
Setelah memeluk Jaka dan Darto sembari mengucap kata lulus, Eyang semar kembali membawa jiwa mereka ke tubuh aslinya.
Saat jiwa mereka masuk ke dalam raga di dalam gubuk, Darto dan Jaka kembali menjerit kesakitan. Perasaan sakit yang tidak ada bedanya, dengan siksaan yang mereka rasa sehabis meminum air dari kendi yang Eyang berikan.
Sesaat eyang menyentuh kening Darto dan Jaka secara bersamaan, kemudian tangan Eyang mengepal seperti menggenggam sesuatu yang yang tak kasat mata di kening Darto dan Jaka, dilanjut Eyang menarik lengannya sembari memejamkan mata.
Setelah Eyang menarik sesuatu di kening Darto dan Jaka, dua pemuda itu berangsur bisa merasakan tubuh mereka membaik. Perasaan sakit yang amat menyiksa berangsur pergi, yang tersisa hanya dua tubuh yang terkulai lemas dan sama sekali tidak bisa digerakkan.
Darto dan Jaka kembali pingsan kali ini, mereka diam tidak berkutik dengan posisi terbujur setelah kejang. Eyang yang melihat dua pemuda di depannya terpejam, langsung bertanya kepada Maung yang masih setia menjaga dua tubuh di dalam gubuk tersebut.
"Berapa lama kami pergi?" tanya Eyang singkat sembari memasang wajah penasaran.
"Satu bulan, Romo. Kemarin tubuh anak yang kecil ini sampai keluar darah dari telinga," sahut Maung sembari menunjuk Jaka.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu pergi saja. Panggil kucing yang mengantar mereka berdua di pinggir sungai, supaya mereka bisa pulang dengan cepat nantinya. Ada sesuatu juga yang ingin aku berikan sama dia," sambung Romo setelah melihat wajah Maung yang begitu khawatir dengan Jaka.
"Baik, Romo. Kalau begitu saya permisi," ucap Maung, "Romo ... apa Romo tidak mau menunjukkan wujud asli Romo? Kenapa memaki wujud manusia terus menerus sedari pertama bertemu dengan mereka?" sambung Maung sebelum keluar dari gubuk.
"Nanti juga saya ajak mereka ke rumah. Mereka sudah lulus, bukan hanya wujud asli, mereka akan aku perlihatkan semua benda berhargaku, mereka berhak memilih satu," jawab Eyang sembari tersenyum.
Mendengar ucapan Eyang Semar, Maung langsung tersenyum begitu lebar dan merubah wujudnya menjadi seekor macan hitam kembali. Dia melangkah pelan menuju depan gubuk, dan setelah sampai di luar hanya dalam satu hentakan dia melompat kemudian menghilang bagai melebur di atas udara. Yang tersisa hanya kepulan asap hitam, yang terus menerus menipis setiap detiknya.
Setelah beberapa waktu, Maung kembali bersama Komang. Komang yang dulu sangat terlihat garang, kali ini terlihat sangat ketakutan. Tubuhnya terus gemetaran ketika sampai di depan gubuk milik Eyang Semar.
__ADS_1
"Kemari kau, kucing," teriak Eyang Dari dalam gubuk setelah dapat merasakan kehadiran Maung dan Komang.
Komang langsung menatap Maung, dia ragu untuk masuk. Namun setelah melihat Maung mengangguk, Komang merubah wujud menjadi manusia dan bergegas masuk ke dalam gubuk miring tersebut.
"Ada apa, Prabu?" jawab Komang dengan suara gemetar. Komang terus menunduk, dan tidak berani untuk menatap lawan bicaranya.
"Berlatihlah dengan Maung. Kamu harus bisa membantu dua anak ini untuk menumpas Banaspati dan satu mahluk lainnya," sahut Eyang sembari menatap santai ke wajah Komang.
Komang tampak kebingungan, dia tampak ragu menjawab meski perasaan di dalam hatinya meledak-ledak karena kegirangan. Dia sangat bahagia karena akan diajari sesuatu oleh sosok yang merupakan legenda bahkan bagi para penghuni kaum sebelah. Hari ini dia merasa seperti penjudi yang mendapatkan jackpot untuk pertama kalinya di dalam hidupnya.
"Satu bulan ... Itu waktu yang kamu punya. Curi lah ilmu sebanyak-banyaknya dari Maung," ucap Eyang setelah melihat Komang tampak gagu di depannya, "Maung?! Bawa dia ke hutan, ajarkan semua yang kamu bisa," sambung Eyang. Kali ini dia berbicara pada Maung yang tengah duduk di depan gubuk dalam bentuk macan hitamnya.
Maung langsung mengangguk, tanpa protes sedikitpun dia berkata, "Mari temanku, akan aku buat kau sekuat diriku."
Mata Komang langsung membulat, dia merasa terharu dan senang dalam waktu yang sama. Setelah cukup lama diam dia akhirnya membungkuk pada Eyang kemudian berkata, "Terimakasih, Prabu."
Tidak lama setelah Maung dam Komang pergi, Darto dan Jaka membuka mata hampir bersamaan. Eyang langsung tersenyum dan membantu dua pemuda di depannya itu untuk duduk dan bersandar pada bilik bambu gubuknya.
Darto dan Jaka masih sesekali meringis, karena tubuhnya masih meninggalkan rasa pegal setelah kesakitan itu pergi.
"Kenapa tubuh kami sakit sekali, Eyang? Sebenarnya apa yang kamu berikan?" tanya Darto sembari terus meringis menahan ngilu dibarengi anggukan kepala Jaka.
"Kalian juga nanti tahu sendiri. Ini diminum dulu, nanti kalian akan lihat hasil dari kesakitan yang kalian rasakan," sahut Eyang sembari menggeser sebuah kendi, kendi yang sama dengan kendi yang isinya pernah Darto dan Jaka teguk sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau lagi, Kang," sergah Jaka dengan wajah ketakutan, dia menatap Darto dengan wajah pucatnya.
Eyang terkekeh pelan melihat ekspresi di wajah Jaka, dia merasa lucu dengan jawaban jujur yang selalu keluar dari mulut pemuda kecil di depannya. Sembari terkekeh Eyang kembali berkata, "Air ini berbeda dengan yang kalian minum. Jika tidak meminum ini, kalian mungkin akan merasakan ngilu di badan kalian seumur hidup."
Mendengar itu, Darto melihat wajah Jaka sejenak, kemudian meraih kendi dan meneguk isinya langsung dari bibir kendi.
Darto sedikit mengerang, dia merasakan setiap otot di tubuhnya menjerit, namun setelah beberapa detik saja tubuh Darto terasa lebih ringan dan juga lebih bertenaga. Dia merasa tubuhnya dipenuhi sesuatu, yang belum pernah dirinya rasakan sama sekali sebelumnya.
"Tidak sakit, Kang?" tanya Jaka penasaran. Dia melihat Darto dengan seksama, untuk memastikan efek yang Darto rasa setelah meminum air di dalam kendi.
"Tidak, Jak. Malah tubuhku sangat bugar," jawab Darto sembari merenggangkan ototnya setelah berdiri.
Mendengar ucapan Darto, Jaka langsung meneguk air di dalam kendi. Dia merasakan hal yang sama, sesaat tubuhnya seakan tertarik, otot di seluruh badannya seakan menjerit namun itu berlaku untuk sekejap saja.
Melihat kedua pemuda itu sudah meminum air dari kendi, Eyang mengajak mereka berdua untuk keluar dari gubuk. Darto dan Jaka hanya bisa menurut, dan setelah sampai di depan gubuk Eyang berkata, "Coba kalian berlari secepat yang kalian bisa, satu putaran saja mengelilingi sawah ini."
Darto dan Jaka saling menatap dengan sejuta pertanyaan di kepala mereka. Bagaimana caranya berkeliling? Sedangkan dulu mereka menghabiskan satu malam penuh hanya untuk menuju gubuk yang berdiri tepat di tengah sawah.
Namun meski masih kebingungan, Darto dan Jaka akhirnya mengangguk dan mencoba untuk melangkahkan kaki mereka dengan maksud berlari.
Sesuatu yang luar biasa terjadi. Tubuh mereka terasa seringan kapas, bahkan otak mereka sampai terlambat menanggapi kecepatan kaki miliknya. Hanya dalam hitungan menit saja, mereka berdua sampai kembali di depan gubuk dengan wajah kebingungan.
"Itu hadiah untuk rasa sakit kalian. Aku mengembangkan setiap otot di tubuh kalian, hingga setara dengan otot yang dimiliki pria yang kalian rasuki kemarin. Kalian pernah merasakannya sekali dalam ujian, seharusnya kalian juga bisa meniru setiap gerakan dari pria yang kalian rasuki itu," ucap Eyang setelah melihat dua pria di depannya tampak kebingungan.
__ADS_1
Mendengar penuturan itu, Darto dan Jaka langsung tersenyum sumringah, mereka tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia di dalam hati mereka, hingga mereka tanpa sadar memeluk Eyang secara bersamaan sembari berkata, "Terimakasih."
Bersambung .....