ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
HADIAH PERPISAHAN


__ADS_3

"Kek ... sudah cukup untuk meratapi semuanya. Sekarang ijinkan kami menolong Kakek," ucap Darto sembari mengendurkan dekapannya, dia menatap serius ke arah Ki Gandar yang masih terus merunduk.


Mendengar kata itu, Ki Gandar langsung mengangkat wajahnya. Dia menghela nafas begitu dalam, kemudian menghembuskan semuanya secara sekaligus menggunakan mulutnya. Setelah cukup tenang, dia langsung membuka suara, "Nak ... ada satu pertanyaan untuk kalian, sebelum aku dikirim menuju kematian."


"Apa itu, Kek?" Jaka membuka suara.


"Apa di sana aku bisa bertemu dengan Istri dan dua anakku yang tercinta?" sahut Ki Gandar dengan wajah begitu penasaran.


"Jika diizinkan sama Yang Maha Kuasa, pasti kalian bisa bersatu lagi, Kek. Bahkan kalian bisa mendapatkan tempat yang jauh lebih indah dari kampung milik kalian dulu," sambung Darto tanpa basa-basi.


"Siapa beliau? Apa dia sehebat itu hingga bisa mempertemukan aku dan keluargaku yang sudah lama mati?" tanya Ki Gandar kembali.


"Beliau yang memiliki segalanya, Kek. Beliau juga yang membuat bumi beserta isinya. Dia yang memegang kunci sebuah kehidupan dan kematian dari semua mahluk ciptaannya. Kami memanggil beliau dengan sebutan Tuhan," jawab Darto kembali.


"Apa aku juga bisa bertemu dengan Tuhan kalian?" sahut Ki Gandar dengan wajah penuh harapan.


"Pasti! Semua yang sudah mati akan langsung bertemu dengan beliau beserta semua malaikat yang beliau perintahkan," sahut Jaka dengan wajah yakin.


Mendengar kata itu, Ki Gandar langsung menunduk dan tidak melontarkan sebuah pertanyaan lagi. Dia berfikir sejenak, untuk menelaah semua perkataan yang sudah ia dengar dari dua cucu di depannya itu.


"Apa Kakek bersedia ikut menjadi hamba beliau? Saya pastikan akan ada banyak hadiah jika Kakek meninggal dalam keadaan sudah menjadi seorang yang menyembah dirinya," sambung Darto setelah melihat Ki Gandar hanya bungkam di depannya.


"Bagaimana caranya?" tanya Ki Gandar kembali.


"Kalau Kakek mau, cukup ikuti saja kalimat yang saya ucapkan, dan biarkan Jaka yang menjadi saksi dari Ikrar yang Kakek ucapkan di depannya," sahut Darto sembari memasang senyuman yang begitu lebar.


"Baik ... saya mau, Nak," jawab Ki Gandar dengan wajah berseri-seri.


Mendengar itu, Darto langsung menuntun Ki Gandar untuk melafalkan kalimat syahadat dengan Jaka yang menjadi saksinya. Setelah Ki Gandar selesai mengucapkan kata syahadat, Darto langsung menjelaskan apa arti dari kalimat tersebut.

__ADS_1


Ki Gandar tampak begitu lega setelah mendengar apa yang Darto jabarkan. Dia serasa mendapat satu cahaya baru, ketika dirinya serasa tengah diselimuti kegelapan yang sempurna di dalam hidupnya.


Ki Gandar merasa kini dia memiliki tujuan baru, yaitu untuk mati dan bertemu dengan sosok agung yang sudah diceritakan oleh dua cucunya itu. Setelah selesai melakukan ikrar, Ki Gandar masih meminta sesuatu pada dua cucunya, dengan wajah sangat serius dia berkata, "Kalian harus hati-hati, Nak. Dia bukan lawan yang mudah."


"Ceritakan pada kami, Kek. Sebenarnya siapa mahluk itu?" Sahur Darto singkat.


"Dia sosok yang memiliki banyak nama, Nak. Tapi yang jelas dia benar-benar jauh di atas golongan jin biasa. Sebut saja iblis," sahut Ki Gandar dengan wajah yang sangat serius.


"Di mana dia tinggal, Kek?" timpal Jaka.


"Dia punya banyak sekali rumah, Nak. Tapi aku yakin, jika kalian membunuhku, dia akan menemui kalian tanpa kalian minta," jawab Ki Gandar sembari menatap Jaka dengan pandangan yang begitu lurus.


"Apa Kakek bisa merasakan sekarang dia ada di mana?" Darto membuka suara.


"Dia ada di alas getih, Le. Itu tidak jauh dari sini," jawab Ki Gandar pada Darto, kemudian dia menoleh ke arah jaka dan kembali berbicara, "Akan aku beri satu hadiah untukmu, Nak. Tolong terima tanpa bertanya."


Setelah melihat Jaka mengangguk, Ki Gandar kembali meminta pada Jaka, "Sekarang duduk dan pejamkan mata kamu, Nak."


Mendengar perintah itu Jaka langsung duduk bersila sembari memejamkan matanya di depan Ki Gandar. Dia melakukan apa yang Ki Gandar pinta, tanpa sedikitpun bertanya.


"Tolong jaga anak ini, jika terjadi lonjakan kamu pasti bisa membantunya," pinta Ki Gandar sebelum dirinya mulai memegangi pundak Jaka.


Mendengar penuturan Ki Gandar, Darto langsung mengangguk dan duduk di depan Jaka, kemudian menyaksikan dengan seksama proses demi proses Ki Gandar memindah energi miliknya pada tubuh Jaka.


Energi merah menyala bagai kobaran api merambat dari tubuh Ki Gandar, dan masuk ke dalam tubuh Jaka melalui tangan Ki Gandar yang tengah menyentuh punggung Jaka.


Perlahan tubuh Jaka kembali meremang, dia tampak begitu merah hampir pada seluruh bagian tubuhnya. Dari wajah, leher, dada hingga ujung kaki yang tengah terlipat di atas tanah ikut berubah warna, dari yang semula coklat sawo matang, menjadi merah menyala layaknya api berkobar.


Sesekali Jaka meringis kesakitan dalam bungkam, dia bahkan sampai beberapa kali mendongak, untuk menahan rasa perih yang menghujam sekujur tubuhnya, ketika energi Ki Gandar masuk secara terus menerus ke dalam raganya.

__ADS_1


Proses itu berlangsung cukup lama, Ki Gandar tampak semakin menua setelah energinya tersedot kedalam raga Jaka. Dia tampak tidak bertenaga lagi, hingga tiba saatnya dia ambruk ke atas tanah sembari melepaskan telapak tangannya dari punggung Jaka.


"Kek?!" teriak Jaka setelah tangan Ki Gandar lepas dari punggungnya, dia menoleh ke belakang dan langsung merasa sedikit khawatir dengan kondisi Ki Gandar.


"Tidak apa-apa ... Maaf untuk kamu, aku tidak bisa memberikan apa-apa. Ditambah energi milikmu sudah begitu melimpah, jadi kurasa sekarang kalian sudah bisa menghadapi iblis itu jika bersama-sama," jawab Ki Gandar pada Jaka kemudian menoleh dan berbicara pada Darto.


"Sudah, Kek. Jangan hiraukan kami lagi, sekarang izinkan kami menolong kakek," sahut Darto dengan wajah sendu.


"Semoga kalian baik-baik saja. Maaf aku bahkan tidak mengenali cucuku sendiri, sekarang ... tolong kirim aku ke tempat Darma, uhuk! Uhuk!" ucap Ki Gandar dilanjut terbatuk. Dari sudut bibirnya mulai mengalir darah segar yang mengucur bebas hingga menetes dari dagunya.


Melihat kondisi Ki Gandar sudah diambang kematian karena kehabisan energi, Jaka bergegas menggenggam rantai yang melilit pada leher Kakeknya itu. Jaka meremas rantai tersebut sekuat tenaga, kemudian menarik sekencang yang ia bisa menggunakan tangannya.


Setelah cukup lama berusaha memutus pengikat yang amat kuat tersebut, akhirnya usaha Jaka benar-benar membuahkan hasil yang nyata. Rantai yang membelenggu kehidupan Ki Gandar beribu tahun lamanya, diputus hanya menggunakan dua tangan kosong dari cucu jauhnya.


"Sekarang Kakek bisa pulang," ucap Jaka dengan tatapan sendu. Dia menatap lega sekaligus iba dengan wajah penuh keringat karena baru saja berusaha melepas belenggu yang begitu kuat.


"Kek ... Anak dan Cucu kakek semuanya menjadi orang hebat. Mereka semua mengemban takdir untuk menyadarkan Kakek, dan sekarang aku sudah memenuhi takdir mereka yang belum sempat mereka selesaikan. Aku harap Kakek bisa menceritakan kisahku dan Jaka kepada mereka," sambung Darto sembari memegangi kepala Ki Gandar. Ki Gandar benar-benar sudah terbujur di atas tanah, nafasnya mulai tersengal, dengan bibir yang terus terbuka bagai seekor ikan yang tengah hinggap di atas daratan.


Karena Ki Gandar tampak tidak bisa menjawab lagi, Darto langsung berbicara dekat dengan telinga miliknya, dia meminta Ki Gandar untuk mengikuti kalimat yang ia sebutkan. Dan Ki Gandar pun langsung menurut tanpa sedikitpun menjawab.


Di tengah nafas yang tercekat, Ki Gandar masih sempat mengikuti ucapan Darto dengan susah payah. Dia berhasil melantunkan syahadat, tepat sebelum dirinya menemui semua keluarga tercintanya.


Setelah Ki Gandar benar-benar tidak bernafas lagi. Tubuhnya benar-benar berangsur menghitam, raganya terus menyusut, hingga menjadi debu yang mulai beterbangan diterpa udara yang berhembus.


Hari ini, sosok yang begitu di takuti sudah berpulang dengan kondisi yang jauh dari perkiraan. Tidak ada pertarungan yang menyusahkan, dan juga tidak ada satupun korban dari Darto maupun Jaka.


Mereka berhasil memenuhi takdir yang diemban oleh keluarganya, meskipun tugas sebenarnya baru akan mereka jalani, setelah mereka berhasil keluar dari hutan ini.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2