ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SURAT


__ADS_3

"Assalamualaikum?!" teriak keempat remaja yang baru sampai di depan pintu rumah Darto.


"Waalaikumsalam?!" Jawab Kakung dari dalam ruang tamu rumahnya.


"Gimana Dar?" tanya Kakung menyelidik. Dia merasa penasaran akan hasil tugas pertama, yang dia berikan kepada cucunya itu.


"Alhamdulillah Kung, ini yang Kakung minta," jawab Darto. Kemudian dia menyodorkan sebilah keris kecil yang terbalut kain hitam itu kepada Kakung.


Setelah meraih keris itu. Kakung memejamkan matanya sesaat, kemudian ketika membuka mata kembali, senyum tipis terbesit di bibirnya.


"Memang hebat Cucu Kakung ini! Susah enggak Dar?" Kakung bertanya dengan wajah bangga.


"Enggak terlalu Kung. Masih lebih sulit pas latihan sama Kakek Sastro,"


Mendengar jawaban itu, ketiga teman Darto seketika mengernyitkan dahi di wajah mereka.


Mereka saling berbisik satu sama lain, namun setiap orang yang mendapat bisikan selalu menjawab degan gelengan kepala.


"Kakek Sastro siapa Gus?" Bidin membuka suara, di ikuti anggukan kepala Harti juga Surip.


Mendengar pertanyaan tersebut, Darto juga Kakung terkekeh seketika. Darto sempat bingung hendak menjawab seperti apa. Teman-temannya tentu saja tidak akan percaya jika dia berkata bahwa Kakek Sastro adalah mahluk yang tinggal di dalam kalungnya. Tapi mau tidak mau dia tetap tidak bisa menyiapkan jawaban lain selain berkata.


"Dia guruku, Din. Tapi dia bukan manusia," Darto menjawab keingintahuan mereka.


Setelah mendengar jawaban itu mereka serentak mengangguk kepala, karena puas dengan jawaban Darto.


"Oh iya, Dar?! Kamu dapat surat dari temanmu. Tadi ada tukang pos singgah kemari," Kakung mengubah topik pembicaraan. Kemudian bergegas pergi ke ruangan sebelahnya untuk mencari surat yang di titipkan kepadanya.


Mendengar ucapan Kakung, Darto sempat bingung menerka siapa gerangan yang mengirim dirinya sebuah surat. Dalam pikirnya dia merasa gelisah, jika benar dari temannya, itu pasti tidak lain adalah surat dari Anto di kampung. Dan dia merasa takut jika selembar kertas itu menyampaikan tentang kabar buruk di sana.


"Ini Dar, Suratnya," Kakung menyodorkan amplop surat bergaris merah dan biru memenuhi semua sisi tepi.

__ADS_1


Tertempel perangko bertuliskan 500 mang ohle, di atas gambar lelaki gemuk mengenakan baju serta bandana hitam dan sarung kotak-kotak. dilanjut tulisan BIND dan juga tulisan INDONESIA berwarna merah di bawah nya.


Tampak raut muka Darto ragu untuk merobek amplop tersebut. Hatinya gelisah, dia takut mendapat kabar tidak menyenangkan setelah membukanya. Sedangkan ketiga temannya menunggu dengan sabar meski mereka juga penasaran dengan isi surat tersebut.


"Sudah, Dar?! Buka saja," Tukas kakung.


"Njih, Kung!" Darto menjawab singkat. Kemudian merobek ujung amplop di tangannya.


Suasana menjadi hening seketika. Semua orang menyaksikan Darto yang tengah membaca, dan menunggu Darto menceritakan isi dari surat tersebut.


Tak lama kemudian, senyum simpul merekah di bibir tipis milik Darto. Dia menoleh dengan sorot mata bahagia.


"Kabar apa itu, Dar?" Simbah bertanya. Dibarengi anggukan kepala tiga sahabat Darto di sampingnya.


"Kakung ingat Anto?" Bukan menjawab, Darto malah kembali memberikan sebuah pertanyaan.


"Yang nginep di rumah Tumin?" tanya Kakung singkat.


"Boleh Darto pulang sebentar kung?" tatapan Darto terbanting ke tanah. Dia mengingat jalan panjang yang memisah pesantren dan rumahnya. Ditambah waktu yang di janjikan untuk pulang adalah tahun depan.


"Kalau itu mau kamu ya enggak papa Dar. Nanti Kakung antar, Biar kakung siapkan jerigen buat bawa bensin yang banyak. Kakung dengar tidak jauh dari sini sudah ada POM bensin Dar, kita pakai mobil Kakung" Jawab Kakung. kemudian mengelus pelan rambut cucunya.


Mendengar ucapan itu, air mata Darto jatuh seketika. Tak tertahan rasa rindu yang sudah menumpuk untuk satu-satunya keluarga juga satu-satunya teman yang dia miliki di kampung halamannya.


"Matur nuwun Kung," ucap Darto sendu. Dia terus menunduk, merasa malu karena tengah menangis di depan tiga teman barunya.


"Kami boleh ikut Pak Kyai? Saya pingin lihat kampung Gus Darto!" Surip bertanya antusias, di barengi anggukan kepala Bidin.


Melihat semangat mereka berdua. Kakung mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa mereka di perbolehkan ikut menghadiri resepsi sahabat Darto satu setengah bulan lagi.


"Makasih Pak Kyai!" Ucap Bidin dan Surip, menanggapi anggukan kepala Kakung.

__ADS_1


"Saya juga boleh ikut kan Mbah?" Harti tidak mau kalah.


Namun kali ini bukan Kakung yang menjawab pertanyaan Harti, melainkan Darto sendiri. Setelah mengusap air yang membasahi pipinya itu, dia menoleh lurus ke arah Harti. Lalu berkata "Kamu harus ikut, Har.. Aku mau pamerin kecantikan calon Istriku ke sahabatku,"


Mendengar jawaban itu, pipi Harti memerah seketika. Pandangan wajahnya di banting menghadap bawah, namun masih tampak senyum lebar dari bibirnya. Sedangkan Surip mencolek pipi Bidin di sebelahnya, hingga tertawa semua orang di dalam ruangan tersebut.


"Yasudah, besok kalian Kakung ajak cari baju baru, biar enggak malu-maluin pas kondangan. Masak santri Kakung kondangan pakaiannya kaya orang mau ke sawah!" ejek kakung kembali memancing gelak tawa semua orang di ruangan itu.


...***...


Waktu sungguh sangat cepat berlalu. Ketiga temanku sudah pamit meninggalkan rumah setelah puas bercanda. Kini tersisa Darto dan Kakung yang baru kembali ke rumah, setelah menunaikan shalat jamaah Isya di masjid.


Kita ke pasar besok ya Dar, sekalian cari tau pom bensin barunya dimana," Ucap kakung membuka perbincangan di ruang tengah.


"Njih, Mbah. Darto Nurut," Jawan Darto singkat, kemudian menyalakan rokok yang sudah terselip di kedua jarinya.


Ruangan seketika di penuhi asap rokok ketika Kakung juga ikut menyalakan sebatang cerutu di tangannya. Dan di bawah kepulan itu, Kakung berpesan kepada Darto yang tengah melamun di depannya.


"Sudah jangan di ingat terus! nanti kerasa lama nunggunya," Ucap Kakung merusak lamunan Darto, dan hanya mendapat tanggapan sebuah senyuman dari Cucunya itu.


"Besok di pasar kamu harus pura-pura enggak lihat apa-apa ya Dar," Ucap kakung di lanjut menghisap kembali rokok besar di tangannya.


"Maksud Kakung?" Darto mengernyitkan dahinya.


"Apa yang kamu lihat bakalan beda jauh sama yang kamu lihat dua tahun lalu," Kakung berbicara tanpa melihat wajah Darto.


"Apanya yang beda Kung?" Darto semakin penasaran di buatnya.


"Besok kamu juga lihat sendiri Dar, Kakung ndak perlu repot-repot jelasin," Jawabnya singkat, kemudian mematikan api di ujung rokok miliknya, dan beranjak pergi menuju kamar miliknya.


Malam ini kembali Darto di suguhi sebuah teka teki. Sudah berjam-jam lamanya dia membaringkan tubuh mencoba memejamkan mata. Namun pikirannya tidak memudahkan dia untuk terlelap. Malam ini Darto hanyut dalam lamunan tentang kampung halamannya, ditambah rasa penasaran dari apa yang diucap Kakungnya.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2