ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERASAAN BARU


__ADS_3

Sore itu Darto pulang menuju pesantren dengan penuh rasa kecewa, karena sudah melewatkan satu kesempatan emas untuk menyingkirkan salah satu kaki tangan musuh utamanya. Dalam hatinya dia ingin sekali memutar balik waktu, untuk mengulangi pertarungan dan menciptakan hasil seperti yang diharapkan. Namun sehebat apapun mahluk yang disebut manusia, dia tidak akan pernah bisa mengotak-atik sesuatu yang sudah menjadi satu ketetapan tuhan.


Ketika sampai di pesantren, Darto baru bisa menorehkan sedikit senyum di bibirnya, setelah melihat Bidin dan Surip yang terhindar dari bahaya. Mereka lari tepat waktu dan sampai di pesantren dengan selamat.


"Kamu nggak apa-apa kan, Gus?" Tanya Surip. Dia sedari tadi menunggu kepulangan Darto di depan pesantren.


"Alhamdulillah, Sur. Bidin kemana?" Jawab Darto.


"Dia lagi panggil Si Mbah sama Pak Kyai. Kami takut terjadi apa-apa sama kamu, tapi syukurlah kamu sudah kembali," ucap Surip kembali, kali ini dia menatap Darto dengan tatapan lega yang bersarang di wajahnya.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam pesantren, dan ketika baru memasuki wilayah pesantren, Darto dan Surip melihat Bidin, Si Mbah dan Kakung yang sedang tergesa berjalan ke arah gerbang pesantren. Mereka tampak sangat tergesa, dengan raut khawatir yang terpampang di wajah mereka.


Namun semuanya langsung berangsur memasang wajah lega, ketika melihat Darto yang baik-baik saja di depan mata mereka. Si Mbah dan Kakung langsung memeluk Darto secara bergantian, sembari terus mengucapkan kata syukur tanpa henti.


"Nanti ceritakan sama kita, Dar. Apa yang sebenarnya terjadi," ucap Kakung sembari menarik lengan Darto. Dia menyeret Darto sembari mempercepat langkah kaki menuju rumahnya sendiri.


Sesampainya di rumah, Darto menceritakan semuanya. Tentang kelabang raksasa yang begitu kuat, serta ribuan anak yang sudah berhasil dirinya singkirkan. Kakung dan Si Mbah tertegun mendengar setiap apa yang keluar dari bibir Darto, mereka langsung memasang wajah tegang ketika Darto menceritakan tentang keahlian lawannya, namun mereka berangsur memasang lega kembali setelah mengetahui Darto berhasil menorehkan luka fatal di tubuh lawan kuatnya.

__ADS_1


"Tidak usah disesali, Dar. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Setahu Si Mbah sungut atau antena kelabang itu bagian paling penting. Dia sama saja dengan orang buta dan tuli sekarang, kamu pasti bisa melawan dia dengan mudah kalau bertemu lagi," ucap Si Mbah setelah melihat wajah kecewa dari cucunya.


"Iya, Dar. Lebih baik kamu istirahat saja sekarang. Pernikahanmu sudah dekat, jangan keluyuran lagi. Nggak baik," sambung Kakung.


Mendengar ucapan kedua kakeknya, Darto berangsur bisa mengusir rasa sesalnya. Dia mulai bisa tersenyum kembali, dan juga tidak terlalu terbebani dengan hasil pertarungannya lagi. Saat itu mereka hanya membuka perbincangan panjang sebelum akhirnya adzan maghrib terdengar dikumandangkan oleh salah satu santri. Kakung dan Si Mbah sedikit terkejut karena terlalu asik berbincang sampai lupa waktu, sampai-sampai orang lain yang mengumandangkan adzan.


Perbincangan panjang pun akhirnya diakhiri. Mereka berbondong menuju masjid untuk berjamaah maghrib dilanjut isya setelahnya. Malam berlalu begitu saja dan hari pun sudah kembali berganti.


Darto yang tertidur awal bangun sangat dini pagi ini, dia bahkan menjadi orang pertama yang sampai di masjid. Biasanya Kakung atau Si Mbah yang lebih dulu sampai, namun berbeda kali ini. Pagi ini Darto menjadi orang yang mengumandangkan adzan fajar dengan suara nafas panjang yang ia miliki.


"Cucu kita sudah besar, Min. Besok dia punya keluarga sendiri, rasanya baru kemarin sore aku menggendong dia," ucap Kakung sembari berjalan menuju masjid. Dia tengah berjalan beriringan dengan Mbah Turahmin.


"Iya, Mat. Aku juga merasakan hal yang sama kaya kamu. Waktu memang mengerikan ya, Mat. Mungkin sebentar lagi kita cuma jadi kenangan, dari sebuah nama yang diceritakan oleh Darto kepada anak-anaknya," jawab Mbah Turahmin sembari memandang kulit tangan keriput miliknya. Dia merasa sudah begitu tua dan rapuh pagi ini.


"Sudah yuk, Min. Nanti kita ketinggalan solat fajar, hari ini saya mau Darto yang memimpin," ucap Kakung yang langsung mendapat anggukan dari Si Mbah. Mereka pun langsung mempercepat langkah kaki, dan bergegas memasuki masjid di depan mereka.


Pernikahan yang akan Darto lakukan besok adalah momen yang paling dua orang tua itu tunggu. Di satu sisi mereka sangat senang melihat bayi yang mereka rawat sudah memiliki punggung yang kuat, di sisi lain mereka sedikit merasa berat harus melepas seseorang yang selalu mereka rawat, untuk memikul beban hidupnya sendiri. Mau sebesar apapun, seorang anak akan tetap terlihat seperti balita, di mata seseorang yang merawatnya dari ketika dia hadir dan memiliki nama di bumi.

__ADS_1


Pagi ini keluarga kecil itu melakukan shalat fajar dilanjut subuh setelahnya. Mereka baru beranjak dari masjid ketika matahari sudah menyapa, dan mereka kembali melakukan persiapan untuk pernikahan Darto dan dua temannya yang akan dilakukan besok. Mereka terlihat sibuk melakukan persiapan untuk apapun yang mereka rasa akan diperlukan untuk acaranya, hingga waktu benar-benar terasa begitu cepat berjalan. Satu hari berlalu hanya seperti satu jam saja, mereka sangat sibuk hingga hanyut dalam arus waktu yang begitu cepat.


"Kamu sudah hafal, Gus?" tanya Surip.


"Aku sudah," sahut Bidin.


"Aku juga sudah," jawab Darto.


Malam ini tiga lelaki itu tengah duduk di teras masjid, menghafalkan serangkai kalimat di atas secarik kertas di tangan mereka. Mereka begitu gugup dengan apa yang akan mereka lakukan besok pagi, hingga otak encer milik mereka benar-benar ditekan untuk bekerja keras hanya untuk menghafal sebaris kata saja. Untungnya mereka semua sudah berhasil menghafal semua kata, hingga malam ini pun mereka bisa pulang ke tempat istirahat mereka dengan perasaan lega.


"Semoga besok lancar ya Sur, Din. Aku mau istirahat dulu, kalian juga sebaiknya jangan begadang. Besok hari yang penting untuk kita," ucap Darto sembari melangkah pergi menuju rumah Kakung.


Mendengar itu, Surip dan Bidin langsung mengangguk dan beranjak dari duduknya. Mereka menuju kamar milik masing-masing dan membaringkan tubuhnya. Perasaan tegang, senang dan gugup terus berkecamuk di dada tiga lelaki itu. Malam itu mereka sukar sekali untuk memejamkan mata meskipun sudah ratusan kali mereka paksa.


Tak beda dengan mempelai wanita. Mereka merasakan hal yang sama, malam itu mata mereka melupakan rasa kantuk, karena otak mereka memaksa untuk selalu berfikir. Saat ini, tiga calon mempelai itu tengah mabuk di dalam perasaan yang baru di dalam hatinya. Perasaan yang menggebu dan tidak kunjung mereda, meski mereka terus mencoba untuk meringankannya.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2