ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEJUTAN JAKA


__ADS_3

Setelah menghantar Jaka dan Si Mbok Sari, Darto bergegas pulang menggunakan mobilnya. Dia melesat menyibak rentetan jalan berbatu, tanpa beristirahat sama sekali. Saat setelah sampai di pesantren, dia kembali berkumpul bersama dengan keluarganya. Tidak ada satu hal janggal pun yang terjadi, hingga tanpa terasa waktu sudah berlalu begitu saja.


Saat ini kandungan Harti sudah memasuki bulan ke sembilan, hanya tinggal menunggu hari saja untuk Darto menjadi seorang ayah. Darto benar-benar menepati janji miliknya, untuk tidak meninggalkan Harti sampai anak mereka lahir.


Hari ini, Darto berniat untuk menjemput Jaka, mengingat dulu Jaka pernah berpesan ingin menghantar kelahiran anak Darto. Siang ini Darto kembali menyusuri jalan setelah lama diam di rumah, dia menuju kampung kesemek sendirian tanpa teman sama sekali.


Empat jam kembali berlalu, ketika Darto sampai di kampung kesemek dia langsung memarkirkan mobil di depan masjid, dia bergegas menuju rumah Jaka, namun matanya kembali terkejut setelah sampai di depan rumah temannya itu.


Ketika Darto mengetuk pintu rumah Jaka, dia terheran melihat wanita muda yang membukakan pintu rumah tersebut. Dalam bingung darto bertanya, "Ini benar rumah Jaka, kan?"


"Oh iya, Mas. Sebentar saya panggil dulu suami saya," jawab wanita di depan Darto sembari mengulum senyum dan bergegas masuk.


Darto benar-benar terkejut mendengar penuturan wanita itu, dia tidak menyangka jika Jaka akan melakukan pernikahan tanpa memberikan kabar kepadanya.


"Kang! Wah ... bagaimana kabarnya? Mari masuk?!" ucap Jaka sesaat setelah mengintip keluar pintu, dia sangat senang karena bisa melihat sosok lelaki yang selalu dirinya puji.


"Kamu sudah nikah, Jak?" tanya Darto sesaat setelah masuk ke dalam rumah Jaka.


"Iya, Kang. Kami nikah dua bulan lalu di rumah, tapi tidak ramai-ramai, Kang. Maaf Jaka tidak memberikan kabar," jawab Jaka sembari duduk di atas kursi kayu rumah miliknya.


"Jahat kamu, Jak. Masak mas kamu nggak dikasih tahu," sahut Darto sembari menggelengkan kepala.


"Lagian kami cuma selamatan, Kang. He he he, Jaka juga pengennya ngasih kejutan ke Kang Darto, jadi sengaja enggak ngasih kabar," jawab Jaka mencoba mencari alasan. Sebenarnya dia malu karena tidak mengundang Darto karena acara pernikahannya hanya di langsungkan di dalam rumah dan tanpa mengadakan pesta.

__ADS_1


"Yasudah, jadi mau ikut ke pesantren apa tinggal di sini saja? Soalnya kamu sudah punya keluarga, jadi aku nggak akan memaksa lagi," ucap Darto, dia sedikit merasa ragu membawa Jaka meninggalkan istrinya.


"Ikut dong, Kang. Nanti saya bawa Gisna ke sana sekalian, biar jadi teman Mbak Harti," jawab Jaka sembari tersenyum.


Tidak lama setelah Jaka berbicara, istri Jaka beserta Pak Akbar dan Mbok Sari datang bergabung di ruang tamu, setelah Istri Jaka menyodorkan dua gelas teh pahit, mereka ikut bergabung dan sekedar memperkenalkan wanita baru di dalam keluarganya itu.


"Namanya Magisna, Kang. Dia anak kampung sini," ucap Jaka sembari menunjuk Gisna, kemudian dia berbicara pada istrinya, "Ini Kang Darto, Dek. Dia yang sudah menolong saya berkali-kali," sambungnya sembari menyodorkan tangan kearah Darto.


Setelah berkenalan mereka hanya bergurau dan bertukar kata untuk menghabiskan waktu, dan setelah semua puas melempar tanya, jaka langsung bertanya pada Pak Akbar dan Mbok Sari. "Saya mau bawa Jaka sekarang, Pak, Mbok. Boleh, kan?"


"Silahkan, Nak. Saya tidak akan menghalangi Jaka, dia sudah besar, malah sudah berkeluarga," jawab Mbok Sari.


"Iya, Dar. Kamu langsung ijin sama Jaka aja, dia sudah bukan anak kecil lagi," sambung Pak Akbar.


"Saya nurut Mas Jaka, Kang. Kalau dia suruh saya ke sana, saya nggak bisa nolak," jawab Gisna dengan tatapan teduhnya, dia menatap Jaka dengan begitu sendu, Darto yang melihatnya langsung ikut tersenyum karena merasa Jaka sudah sepenuhnya berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu.


"Baiklah, kalau begitu saya langsung saja ya, Mbok, Pak. Takut istri saya mulas, soalnya sudah sembilan bulan kandungannya," ucap Darto sembari menatap Si Mbok Sari dan Pak Akbar secara bergantian.


"Iya, Nak. Maaf Si Mbok tidak bisa menjenguk Istri kamu, kami tidak ada kendaraan," jawab Si Mbok singkat, dibarengi anggukan kepala Pak Akbar.


Setelah itu, Jaka dan Gisna bersiap, mereka membawa semua pakaian dan benda berharga milik mereka, kemudian membawanya ke mobil yang tengah terparkir di depan masjid.


Seperti biasa Si Mbok dan Pak Akbar selalu mengantar Darto hingga depan masjid, mereka tidak mau mengantar tamunya hanya sampai depan rumah saja.

__ADS_1


"Mbok, Mbah ... Jaka pamit dulu, Ya. Mungkin Jaka pergi cukup lama, jadi lebih baik kalian tidak mengharap Jaka pulang dengan cepat," ucap Jaka sesaat setelah selesai menaruh barang miliknya dan istrinya ke dalam bagasi mobil.


"Iya, Jak. Jaga kesehatan, jangan sampai kamu menyusahkan Darto," jawab Si Mbok sembari mengacak kasar rambut Jaka, kemudian memeluknya dengan erat. Sedangkan Pak Akbar hanya bisa membalas dengan anggukan kepala beserta senyuman yang mengambang di wajahnya.


"Gisna juga pergi ya, Mbok, Mbah," sambung Gisna sembari menjulurkan tangan, dan langsung mendapat sahutan tangan Si Mbok dilanjut pelukan yang mendarat dari Si Mbok.


Setelah mereka selesai berpamitan, Darto langsung menyalakan mobil miliknya, kemudian menginjak pedal gasnya meninggalkan Pak Akbar dan Mbok Sari yang tengah melambaikan tangan mereka.


"Kamu nggak mau pamitan sama orang tua kamu dulu, Gis?" Tanya Darto sebelum keluar dari gardu kampung kesemek.


"Saya tinggal sendiri, dulu saya tinggal sama Si Mbah, tapi dia sudah pulang satu bulan lalu," jawab Gisna dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf ... Kalau begitu mari kita berangkat," ucap Darto singkat, kemudian langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Dia langsung berangkat menuju pesantren sama seperti terakhir kali.


Kali ini karena Darto membawa perempuan, dia sempat beristirahat untuk sekedar makan dan juga shalat berjamaah maghrib dan isya. Sebelum akhirnya mereka sampai di pesantren tepat pukul sembilan malam.


Saat itu Harti, Si Mbah Turahmin, Kakung dan juga Abah Ramli belum tidur, mereka menyambut kedatangan Jaka dan Istrinya dengan begitu gembira. Mereka merasa heran dengan Istri Jaka karena mereka sama sekali tidak mendapat kabar sama sekali tentang hari bahagianya. Namun setelah Jaka menceritakannya, mereka langsung merasa maklum, dan tidak mengungkitnya lagi setelahnya.


Malam itu setelah Jaka dan Istrinya mendapat kamar, mereka langsung membawa semua barang miliknya, dan langsung beristirahat setelahnya. Tidak ada rasa gundah yang tertera, mereka benar-benar pulas hingga tiba saatnya Harti meronta dari dalam kamarnya.


Harti menjerit sembari terus mencoba membangunkan Darto, bahkan suara jeritannya sampai terdengar ke kamar-kamar lainnya, semua orang yang mendengar langsung terkesiap dan berlari ke kamar Darto. Ketika sampai dan membuka pintu kamar, Kakung dan Si Mbah yang pertama sampai langsung melihat Darto yang tengah membopong istrinya sembari berteriak, "Mobil, Mbah! Harti sepertinya mau lahiran!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2