
Setelah mendengar permintaan Darto untuk mendobrak rumah Banaspati, Maung dan Komang sempat saling menatap kemudian melangkah masuk ke dalam hutan hitam tersebut.
Ketika kaki Maung dan Komang baru saja menginjak tanah tandus di dalam alas ireng, seketika suasana berubah drastis. Udara yang ada di dalam hutan itu terasa pengap, seperti tengah berada di dalam ruang tertutup yang berdiri di tengah tempat yang sangat panas.
Selangkah demi selangkah, Maung dan Komang terus masuk ke dalam hutan tersebut. Mereka tidak berlari, karena merasa waspada dengan apa yang mereka sama sekali tidak ketahui.
Darto dan Jaka tidak lelah terus mengedarkan pandangan mereka, dua lelaki itu terus menyapu tatapan matanya, ke seluruh penjuru hutan yang tengah mereka lewati.
Sedari mereka berempat masuk, perasaan tidak enak seketika bersarang di dalam hati. Seakan banyak sekali pasang mata yang mengawasi, tanpa menunjukkan sedikitpun batang hidungnya.
"Maung, lebih baik kita jalan saja," ucap Darto setelah merasa hawa di dalam tempat yang tengah dirinya lewati semakin mencekam.
"Baik, Dar," sahut Maung kemudian berjongkok agar Darto lebih mudah untuk turun dari punggungnya.
Melihat Darto turun dari pundak Maung, Jaka juga langsung meminta Komang untuk berjongkok. Setelah turun dari pundak Komang, Jaka langsung berkata, "Ini sama persis seperti ketika kita masuk di hutan milik Eyang, Kang."
"Iya, Jak. Banyak mata yang memperhatikan kita," sahut Darto sembari mengedarkan pandangannya.
Bulu kuduk Darto dan Jaka benar-benar tidak mau tertidur, mereka terus berdiri mengiringi rasa gelisah yang bersarang di dalam hati mereka.
Melihat tidak ada satupun tanda akan adanya serangan, Darto mengajak Jaka, Maung dan Komang untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Semakin masuk ke dalam hutan, semakin kuat perasaan yang seakan mencekik tenggorokan. Jaka bahkan sampai sukar untuk menghirup nafas, karena udara yang terpapar benar-benar pengap dan minim oksigen. Namun meski begitu, langkah mereka tetap terus mengayun, menelusup membelah ribuan pohon berwarna hitam.
Setelah cukup lama, mereka tiba di wilayah yang sepenuhnya berbeda. Tempat yang dipenuhi dengan bebatuan yang memiliki ragam ukuran. Batu itu memenuhi setiap sisi sepanjang mata memandang, dari yang seukuran kerikil, hingga sebesar rumah tingkat dua. Sekumpulan batu tersebut berwarna coklat cerah, dan memiliki suhu panas yang tidak bisa dibayangkan.
__ADS_1
"Apa kita harus masuk ke situ?" tanya Darto ragu, dia bertanya pada tiga pria di belakangnya dan langsung mendapat gelengan kepala mereka bertiga.
"Bisa terpanggang kita kalau tersesat di sana," sahut Maung.
"Kang?! Lihat ini ... cuih!" ucap Jaka kemudian meludah ke arah batu besar di depannya.
Setelah mendengar ucapan Jaka, Maung, Komang dan Darto menoleh ke arah yang sama, yaitu tempat dimana ludah Jaka mendarat. Ludah milik Jaka benar-benar langsung menguap, hanya dalam hitungan detik saja, setelah mendarat di atas batu tersebut.
Melihat reaksi itu, Darto, Maung, Komang dan Jaka langsung setuju untuk memilih jalan memutar. Mereka menghindari tempat berbatu itu, untuk mengurangi resiko jika terjadi serangan.
Bayangkan saja jika kita harus berkelahi di tempat yang memiliki kondisi seperti itu. Sudah dapat dipastikan jika kita tidak memiliki ruang sedikit pun untuk mengelak dari segala jenis serangan.
Setelah semua setuju, mereka kembali berjalan mengitari tempat penuh batu tersebut. Ketika baru beberapa langkah saja berjalan, sesuatu yang aneh terjadi dari sekumpulan batu tersebut.
Salah satu batu yang memiliki ukuran paling besar seakan bergidik, dan sesekali terlihat selayaknya kain bergetar. Darto, Jaka, Maung dan Komang seketika memicing mata mereka dan menatap batu yang letaknya lumayan jauh dari tempat mereka berdiri.
Untuk cukup lama mereka diam dan menatap arah yang sama, namun tidak ada yang terjadi lagi setelahnya. Saat ini hanya Komang saja yang masih terus menatap batu paling besar yang berdiri di tengah itu, sembari mengikuti tiga lelaki yang tengah berjalan di depannya.
Komang tampak terus memicingkan mata sembari sesekali mengerutkan dahi, dia merasa tidak asing dengan satu hal yang tengah terjadi di depan mereka.
Di tengah rasa penasarannya, Komang tiba-tiba berteriak dengan begitu keras hingga membuat Darto, Jaka dan Maung seketika terperanjat. Dalam rasa paniknya dia menciptakan pelindung energi di wajahnya sembari berkata, "Cepat lindungi wajah kalian! Jika tidak kalian akan mati!"
Mendengar ucapan Komang, Darto, Jaka dan Maung langsung menyelimuti seluruh kepala mereka dengan energi masing-masing. Setelah energi mereka sudah menutupi seluruh kepala secara merata, mereka kembali menatap arah yang masih terus diperhatikan oleh Komang.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Darto heran.
__ADS_1
"Darto ... coba kamu panah batu besar itu dari sini," sahut komang sembari mengacungkan jari. Dia berkata dengan wajah yang sedikit takut, dan juga mulai berkeringat.
Darto sempat menoleh ke arah Jaka dan Maung yang berada di sampingnya, setelah dua lelaki itu mengangguk setuju, Darto langsung menciptakan panah cahaya yang selalu dia gunakan untuk melawan setiap musuhnya dulu kala.
Semua lelaki tampak begitu tegang ketika Darto mulai menarik anak panahnya, mereka menatap arah yang sama, yaitu tempat dimana Komang meminta Darto untuk menyerangnya.
Dengan penuh rasa perasaannya, Darto melepaskan anak panah yang masih terus dirinya pegang. Anak panah itu melesat begitu cepat, dia sampai di tempat sasaran hampir bersamaan dengan waktu Darto melepaskan genggamannya.
Anak panah Darto meledak hingga menciptakan dentuman hebat, dan seketika sesuatu mulai beterbangan dari segala sisi batu yang amat besar tersebut. Tanpa Darto, Jaka dan Maung sadari, sedari tadi yang menyerupai baru bergetar ternyata adalah sekumpulan ngengat yang sedang menggoyang sayapnya. Mereka menyebarkan serbuk yang menempel pada tubuh mereka, untuk menebarkan racun yang kini mulai merambat melalui udara.
Siapapun pasti akan tertipu dengan kamuflase yang ribuan serangga itu lakukan, warna tubuhnya benar-benar sama dengan ratusan batu di sebelahnya, untung saja Komang pernah menjumpainya, hingga dia langsung sadar meski butuh waktu sedikit lama.
"Hati-hati! Mereka tidak kuat, tapi cukup merepotkan karena mereka ada banyak dan juga menyerang dari udara!" Teriak Komang kemudian memasang posisi siaga, "Hati-hati juga, Dar. Mereka memiliki serbuk racun yang cukup berbahaya di sekujur tubuh mereka," sambungnya lagi.
"Terimakasih, Komang. Kalau saja kamu tidak menyadarinya, mungkin kita akan mati konyol, bahkan sebelum bertarung," ucap Darto sembari tersenyum, kemudian menoleh pada Jaka.
"Apa kita akan lakukan itu sekarang, Kang?" tanya Jaka setelah melihat Darto menatap tajam mata miliknya.
Mendengar ucapan Jaka, Darto langsung mengangguk, kemudian kembali mengucap kalimat tanpa melihat lawan bicaranya, "Maung ... Komang, buat energi setebal mungkin untuk melindungi tubuh kalian. Aku dan Jaka akan melakukan sesuatu yang sedikit berlebihan.
Mendengar ucapan itu, Maung dan Komang langsung mengangguk dan menciptakan sebuah energi yang menyelimuti sekujur tubuh mereka. Mereka memasang posisi bertahan, kemudian berkata, "Lakukan saja, Dar. Kami siap."
Mendengar kata itu, Darto dan Jaka langsung duduk bersila, mereka duduk dengan saling berhadap-hadapan dan saling menatap tajam orang di depannya. Setelah yakin, mereka langsung menutup mata sembari menahan nafas yang bersarang di dada mereka..
Perlahan Darto dan Jaka melepaskan cukup banyak energi dari dalam tubuhnya. Warna putih dan merah berlangsung memendar dari sekujur tubuh mereka, sebelum akhirnya Darto dan Jaka kembali membuka mata, dilanjut berdiri dengan tubuh yang setiap sisinya terlihat selayaknya tengah terbakar oleh kobaran energi.
__ADS_1
mereka berdua menatap arah yang sama, yaitu arah dimana mereka berdua akan menggila.
Bersambung ....