ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TUGAS APA?


__ADS_3

"Gimana, Dar? Nambah berapa kali?" Ucap Si Mbah dilanjut mengangkat alis miliknya berulang kali. Dia menatap Darto dengan tatapan meledek sembari menahan tawa.


Darto dan Harti seketika terbahak, kemudian Darto merentangkan jari di kedua tangannya. Dia mencoba menunjukkan kesepuluh jari miliknya untuk menjawab pertanyaan Si Mbah di depannya. Melihat itu Si Mbah membulatkan kedua matanya sembari berteriak "Sepuluh?!"


Darto dan Harti kembali terbahak, dengan pipi memerah setelah melihat reaksi Si Mbah di depan mereka. Rasa malunya masih saja singgah meski mereka tau jika Si Mbah hanya mengejek saja, dan juga jawaban yang Darto berikan murni sebuah karangan saja.


Setelah cukup lama mereka bercanda, satu persatu teman Kakung mulai kembali berdatangan. Hari kedua dari pernikahan Darto dan Harti masih sama ramainya dengan kemarin. Tamu tiada hentinya datang tanpa spasi, membuat mereka sibuk menyapa satu persatu orang yang sudah menyempatkan untuk memberi selamat padanya.


Sedangkan di tempat lain, Jaka dan Abah Ramli sudah bersiap. Sebelumnya mereka singgah di rumah Abah Ramli untuk mempersiapkan bekal, dan ketika semuanya sudah siap, mereka meninggalkan kampung setelah berpamitan dengan seluruh penghuni sepuluh rumah di kampung tersebut.


Jalan keluar dari kampung hanya ada satu. Setiap warga dilarang keras melalui jalan itu jika tidak bersama sesepuh Desa. Konon pernah ada yang yang mencoba menerobos keluar, namun dia hilang dan tidak pernah ditemukan, baik di rumah lama sebelum dirinya menikahi gadis penduduk sini, maupun di kampung itu sendiri.


Penduduk kampung sepenuhnya percaya, karena siapapun yang menjadi tetua desa harus melalui proses panjang dan juga mewariskan benda yang bisa di gunakan untuk satu pengenal yang di wariskan turun temurun. Yang bisa keluar masuk dari kampung tersebut hanyalah orang yang membawa benda tersebut.


Saat mereka berdua sudah cukup jauh dari kampung, mereka disambut oleh dua pohon yang sangat besar. Pohon itu berdiri dengan gagah menyuguhkan batang berlumut dan daun yang begitu rimbun di atasnya. Mereka berjalan lurus menuju pohon tersebut, dengan Abah Ramli yang memimpin jalan di depan.

__ADS_1


Jaka tertegun melihat ukuran pohon yang baru saja ia lihat untuk pertama kalinya, pohon itu begitu besar, bahkan mungkin butuh empat orang dewasa yang harus merentangkan tangan untuk memeluk batang pohon tersebut. Matanya berbinar menyaksikan setiap dahan dan ranting yang besarnya sama dengan tubuh miliknya, namun rasa kagumnya dibuyarkan oleh tepukan tangan Abah Ramli yang mendarat di pundak miliknya sembari berkata "Ayo perjalanan kita panjang."


Mendengar itu, Jaka langsung mengangguk. Dia mengikuti langkah sesepuh di depannya, untuk melewati celah diantara pohon itu dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya pohon itu sudah berhasil dilewati, Jaka sedikit tertegun melihat keadaan yang dirinya lihat.


Hutan di depan matanya begitu lebat, semak-semak tumbuh hingga begitu tinggi, tidak ada satupun jalan setapak yang bisa dilalui di depannya. Anehnya lagi, ketika Jaka menyapu pandangannya ke segala penjuru, dia tidak melihat dua pohon besar yang baru saja dia lewati. Jaka sampai mengerjap mata dan serasa bermimpi karena tidak bisa melihat dua pohon yang bahkan belum ada satu menit dirinya dan Abah Ramli lewati.


"Kamu bingung, kan?" Ucap Abah Ramli sedikit terkekeh melihat Jaka terus berputar-putar memperhatikan sekelilingnya.


"Pohonnya kemana, Bah?!" Sergah Jaka dengan wajah begitu bingung.


"Cuma Abah yang bisa lihat kalau dari luar, Jaka. Coba kamu pegang tangan Abah," sambung Abah sembari menyodorkan telapak tangannya.


"Abah juga bisa memberi izin untuk orang melihat pohon itu dari luar. Jadi pokoknya besok paspulang jangan jauh-jauh dari Abah ya?" Sambung Abah Ramli kembali.


Mendengar itu Jaka hanya mengangguk, dia melepas tangannya dari tangan Abah, dan seketika itu juga pohon besar didepan matanya hilang dalam satu kedipan mata. Setelah melihat Jaka sudah sedikit mengerti, Abah membawa Jaka berjalan menyibak rimbun semak yang terus menerus dirinya tebas. Mereka terus berjalan tanpa istirahat, hingga akhirnya semua semak yang terus terlihat selama berjam-jam sudah tidak tampak lagi. Mereka berdua seperri berhasil keluar dari sebuah tumpukan jerami, dan menyaksikan sebuah hutan yang normal seperti hutan pada umumnya.

__ADS_1


"Kenapa pohon itu di sembunyikan, Bah? Bukannya jika begitu tidak akan ada orang yang tahu, kalau ada kampung yang kita tempati? Kalau jalan masuknya saja tidak ada yang bisa melihat?" Ucap Jaka sembari menyandarkan punggung di sebuah pohon. Dia dan Abah tengah beristirahat setelah 3 jam lamanya berjalan sembari menebas semak secara bergantian.


"Kampung kita memiliki sesuatu yang harus dijaga, tidak boleh ada orang luar yang tau tempat penyimpanan benda itu. Keluarga kita baru bisa keluar dari kampung, kalau tugas kita sudah selesai. Nanti kita datang ke tempat teman Abah, siapa tahu keturunan dari orang yang kita tunggu sudah datang," sambung Abah kemudian menghela nafas panjang. Dia juga merasa lelah, karena tenaganya tidak sekuat dulu lagi.


"Memang apa, Bah?" Sambung Jaka.


"Kamu mau tau?" Jawab Abah singkat dengan tatapan menyelidik, dan langsung mendapat anggukan kepala dari Jaka.


"Ada syaratnya," ucap Abah kemudian menghela nafas dan kembali berbicara"Kamu harus menjadi sesepuh desa terlebih dahulu. Nanti baru Abah kasih tahu semuanya."


"Kalau itu si saya tau, Bah!" jawab Jaka sungut-sungut. Dia sedikit menyesal sudah memasang telinga rapat-rapat tapi jawaban yang ia dapat tidaklah seperti apa yang dirinya harapkan.


Abah terkekeh melihat Jaka yang menggerutu. Dia meraih kepala pemuda di depannya sembari berkata "Semoga keturunan Kanjeng Darma sudah ada yang layak, jadi kamu bisa tahu tentang tugas apa yang keluarga kita pikul, tanpa menjadi sesepuh desa terlebih dahulu."


Setelah mendengar penuturan Abah Ramli. Jaka mengangguk penuh harapan. Dalam hatinya dia tidak begitu perduli untuk cepat mendapat istri. Namun dia sangat ingin agar dirinya cepat bertemu dengan seseorang yang mereka tunggu ratusan tahun lamanya. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kembali, mereka terus menyusuri hutan lebat tanpa berpapasan dengan seorangpun.

__ADS_1


Mereka terus berjalan tanpa beristirahat, mengingat Abah berkata jika hari sudah malam, mereka harus berhenti berjalan. Dia berkata jika susah gelap dirinya tidak tau sama sekali ke arah mana harus berjalan. Matahari adalah satu-satunya petunjuk arah mereka, mereka terus mengikuti arah matahari tenggelam, hingga langit kuning sudah tersaji di atas kepala mereka. Sore ini mereka berdua akhirnya sampai di danau, tempat yang selalu Darto gunakan ketika dirinya menghafal. Tinggal hitungan langkah lagi, tugas berat yang terus diemban oleh keluarga sedarah, hampir menemui sebuah titik akhir.


Bersambung,-


__ADS_2