ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
LANGKAH TERHENTI


__ADS_3

"Jadi... apa yang terjadi sama Darto?" Tanyaku kemudian menyeruput teh hitam yang tinggal sisa setengah dan juga sudah cukup dingin.


"Dia meninggal, Mas... " ucap Jaka terhenti, dia menerima sepiring singkong goreng dari nenek yang berjalan pelan ke arahnya, kemudian menaruh piring tersebut di hadapanku, "Makan dulu ini, Mas. Mumpung masih panas," sambung Jaka kembali.


"Jadi bagaimana nasib iblis itu?" tanyaku kembali tanpa menghiraukan singkong yang begitu menggoda di hadapanku.


"Dia musnah, Darto membunuh iblis itu dengan sisa tenaga yang dirinya punya. Semua energi yang begitu banyak dikeluarkan dalam waktu yang sama, tepat sebelum Darto meninggal. Itu ledakan paling besar yang pernah saya dengar seumur hidup, Darto membunuh ribuan jiwa yang iblis itu punya, dengan satu serangan bunuh diri," jawab Jaka kemudian memastikan posisi nenek yang mengantar singkong tadi.


Setelah memastikan nenek itu sudah cukup jauh, Jaka mendekatkan bibirnya pada telingaku sembari berkata dengan nada berbisik, "Itu semua bohong, Mas. Memang benar iblis itu mati, tapi Darto masih hidup di sana."


Rasa takjub benar-benar langsung menyapa seisi dadaku, tidak aku sangka akan mendengar sebuah cerita yang cukup menyenangkan, dari seseorang yang baru saja aku temui enam hari yang lalu.


Tanpa sadar aku mengepalkan tangan, bahkan mengayunkan lenganku untuk mengekspresikan kegembiraan yang ada di dalam dadaku, setelah mendengar sebuah cerita lengkap dari seseorang yang sudah terkenal dengan sebuah julukan Jaka teler.


Semua orang yang pernah bertemu dengannya, akan mencemooh Jaka karena selalu menceritakan hal yang sama. Dia menceritakan pertarungan dan pertarungan yang dirinya lewati, ketika bertemu lelaki yang selalu dirinya anggap sebagai Kakangnya.


Mereka semua menganggap Jaka adalah orang yang selalu ngelantur, dari situlah istilah Teler mulai melekat di belakang namanya.


Mungkin ini juga merupakan takdir untukku, dimana aku tiba-tiba dikeluarkan dari tempat lamaku bekerja, dan memutuskan untuk pulang mengenakan motor tua, meski harus menempuh jarak yang begitu jauh, mengingat diantara tempat kerja dan rumahku terdapat hamparan segara dan sebuah selat yang memisahkan kedua tempat tersebut.


Meski aku tahu jika akan memakan waktu berhari-hari, entah mengapa aku sangat bersemangat memulai perjalanan yang tidak aku sangka akan mendapatkan sebuah hambatan yang cukup merepotkan.


Baru dua hari perjalanan yang berlangsung, motor tuaku menunjukkan betapa manjanya dirinya. Perlengkapan yang aku miliki tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula, karena bagian yang rusak dari mesinnya tidak bisa diakali dengan peralatan seadanya.


Apesnya lagi motor tua milikku macet di sebuah jalan yang menyibak hutan belantara, dengan jumlah pengendara yang bisa dihitung setiap satu harinya.


Sebuah jalan alternatif yang seharusnya memotong puluhan kilo meter dari jalan utama, menjadi jalan yang semakin panjang karena kendala yang menghambat di tengahnya


Ketika aku tengah melakukan satu-satunya kegiatan yang bisa kulakukan, seorang pemuda yang mungkin seumuran denganku tiba-tiba muncul dari belakang.


Dia keluar dari rerimbunan semak, sembari menggendong cangkul di atas pundaknya. Pemuda itu mendekat, kemudian membantuku mendorong motor tua yang tidak mau diajak untuk bekerja sama.


Dalam hatiku sudah cukup senang ketika melihat manusia lain di sekitarku, aku berfikir jika diriku sudah dekat dengan perkampungan, namun harapanku langsung kandas ketika pemuda itu berkata, "Bawa ke rumah saya saja, Mas. Dari sini desa paling dekat sekitar satu setengah jam perjalanan kalau pakai kendaraan."


Itulah dimana saat aku bertemu Jaka, dia kemudian memperkenalkan namanya, dan juga satu orang keluarga yang dirinya punya.

__ADS_1


Sebelumnya aku berfikir jika orang tua yang berada di rumahnya adalah ibu atau neneknya. Namun aku sangat terkejut ketika jaka mengucap jika itu istrinya yang bernama Magisna.


Dari wajah terkejut yang aku paparkan, Jaka langsung memberikan sebuah cerita, dan dari situlah cerita awalnya bermula.


Untuk kedua kalinya takdir seakan menahanku untuk tetap singgah di dalam gubuk Jaka.


Sehari setelah aku menginap di sana, pagi-pagi sekali aku dan Jaka mendorong kembali motor tua milikku, hampir lima jam lamanya kami berjalan, untuk sampai di sebuah desa yang memiliki bengkel yang cukup lengkap onderdilnya.


Desa terdekat benar-benar desa yang masih tertinggal, jangankan bengkel. Tukang tambal ban saja sama sekali tidak ada.


Belum lagi ketika kami menemukan bengkel, mengingat sedikitnya jumlah mekanik yang ada, kami harus mengantri dan meninggalkan motor tua milikku di sana. Untungnya kami diantar kembali oleh salah satu karyawan yang bekerja, menuju tempat di mana Jaka dan istrinya tinggal jauh dari keramaian.


Awalnya aku menganggap Jaka benar-benar gila. Dia sengaja menutupi rentang usia diantara dirinya dan istrinya, dengan sebuah cerita karangan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat pendengarnya.


Namun perlahan Jaka menunjukkan sebuah aksi sulap yang mungkin akan susah sekali untuk dibongkar triknya. Saat itu Jaka menyalakan rokok yang sudah berada di bibirnya, dengan satu kali jentikan jarinya saja.


Darimana api tersebut datang?


Apa benar Jaka memiliki energi?


Itu semua pertanyaan yang mengganjal di dalam pikiranku selama berhari-hari.


Malam itu Jaka mengajakku bergadang, setelah istrinya tidur dia menceritakan semua penyesalannya.


"Kalau saja aku tahu apa yang dibisikkan oleh Eyang Semar, aku mungkin tidak akan memberikan energi milik semua leluhur dan temanku kepada Darto. Seharusnya aku saja yang bertarung melawan iblis tersebut," ucap Jaka sendu, dia mendongak sembari menatap langit, yang tidak menyuguhkan satupun bintang di atas kepalanya.


"Oh iya... Sebenarnya apa yang dibisikkan oleh Eyang Semar?" tanyaku penasaran.


"Eyang berkata jika tahta yang kosong hanya akan menimbulkan peperangan. Kalau tahta itu dimenangkan oleh mahluk jahat lagi, mungkin perjuangan Darto selama itu akan sia-sia" jawab Jaka.


"Jadi? Sekarang Darto jadi pemimpin di sana?" Tanyaku kembali dengan wajah yang cukup terkejut.


"Benar... Maung, Komang, Sastro dan Wajana menjadi kaki tangan Darto, sedangkan aku? Kenapa hanya aku yang pulang?" Bulir air bening mulai mengalir pada pipinya, dia terlihat sangat menyesali apa yang sudah terjadi.


"Mas..." Ucapku terhenti, karena jaka menunjukkan telapak tangannya, untuk memberikan isyarat agar aku tidak melanjutkan kalimatku.

__ADS_1


"Darto siap mati saat mendapat serangan dari iblis, dia sangat yakin jika hidup dan mati manusia sudah tertulis, dan dia bertaruh saat itu juga. Saat iblis mengira Darto tidak bisa melawan, Darto justru melancarkan satu serangan yang menghabiskan seluruh energinya," ucap Jaka setelah menghirup udara dengan rakusnya.


"Bagaimana Darto bisa selamat?" tanyaku singkat


"Dia masih punya satu buah aneh yang diberikan oleh Ki Guntur. Aku dan empat temanku langsung menuju ke tempat pertempuran setelah ledakan besar itu terdengar, dan untungnya aku sempat memberikan buah itu ke dalam mulut Darto yang sudah sekarat," Jaka menerangkan.


"Untungnya Darto punya energi milikku, lukanya langsung terbakar, kemudian tubuhnya berangsur pulih hanya dalam beberapa jam saja," sambung Jaka kembali kali ini dia menatap tajam ke arahku.


"Ada apa, Mas?" tanyaku sedikit segan setelah melihat tatapan Jaka yang susah di jabarkan.


"Aku bisa minta tolong?" Jaka tidak menjawab melainkan melempar pertanyaan.


"Apa?" jawabku singkat kembali bertanya


"Aku sudah bercerita kepada banyak sekali orang yang aku temui, tapi tidak satupun dari mereka bisa mempercayai ceritaku. Aku tahu kamu juga begitu, tapi tolong jangan anggap aku seorang pembohong. Aku hanya tidak mau perjuangan yang Darto lakukan tidak diketahui oleh siapapun, dia pantas mendapatkan sanjungan, meski aku tahu dia tidak menginginkannya," Jaka tertunduk.


"Darto sudah merelakan semua yang dirinya miliki. Dia bahkan rela berpisah dengan keluarga yang dirinya cintai, hanya untuk merubah takdir dan kelangsungan hidup setiap penerus garis darah, dan juga semua manusia yang mungkin memiliki nasib sama dengannya. Setidaknya aku ingin mendengar satu saja kata terimakasih yang dilemparkan kepada Darto," Jaka kembali menyuguhkan buliran bening yang mengalir dari sudut matanya.


Melihat ketulusan tersebut, entah mengapa hatiku tergerak, aku mengucapkan sebuah janji yang mungkin tidak bisa aku penuhi, karena itu bukan merupakan bidang yang aku kuasai.


Setelah mendengar ucapan janjiku, Jaka sangat bahagia, dia berdiri dari posisi duduknya sembari berpesan, "Tapi jangan bilang kalau Darto masih hidup. Itu pesan terakhir yang Darto pinta, dia tidak ingin keturunannya mencari ataupun menghawatirkan dirinya."


Setelah mendengar pesan tersebut, Meski sebenarnya aku ragu, entah mengapa setelah melihat wajah bahagia milik Jaka, aku bertekad akan memenuhi janjiku meski mungkin akan ada banyak cacian yang akan aku terima.


Empat hari kemudian setelah aku sampai di rumahku, terhitung dari tanggal empat oktober 2021, aku mulai mencoba memenuhi apa yang aku janjikan.


Aku menggandrungi satu kegiatan yang belum pernah aku lakukan, yaitu menapaki sebuah jalan yang biasa ditempuh oleh seorang penulis.


Tidak terasa sudah lebih dari satu tahun aku mencoba memenuhi janji tersebut, banyak sekali kekurangan yang ada di dalam cerita yang aku buat secara tergesa ini, namun aku cukup puas dengan apa yang sudah aku lakukan sampai saat ini.


Maaf untuk segala yang pernah membuat kalian kecewa, entah dari keterlambatan maupun kekurangan di dalam bidang penulisannya, yang membuat kalian tidak puas ketika membaca.


Aku harap kalian bisa memaklumi semua kekurangan tersebut, karena ini semua benar-benar sudah merupakan batas dari kemampuan yang diriku miliki saat ini.


Sebagai seorang penulis baru yang masih memiliki begitu banyak kekurangan, saya Hendra Dwi Maulana mengucapkan banyak sekali terimakasih untuk kalian, yang sudah mau membaca dan juga mendukung Karya ini.

__ADS_1


Tanpa kalian, Darto dan semua temannya tidak mungkin bisa melangkah sejauh ini.


...TAMAT...


__ADS_2