa terletak.


"Tunjukkan wajahmu kalau kau berani!" pancing Darto mencoba menarik musuh agar mendekat.


"Ha ha ha ha ha! Kalian dengar apa yang manusia ini ucapkan?!" sahutnya berbicara entah pada siapa.


Setelah lelaki itu mengucap pertanyaan tersebut, susulan suara tawa langsung terdengar. Dari suara tersebut jelas sekali di sana banyak sosok yang tengah menertawakan Darto dan Jaka, mereka bahkan sampai menciptakan suara riuh bising yang melebihi keramaian pasar, dalam waktu sekejap saja.


Maung dan Komang yang sadar dengan jumlah lawan di depannya, spontan mengaum sekeras yang mereka bisa dari tempat mereka berdiri. Dari auman tersebut tercipta satu ledakan udara yang menghempas butiran debu dan juga kabut di sekeliling mereka.


Pandangan mereka kembali bisa melihat meski hanya sekitar jarak dua meter dari tempat mereka berdiri. Namun meski hanya sedekat itu, Maung dan Komang yang bisa saling menatap sungguh merasa lega, karena mereka tidak merasa sendiri ditengah kepungan musuh yang masih bersembunyi di balik kabut dan debu di sekeliling mereka.

__ADS_1


"Komang ... kita harus terus mengaum tanpa henti," pinta Maung setelah mereka sudah berhasil berdiri dalam posisi saling membahu.


Mendengar itu Komang langsung mengangguk kemudian kembali mengaum. Suara auman dari Komang benar-benar menggelegar hingga udara di sekitar tubuhnya seperti meledak kembali.


Begitu juga Maung, setelah komang berhenti mengaum dia langsung menyambung auman tersebut setelahnya. Mereka berdua terus saling mengaum tanpa henti sembari berjalan mengikuti jejak kaki mereka sendiri, hingga akhirnya mereka bisa melihat Darto dan Jaka yang tengah berdiri saling memunggungi dan berputar-putar di depannya.


"Di mana pria yang tadi tertawa itu, Dar?" tanya Maung setelah dia dan Komang sudah berdiri di samping Darto.


"Kalian bisa mengaum sekali lagi di sini?" tanya Darto sembari menatap Maung.


Mendengar permintaan itu Maung langsung mengaum tanpa menjawab, dia berteriak dengan begitu keras hingga kembali kabut dan debu di sekitar mereka seketika terhempas.


Darto dan Jaka seketika membulatkan mata, mereka sangat terkejut karena melihat ratusan senjata yang tengah mengarah ke lehernya dari segala sisi setelah kabut itu tersingkir.


"Kalian pegang tanganku!" teriak Darto setelah sadar sudah terkepung.


Mendengar itu Jaka, Maung dan Komang langsung menyentuh tubuh Darto dan seketika mereka berpindah ke dalam goa yang semula belum mereka masuki.


Tanpa mereka sadari, Darto, Jaka, Maung dan Komang yang sudah berada di tengah kerumunan langsung memanfaatkan kelalaian lawannya. Mereka langsung menebas setiap mahluk yang paling dekat dengan tubuh mereka menggunakan senjata miliknya masing-masing.


Kerumunan sosok itu benar-benar terkejut, karena tiba-tiba terjadi ledakan energi dari dalam goa, hingga pemimpin rombongan yang semula sudah berada di depan goa bergegas berlari menuju dalam goa dengan cara memaksa semua anak buahnya menepi menggunakan kedua tangannya, sembari berteriak dengan nada kasarnya, "Minggir!"


Mendengar teriakkan dari pemimpin lawannya terus mendekat, Darto kembali meminta tiga temannya untuk memegang tubuhnya, dan tanpa bertanya mereka langsung menurutinya.


Sesaat setelah pimpinan pasukan itu sudah sampai di sumber keributan, Darto sudah berhasil berpindah masuk lebih dalam ke dalam goa. Mereka kembali menebas kerumunan yang paling dekat dengan tubuh mereka, hingga membuat pemimpin mereka sangat geram karena merasa dipermainkan.


"Tunjukkan wajahmu kalau berani! Manusia!" teriak pemimpin itu setelah terus menuju sumber kegaduhan, tapi Darto selalu sudah berhasil berpindah ketika dia sampai pada tempat tujuannya.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ha! Kalian dengar apa yang setan itu katakan?" teriak Darto sembari terus menebas pasukan yang tidak ada habisnya itu.


Mendengar pertanyaan Darto, Jaka, Maung dan Komang spontan tertawa dengan sangat keras. Mereka benar-benar puas karena Darto berhasil membalikan perkataan ejekan yang semula lawannya ucapkan di depan goa.


Musuh Darto benar-benar murka setelah mendengar suara tawa empat manusia di depannya. Wajahnya meremang, urat di pelipisnya benar-benar menonjol dan siap meledak karena sangat geram setelah ucapan ejekan miliknya benar-benar dilempar kembali.


Dalam amarah yang begitu menggebu, dia menciptakan sebuah gada yang begitu besar di tangannya. Dia memukul tanah begitu keras, hingga semua prajurit yang berada di sekitarnya langsung terhempas dalam satu kali gerakan.


Setelah aksinya itu dilancarkan, dari belakang tubuhnya muncul juga lelaki yang memiliki wajah sama persis, dengan senjata yang juga sama di tangannya. Dia juga memukulkan gada di tangannya ke tanah untuk melanjutkan tindakan kembarannya. Seketika tanah kembali bergetar dengan puluhan anak buah miliknya yang beterbangan karena terhempas gelombang benturan senjatanya.


Melihat musuhnya dimakan amarah dan terus maju, Darto seketika menatap Jaka kemudian dia tersenyum puas sembari berteriak, "Terimakasih! Berkat kalian aku tidak usah repot-repot menyingkirkan anak buah kalian!"


Mendengar ejekan itu, dua manusia super besar itu seketika meraung hingga Darto dan tiga temannya sampai menutup telinga. Setelah dia meraung dia berkata, "Biadab! Tunggu giliran kalian!"


Hampir bersamaan dengan ucapan itu, kembaran sosok manusia tinggi, gempal dengan taring mencuat dari rahang bawah itu juga berteriak mengucapkan kalimat, "Semuanya keluar sekarang juga! Jika tidak ingin mati!"


Suara riuh teriakan kembali menggebu, mereka berbondong saling mendorong, berebut untuk keluar dari dalam goa dengan rasa takut yang sangat dahsyat di dalam dada mereka.


Sungguh satu momen dimana suasana benar-benar berubah drastis hanya dengan satu teriakan. Ratusan prajurit yang semula berebut ingin menyerang, kini semuanya berlari kocar-kacir hanya untuk mempertahankan hidupnya.


Melihat itu, Darto dan Jaka langsung memanfaatkan keadaan semaksimal mungkin, mereka berunding untuk mempersiapkan rencana disela suasana ricuh tersebut, hingga satu rencana pun langsung terbentuk setelahnya.


Sesaat setelah suasana hampir sunyi kembali, Darto membawa Maung dan Komang untuk pergi ke tengah kerumunan di depan goa. Dia melepas dua temannya itu agar bisa mengamuk sesuka hati, kemudian kembali ke tempat dimana Jaka tengah berdiri dengan wajah mendongak melihat wajah lawannya.


Dalam sekejap suara teriakan dari anak buah kembar buruk rupa itu kembali menggelegar, Darto dan Jaka seketika tersenyum puas karena mereka tahu jika Maung dan Komang sedang menggila di sana.


Setelah mereka berdua tersenyum, akhirnya Darto dan Jaka saling menatap untuk sejenak. Mereka saling mengangguk kemudian melompat begitu tinggi hingga hampir menyentuh atap goa.

__ADS_1


Mereka saling memegang senjata berbentuk tombak bercahaya, berwarna merah dan putih yang siap menusuk kening dari dua lawan yang tengah kebingungan dengan kebisingan anak buahnya, di depan tubuh Darto dan Jaka yang tengah melambung sempurna.


Bersambung ....


__ADS_2