ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
RAHASIA?


__ADS_3

Malam itu tiga lelaki di ruang tamu benar-benar merasa kebingungan, mereka tidak membahas apapun meski rasa penasaran benar-benar bersarang di dalam hati mereka. Dalam senyap tiba-tiba Sastro datang menemui Darto yang kini tengah tidur telentang, dia membisikkan sesuatu di telinga Darto hingga membuat Darto terperanjat bangun dari posisi tidurnya.


"Mbah, sepertinya ada yang janggal sama kampung ini," ucap Darto kepada Si Mbah yang tertidur tepat di sampingnya.


"Iya, Dar. Saya merasa ada yang memperhatikan kita pas tadi kita jalan ke sini," sahut Ki Karta yang tidur di sebelah Si Mbah.


"Jadi, kalian juga merasakan, ya? Aku kira cuma aku saja, makanya aku tidak membuka obrolan dari tadi," timpal Si Mbah sembari beranjak duduk dari posisi tidurnya.


"Barusan Sastro datang, dia membisikkan sesuatu sama saya Mbah," ucap Darto kembali, dan langsung mendapat respon yang menggambarkan raut terkejut dari kedua orang tua di depannya.


"Bilang apa dia?" tanya Ki Karta dibarengi anggukan kepala Si Mbah.


"Katanya kita suruh jaga Gayatri," jawab Darto singkat sembari menatap Ki Karta.


Mendengar itu, Ki Karta langsung memasang wajah tidak sedap. Dia tampak begitu khawatir, mengingat Gayatri adalah satu-satunya harta yang ia punya.


"Apa aku tidur sama Gayatri saja ya, Dar?" sambung Ki Karta.


Mendengar pertanyaan itu, Darto dan Si Mbah serentak mengangguk. Mereka merasa usul itu sangat bagus, mengingat jika terjadi apa-apa setidaknya Ki Karta bisa sigap menanganinya. Dan setelah melihat anggukan dua lelaki di depannya, Ki Karta pun berdiri dan melangkahkan kaki menuju kamar putrinya.


"Tok.. Tok... Tok..," terdengar pintu rumah di ketuk tiga kali. Sebelum Ki Karta sampai di kamar putrinya


Ki Karta menghentikan langkah kakinya, dia melangkah kembali ke ruang tamu untuk menemui Darto dan Mbah turahmin. Dan ketika Ki Karta sampai di sana, tampak Mbah Turahmin yang sedang mengacungkan jari telunjuk ke arah atas di depan bibirnya. Darto dan Mbah turahmin tengah menatap pintu dan memasang telinga, untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Tok.. Tok.. Tok..," kembali terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali.


Darto menoleh sejenak ke arah Si Mbah. Setelah Si Mbah mengangguk, Darto mendekat ke arah pintu untuk mengintip dari jendela yang berada tetap di samping pintu tersebut. Dalam perjalanannya, Darto sempat menoleh ke arah jam bandul yang menggantung di sebelah kirinya. Dan dapat darto lihat dengan jelas bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 09.01 malam. Darto sedikit ragu untuk mengintip, mengingat pesan yang diberikan oleh pemilik rumah untuk tidak membukakan pintu jika ada yang mengetuk.


"Tok.. Tok.. Tok..," kembali suara itu terdengar. Darto yang tengah melamun mengingat pesan pemilik rumah seketika bangun dari khayalannya. Dia kemudian maju ke sisi pintu tersebut, dan membuka gorden secara perlahan untuk mengintip sisi luar pintu tersebut.


"Duak! Duak! Duak!" ketukan pintu berubah menjadi gedoran. Semua orang di dalam ruangan benar-benar terkejut.


Darto terus memicingkan mata, dia tidak bisa melihat siapa yang menggedor karena halaman depan rumah tertekan gelap. Terus saja suara gedoran itu terdengar, bahkan sekarang suara dentuman terdengar lebih keras tanpa spasi. Yang jelas sesuatu tengah mengetuk pintu dari sisi depan, dengan ketukan yang begitu keras serasa tengah tergesa.


"BUKA!" suara seorang lelaki dengan nada tinggi begitu memekakkan telinga. Bahkan Darto sampai terperanjat mundur dari posisinya berdiri karena terkejut. Mendengar itu, Darto memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut, dia meraih gagang pintu dan...


"Nak!" teriak nenek yang tiba-tiba sudah berada tepat di samping Darto. Dia menepuk pundak Darto untuk menghentikan aksinya.


"Jangan ngeyel, kalian bisa celaka," sambung nenek sembari menarik Darto menjauh dari pintu. Dia mengajak Darto duduk dan kembali melangkah masuk meninggalkan mereka bertiga dalam kebingungan.


Suara gedoran pintu belum juga pergi, sekarang bahkan suara lelaki yang berteriak semakin menjadi. Yang semula hanya satu orang saja yang berteriak, kini menjadi sekumpulan suara masa yang bersorak meminta untuk dibukakan pintu.


Darto, Si Mbah dan Ki Karta benar-benar bingung. Mereka ingin sekali membuka pintu, namun sang nenek tiba-tiba kembali datang dengan membawa tiga gelas air putih di atas nampan. Dia menyuguhkan tiga gelas tersebut sembari berkata, "Minumlah, agar kalian tidak diganggu lagi."


Darto tidak langsung meraih gelas tersebut. Ki Karta dan Si Mbah juga melakukan hal yang sama, mereka ragu karena wanita tua di depannya seakan menyimpan sejuta rahasia yang membuatnya terlihat begitu misterius.


"Kalian tidak percaya sama saya? Kalau begitu silahkan dibuka saja," ucap wanita tua itu sembari menunjuk pintu dan menatap Darto dengan tatapan merendahkan.

__ADS_1


"Baik," jawab Darto melawan.


Nenek itu sedikit terkejut melihat keberanian Darto di depannya. Dia tidak menyangka akan ada pemuda yang begitu berani, bahkan dia heran karena Darto melangkah tanpa gentar sedikitpun kemudian meraih gagang pintu tanpa ragu.


Wajah nenek begitu pucat ketika Darto menatap nenek tersebut sembari memutar gagang pintu, dan setelah Darto berhasil membuka pintu tersebut, wajah sang nenek seketika berkeringat. Matanya terus melirik ke segala arah penjuru, meskipun di depan pintu tidak ada satu orang pun yang berdiri.


Darto benar-benar terkejut melihat halaman rumah yang begitu sunyi, dia bahkan sudah bersiap jika akan mendapat serangan dari mahluk halus, namun tidaka ada satupun yang terlihat di depan rumah nenek tersebut.


"Aaaaaaa!" Pekik Gayatri dari dalam kamar, dia berteriak sejadi-jadinya saat itu. Nenek dan dua orang tua di belakang Darto langsung bergegas berlari menuju kamarnya, namun ketika pintu kamarnya dibuka, Gayatri sudah berdiri tepat di depan pintu. Dia bungkam dengan sebagian wajah yang tertutup rambut. Darto yang datang terakhir langsung tahu tentang apa yang terjadi pada Gayatri. Dia bergegas maju namun aksinya dihentikan oleh pemilik rumah.


"Kenapa, Nek?" Tanya Darto sedikit ketus, dia merasa tidak senang karena pertolongannya dihentikan.


"Dia bukan teman kamu," jawab Nenek sembari memegang pundak Darto.


"Iya, saya tahu. Nenek diam saja di sini. Biar saya yang urus sisanya," ketus Darto kemudian menepis tangan nenek tersebut dan menyentuh dahi Gayatri yang sedang berdiri mematung dengan kaki mengambang di depan mereka.


Sang nenek benar-benar terkejut melihat aksi Darto, dia berangsur memasang wajah kagum setelah Darto dengan mudahnya mengusir mahluk yang merasuki tubuh Gayatri. Sikapnya langsung berubah drastis ketika Darto sudah selesai membaringkan Gayatri di atas dipan kamar tersebut.


"Nak... Apa kamu berguru?" Ucap nenek tiba-tiba. Kemudian kembali berkata "Siapa yang mengajari kamu hal itu?"


Darto hanya menoleh, dia tidak langsung menjawab, dalam hatinya dia sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan nenek, karena Darto merasa jika nenek itu menyimpan satu rahasia yang tidak seharusnya Darto ketahui.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2