
Waktu terus berlalu tanpa pandang bulu.
Hari menjadi bulan, bulan berganti taun.
Pria yang dulu berusia 15 tahun, kini sudah menjadi Darto dewasa dengan usia 20 tahun.
Alih-alih mencari sebuah ketenangan, Darto sering sekali mengunjungi danau besar yang berada di belakang pesantren. Agak jauh masuk ke dalam hutan, namun tidak menghalangi pemuda itu untuk datang ke sana setiap siang hari.
Hari ini pun sama, tampak Darto yang tengah memegang kitab di tangan kanannya. Sesekali Darto memejamkan mata sembari melantunkan ayat yang hendak ia hafal.
"Sudah dapat berapa Juz, Gus?" tanya Surip salah satu teman yang Darto dapat selama belajar di pesantren. dan juga salah satu yang suka mengikuti Darto mencari ketenangan di danau selain Harti dan Bidin.
Semua murid di pesantren memanggil Darto dengan julukan 'Gus' karena Darto adalah cucu dari pemilik pesantren itu.
"Bikin kaget saja kamu Sur, Aku kira demit!" ucap Darto yang terkejut karena tiba-tiba Surip sudah berada di sampingnya ketika dia tengah konsentrasi menghafal ayat demi ayat kitab suci yang dia pegang.
"Mana ada Demit yang ganteng kaya aku Gus!" Lirik Surip dengan senyum dan alis yang terus dia angkat.
"Halah, kalau beneran ganteng, kamu juga pasti sudah nikah Sur, enggak jadi bujang tua kaya sekarang," ucap Darto nyengir kuda.
"Aku kan baru 19 tahun Gus, lebih muda setahun dari kamu, jadi setidaknya Gus Darto lebih senior di jurusan bujang lapuk, hahaha!" jawabnya terbahak.
"Hahaha terserah kamu lah Sur, aku mau lanjut dulu hafalin juz 22," ucap Darto dilanjut membuang pandang ke arah kitab yang dia bawa sedari tadi.
Mereka berdua pun terlihat sangat serius dengan apa yang mereka hafal saat itu. Tidak lama kemudian konsentrasi Darto kembali terbelah ketika mendengar langkah kaki dari arah punggungnya.
"Mas, ini titipan Si Mbah, dia suruh bawa ini ke sini," ucap seseorang yang bisa memangil Darto dengan sebutan 'Mas' dan juga memanggil Kakung dengan sebutan 'Si Mbah'. Dia adalah Harti, perempuan yang sudah hidup di dalam pesantren, bahkan sejak usianya baru menginjak empat tahun.
__ADS_1
Orang tuanya menganggapnya gila, karena sering berbicara sendiri. Akhirnya mereka menitipkan Harti kepada Kakung yang hidup sebatang kara di dalam rumah megah miliknya
Orang tua Harti tidak pernah menjenguknya sama sekali, padahal kata Kakung kalau orang tuanya adalah penduduk kabupaten setempat.
"Makasih Har," ucap Darto sembari meraih kantong plastik berisi sarung dan peci bersih yang tengah Harti sodorkan di depannya.
"Ehem... silahkan dilanjut Gus, saya tidak berani mengganggu orang yang lagi berduaan, nanti di anggap setan!" celetuk Bidin yang bertugas menemani Harti menuju danau tempat Darto tengah belajar.
"Apaan si kamu, Din!" jawab Harti dengan pipi memerah menahan malu.
"Yasudah, saya balik dulu ya Mbak, mau sekalian ikut? Apa mau berduaan dulu sama Gus Darto?" kembali Bidin berucap dengan alis yang terus dia angkat untuk meledek.
"Saya di sini dulu deh, Din, sekalian mau cek berapa ayat yang mas Darto hafal," Jawab Harti mencoba beralasan agar bisa berbicara empat mata dengan Darto.
Benar sekali, karena sudah sedari kecil dia menuntut ilmu di pesantren, Harti sudah menjadi salah satu murid kebanggaan kakung, karena berhasil menghafal Al-Qur'an ketika umurnya baru menginjak 12 tahun. dan sekarang dia yang bertugas mengajariku secara personal.
"Mas... tadi pagi aku dapat kunjungan pertama!" ucap Harti dengan mata berbinar.
"Beneran? Orang tua kamu kesini?"
"Iya mas, mereka pengen bawa Harti pulang," jawabnya dengan pandangan yang mulai melayu.
"Terus kapan kamu mau pulang, Har?" sahut Darto
"Si Mbah belum memperbolehkan, Mas," ucapnya sendu dan kembali berkata ,"Mas, orang tuaku bilang mereka punya hutang, dan mereka tidak bisa melunasinya Mas, bahkan bunganya sudah lebih banyak dari uang yang mereka terima."
Wajah nya tertunduk, bendungan air tak bisa di tahan lagi oleh kantung matanya. Melihat itu, Darto seketika tahu jika Harti sedang mengalami suatu hal yang sulit, tali dia mencoba untuk tidak langsung memberikan saran secara cuma-cuma.
__ADS_1
"Kenapa kamu sedih, Har? Harusnya kamu bahagia bisa hidup sama orang tua kamu lagi," bujuk Darto berharap Harti mendengar.
"Mereka mau menikahkan aku sama Duda anak dua, Mas. Sebagai syarat agar hutangnya dianggap lunas, bahkan anak pertamanya sudah berumur 10 tahun Mas," Harti menangis sesenggukan.
Saat itu Harti lupa untuk mengecek kemajuan Darto dalam menghafal, mereka berdua larut dalam obrolan sedih miliknya. bagi Harti, Darto sudah seperti kakaknya sendiri, kedekatan selama lima tahun karena tugas mengajari Darto, membuat Harti memiliki perasaan lebih kepada cucu pemilik pesantren itu. Begitu juga bagi Darto, Harti sudah berhasil menjadi sosok wanita idaman. Mereka berdua sebenarnya sudah memendam perasaan yang sama, hanya saja tidak pernah ada yang mengungkapnya.
"Sudah Har, Nanti saya bicara sama Kakung, mungkin Kakung punya solusi," ucap Darto yang hanya dijawab anggukan kepala Harti.
Saking banyaknya Harti bercerita saat itu, hari tak terasa sudah mulai gelap. Mereka berdua melewatkan waktu shalat jamaah ashar di pesantren, tersadar sudah sore Darto mengajak Harti kembali ke pesantren. Kini mereka pun berjalan beriringan menyibak hutan yang memisahkan danau dan pesantren.
"Apa maumu!" Darto berteriak tiba-tiba di tengah perjalanan.
Seperti tau apa yang Darto maksud, Harti langsung menundukkan pandanganya, matanya terpejam, tangannya meraih secimit kain dari baju yang Darto pakai. Harti bermaksud meminta dituntun dan tidak ingin lihat apa yang Darto lihat.
"Kenapa kamu terus ikut? apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?! Aku benar-benar sudah muak sama kamu!" ucap Darto kemudian melanjutkan perjalanan dengan memegang tangan Harti yang masih ketakutan itu.
"Kamu akan mati di tanganku Darto! hihihi!" suara mahluk itu menggema di seluruh penjuru hutan, kemudian melompat dan berpindah tempat dengan sangat cepat.
"Kamu kira aku takut Hah! Pulanglah ke alamu! Dasar iblis terkutuk!" Teriak Darto kemudian membaca surat yang Kakung ajarkan, lantunan khusus untuk mengusir sosok merah yang tengah berdiri di depannya saat ini.
"Tunggu saja Darto.... ketika perlindungan orang itu hilang... akan aku ***** jiwamu hihihihi!" kembali pocong merah itu membuat seluruh hutan memantulkan suara serak seperti suara orang ngorok yang keluar dari mulutnya, sebelum kemudian menghilang bagai asap rokok, dan tidak meninggalkan jejak sama sekali.
Sebenarnya Darto juga ketakutan waktu ini, namun karena sangat muak terus dibuntuti sosok itu, Darto memberanikan diri mengucapkan semua itu. Tidak bisa di pungkiri, hati Darto merasa puas setelah mengucap itu. Meski seluruh sendi di tubuhnya terasa lemas karena ketakutan.
Tak lama setelah pocong itu pergi, Darto dan Harti bergegas kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju pesantren. Takut tidak kebagian waktu ashar, karena hari sudah benar-benar hampir gelap.
Bersambung,-
__ADS_1