ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PENYEBAB KEMARAHAN JAKA


__ADS_3

Jaka terus melepaskan energi yang kini menyelimuti tubuhnya secara sempurna, dia masih berdiri di atas tubuh Satria, dengan wajah geram yang terlihat sangat kentara.


Sedangkan Darto masih terus mengurus ribuan anak buah Satria yabg terus menerus datang bagaikan aliran sungai.


Darto terus melakukan gerakan yang sama, yaitu menghentakkan kaki sembari melempar puluhan pedang terbang ke berbagai arah, untuk meminimalisir jumlah musuh yang hendak mengepung dirinya secara bersamaan.


Darto sebenarnya tidak memiliki masalah dengan jumlah lawannya, semua anak buah yang sedang berbondong mengarah padanya tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai ancaman.


Tapi meski begitu, Darto sedikit merasa khawatir dengan Jaka, setelah melihat luapan energi yang terus memendar dari tubuh temannya itu.


Sebenarnya apa yang membuat Jaka bisa sebenci itu kepada Satria?


Jika mengingat kehidupan Jaka ketika masih tinggal di kampung terpencil, dia hanya memiliki satu harta yang biasa di sebut keluarga.


Dia dibesarkan oleh Si Mboknya yang berperan menjadi ibu sekaligus Ayah untuknya, dan dia tidak memiliki siapapun lagi mengingat Bapaknya mati ketika mencari bantuan.


Jaka memang melihat satu kejadian yang membuat hatinya luluh setelah melihat ketulusan Ki Gandar di dalam ujian. Namun disaat yang sama dia juga melihat kebengisan yang tidak bisa diukur oleh akal sehatnya.


Ketika Jaka melihat apa yang sudah Satria lakukan kepada Utami, api yang semula tidak pernah Jaka rasakan, seketika langsung membakar habis seluruh isi dadanya.


Dia masih tidak bisa mempercayai dengan apa yang dirinya lihat. Ketika Satria memperlakukan Utami secara semena-mena.


Dia marah ketika melihat seorang wanita yang tengah mengandung diperlakukan lebih buruk dari seekor binatang, bahkan lelaki itu dia tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri.


Jaka membayangkan jika Utami adalah Si Mboknya, dan saat itu juga untuk pertama kalinya Jaka bertekad ingin membunuh seseorang dengan suka rela.


Sejak saat itu dia sangat ingin bertemu Satria, dan entah bagaimana keinginan itu terwujud saat ini juga.


Kembali pada pertempuran yang sedang berlangsung.


Jaka benar-benar terus memancarkan energi panas yang terus dan terus melebar dari tubuhnya, Jaka juga terus memandang lawannya dengan tatapan penuh amarah yang terpancar dari kedua bola matanya.


Udara di sekitar Jaka seketika berubah menjadi begitu panas, suhu dari energi yang Jaka miliki benar-benar menyebar ke segala arah.

__ADS_1


Selain tubuh Satria, apapun yang berada dekat dengan Jaka mulai terbakar. Entah itu ranting pohon yang sedang dijadikan pijakan, maupun hewan kecil yang terus mendekat setelah melihat cahaya dari energi milik Jaka.


Jaka terlihat begitu membara, tubuhnya tampak seperti tengah terbakar oleh energinya sendiri ketika dia jatuh dari atas ranting yang terbakar bersama Satria.


Dia atas udara Jaka mencoba memberikan serangan pada Satria, dia menyentuh tubuh Satria dengan telapak tangannya sembari berkata, "Tahan ini kalau kau bisa!"


Dari telapak tangan Jaka terpancar satu cahaya berwarna merah terang. Tepat di mana Jaka memegangi tubuh Satria terjadi sebuah ledakan, udara panas seketika menyebar, hingga cukup jauh dari posisi Jaka dan lawannya berada.


Dampak dari serangan Jaka benar-benar hebat, dia sampai bisa membakar satu pohon raksasa, dan juga ratusan anak buah Satria yang sedang berbondong menuju ke arah Darto di bawahnya.


Sayangnya serangan Jaka tidak memberikan satupun dampak pada tubuh Satria.


Satria masih tampak tidak terluka sama sekali, dia bahkan terkekeh setelah menerima serangan Jaka.


"Ha ha ha ha! Aku benar-benar sempat terkejut dengan serangan itu. Tapi kamu bodoh manusia! Energi milikku tidak akan pernah bisa melukaiku!" Ucap Satria sembari terbahak, dia kemudian melilit tubuh Jaka, tepat sebelum dirinya dan Jaka menyentuh tanah.


Jaka benar-benar tidak bisa bergerak setelah tubuh besar Satria melilit rapat seluruh badannya. Kekuatan cengkraman Satria benar-benar bisa menghancurkan setiap tulang miliknya dalam hitungan detik saja.


Satria benar-benar terkejut setelah menerima serangan dari Darto. Dia tidak mengira jika tubuhnya akan terluka cukup dalam, setelah menerima satu ayunan pedang milik Darto.


Satria spontan melepas lilitannya pada Jaka. Jaka yang terlepas dari cengkraman kuat langsung terkulai lemas, dan ambruk ke atas tanah.


Darto langsung merangkul temannya, dia kembali menghilang dan berpindah ke atas dahan pohon yang masih utuh, kemudian meletakkan tubuh Jaka sembari berkata, "Sudah kubilang, kan? Sehebat apapun kita, kita tetap akan bertindak ceroboh jika sudah dikuasai emosi."


Jaka yang masih begitu lemas, mencoba menatap sendu ke arah Darto yang tengah meletakkan tubuh miliknya di atas dahan. Dia perlahan mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya, kemudian berkata, "Maaf, Kang... Aku benar-benar bodoh."


"Tidak apa-apa, Jak... Sekarang kamu fokus sembuhkan diri kamu dulu, biar aku yang lawan Satria. Nanti kalau sudah mendingan, urus saja anak buahnya," Darto tersenyum lebar kemudian mengacak kasar rambut Jaka.


Jaka hanya mengangguk sembari menyeka air yang sudah membasahi salah satu pipinya, dia mencoba bangun tapi seluruh tulangnya masih terasa remuk setelah menerima lilitan Satria.


Darto yang tahu jika Jaka sedang kesusahan meski hanya untuk duduk, bergegas kembali memberikan bantuan kecil yang dia bisa.


Setelah Jaka sudah duduk dengan sempurna, Darto kembali berkata dengan senyuman yang begitu lebar, sebelum dirinya lenyap dari pandangan Jaka, "Jaka yang aku kenal tidak selemah ini."

__ADS_1


Jaka langsung beristighfar kala itu, dia mencoba menenangkan dirinya di atas dahan, kemudian tersenyum lebar ketika mendengar ucapan Darto.


Hati yang dilahap kebencian mulai mencair, dan mata yang semula gelap mulai bisa melihat setitik harapan setelah mendengar apa yang Darto ucapkan.


Setelah cukup tenang, Jaka kembali mengedarkan energi yang membungkus dirinya. Dia duduk dalam posisi bersila, kemudian fokus menyembuhkan seluruh tubuh yang terluka menggunakan energinya.


Sedangkan Darto yang baru saja pergi, Dia berpindah tepat di samping tubuh Satria kembali.


Meski Darto mengucap ingin mendapat bantuan Jaka untuk mengurus anak buah Satria, sebenarnya dia tidak mengucapkan hal itu dengan sungguh-sungguh.


Darto sudah berniat ingin menghabisi semua pengikut beserta pemimpinnya, dengan satu serangan yang belum lama ini dirinya kuasai.


Darto merasa jika ini adalah saat yang tepat, untuk mencoba tehnik yang sebelumnya dirinya anggap sebagai satu hal yang mustahil untuk dilakukan.


Satu tehnik yang mungkin bisa membalik keadaan genting, hanya dengan satu saja gerakan yang dibutuhkan.


Satria tidak terima ketika melihat Jaka berhasil dipindahkan, dia bahkan menghiraukan Darto yang baru saja sampai di hadapannya, kemudian bermaksud ingin memakan Jaka yang baru saja dirinya ketahui posisinya.


Sebelumnya Satria sempat kehilangan Darto dan Jaka, dia hanya bisa menunggu agar dua lawannya menggunakan energi, dan saat ini dimana Jaka sedang bermeditasi, dia bisa merasakan kembali energi yang sama seperti miliknya, sedang terpancar di atas dahan pohon besar yang tersisa.


Darto benar-benar dianggap tidak ada, tepat setelah Jaka menggunakan energi miliknya, Satria langsung kembali menekuk tubuhnya menjadi huruf 'S', kemudian melompat cukup tinggi hingga kepala miliknya bisa meraih tubuh jaka di atas ranting.


Satria benar-benar bermaksud memakan Jaka, karena baginya Jaka merupakan bahan bakar yang sangat berguna untuk kekuatan miliknya.


Tepat ketika rahang Satria membuka di depan tubuh Jaka. Jaka yang masih belum pulih tidak bisa menghindar maupun menahan serangan dari lawannya.


Dia hanya bisa membulatkan mata, setelah melihat sebuah rahang dengan dua buah taring raksasa sedang menganga di depan wajahnya.


Apakah serangan Satria benar-benar akan berhasil?


Bisakah dia mencapai dan melahap salah satu garis keturunannya?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2