
Satria benar-benar cepat kala itu, Darto juga cukup terkejut karena tidak mengira jika dirinya akan diabaikan oleh musuhnya.
Namun meski Satria sangat cepat, Darto bahkan bisa berpindah dengan kecepatan lima kali lipat lebih cepat dari apa yang Satria lakukan.
Tepat ketika Satria membuka rahang besarnya di depan wajah Jaka, bagaikan sebuah hembusan angin tubuh Darto muncul secara tiba-tiba diantara Jaka dan Satria.
Darto benar-benar berada diantara pemangsa yang tengah melancarkan serangan kepada buruannya, namun Darto tidak menampakkan kegelisahan sama sekali pada wajahnya.
"Cukup! Satria!" Teriak Darto sembari mengibaskan salah satu lengan miliknya dengan kecepatan gila, sebelum rahang milik Satria mencapai tubuh miliknya.
Tepat setelah Darto mengibaskan lengannya, hutan gelap tanpa penerangan berubah sepenuhnya menjadi tempat yang diselimuti warna putih di segala penjuru.
Darto benar-benar meledakkan energi miliknya, hingga berhasil menyelimuti seluruh ruang kamar nomor enam dalam sepersekian detik saja.
Hanya dengan satu kibasan tangan, Darto benar-benar memenggal Satria yang memiliki ukuran tubuh begitu besar hingga menjadi dua bagian.
Satria bahkan tidak sadar dengan serangan yang Darto lancarkan. Dia tersadar ketika pandangan matanya tiba-tiba memutar, karena kepala miliknya sudah sepenuhnya terpisah dari tubuhnya.
Dampak ledakan energi Darto tidak bisa dianggap remeh. Bukan hanya Satria saja yang berhasil dia taklukkan, seluruh prajurit Satria beserta mayat yang masih berserakan juga ikut lenyap setelah menyentuh energi putih milik Darto.
Serangan itu benar-benar sebuah gerakan pemusnah, namun timpal balik yang harus Darto rasakan juga sepadan dengan hasilnya. Darto langsung ambruk di depan Jaka, karena sudah terlalu banyak menggunakan energi miliknya.
Jaka langsung membulatkan kedua mata miliknya, setelah melihat serangan pamungkas yang Darto lancarkan. Dia sampai bergidik setelah melihat secara langaung, sesuatu yang bahkan dirinya tidak pernah bayangkan sebelumnya.
Bukan hanya Jaka saja. Empat teman, Aryana, Brahma dan juga seluruh jiwa yang sedang terkurung di dalam kandang jiwa merasakan dampak dari serangan Darto.
Mereka merasa menggigil meski sedang berada di dalam dimensi berbeda, karena tekanan energi milik Darto benar-benar bisa menembus penghalang yang sudah mengurung mereka selama-lamanya.
Bukan hanya itu saja. Seluruh penghuni kamar yang tersisa juga ikut merasakan lonjakan energi di dalam kamar nomor enam.
Lima penghuni kamar yang belum bertemu dengan Darto langsung mengerti, jika lawan yang akan mereka hadapi benar-benar memiliki kekuatan yang begitu hebat.
Alih-alih takut, lima mahluk yang tersisa malah justru terkekeh, diantara mereka ada satu yang terbahak dengan suara lantang, sebelum akhirnya dia menyeringai sembari berkata, "Lawan yang menarik."
__ADS_1
Mendengar kegaduhan yang terus terjadi di dalam rumahnya, sang Iblis yang semula tidak berharap lebih kepada enam lawannya mulai menyeringai juga. Dia tidak menyangka jika salah satu lawannya akan sekuat itu, dan dia juga tidak mengira jika kamar nomor enam juga tidak bisa menahan mereka.
Sebenarnya dia tahu setiap pergerakan Darto dan semua temannya, dia juga tahu jika anak buahnya mati satu persatu, namun dia tidak menggubris dan malah justru ingin melihat hasil akhirnya.
Seorang Raja yang sangat kebosanan, menganggap apa yang sedang Darto dan lima temannya lakukan merupakan sebuah pertunjukan.
Dia justru berharap agar enam lawannya datang dengan selamat, karena dia sudah sangat lama tidak menemukan satupun lawan yang setara.
Setelah merasakan energi Darto, iblis itu benar-benar kegirangan. Dia merasa sangat bahagia, meskipun anak buah miliknya musnah oleh orang yang ditertawakan.
Kembali pada Jaka, dia yang sudah cukup memiliki tenaga langsung menggendong Darto. Dia turun dengan tubuh tertatih, sembari membawa Darto di atas pundaknya.
Jaka ingin kembali masuk ke dalam gerbang yang terbuat dari akar untuk menemui seluruh temannya.
Namun ketika dirinya sampai di depan gerbang, empat orang terlihat keluar dari tempat tujuannya.
Sastro, Wajana, Komang dan Maung benar-benar keluar dengan tergesa. Mereka berlari menuju tempat dimana Jaka tengah menggendong Darto.
Tepat setelah Maung sampai, Jaka berkata dengan nada lesunya, "Kita berhasil."
Empat teman Darto sedikit terkejut melihat kondisi yang terpampang di depan mereka. Satu pohon besar benar-benar habis terbakar, dan juga banyak sekali bangkai yang sedang menguap menjadi kepulan asap di atas tanah.
Namun meski begitu, mereka tidak memiliki waktu sedikitpun untuk tercengang. Empat teman Darto langsung duduk bersila mengitari Darto dan Jaka, kemudian menyalurkan energi milik mereka menuju dua manusia yang sedang terbujur di depannya.
Setelah Maung, Komang, Sastro dan Wajana keluar. Saru persatu jiwa yang terkurung mulai keluar dari tempat yang sama.
Mereka berebut untuk meninggalkan kampung tempat mereka dikurung, dengan wajah sumringah yang terpampang pada semua jiwa.
Setelah cukup lama, jiwa yang saling berebut pun mulai surut. Tidak banyak lagi jiwa yang terkurung di dalamnya, hingga akhirnya Aryana dan Brahma juga ikut keluar sebagi yang paling terakhir.
Mereka berdua tidak langsung pergi seperti jiwa-jiwa yang sebelumnya. Dua pria itu bahkan membantu empat teman yang sedang mengedarkan energi pada Darto dan Jaka.
Darto dan Jaka benar-benar beruntung, disetiap jalan curam yang sedang mereka berdua lalui, mereka selalu menemukan satu bantuan yang sama sekali tidak mereka duga.
__ADS_1
Perlahan Darto mulai membuka kedua matanya. Dia sempat mengerjap sebelum akhirnya memiliki kesadaran secara sempurna, kemudian duduk dan melihat enam teman yang sedang berusaha membagi energi dalam posisi duduk bersila.
Enam pria itu tidak menyadari jika Darto sudah bangun, mereka semua memejamkan mata, dan tidak menghiraukan apapun yang terjadi di sekelilingnya.
"Terimakasih," gumam Darto sembari memaparkan barisan gigi miliknya. Dia tetap duduk di tempat tersebut karena untuk bangun dari posisi duduknya saja dia tidak bisa.
Tidak lama setelahnya Jaka juga terbangun, dan setelah Jaka bangun barulah Darto membuka suara.
"Cukup... kita sudah lebih baik sekarang."
Mendengar kata itu, satu persatu teman Darto mulai membuka mata, mereka benar-benar langsung melempar ekspresi lega kearah Darto dan Jaka, setelah melihat dua pria muda di depan mereka sudah baik-baik saja.
"Ceritakan ke kami, Dar... energi apa yang tadi kami rasakan," ucap Maung sembari tersenyum lebar.
Darto dan Jaka langsung mengangguk, mereka berangsur mendekat ke arah pohon, kemudiaan menyandarkan tubuh lelah pada batang pohon tersebut.
Sembari istirahat Darto dan Jaka menceritakan pertarungan mereka. Jaka terus saja mempraktekkan kibasan tangan yang sudah Darto lakukan, kemudian menceritakan dampak yang keluar setelah kibasan tangan Darto dengan wajah berbinar.
Empat teman Darto beserta Aryana dan Brahma seketika terkagum hingga terkekeh, setelah mendengar apa yang Jaka ceritakan dengan wajah gembiranya.
Mereka merasa senang karena satu masalah sudah berhasil diselesaikan, dan bahkan satu kekangan ikut terputus di dalam satu waktu yang bersamaan.
"Terimakasih... Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian," ucap Aryana sembari menunduk.
"Angkat kepalamu, Arya... Sudah kubilang, Kan? Aku akan melakukan semua ini bahkan tanpa kalian minta," jawab Darto sembari tersenyum. "Sekarang kalian bebas... pulanglah ke tempat yang seharusnya kalian tempati," sambungnya lagi.
Mendengar kata tersebut, Aryana dan Brahma langsung tersenyum begitu lebar, mereka berdua mengangguk kemudian tubuh mereka berangsur menipis setiap detiknya.
Tubuh Aryana dan Brahma perlahan menjadi transparan, semakin detik semakin pudar, hingga akhirnya mereka melebur dengan udara di sekitar mereka.
Hari ini, satu kamar yang cukup menyusahkan kembali bisa diatasi.
Hanya tinggal lima kamar lagi yang tersisa, sebelum akhirnya mereka akan bertemu dengan mahluk incaran mereka.
__ADS_1
Langkah mereka sudah cukup jauh dari titik awal keberangkatan. Hingga tidak terasa, hanya butuh beberapa langkah lagi untuk mereka sampai pada tujuan akhirnya.
Bersambung....