
Perjalanan Darto kali ini benar-benar terasa lancar. Jalanan yang semula dipenuhi barisan bebatuan, kini sudah menjadi jalan halus yang terbuat dari aspal.
Hanya butuh empat jam perjalanan untuk sampai di warung milik Pak Riski, padahal dulu sampai memakan waktu lebih dari tujuh jam untuk sampai di sana.
Setelah singgah untuk mengisi perut dan beristirahat, Darto, Dava dan Harti kembali melanjutkan perjalanan karena tidak ingin membuang waktu.
Tampak sekali Pak Riski dan Bu Yati benar-benar sangat terkejut melihat Darto yang tidak berubah sama sekali. Mereka mengira Darto merupakan seseorang yang tampangnya tidak berubah, dan tetap terlihat muda meski usianya sudah jauh lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu.
Setelah pergi dari warung kelontong milik Pak Riski, Darto kembali memacu mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia benar-benar tergesa hingga tanpa terasa empat jam sudah kembali berlalu.
Hutan yang semula membutuhkan waktu delapan jam untuk dilewati, kini hanya memakan setengah waktu saja. Mengingat dulu jalanan yang terpampang sangat jauh dari kata rapi dan juga dipenuhi lubang yang menganga di tengahnya. Berbeda dengan sekarang yang sudah sangat halus hingga Darto bisa memacu mobilnya dengan kecepatan sesuka hati.
Setelah sampai di kota samping desa kemoceng, Darto tetap melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat. Dia langsung melaju menuju kampung halamannya, mengikuti jalan yang masih terdiri dari bebatuan.
Jalanan menuju kampung Darto belum diaspal. Jadi mau tidak mau meski tergesa Darto tetap mengutamakan keselamatan. Darto memacu mobilnya dengan kecepatan pelan dan terus maju dengan sesekali menghindari jalan berlubang.
Dalam satu setengah jam, akhirnya gardu desa yang bertuliskan kemoceng sudah terlihat dari kursi kemudi. Darto langsung melesat dan menaruh mobilnya di depan langgar yang sudah sepenuhnya berbeda.
Langgar yang dulu terbuat dari kayu kini sudah menjadi satu masjid besar yang ukurannya dua kali lipat dari sebelumnya. Langgar itu tampak akan menjadi bangunan yang begitu megah, meski pembangunannya masih belum rampung di kerjakan.
Setelah memarkir mobilnya, Darto langsung meraih semua barang bawaan di dalam bagasi. Dava juga ikut membawa sebagian barang bawaan Harti, kemudian melangkah berjalan kaki menuju rumah yang sudah sangat lama Darto tinggalkan.
Darto benar-benar sudah seperti pendatang di kampungnya sendiri. Dia bahkan sempat kebingungan dengan banyaknya gang yang ada di depan matanya. Padahal dulu hanya ada satu jalan setapak yang mengarah ke rumahnya, namun kini sudah dipenuhi rumah entah punya siapa yang berdiri tegap di setiap sudut arah mata memandang.
Setelah cukup lama berkeliling. Sebuah rumah yang sama persis dengan yang ada di dalam ingatan Darto akhirnya terlihat jelas di depan mata mereka bertiga.
Darto yang melihat rumah Si Mbah tidak berubah sama sekali langsung merasa terharu dengan apa yang dilihatnya saat ini.
__ADS_1
Banyak sekali kenangan dari masa kecilnya dulu yang Darto miliki di rumah ini. Kenangan mendapatkan teman, kehilangan, permusuhan, bahkan kasih sayang dari keluarga kecil miliknya.
Meski Dava dan Harti melihat kondisi rumah tersebut sangat sepi. Namun apa yang ada di mata Darto benar-benar sepenuhnya berbeda.
Gambaran dari ingatan masa kecilnya benar-benar tampak nyata. Seakan Darto tengah melihat Dining, Satya, Anto dan dirinya yang tengah berlari-lari di depan teras. Dengan Si Mbah yang selalu menegur setiap kali mereka membuat ulah maupun ketika dirinya merasa khawatir cucunya akan terjatuh.
Kenangan kecil yang mungkin akan terasa wajar bagi semua orang. Namun akan terasa begitu berharga ketika semua orang yang ada di dalam kenangan itu sudah tiada.
Melihat suaminya melamun, Harti menepuk pundak Darto dan seketika Darto hengkang dari lamunannya. Darto bahkan sempat terperanjat dan kaget dengan tepukan istri di sampingnya.
Melihat suaminya kaget, Harti langsung tahu jika Darto tengah tenggelam dalam lamunan yang mengingatkan masa kecilnya. Sedangkan Dava yang tidak tahu apa-apa, saat ini dia hanya bisa bungkam, dan menunggu kedua orang tuanya untuk membuka pintu terlebih dahulu.
Setelah itu, Darto dengan penuh rasa takut membuka pintu rumahnya sembari mengucap salam. Mereka langsung masuk meski tidak ada sahutan, dan langsung pergi menuju kamar yang selalu Si Mbah gunakan.
Ketika berjalan menuju kamar Si Mbah. Tampak seorang pemuda yang seumuran dengan Dava keluar dari ruang belakang. Dia menghentikan Darto, Harti dan Dava dengan cara menghalangi jalan sembari berkata, "Kalian siapa?"
"Nah kamu siapa?" jawab Darto dengan wajah yang sangat bingung setelah melihat pria muda di depannya.
"Kamu tidak ingat sama Dava, An?" tanya Harti dengan senyum di wajahnya.
"Masih muda sudah pikun kamu, An," sambung Dava.
"Bude Harti?! Wah ... sebentar Aan panggil Bapak sama Si Mbok di belakang. Mereka lagi tanam Buncis di kebun Mbah Min," teriak Aan setelah mengingat jelas dua tamu yang datang ke rumah yang tengah dirinya dan keluarganya singgahi saat ini.
Tidak lama setelah Aan pergi ke belakang, Anto dan Sri masuk dengan kaki dan tangan basah. Mereka baru selesai membasuh tanah yang menempel di tubuh mereka dan langsung menemui Darto Harti dan Dava secara tergesa.
"Darto!" Teriak Anto sembari meringsek masuk kedalam dekapannya. Dia merasa sangat senang melihat sahabat kecilnya masih hidup dan baik-baik saja setelah lama tidak bertemu.
__ADS_1
"Kamu tua sekali, Tok!" Ucap Darto dengan bulir bening yang mengalir di sudut matanya. Darto benar-benar merasa waktu sungguh berkhianat kepadanya, karena sudah merenggut begitu banyak usia dari semua orang-orang terdekatnya.
"Kamu yang aneh, Dar ... bagaimana bisa kamu tetap muda?!" Sahut Anto sembari melepas dekapannya. Anto terus memperhatikan wajah sahabatnya dengan seksama, dengan penuh rasa heran dan tidak percaya.
"Nanti saya ceritakan, Tok. Si Mbah mana?" jawab Darto langsung pada tujuan utamanya.
"Di kamar, Dar. Semoga setelah lihat kamu dia bisa sehat, Dar. Saya sudah panggil Mantri sampai orang pintar, tapi mereka semua bilang Si Mbah tidak sakit," ucap Anto sembari menunjuk kamar Si Mbah.
Mendengar ucapan itu, Darto langsung berjalan menuju kamar Si Mbah. Dia meminta tidak ada satu orang pun yang ikut, karena Darto ingin berbicara berdua saja dengan Kakek tercintanya.
Semua orang langsung setuju, kemudian menunggu di ruang tamu dan membiarkan Darto masuk dan mengunci pintu kamar Si Mbah dari dalamnya.
Ketika Darto masuk, entah itu kebetulan atau memang sudah rencana Yang Maha Kuasa. Si Mbah yang kulitnya sudah mulai membiru masih bisa diajak berbicara oleh cucu tercintanya. Stelah melihat kondisi Si Mbah, Darto langsung mendekat dan terus menatap Si Mbah yang sudah mulai kesusahan bernafas di depannya.
"Mbah ... Darto pulang, Mbah," ucap Darto sembari bersimpuh di samping dipan. Dia memegang pipi Si Mbah Turahmin yang memiliki kulit begitu tipis.
"Darto?! Kamu Darto cucuku?" ucap Si Mbah sembari menoleh ke arah Darto. Si Mbah benar-benar berbicara dengan nada yang tersendat, dia bertanya selayaknya orang linglung, dengan ekspresi tidak percaya yang terpampang jelas di wajahnya.
"Iya, Mbah ... Darto sudah pulang. Terimakasih banyak, Mbah. Karena sudah sabar menunggu kepulangan Darto," ucap Darto dengan suara parau sembari mencium pipi Si Mbah. Bulir bening mulai jatuh kembali dari sudut mata Darto, ketika keningnya bersandar pada pelipis orang tua di depannya.
"Alhamdulilah ... Si Mbah sangat takut kamu kenapa-kenapa, Dar. Si Mbah nanti bingung mau cerita apa sama Darmin dan Asih di sana, kalau kamu belum juga pulang pas Si Mbah pergi," ucap Si Mbah sembari mengelus kepala Darto. Tangan Si Mbah benar-benar bergetar, tampak sekali jika tubuhnya sudah sangat lapuk dan tidak punya tenaga sebanyak dulu lagi. Namun anehnya saat ini Si Mbah berbicara dengan suara lancar, nadanya tidak lagi tersendat dan terkesan dia sudah baik-baik saja.
"Ceritakan saja sama mereka kalau cucu Si Mbah sudah hampir menyelesaikan tugasnya. Bilang sama mereka kalau Darto sangat sayang dan rindu. Titip salam juga buat Kakung, sampaikan maaf Darto karena tidak bisa melihat saat-saat terakhirnya," ucap Darto sesenggukan. Darto benar-benar tahu, jika Si Mbah sudah berusaha mati-matian untuk sekedar bertahan dengan tubuh lemahnya.
"Kalau begitu, Si Mbah tidur dulu ya, Dar. Si Mbah capek sekali," ucap Si Mbah sembari menatap cucunya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Mendengar ucapan Si Mbah, Darto langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Si Mbah, kemudian membisikkan kalimat syahadat, untuk menghantar kepulangan orang tercintanya.
__ADS_1
Dengan begitu lancar Si Mbah mengikuti kalimat yang Darto ucapkan. Kemudian dia memejamkan mata, dan pergi menemui semua orang yang pernah dirinya cintai di dalam hidupnya. Hari ini Si Mbah Turahmin berpulang tepat setelah kepulangan cucunya, dia tertidur dengan bibir mengambang, melambangkan perasaan bahagia yang tergambar jelas di wajahnya.
Bersambung ....