ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEBAHAGIAAN SINGKAT


__ADS_3

Hari berganti, malam pendek benar-benar dilewati keluarga Darto dan Jaka, perasaan gembira juga terus terpajang di raut wajah mereka.


Pagi ini, Darto mengajak semua keluarga menuju ke kediaman keluarga Jaka. Mereka benar-benar langsung pergi ke KUA setelah selesai melakukan seserahan untuk melakukan pendaftaran.


"Surip?!" Darto terhenyak ketika melihat sahabatnya sedang duduk di dalam KUA.


"Darto?" jawab Surip sembari mengernyitkan dahi. Dia merasa heran dengan penampakan sahabat yang masih terlihat sama, meski sudah sangat lama tidak bertemu.


"Kamu tua sekali, Rip. Ha ha ha ha!" gurau Darto.


"Dar ... Biar bisa awet kecil kaya kamu gimana ya caranya? Soalnya salep awet muda sudah ada. Tapi kalau salep awet bocah kayaknya cuma kamu dan Jaka yang punya," bisik Surip dengan wajah serius.


"Ha ha ha ha! Bisa saja kamu Rip. Aku juga pengen tua kaya kamu, asal bisa bareng terus sama keluarga," Darto tersenyum, tapi mimik wajahnya benar-benar sedih.


Surip langsung menghentikan candaannya. Dia tahu jika Darto tengah murung, kemudian menyuruh Darto untuk duduk dan lekas bertanya, "Ada apa ramai-ramai ke sini?"


"Aku mau daftarkan anakku dan anak Jaka buat jadi suami istri," jawab Darto setelah duduk.


"Kapan?" tanya Surip singkat sembari menarik selembar kertas dari tumpukan di atas meja miliknya.


"Secepatnya," Darto menjawab lebih singkat.


"Hari ini?" Kembali Surip bertanya.


"Memang bisa?" Sahut Darto.


"Bisa, Dar. Yang penting sah dulu. Kalau untuk urusan resepsi kan bisa menyusul. Apa lagi penghulunya teman kamu, pasti dia bakalan langsung mau mengikat anak kalian meski diluar jadwal," Surip menjelaskan.


"Siapa penghulunya, Rip?" Darto sedikit penasaran.


"Bidin, Dar," Surip menjawab sembari mempersiapkan berkas yang harus Darto isi, "Lengkapi dulu formulirnya, tulis saja kapan harinya, biar aku yang atur semuanya," sambung Surip kembali sembari menyodorkan secarik kertas.


"Baik," Darto menulis setiap formulir dengan cepat, kemudian menyerahkan pada Surip dan meminta agar dirinya datang besok.


Hari itu Darto dan keluarganya meninggalkan KUA dan langsung menuju tempat penyewaan tenda, kemudian mencari restoran yang cukup megah di area pasar untuk memesan begitu banyak porsi makanan pada beberapa warung berbeda.

__ADS_1


Pemasangan tenda benar-benar dilakukan seadanya, dan semua makanan untungnya bisa dimasak tepat waktu kala itu.


Pernikahan yang sangat mendadak, bahkan undangan pun hanya disebarkan dari mulut ke mulut, kepada semua sanak saudara dan juga tetangga.


Hari itu terasa begitu pendek. Matahari seakan tenggelam dengan begitu cepat hingga tidak terasa langit gelap sudah tersaji di atas kepala mereka.


Hari yang melelahkan membuat dua keluarga itu langsung terlelap setelah merebahkan tubuh di atas kasur mereka.


Dan tiba hari yang dijanjikan, Darto kembali bertemu dengan sahabat yang sangat lama tidak dirinya temui.


"Subhanallah ... Coba lihat ... bocah ini benar-benar seumuran sama aku," ucap Bidin sembari terkekeh dan merangkul pundak Darto.


"Maaf ... Bapak siapa, ya? Sepertinya bapak tidak tahu malu. Sudah begitu tua tapi masih mengaku muda seperti saya, ha ha ha!" Darto terbahak.


"Memang, bukan sahabat saya kalau dia tidak pandai membuat orang disekitar jadi darah tinggi," Bidin ikut terbahak.


Setelah cukup berbincang, dua sahabat itu pergi ke masjid sembari bercanda, kemudian duduk di tempat yang sama, untuk melakukan apa yang sudah mereka rencanakan.


Pagi ini mungkin hanya pagi biasa untuk sebagian besar orang di luar sana, tapi pagi ini adalah pagi yang tidak mungkin dilupakan oleh keluarga Darto dan Jaka.


Darto, Harti, Jaka dan Magisna benar-benar duduk menghimpit Bidin yang tengah menjabat Dava.


Hari itu Dava benar-benar sudah terikat oleh satu tali, yang akan mengikat dirinya dengan sebuah tanggung jawab yang begitu besar terhadap Ratna.


Dava dan Ratna benar-benar terlihat sangat serasi. Diumur yang terhitung muda mereka sudah memiliki kharisma yang tidak kalah dengan orang tua mereka.


Hari itu, wajah Dava dan Ratna terlihat begitu berbinar di mata semua tamu yang datang untuk memberi selamat. Mereka tampak sangat cerah, melebihi matahari fajar yang bersinar dengan kilau keemasannya.


Mungkin tidak seramai pernikahan Darto dulu kala, namun kabar pernikahan pemilik pesantren yang tersohor tidak mungkin luput dari telinga semua orang tua murid mereka.


Bahkan sampai hari ke tujuh setelah akad, tamu masih saja berbondong menuju pesantren, sehingga Darto terus memesan menu yang sama selama tujuh hari berturut-turut lamanya.


Darto benar-benar bangga dengan anaknya, namanya begitu dikagumi oleh banyak pribadi, meski usianya masih begitu muda.


"Dar!" Teriak seorang paruh baya sembari keluar dari mobil miliknya.

__ADS_1


Darto mengernyitkan dahi sembari menatap lelaki yang masih cukup jauh dari tempatnya berdiri.


Setelah cukup lama mengamati, akhirnya Darto berjalan dengan langkah cepat sembari menoreh senyum yang lebar di bibirnya.


"Anto! Lihat wajahmu to! Kamu benar-benar semakin kumisan saja!" ucap Darto terkekeh sembari memeluk sahabatnya.


"Bisa saja kamu, Dar. Maaf terlambat, surat yang kamu kirim baru sampai kemarin," sahut Anto.


"Kamu sudah datang saja sudah merupakan hadiah besar, Tok. Bagaimana keadaan kampung?" Jawab Darto sembari bertanya.


"Sudah hampir jadi kota, Dar. Cuma rumah kamu yang masih pakai tembok kayu, dan masih dikelilingi sawah," Anto menatap Darto dengan senyum mengambang.


"Terimakasih, Tok. Sudah mengurus rumah itu," Darto sumringah.


"Kami yang harusnya bilang makasih, hidup kami benar-benar kecukupan mas," timpal Sri si istri Anto.


"Itu bukan karena aku, Sri. Rezeki sudah ada yang ngatur ... Aku cuma perantara," jawab Darto sembari menatap Sri yang tengah berdiri di samping Anto, " Ayo masuk dulu," sambung Darto.


Setelah melepas rindu, mereka kembali berkumpul dengan semua keluarga. Darto benar-benar melayani setiap tamu yang datang, meski sebagian besar dari tamu tersebut tidak Darto kenal.


Setelah sepuluh hari, akhirnya tamu yang datang mulai surut. Hanya segelintir orang tua murid yang tinggal di tempat jauh saja yang masih datang, namun sebagian besarnya sudah memberi selamat pada Dava dan Ratna.


Hari itu, Darto dan Jaka mulai bisa menghabiskan waktu untuk istri mereka saja. Mereka bagaikan pasangan muda yang masih dimabuk cinta, hingga terlihat begitu memalukan untuk siapa saja yang menyaksikannya.


Darto dan Jaka tidak langsung pergi kala itu, mereka menghabiskan waktu hingga dua bulan lamanya, karena mereka tahu jika perpisahan yang akan terjadi mungkin sangat lama.


Sebenarnya mereka ingin lebih lama, tapi baru saja dua bulan berlalu, Kanti sudah datang dan memberi kabar yang kurang enak untuk didengar telinganya. Jadi mau tidak mau Darto dan Jaka harus berangkat lagi esok harinya.


Malam itu kembali menjadi malam haru untuk magisna dan Harti. Mereka menangis dalam dekapan suami tercintanya, dengan perasaan khawatir yang tak terukur sama sekali.


Khususnya Harti, dia benar-benar memeluk erat suaminya, dan memberi satu permintaan yang membuat Darto bergidik. Harti membisikkan kata yang sangat menyakitkan, setelah mendengar apa yang Darto sampaikan.


Malam itu Darto dan Harti benar-benar harus saling merelakan, ketika Darto mengatakan apa yang harus dia lakukan, namun dibalas dengan kata, "Setidaknya ketika aku mati. Aku ingin Mas Darto yang melantunkan adzan di telinga jasadku, Mas."


Kata yang begitu menyayat tersebut, benar-benar berhasil membuat hati Darto langsung robek dan menjadi puluhan keping.

__ADS_1


Namun meski begitu, Darto hanya diam dan tidak bisa memberikan jawaban sama sekali. Dia hanya mengencangkan dekapannya, agar istrinya tidak melihat bulir bening yang tengah mengucur dari sudut matanya, hingga berhasil membasahi pipi miliknya secara merata.


Bersambung ....


__ADS_2