
Empat hari sudah berlalu, pernikahan yang direncanakan akan dilakukan dua hari mendatang. Persiapan pun sudah selesai dilaksanakan, tampak semuanya sudah matang. Dari makanan, souvernir, hingga tenda besar pun sudah mulai dirakit oleh beberapa orang di depan masjid pesantren saat ini.
Semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Kecuali tiga mempelai lelaki. Mereka hanya duduk sembari memegang secarik kertas di tangan mereka. Tiga lelaki itu sedang duduk di ruangan yang sama dengan perasaan yang sama. Mereka tengah menghafal sederet tulisan arab yang akan mereka ucapkan dengan lantang ketika hari ijab dilaksanakan.
Tampak ketiga lelaki itu secara bergantian saling mengoreksi satu sama lain dalam pelafalan surat ijab tersebut. Tiga lelaki yang mampu menghafal alqur'an secara cepat, merasa sedikit kesulitan saat menghafal satu kalimat bertuliskan arab. Mereka ragu akan bisa mengucap kalimat tersebut dengan lancar ketika hari H, mereka tampak bimbang dan gugup sepanjang hari setelah menerima kertas tersebut dari Kakung dua hari lalu.
Sepanjang hari yang mereka lakukan hanyalah aktivitas biasa, selain menghafal mereka tetap melakukan kegiatan mengaji seperti hari-hari yang sudah lalu. Hingga waktu terus berlalu tanpa meninggalkan apapun yang mengganjal dihadapan mereka. Sosok yang terus mengintai belum mendapatkan kesempatan sama sekali, dia selalu menunggu dalam ketidak pastian karena sasaran yang dia miliki tidak pernah meninggalkan pesantren untuk waktu yang cukup lama.
"Gus, sepertinya kita harus ke danau supaya cepat hafal," ucap Bidin memberi saran.
"Ide bagus, Din. Di sana tenang, enak buat hafalan. Nanti sekalian kita mancing aja yuk," jawab Darto dengan wajah sumringah, merasa usulan temannya sangat bagus.
Surip yang sedari tadi hanya mendengarkan juga ikut setuju dengan usulan tersebut, dan akhirnya sore itu mereka bertiga pergi meninggalkan pesantren menuju danau tempat dulu mereka seeing menghabiskan waktu. Mereka pergi setelah meraih pancing yang dulu sering Darto gunakan, dan mereka berangkat setelah berpamitan dengan Kakung dan juga dua Kakek lainnya yang sedang santai berkumpul di ruang tamu.
Saat baru selangkah Darto dan dua temannya meninggalkan pagar pesantren. Perasaan Darto seketika langsung tidak enak, dia merasa ada sesuatu yang terus mengawasi dari balik rerimbunan dedaunan. Namun dia tidak mengurungkan niatnya, untuk tetap pergi menuju danau seperti awal rencana.
Semakin dalam Darto dan kedua temannya masuk ke dalam hutan yang memisahkan pondok dan danau, semakin menjadi juga firasat buruk yang Darto rasakan. Saat ini Darto terlihat sangat waspada sembari terus berjalan, matanya terus menyapu ke segala arah penjuru, sembari terus menajamkan indera perasa yang dirinya miliki.
__ADS_1
"Kamu kenapa si, Gus?" tanya Surip singkat. Dia merasa bingung dengan gelagat Darto yang terus memperhatikan segala arah penjuru.
"Iya, Gus. Jangan bilang kalau ada setan di dekat sini," sahut Bidin sembari mendekatkan tubuhnya kepada Darto.
"Aku juga nggak tahu, Din, Sur, lebih baik kita pulang saja yuk. Beneran perasaanku enggak enak," jawab Darto sembari menghentikan langkahnya. Dia menatap kedua temannya yang tampak takut. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke pesantren, agar terhindar dari firasat buruknya.
Mendengar ucapan Darto, Surip dan Bidin langsung setuju tanpa bertanya. Mereka sangat percaya pada ucapan Darto, dan akhirnya mereka mengurungkan niat untuk menghafal di tempat favorit mereka. Ketika mereka tengah melangkah kembali ke arah pesantren, Darto sedikit terkejut dengan sesuatu yang dirinya lihat di depan matanya, dia langsung berteriak kepada dua temannya, "Lari Sur! Din! Kalian cepat lari dari sini!"
Mendengar teriakan Darto, Surip dan Bidin langsung berlari dengan sekuat tenaga, mereka meninggalkan Darto yang tengah memasang kuda-kuda di dalam hutan tersebut. Darto tampak waspada, dia memasang posisi siap untuk apapun yang akan terjadi dengannya kali ini.
"Dar, dia di sini," ucap Sastro yang tiba-tiba muncul di belakang Darto, dia juga memasang posisi siap, menghadap arah berlawanan, dengan punggung yang saling bertemu dengan punggung Darto.
Darto yang melihat itu langsung menggendong Sastro berpindah tempat dengan begitu cepat, dia menghindari serangan kejutan dari anakan kelabang dengan melompat ke atas dahan pohon besar yang membentang di atas kepala mereka.
"Sebenarnya siapa dia yang kamu maksud?" ucap Darto sembari terus berpindah tempat. Karena dimana pun dirinya berpindah disitu langsung muncul ratusan anak kelabang yang mendekat ke arahnya.
"Ini salah satu teman ular jantan yang kamu bunuh tempo hari, Dar. Dia merupakan kaki tangan Banaspati. Jika ular itu tangan kanan, dia tangan kirinya," sambung Sastro sembari terus mengawasi area sekitar, dan berpegang erat pada pundak Darto yang tengah menggendong dirinya di punggung.
__ADS_1
Mendengar penuturan Sastro, Darto mengangguk paham, dia terus melompat sembari memikirkan senjata apa yang bagus untuk melawan kerumunan anakan kelabang berkaki merah di atas tanah tersebut. Darto berfikir jika menggunakan panah chandrabha akan sia-sia, karena serangan tunggal hanya akan menyingkirkan sebagian kecilnya saja.
"Sastro?! Kamu tau dimana induk mereka?" tanya Darto sembari terus melompat.
"Sebentar, Dar," jawab Sastro singkat. Setelah menjawab pertanyaan Darto, Sastro langsung memejamkan matanya, dia mencari posisi tubuh pemimpin anakan itu, dengan cara merasakan energi paling besar yang terasa di sekitarnya.
"Dia di sana, Dar," Sambung Sastro sembari menunjuk sebuah pohon besar, dengar lubang yang mengarah ke dalam tanah di bawahnya.
"Kamu bisa lari sendiri, kan?" tanya Darto kembali, dan langsung mendapat anggukan kepala Sastro.
Melihat Sastro mengangguk, Darto menurunkan Sastro dari gendongannya. Dia meninggalkan Sastro di atas ranting pohon kemudian melompat tinggi dan menembakkan anak panah bercahaya ke arah lubang yang ditunjuk oleh Sastro dari udara.
Duar! Duar! Duar! Dentuman demi dentuman terus terdengar, Darto mengarahkan anak panah ke tempat yang sama berkali-kali, namun tidak ada apapun yang terjadi selain ledakan dari anak panahnya. Darto benar-benar bingung, karena tidak ada suara teriakan seperti ketika dirinya berhasil mengenai tubuh ular yang pernah ia lawan.
Rencana Darto untuk menyingkirkan ribuan kelabang dengan membunuh induknya benar-benar gagal. Anakan kelabang masih terus berdatangan, mereka terus keluar tanpa henti dari bawah dedaunan kering. Tanah yang semula berwarna coklat karena tumpukan daun kering, kini berubah menjadi hitam legam karena anakan kelabang memenuhi segala sisi tanah tersebut.
Dalam kebingungan, Darto yang kakinya yang tidak memiliki pijakan setelah melompat. Secara lurus terjun menuju tumpukkan anakan kelabang, yang bergerombol di atas tanah, tepat di bawah kaki miliknya.
__ADS_1
Bersambung,-