ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PEMUKIMAN


__ADS_3

"Mat, mereka aman enggak ya? perasaanku kurang enak," ucap Mbah Min kepada Kakung di sampingnya. Mereka masih bersandar didalam kursi mobil bagian depan, membiarkan Harti tidur di kursi belakang.


"Yakin saja, Min. Kita bantu doa saja dari sini, semoga mereka dapat bensin dan juga ojek buat balik ke sini. Lagian Darto bukan bocah bayi lagi, Min. Dia sudah lebih kuat di banding kita sekarang, hanya saja dia belum sadar," Jawab Kakung, kemudian membuka pintu depan lebar-lebar, dilanjut menyalakan rokok di sela jarinya.


Kepulan asap mulai mengepul dari bibir kedua lelaki tua itu. Mereka hanyut dalam rasa bosan, juga rasa khawatir kepada cucu mereka.


Sedangkan di sisi lain, Darto beserta kedua temannya terus melangkah maju tanpa memperdulikan apapun yang akan mereka temui di depan. Pikiran mereka hanya fokus untuk cepat sampai ke kota agar bisa cepat membeli bahan bakar yang mereka butuhkan.


"Masih jauh enggak ya, Gus, kaki saya sudah pegel," ucap Bidin sembari mengambil posisi duduk menyusul kedua teman yang sudah duduk terlebih dahulu di depannya.


"Saya juga enggak tau Din, tapi belum kelihatan cahaya lampu dari sini, pasti masih lumayan jauh, Din," Ucap Darto kemudian meminum air yang dia bawa di dalam botol yang terbuat dari batang bambu.


"Sini aku minta minumnya, Gus," ucap Surip kemudian merebut bambu yang Darto bawa.


Mereka bertiga kini tengah duduk tepat di bawah pohon mahoni yang cukup besar, hanya berbekal cahaya kuning dari lampu senter tua milik Darto, sudah dua jam terlewat ketika mereka beriringan menyibak kegelapan hutan rimba malam itu. Terus mengikuti jalan setapak yang terbentang di depan mereka, meski rasa takut dan gelisah yang tak pernah pergi sedetikpun dari dada mereka bertiga.


"Gus, kamu dengar?" ucap Surip kemudian meraih senter di tangan Darto. Dengan wajah kebingungan dia mengarahkan lampu senter di tangannya ke segala arah penjuru.


"Dengar apa si Sur?" timpal Bidin yang kini memasang wajah kebingungan juga, dan terus melihat bagian hutan yang tersorot lampu senter yang di arahkan oleh Surip.


"Oh iya Sur, aku denger!" ucap Darto tiba-tiba.


Darto kembali meraih senter di tangan Surip, dia mengarahkan sorotan ke arah pedalaman hutan, sayangnya tidak ada apapun yang tertangkap oleh mata Darto di sekelilingnya.


Karena penasaran, setelah cukup lama berunding, mereka bertiga bergegas mengikuti sumber suara yang mereka dengar. Mereka terus beriringan menuju kedalaman hutan dan menjauh dari jalan.


Semakin masuk ke dalam hutan belantara, semakin keras juga suara musik gamelan terdengar, dan tak lama setelah itu dari kejauhan mulai tampak cahaya yang berasal dari kobaran api unggun di depan mereka.

__ADS_1


Mereka bergegas melangkahkan kaki, sedikit berlari dan melompati akar pohon yang mencuat ke atas tanah, hingga akhirnya terlihat jelas puluhan pondok bambu yang berbaris di tengah hutan.


Tidak ada satupun penerangan di dusun tersebut, hanya ada cahaya api yang cukup besar yang tampak di tengah pemukiman.


Tampak puluhan warga tengah mengadakan pesta di samping api tersebut, tarian wanita anggun diiringi bunyi gamelan di sambut meriah suara sorak-sorai penonton. Malam sepi berganti menjadi malam gaduh untuk Darto dan kedua temannya.


Meski sedikit ragu, Darto memutuskan untuk terus maju ke tengah kerumunan tersebut. Kedua temannya yang tak punya pilihan pun mau tidak mau langsung mengikuti langkah kaki Darto. Mereka terus maju melewati rumah demi rumah yang tampak gelap hingga sampai di sumber kerumunan itu.


"Bukan yang kemarin kan, Gus?" tanya Bidin sedikit tidak enak kepada Darto, setelah melihat Darto berjalan dengan raut marah sebelumnya.


"Bukan, Din. Ini juga cantik penarinya, tapi bukan orang yang kita lihat pas pulang dari pasar," timpal Surip setelah melihat langsung penari wanita yang tengah bergelayut dengan tubuh gemulai di tengah penonton.


Wajah Darto berangsur memasang wajah lega setelah matanya melihat langsung wajah penari tersebut, dalam hatinya dia merasa sedikit lega karena bukan Nyai Gending yang dia lihat di depannya.


"Kita tanya orang saja yuk, siapa tau ada yang jual bensin di sini," ucap Bidin yang tengah menenteng jerigen minyak di tangannya.


Belum sampai tiga langkah mereka berjalan, Surip dan Bidin terheran, dengan tingkah laku yang Darto tunjukkan. Dia tiba-tiba meraih tangan mereka berdua, dan mengajak mereka untuk segera pergi.


"Kita balik yuk, Din, Sur," ucap Darto singkat.


Mendengar ucapan tersebut mereka tidak berani bertanya, dalam hati mereka sudah tau jika ada sesuatu yang tidak beres di depan mereka. Merekapun mengikuti ajakan Darto tanpa sedikitpun bertanya, selangkah demi selangkah mereka terus menjauh dari kerumunan.


Ketika hampir sampai di barisan rumah yang paling ujung, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari depan rumah yang belum mereka lewati. Darto tidak menoleh sedikitpun ke arah sumber suara, sedangkan dua temannya benar-benar dibuat penasaran setengah mati.


Karena sudah terlanjur penasaran, Bidin dan Surip memberanikan diri untuk memperhatikan sumber suara. Samar dapat mereka lihat di dalam kegelapan seorang wanita muda yang tengah menyanyikan senandung untuk menenangkan anaknya. Dia bernyanyi sendu di depan rumahnya sembari menggoyang-goyang tubuh anaknya di dalam gendongan.


"Tak lelo, lelo ledung

__ADS_1


Wes menengo anakku Si Kuncung


Embokmu lagi lungo menyang kali


Ngumbah popok nyangking beruk


Wes menengo ono uwong" suara lagu yang terus disenandungkan wanita tersebut sembari menggoyang tubuh anaknya.


Surip dan Bidin bergegas meninggalkan Darto berdiri sendiri di tengah jalan. Tanpa meminta persetujuan Darto mereka berdua terus mendekat ke arah perempuan tersebut.


Mereka tidak memperdulikan ajakan Darto untuk terus berjalan, dan tetap ngeyel untuk mencari penjual bensin di kampung tersebut.


"Permisi, Mbak. Saya mau tanya," ucap Bidin pelan.


Mendengar ucapan Bidin wanita tersebut hanya melirik tajam ke arah Bidin dan Surip, dia tidak mengucap sepatah pun kata, dia hanya menjulurkan jari telunjuk di depan bibirnya sebagai isyarat agar Bidin dan Surip untuk segera bungkam.


Melihat gerak gerik wanita tersebut, Surip dan Bidin langsung saling bertatap mata seketika, mereka sedikit ragu hendak menunggu atau meninggalkan wanita tersebut. Bodohnya mereka tetap menunggu wanita tersebut untuk menjawab pertanyaan mereka.


"Mbak, permisi," kali ini Surip yang membuka suara.


Wanita itu kembali menoleh dengan wajah murka, ketika anak yang dia gendong menangis semakin keras. Mata wanita itu membulat hingga bola mata seakan bisa lepas kapanpun dari tempatnya, di tambah jeritan bayi yang kian mengeras menggema hingga memekakkan gendang telinga.


Surip dan bidin seketika terpaku. Badan mereka seakan terkunci, kaki mereka tak bisa diangkat, keringat pun seketika membanjiri wajah mereka tatkala mereka melihat sesuatu jatuh dari gendongan wanita di depan mereka.


Mereka melihat dengan jelas benda yang jatuh di depan mereka, benda itu tidak lain adalah kepala bayi, menggelinding di atas lantai kayu di teras rumah tersebut, dengan air mata hitam terus mengucur dari kedua bola mata, dan bibir yang terus berteriak menangis meski sudah terpisah dari badannya.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2