
...**Halo semua yang masih baca sampai episode ini, dari hati paling dalam saya ucapkan beribu terimakasih ๐ berkat dukungan dan support kalian akhirnya ALAM SEBELAH sudah resmi di kontrak pihak aplikasi ๐ sekali lagi makasih banyak ya, author sayang kalian semua...
...๐ค๐ค๐ค๐ค**...
ยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยขยข
Masih di tempat yang sama. Darto dan Bidin benar-benar terkejut ketika melihat sosok perempuan yang tengah duduk santai di atas ranting, kakinya yang menggantung sengaja dia goyang hingga daster putih yang iya kenakan terus bergelayut mengikuti gerakan kakinya.
Seperti biasa. Wajah Bidin yang paling penakut langsung berubah menjadi biru, bibirnya tak kalah biru dengan pipinya, keringatnya mengucur deras ketika melihat wanita yang tadi berada di atas mereka tiba-tiba terjun begitu saja ke depan wajah Bidin.
Melihat kepanikan temannya, Darto bergegas untuk duduk bersila, untuk sekejap dia memejamkan matanya, dan setelah itu keris hitam andalannya sudah dia raih seketika dalam genggamannya.
Angin besar yang selalu hadir dikala Darto memegang keris hitam, kini juga menyertai ketegangan Darto dan sosok perempuan yang terus menatap dengan tatapan mengancam.
Daun kering beterbangan, Darto dan sosok itu berhadapan sembari melangkah ke samping hingga memutar. Tidak ada satupun dari mereka yang memilih untuk mengambil langkah awal untuk menikam, mereka terus berjalan memutar dengan kewaspadaan yang terus mereka utamakan.
"Kembalikan temanku!" ucap Darto sedikit berteriak.
Ucapan Darto membuat angin yang sudah kencang berhembus lebih kencang lagi, sosok perempuan itu dipaksa untuk terdorong mundur oleh hembusannya.
"Bismillah!" teriak Darto sembari melompat setelah melihat kewaspadaan Sosok itu sedikit mengendur. Darto akhirnya berhasil menikamkan keris hitam di tangannya menembus perut sosok perempuan itu.
"Aaaaakkkkkk!" pekik sosok perempuan, dilanjut menggeliat serta berguling di atas tanah, dengan tangan yang terus memegangi tempat luka tusukan yang Darto layangkan.
"Maaf," ucap Darto sendu, kemudian memilih jongkok, dan mengusap kepala sosok yang kini sedang sekarat di atas tanah.
"Tidak, Le. Aku sudah salah menilai dirimu. Aku terkejut dengan keris yang kamu pegang. Aku benar-benar bodoh berani mengganggu orang yang di lindungi paduka," ucap Sosok itu sembari terus mengeluarkan Darah segar dari mulutnya, nafasnya tersendat, hidupnya sudah di ujung tanduk.
__ADS_1
Setelah mengucap kata itu, Sosok perempuan di atas tanah itu berangsur memudar, menjadi transparan, dan kemudian menghilang begitu saja selayaknya asap rokok.
Dalam hati Darto sedikit merasa bersalah, setelah cukup lama hidup berdampingan dengan Kakek Sastro dan Wajana, dia benar-benar sadar jika tidak semua mahluk halus memiliki sifat yang jahat. Namun dalam kasus ini, Darto juga sadar jika kesalahan benar-benar terletak pada sosok perempuan itu. Dia sudah membahayakan temannya, dan juga sudah melawan meski Darto tidak memulainya terlebih dahulu.
"Bisa turun kan Sur?!" teriak Darto sembari memberi cahaya ke arah ranting, agar Surip bisa merambat turun dari ranting ke ranting.
"Bisa Gus!" Jawab Surip sembari melempar jerigen kemudian menggantung di ranting agar bisa menapakkan kaki di ranting bawahnya.
Tidak butuh waktu lama, ketika Surip sampai di Ranting terendah, dia memilih melompat meski akhirnya dia tersungkur.
"Gimana ceritanya bisa sampai atas kamu Sur?" tanya Bidin heran setelah Surip berdiri.
"Aku juga nggak tau Din, mataku gelap tiba-tiba, dan pas bisa lihat lagi, aku sudah di atas pohon, udah gitu tungguin demit lagi, makanya aku nggak berani gerak!" ucap Surip sembari mengibas celana miliknya yang berlumur tanah karena tersungkur.
"Mungkin dia mau ajak kamu nikah Sur, kenapa enggak kamu terima saja, Daripada kelamaan jadi bujang," ucap Darto sedikit tersenyum, mencoba mencairkan suasana tegang malam itu.
"Kita agak cepat yuk Sur, Din. Kasian Si Mbah nunggu kelamaan," ucap Darto setelah berhasil sampai kembali di jalan setapak yang menuntun mereka ke kota.
Mendengar ajakan Darto mereka hanya mengangguk, kemudian melangkah cepat sepanjang perjalanan. Setelah hampir tiga jam berjalan tanpa istirahat, wajah mereka mulai menyajikan bibir yang terus mengambang. Mereka bertiga benar-benar merasa senang tatkala dari kejauhan mulai tampak cahaya kuning yang berasal dari barisan lampu Bohlam di depan mereka. Mereka memilih berlari, kemudian mencari bantuan agar bisa mendapat informasi letak pom bensin, atau jika lebih memungkinkan untuk mendapat tumpangan menuju pom terdekat.
Sungguh sangat di sayangkan, ketika mereka sampai di kerumunan rumah tersebut. Tiga pemuda itu tidak melihat satupun orang yang masih berada di luar rumah mereka. Tanpa mereka sadari, Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.
"Sudah pada tidur kali ya, Gus?" ucap Bidin terengah-engah, nafasnya tersendat, setelah berlari cukup jauh.
"Iya ya Din, jam berapa ya sekarang," timpal Surip yang juga ngos-ngosan.
Mendengar ucapan Surip, mereka bertiga malah saling menatap, karena tidak ada satupun dari mereka memiliki jam tangan. Mereka pun memilih untuk beristirahat sejenak di depan warung yang sudah tutup.
__ADS_1
"Kita jalan lagi yuk, siapa tau masih ada warung yang belum tutup," Ucap Darto setelah nafasnya sudah kembali normal.
Menuruti ajakan Darto, mereka bertiga bergegas pergi mengikuti jalan hingga setengah jam lamanya. Langkah kaki mereka terhenti ketika tampak satu warung kelontong tengah bersiap untuk di buka di depan mereka.
"Permisi Pak, Kami pesan teh hangat, tiga," ucap Darto kepada penjual yang sedang sibuk menyiapkan dagangannya.
"Tunggu sebentar ya, Mas. Airnya belum mateng," ucap Penjual sembari terus membawa dagangan keluar dari rumah miliknya, menuju warung di depan rumahnya dengan sigap.
Tidak lama setelah itu, tampak istri penjual keluar dari rumahnya. Membawa tiga gelas teh panas di atas nampan, kemudian menaruhnya di depan meja kayu kecil.
"Duduk sini saja mas," ucap istri penjual, mengarahkan agar Darto dan kedua temannya duduk di depan teras rumah penjual.
Mendengar ajakan Ibu penjual, Darto dan kedua temannya bergegas melepas alas kaki mereka kemudian duduk di atas kursi santai di depan rumah si penjual. Mereka menghela nafas panjang untuk melepas lelah yang sudah mereka rasakan.
"Kalian mau kemana, Mas?" ucap Ibu penjual sembari menyodorkan gorengan panas di samping gelas teh mereka.
"Kami mau cari bensin, Buk. Mobil kami kehabisan bensin di tengah hutan," ucap Darto sembari mencomot pisang goreng di depannya.
"Hutan? kalian jalan dari hutan?" ucap Wanita itu sedikit mengernyitkan Dahi. Kemudian bergabung duduk di kursi tersebut.
"Iya Buk. Dari habis Isya kita sudah jalan," timpal Bidin. Kemudian ikut mencomot tahu isi di depannya.
"Kasihan sekali kalian, Nak. Kalian istirahat tidur di sini saja, sudah jam setengah dua mas, pom juga sudah tutup, besok pagi baru buka," ucap Ibu penjual sembari melihat jam di dalam ruangan depan.
Mendengar tawaran si Ibu, mereka bertiga saling menatap, kemudian mengangguk untuk singgah sebentar, mereka di bawa masuk ke dalam ruangan, kemudian di beri tikar pandan beserta bantal oleh pemilik rumah.
Karena memang sangat lelah, Darto, Bidin dan juga Surip tidak membutuhkan waktu lama untuk terlelap. Mereka hanyut dalam tidurnya, dan mengakhiri perjalanan suramnya.
__ADS_1
Bersambung,-