
"Begini, Dar.. Min.. Aku akan ceritakan semuanya dari awal. Semoga kamu bisa memaafkan Sastro dan Wajana setelah mendengar ceritaku, Dar. Karena ini juga menyangkut apa yang mereka lakukan," ucap Ki Karta sembari menatap Darto dan Mbah Turahmin secara bergantian. Kemudian dia mendongak, matanya menatap langit-langit rumah, namun pikirannya menerawang jauh menuju tempat dimana dia pertama kali bertemu dengan Gending.
"Itu terjadi 21 tahun yang lalu. Semua orang menonton Gending yang selalu datang setiap tujuh tahun sekali di kampung ini. Tidak ada sepasang mata pun yang bisa menghindar dari kecantikannya saat dia menari, bahkan sampai sesama perempuan ikut menyanjung wajah elok yang dia punya. Tapi... itu tidak berlaku untuk saya, Dar.. Min.. Saya tahu jika dia memiliki sesuatu yang bersarang di dalam tubuhnya. Karena saya adalah orang yang sudah cukup berumur dan sudah beberapa kali melihat kedatangannya. Saya sadar, mana mungkin seseorang bisa datang ke sini setiap tujuh tahun sekali, namun wajahnya selalu sama dia sama sekali tidak bertambah tua," ucap Ki Karta terhenti, dari yang semula mendongak dia kini menatap gelas teh yang sedari tadi tidak pernah ia pegang, kemudian meraih gelas tersebut dan meneguk teh pahit hingga habis setengah.
"Lalu bagaimana kamu bisa kenal sama dia, Kar?" sambung Mbah Turahmin dilanjut menyalakan rokok di sela jarinya.
Ki Karta meraih rokok milik Mbah Turahmin terlebih dahulu, setelah rokok di tangannya menyala, dia kembali bercerita, "Dulu seusai dia menari, saya beranikan diri untuk bertanya pada Gending. Saya bertanya tentang apa yang sebenarnya ada dalam tubuhnya, namun saat itu saya tidak mendapatkan jawaban apapun, Min. Dia menyuruhku untuk menemui dia kembali, tepat ketika matahari sudah tenggelam pada tanggal satu suro. Kalian tau apa yang saya lihat ketika malam satu suro?"
Darto dan Mbah Turahmin langsung menggeleng, mereka tidak bisa menebak apa yang Ki Karta lihat saat itu. Mereka kemudian melanjutkan kembali memasang telinga untuk mendengar kelanjutannya.
__ADS_1
"Saat itu saya pergi ke gubuk yang digunakan oleh Gending. Di sana saya melihat Sastro dan Wajana yang sedang menusuk keris ke perut gending berkali kali," ucap Ki Karta sembari memasang wajah pucat.
"Lalu?" sergah Darto semakin penasaran.
"Setiap kali Gending tertusuk, satu ekor bangkai ular langsung muncul di bawah kaki Gending. Saya lihat dengan jelas Gending yang menangis, tapi anehnya dia terus menyuruh Sastro untuk terus memegangi kaki dan tangannya, juga menyuruh Wajana terus menusuk perut miliknya. Mereka berdua melakukan apa yang diminta Gending dengan air mata yang bercucuran, juga mulut mereka terus mengucap kata maaf," ucap Ki Karta kembali terhenti, dia menyempatkan diri untuk mengusap air yang mulai merembes dari kantung matanya.
"Kalian tau apa yang saya lakukan saat itu?" Sambung Ki Karta sembari menatap Darto dan Mbah Turahmin dengan tatapan menyelidik, dan hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari keduanya.
"Dia berbisik kepada Sastro dan Wajana, kemudian mereka saling mengangguk, dan membawaku pergi menuju rumah sesepuh desa yang kini sudah meninggal. Gending meminta agar saya menikahinya malam itu juga. Saya benar-benar kebingungan waktu itu, Dar.. Min.. Kenapa saya harus menikah? Namun ketika melihat Gending yang menangis memohon untuk dinikahi aku pun setuju dan melangsungkan pernikahan dengan saksi seadanya malam itu juga. Setelah melakukan akad, Gending meminta agar ikut dan beristirahat di rumahku, kita tidur di atas dipan yang sama, dan kami melakukan hal sewajarnya yang dilakukan pasangan suami istri malam itu. Tidak ada yang aneh, semuanya berjalan normal, sampai ketika matahari terbit. Semua benda yang terbuat dari kaca benar-benar pecah di dalam rumahku, aku mendengar suara teriakkan wanita saat itu, dan ketika kulihat sumber suara, di sana ada Gending dengan wajah yang sepenuhnya berbeda. Wajahnya marah! Tangannya terus mengepal dan membanting segala apapun yang ada di dekatnya sembari terus mengucap kata 'Laknat kau Gending!' Dia mencaci sembari terus mencabik dirinya sendiri. Aku ketakutan Dar, Min. Untung ada Sastro dan Wajana yang datang dan menarik diriku untuk keluar dari rumah secepat mungkin," ucap Ki Karta kembali terhenti, dia meraih batang rokok kedua kemudian menyalakan nya kembali.
__ADS_1
"Mereka bercerita jika pernikahan adalah satu pantangan dari perjanjian yang Gending lakukan. Mereka juga berkata jika dalam tuju tahun sekali raga dan sosok ular yang bersarang di dalam tubuhnya benar-benar terpisah, karena sosok ular yang ada di dalam tubuh Gending tengah melakukan ritual untuk menambah keturunan yang akan mengikutinya. Mereka berkata jika ketika sosok ular itu kawin, mereka bertugas untuk mengurangi anak yang tertinggal di dalam tubuh Gending agar tidak bertambah banyak setelah prosesi kawin selesai di lakukan oleh ular tersebut. Gending benar-benar ingin mati, dia tidak punya keinginan hidup lagi, namun ular yang bersarang di dalam dirinya tidak pernah memberikan izin untuk dirinya mati," ucapan Ki Karta kembali berhenti, dia merasa kasihan setelah mengingat kejadian yang pernah ia alami dulu kala.
"Sayangnya, bukannya gending mati. Sosok ular di dalam tubuh Gending malah meminta tumbal sebagai ganti atas gugurnya perjanjian mereka. Dari situ satu persatu warga kampung ijuk mulai mati setiap hari, hal itu berlangsung selama hampir setahun. Mereka mati digigit ular berbisa, yang tidak lain adalah anak dari ular yang bersemayam di dalam tubuh Gending," Ki Karta menghela nafas panjang kemudian kembali berkata, "Saya sempat bertemu dengan dirinya sekali, dia hanya memberikan bayi. Dia berkata jika semua warga mati demi kelangsungan hidup jabang bayi yang dikandung olehnya. Setelah itu saya tidak pernah bertemu lagi, dia tidak pernah menari lagi, meski anakan ular selalu datang setiap tujuh tahun sekali. Mungkin... dia benar-benar sudah mati, yang kita lihat cuma cangkang yang sepenuhnya dimiliki ular biadab itu."
Darto dan Mbah Turahmin tercengang mendengar kejadian yang Ki Karta alami. Bahkan Mbah Turahmin langsung mendekap Ki Karta yang mulai tersedu kala itu. Semua tampak murung kala itu, hingga akhirnya Ki Karta membuka suara kembali dalam tangisnya, "Tolong... Dar. Akhiri penderitaan istriku."
Seperti mendapat sebuah penyulut. Perasaan di dalam hati Darto seketika berkobar. Tangannya mengepal dengan wajah geram yang terpampang. Dalam amarahnya dia mengucap kata "Akan saya akhiri cerita naas ini."
Bersambung,-
__ADS_1
...DISAMBUNG LAGI TAHUN DEPAN YA ...
...😆😆😆...