ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
AKHIR DARSA


__ADS_3

Malam itu, Darto dibawa kedalam momen dimana Darsa bertengkar dengan Gending di dalam sebuah ruangan.


"Jika itu kamu, aku ikhlas, Mas. Silahkan akhiri hidupku sekarang juga," ucap Gending tersedu-sedu, dia menangis sembari memegangi lehernya yang memerah karena sempat dicekik Darsa beberapa saat yang lalu.


"Kenapa kamu melakukan itu, Dek? Apa salahku?" ucap Darsa tanpa memandang Gending, tatapan matanya kosong, lurus menghadap ke depan.


"Bukan kamu yang salah, Mas. Semuanya murni salahku. Aku salah karena terlalu mencintaimu," ucap Gending tertunduk kemudian menutup mulutnya untuk membungkam suara isak tangis gang pecah dari bibirnya.


"Kamu tau, Mas? Bahkan orang tuaku membuang diriku. Mereka tetap memilih menjadi orang terpandang, hingga bersekutu dengan mahluk menjijikkan, meski syaratnya adalah membuang putri mereka setelahnya. Semua orang juga mencemooh diriku, ketika tubuhku dipenuhi penyakit akibat makanan dari mahluk pemilik perjanjian yang ibuku beri. Cuma kamu, Mas, yang bahkan tidak pernah merasa jijik denganku, bahkan memberikan hidup baru kepadaku, dari dirimu aku merasakan sesuatu yang terus membuat dadaku sesak," ucap Gending terhenti, dia mendongak ke arah Darsa, yang masih diam dengan tatapan kosong di atas dipan.


"Mas?! Aku tidak pantas untuk meminta maaf atas segala yang sudah aku lakukan kepadamu. Tapi setidaknya aku tidak akan menolak jika kamu menyuruhku mati saat ini juga, akan aku tunjukkan seberapa besar rasa terimakasihku," sambung Gending dengan pandangan nanar menatap Darsa di depannya.


"Kamu sudah aku anggap sebagai adik kandungku. Kamu benar-benar wanita kedua yang menurutku spesial setelah Si Mbok. Tapi kenapa? Kenapa kamu merenggut orang yang bahkan mencintai kakakmu dengan tulus? Seharusnya kamu ikut sayang juga kepadanya!" Jawab Darsa sembari membalas tatapan Gending. Wajah geram kembali tampak dari Darsa.


"Aku mencintaimu sebagai seorang wanita, Mas?! Bukan sebagai seorang adik," jawab Gending sembari membuang wajah ke samping.


Mendengar ucapan Gending. Darsa hanya diam, dia merasa bimbang dengan apa yang hendak dia perbuat kepada gadis yang tengah bersimpuh di samping dipan. Dalam bimbang Darsa hanya bisa mendongak, pandangannya menatap langit-langit rumah, namun pikirannya menerawang jauh mengingat semua kejadian yang pernah dia lewati bersama Gending.


Semuanya tampak diam, mereka berdua memilih bungkam setelah Gending mengungkapkan perasaannya. Namun tanpa diduga, sesuatu muncul secara tiba-tiba dari rambut Gending. Ular hitam merambat pelan tanpa Gending dan Darsa sadari, dan mematuk Darsa yang tengah melamun di depan Gending.

__ADS_1


"Hey! Kalian berdua dimana?" sergah Darto setelah melihat Darsa dipatuk ular yang merasuk di dalam tubuh gending.


"Kami di luar, Dar. Kami tidak diperbolehkan masuk oleh Gending," jawabnya menunduk, dengan wajah yang tampak penuh penyesalan.


"Tidak!" teriak gending sembari meraih tubuh ular itu, dia membanting sang ular hingga tergeletak di atas tanah.


"Sssstttt kamu mau mengingkari perjanjian kita?" ucap sang ular sembari merambat pelan mendekat ke arah Gending.


"Bukan begitu! Kenapa harus kau ambil Darsa!" jawab gending sembari menggoyang tubuh Darsa yang sudah mulai memucat di depannya.


"Itukah ucapan terimakasih darimu? Setelah aku menolongmu dari orang yang ingin membunuhmu? Sstt," sambung sang ular kemudian merambat masuk ke dalam mulut gending.


"Kamu kan? Yang sudah membunuh istriku?" Sergah Darsa sembari terus memegangi tubuh ular yang terus menggeliat di depannya.


Melihat induknya meronta, ratusan anakan ular seketika itu juga keluar dari tubuh Gending. Darsa yang terkejut melihatnya hanya bisa berteriak memanggil kedua temannya. Setelah Sastro dan Wajana datang, pertarungan sengit pun terjadi didalam ruangan tersebut.


Warga yang masih bergerombol di depan rumah tabib seketika terkejut melihat perubahan cuaca di desa mereka. Yang semula cerah terik, tiba-tiba di penuhi dengan gemuruh guntur lengkap dengan hujan dan angin dalam waktu yang sama. Mereka berlari menuju rumah masing-masing mengira akan ada bencana.


Pertarungan itu berlalu cukup lama. Tidak terhitung jumlah rumah yang masih mengenakan bilik bambu roboh hingga rata dengan tanah. Para warga pun berlarian kesana kemari, mereka berhamburan dengan terus menjerit ketakutan.

__ADS_1


Darto benar-benar terkejut melihat pertarungan dahsyat yang terjadi kala itu. Dia tidak bisa menerima apa yang matanya saksikan begitu saja, bahkan dia terus bergumam bahwa itu semua tidaklah nyata. Namun mau bagaimanapun itu memang kenyataan yang sebenarnya terjadi.


Angin mulai mereda, hujan dan gemuruh juga sudah tidak lagi sebesar semula. Tampak Darsa yang sudah mengeluarkan darah dari bibirnya, dan Gending yang sudah tergeletak di atas tanah, dengan ratusan anak ular yang sudah terbelah tercecer di sebelahnya.


"Akan aku bunuh semua keturunanmu! Anakmu! Cucumu! Bahkan sampai semua keturunan yang tidak akan pernah kau temui sekalipun! Setiap mereka yang memiliki darahmu, akan aku jadikan santapanku!" teriak sang ular sebelum pergi meninggalkan Gending yang terkapar.


Sastro dan Wajana tampak tidak bisa berdiri. Sama halnya dengan Darsa yang sudah bersimpuh di atas tanah, ketiga lelaki itu tidak memiliki tenaga lagi untuk mengejar ular yang kini menjadi begitu besar. Mereka hanya bisa melihat ular itu menelan tubuh Gending secara utuh, lalu pergi tertatih dengan tubuh penuh luka.


Setelah ular itu pergi, Darsa sempat batuk dan mengeluarkan darah berwarna merah gelap dari bibirnya, sebelum akhirnya dia limbung, jatuh ke atas tanah dengan posisi tengkurap.


Setelah Darsa bangun , dia tidak lagi bisa menggerakkan badan miliknya seperti semula. Separuh badannya lumpuh, karena racun ular yang masuk kedalam tubuhnya berhasil membunuh separuh saraf milik Darsa.


Darsa tampak hanya terus menyesali, dia menyesal tidak mengakhiri penderitaannya dan juga Gending saat itu. Dia merasa bersalah karena masih menganggap Gending adalah adik perempuannya. Sedang kenyataannya dia sudah benar-benar seperti boneka tali, yang terus menuruti gerakan dari apa yang ular itu perintahkan.


Setelah itu, Sastro membawa Darto melihat akhir hayat Darsa yang sudah tua, kemudian kembali membawanya ke dunia nyata. Hanya dalam hitungan detik, mereka sudah sampai ke dalam kamar Anto kembali.


"Sekarang kamu sudah lihat semuanya, Dar. Semoga kamu tidak melakukan kesalahan yang Darsa lakukan dulu. Gending sudah sepenuhnya mati, tidak ada manusia yang bisa hidup selama itu," sambung Sastro setelah kembali, dengan wajah yang kian memucat, juga terlihat sangat kelelahan.


Mendengar itu, Darto hanya mengangguk. Dari matanya tampak sebuah keyakinan, tanpa sedikitpun kebimbangan.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2