ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
ALAS IRENG


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, hari ini Darto menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan setiap kenalannya, entah itu Surip, Bidin maupun istri-istri mereka. Mereka hanya menghabiskan satu hari penuh dengan kegiatan yang bisa disebut malas-malasan.


Darto benar-benar merasa senang karena bisa kembali berkumpul dengan semua orang yang dirinya kenal, meski besok sudah harus berpisah kembali.


Setelah puas menghabiskan hari dengan mereka, semua orang berangsur pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah terpampang sore kala itu.


Darto maupun Jaka benar-benar terus mendekap istri mereka sembari bercerita tentang perjalanan yang sudah mereka lalui. Mereka berdua secara bergantian menjabarkan setiap kejadian yang menimpa kerajaan sendang langit, tanpa sedikitpun yang terlewatkan.


Bagi Magisna dan Ratna, mereka menganggap rentetan cerita yang kedua pria di depannya jabarkan tidak lebih dari sekedar dongeng. Mau bagaimana pun kalau seseorang belum pernah melihat penghuni sebelah, maka tidak ada sedikit pun alasan untuk percaya dengan cerita yang tidak bisa dibuktikan dengan logika.


Meski begitu, mereka terus menceritakan semuanya, hingga tanpa terasa malam sudah begitu larut. Suara ramai para santri sudah berangsur sunyi, berganti dengan suara hewan sawah yang terdengar nyaring dari belakang rumah.


Semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Kali ini Darto benar-benar terus membuka mata, sembari menatap wajah Harti yang sudah tertidur pulas di depannya.


"Dek ... sudah tidur beneran apa sudah tidur bohongan?" tanya Darto menggoda.


Harti sama sekali tidak menjawab, dia benar-benar terlelap kali ini. Melihat istrinya yang tidak bergeming, Darto langsung mengelus pelan rambut panjang di kepala istrinya itu.


Darto menatap sendu wajah perempuan tersayangnya, meski Harti sudah tampak tidak muda lagi. Sesaat setelah Darto puas memandangi wajah istrinya dari dekat, dia mengecup lembut kening istrinya sembari bergumam, "Semoga kita bisa bersatu lagi, Nduk."


Setelah mengucap kata itu, Darto memejamkan matanya, dia terlelap setelah mengecup istrinya dan hanya tersisa Harti yang tengah menangis tanpa suara di sampingnya.


Sebenarnya ketika Darto mengecup keningnya, dia terbangun dari tidurnya. Namun karena dia mendengar gumaman sendu dari suaminya, dia sengaja memejamkan mata agar bisa mendengar apapun yang suaminya katakan.


Malam itu, setelah Harti menangis dalam bungkam cukup lama, dia mengecup bibir suaminya, dan merubah posisi tidurnya mmenjadi berpelukan.

__ADS_1


Harti terlelap berbantalkan dada suaminya, hingga tanpa terasa pagi sudah kembali menyapa.


Darto yang melihat Harti tidur di atas dadanya sempat mengusap lembut rambut istrinya. Meski baru saja bangun, Darto langsung paham jika istrinya pasti sudah menangis cukup lama semalam. Mata Harti yang masih terpejam benar-benar lebam, tampak sekali jika dia tidak baik-baik saja


Namun meski melihat wajah istrinya begitu mengiris, Darto tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan apa yang belum sempat dirinya selesaikan. Dia membangunkan Harti dan beranjak keluar dari kamarnya.


Setelah shalat jamaah subuh di masjid, Darto dan Jaka langsung berpamitan kepada seluruh keluarganya. Di pagi yang masih remang, dua pemuda itu kembali meneriakkan nama Maung dan Komang.


Setelah dua mahluk itu datang, Darto dan Jaka langsung memeluk Istri dan Anak mereka sekaligus. Untuk cukup lama mereka tidak melepaskan dekapan, dan sejurus kemudian Darto dan Jaka menciumi istri dan anaknya itu secara bergantian.


"Bapak berangkat dulu, Le. Jaga ibu ya?!" ucap Darto sembari mendekat ke arah Maung.


"Bapak juga mau berangkat dulu, Dek," ucap Jaka pada Magisna, "Kamu jangan nakal-nakal ya, sama Ibu," sambungnya lagi kepada Ratna.


Mendengar ucapan Darto dan Jaka, Magisna, Ratna, Harti dan Dava spontan mengangguk. Mereka berempat melambaikan tangan mereka dan melihat punggung dua lelaki berangsur menjauh menuju arah belakang pesantren.


Setelah sampai di samping makam Kakung, Darto sejenak mampir untuk sekedar mengirim al-fatiha dilanjut bergumam di samping makam orang tercintanya itu, "Kung ... Darto berangkat dulu. Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan ya, Kung."


Setelah mengucap gumaman tersebut, Darto bergegas menaiki pundak Maung, kemudian melesat bersama Jaka dan Komang yang sedari tadi sudah menunggu.


Dalam satu kali lompatan, Maung dan Komang melesat bagai melebur di udara. Hanya tersisa kepulan asap berwarna hitam dan jingga, yang perlahan menipis dan terus menipis hingga hilang diterpa angin yang tengah berlalu-lalang.


Hanya dalam hitungan detik, Darto dan Jaka sudah kembali memasuki alam yang seharusnya tidak diketahui oleh manusia. Mereka sudah berdiri ditengah hutan belantara, yang sama sekali tidak terlihat penghuninya.


"Kamu tahu di mana tempat Banaspati?" tanya Darto pada Maung sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Semua mahluk yang singgah di dunia ini juga tahu, Dar," jawab Maung singkat sembari menoleh ke arah Komang, "Kamu tahu kan, Mang?" sambung Maung.


"Di alas ireng, kan?" sahut Komang.


Mendengar sahutan Komang, Maung langsung mengangguk kemudian menoleh pada Darto, "Kamu sudah siap kan, Dar?"


Darto langsung mengangguk dan menciptakan energi yang menyelimuti wajahnya. Sama dengan Jaka, dia juga menciptakan energi yang menyelimuti wajahnya sebelum akhirnya memegang bulu keras dari jelmaan yang tengah mereka tunggangi.


Melihat kedua pria di atas pundak mereka sudah siap, Maung dan Komang langsung saling bertatap kemudian melaju dengan begitu cepat.


Mereka berdua menyibak hutan belantara dengan gerakan lurus dan sesekali zig-zag untuk menghindari barisan pohon yang ada di depannya.


Jika dilihat dari atas, tubuh mereka benar-benar tidak terlihat karena begitu cepat. Yang tampak oleh mata hanyalah sisa warna dari energi Maung dan Komang yang menciptakan gambar light trail, atau bisa disebut garis berwarna hitam dan Jingga yang tertinggal di setiap tempat yang sudah mereka lewati.


Dalam hitungan menit saja, Maung dan Komang sudah berhasil menyibak ribuan kilo meter hutan belantara. Mereka tiba di sebuah hutan yang tampak begitu berbeda, dengan warna hitam yang sangat mendominasi sepanjang mata memandang.


Hutan dengan tumbuhan yang semuanya murni berwarna hitam, dan sama sekali tidak terlihat sedikitpun kehidupan.


Maung dan Komang menghentikan laju larinya tepat di atas garis yang memisah rumput hijau dan tanah tandus. Tanah yang maung injak benar-benar berbeda dengan tanah yang tampak di beberapa jengkal tangan di depannya.


"Ini tempatnya, Dar," ucap Maung kepada Darto.


Mendengar ucapan Maung, Darto menatap Jaka sembari berkata, "Kamu siap, Jak?"


Jaka langsung mengangguk, dengan wajah yang sangat serius dia berkata, "Mari kita selesaikan semua ini, Kang."

__ADS_1


Darto langsung tersenyum mendengar jawaban Jaka, dia kembali menatap Maung sembari berkata, "Ayo cepat! kita dobrak rumahnya!"


Bersambung ....


__ADS_2