
"Bapak!" Teriak Si Mbok sembari sedikit berlari mendekati lelaki itu.
Darto yang bingung pun terpaksa mengikuti langkah Si Mbok, dia ikut berlari kemudian ikut mencium punggung tangan lelaki tua di depannya.
"Bapak shalat subuh dulu ya Nduk, tadi Bapak mau nyusul kalian ke saung, tapi kalian sudah sampai rumah duluan," ucap lelaki itu kepada Si Mbok, kemudian mengelus kepala Darto dan pergi ke arah tempayan, dia mengambil air wudhu kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya kembali.
Darto dan Si Mbok dengan sabar menunggu lelaki tua tersebut keluar dari kamarnya, mereka berdua duduk bersebelahan di ruang tengah, di atas tikar pandan tempat mereka tadi melakukan sahur. Tidak berselang lama, lelaki itu keluar dari kamarnya, dia bergegas bergabung dan duduk di sebelah Darto.
"Ada kabar apa lagi, Ndok? semuanya baik-baik saja kan?" tanya lelaki itu kepada Si Mbok.
"Alhamdulillah, Pak?! tidak ada masalah, hanya saja kemari Darsa sempat jatuh dan pingsan selama dua hari, untungnya dia sudah sehat lagi sekarang" ucap Si Mbok sembari mengusap kepala Darto.
Mendengar ucapan Si Mbok, Lelaki itu ikut meraih kepala Darto, dia mengusap pelan sembari terus mengucap hamdalah.
"Sudah semua surat kamu hapal, Le?" tanya Lelaki itu kepada Darto, dia menatap Darto dengan tatapan sendu.
"Sudah hafal semua Juz," jawab Darto spontan, kemudian mulai muncul bulir keringat di pelipisnya. Dia panik karena menjawab tanpa berfikir, pikirannya benar-benar kalut, memikirkan kebenaran tentang berapa banyak jumlah juz yang sudah Darsa hafalkan.
"Nah gitu kan bagus, masak satu tahun Bapak pergi kamu belum juga selesai, padahal kan pas Bapak pergi kamu cuma kurang satu juz," ucap lelaki itu dengan senyum yang mengambang di bibirnya.
Rasa lega benar-benar langsung bersarang di hati Darto. Ketika lelaki itu tidak memasang kecurigaan kepada dirinya, sungguh benar-benar suatu kebetulan yang sangat tidak bisa di bayangkan.
__ADS_1
"Ini ada oleh-oleh buat kamu Le, Bapak yang buat sendiri," ucap lelaki itu, sembari menyodorkan sebuah tasbih, tasbih yang terdiri dari 99 manik dari kayu.
"Terimakasih banyak Pak!" ucap Darto dengan senyum merekah. Darto benar-benar ikut merasa senang akan hadiah yang ayah Darsa berikan.
Mata Darto berbinar, pandangannya tidak bisa lepas dari tasbih di tangannya. Tasbih yang sangat sederhana namun memberikan rasa hangat ketika digenggam.
"Ndok... Bapak nanti sore pergi lagi, tidak apa-apa, Kan?" ucap lelaki itu dengan tatapan sendu, dia menatap istrinya dengan wajah iba.
"Saya sangat berdosa jika saya menghalangi niat baik Bapak," ucap Si Mbok dengan bibir mengambang, namun matanya tidak selaras dengan senyumannya, setetes air jatuh dari matanya tatkala ia menjawab pertanyaan suaminya.
"Maaf ya Ndok... Le.. Bapak tidak bisa jadi orang tua yang baik buat kalian," ucap lelaki itu sembari menunduk.
Melihat dan mendengar suaminya berkata seperti itu. Tangisan Si Mbok seketika pecah, dia memeluk suaminya dengan penuh rasa rindu bercampur rasa kecewa, karena baru saja bisa bertemu setelah sekian lama, dirinya kembali dipaksa untuk menunggu setelahnya.
"Amin, Allah tau seberapa keras kalian berjuang dan menuruti permintaanku, kamu memang wanita yang di siapkan Allah untukku Ndok. Bapak percaya, jika itu wanita lain, dia pasti sudah pergi meninggalkan Bapak karena terlalu sering Bapak tinggal," ucap lelaki itu sembari mengelus kepala istrinya.
Melihat orang tuanya seperti itu, Darto memutuskan untuk pamit meninggalkan mereka, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas dipan. Perlahan mata Darto kembali tertutup, tanpa direncana dia benar-benar terlelap, dan kembali tersadar ketika matahari sudah meninggi.
Ketika terbangun, Darto bergegas keluar dari rumahnya, tanpa di duga banyak anak seumuran dengannya yang tengah bermain tidak jauh dari rumahnya. Sedikit penasaran, Darto menghampiri mereka yang kini tengah berkerumun, Darto ingin melihat hal apa yang membuat anak-anak itu terus tertawa sembari melempari sesuatu. Dan ketika Darto sampai di belakang kerumunan, Darto berlari sekencang mungkin menuju pusat kerumunan. Darto benar-benar harus mendorong beberapa anak agar dia bisa masuk ke tengah-tengah.
"Ada Darsa! akhirnya pacarnya datang juga! kita pulang saja yuk, ha ha ha ha ha!" teriak salah satu bocah kemudian terbahak sembari menjauh membawa gerombolan temannya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Darto kepada gadis kecil di depannya. Bocah itu mengenakan baju yang begitu lusuh dan robek di beberapa bagian. Tubuhnya kurus, dan juga penuh dengan penyakit kulit yang sangat parah bahkan sampai bernanah.
"Terimakasih," ucap gadis kecil itu sembari meringkuk, dia ketakutan hingga sekujur tubuhnya bergetar.
"Jangan digaruk!" teriak Darto sembari menepis tangan gadis itu. Dia merasa kasihan setelah melihat kulit yang digaruk mulai mengeluarkan darah bercampur nanah.
Melihat Darto berteriak, gadis itu kembali meringkuk memeluk lutut miliknya, badannya kembali bergetar hebat. Dia benar-benar sudah tidak pernah lagi merasakan rasa lain, selain rasa gatal dan rasa takut didalam hidupnya. Bagaimana tidak? kejadian tadi cukup menjelaskan betapa terbiasanya teman seumurannya melempari batu ke arahnya. Sembari terus mengolok-olok wujudnya, mereka terus tertawa bahagia, mereka terlihat sangat puas melihat penderitaan yang gadis ini alami.
"Maaf..." ucap Darto sedikit menunduk. Darto sangat kasihan melihat gadis itu ketakutan setelah dia berteriak.
"Kamu belum nemu air terjunnya, Le?" ucap Lelaki tua alias Ayah Darsa, dia sudah berdiri tepat di belakang Darto, Darto benar-benar terkejut karena tidak mendengar langkah kaki lelaki tua itu ketika dia menghampiri Darto.
"Belum, Pak. Darsa besok akan cari lagi," ucap Darto sembari menatap Ayah Darsa dengan seksama.
Melihat anaknya terus menatapnya, Ayah Darsa bergegas memeluk putranya itu. Darto tidak bisa menolak sama sekali, Darto benar-benar bungkam di dalam pelukan lelaki itu. Meski dia bukanlah ayah kandung Darto, namun wajah milik Ayah Darsa sungguh memiliki banyak kemiripan dengan wajah Si Mbah turahmin yang selalu dia lihat setiap harinya. Saat ini Darto benar-benar merasa nyaman, ketika berada di dalam pelukan sang Ayah dari tubuh yang tengah dia rasuki.
"Besok kamu ajak dia mandi di air terjun itu, pasti penyakitnya bisa sembuh, Le," ucap Ayah Darsa, sembari menunjuk gadis yang masih meringkuk di depan mereka.
"Tapi dimana, Pak?" ucap Darto singkat, sembari menunduk.
"Pas kamu tidur, si Sastro tadi sudah ketemu sama Bapak. Dia bilang sudah nemu lokasi air terjunnya," ucap Ayah Darsa sembari tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah! besok Darsa pasti ke sana, Pak!" ucap Darto dengan mata berbinar, dalam hatinya dia benar-benar bersyukur, karena mungkin air terjun itu merupakan sebuah kunci dari ujian yang tengah dia jalani.
Bersambung,-