ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
CUKUP SULIT


__ADS_3

Setelah cukup lama saling berhadapan dalam diam, empat penjaga sang Ratu maju terlebih dahulu dan melakukan serangan kejutan ke arah Darto dan Jaka.


Empat mahluk berukuran besar itu berlari dengan sangat cepat, hingga terlihat bagai peluru yang melesat tepat ke arah musuhnya.


Untungnya, Maung, Komang, Sastro dan Wajana menyadari empat musuhnya melakukan serangan tiba-tiba.


Masing-masing dari mereka menahan satu musuh, dan mereka berhasil menghentikan serangan dari ke empat musuhnya.


Darto tersenyum melihat kesigapan empat temannya, dia tersenyum lebar sembari berkata, "Terimakasih ... tolong kalian tahan empat mahluk itu, ulur waktu untuk kami, biar aku dan Jaka memusnahkan mahluk besar itu dulu."


Maung, Komang, Sastro dan Wajana serentak mengangguk, kemudian menggeret lawan untuk menjauhi sang Ratu, agar Darto dan Jaka bebas melakukan apapun yang mereka inginkan.


Melihat jalan sudah terbuka, Darto langsung menatap Jaka kemudian mengangguk sebagai sebuah isyarat yang mengartikan jika dirinya sudah siap.


Jaka langsung ikut mengangguk kala itu, kemudian dua pemuda itu benar-benar hilang dari tempat semula mereka berdiri.


Darto dan Jaka berpindah dengan kecepatan yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Mereka tiba-tiba saja sudah berada tepat di samping tubuh Ratu, dengan senjata yang siap ditikamkan sewaktu-waktu.


"Apa kamu bisa bergerak dengan perut sebesar ini?" tanya Darto sembari mengayun pedang bercahaya di tangannya.


"Sepertinya kita dapat lawan mudah lagi, Kang," sahut Jaka sembari melompat kemudian menghunus tombak miliknya dari udara.


Darto dan Jaka langsung menyerang kepala milik ratu yang berukuran sama dengan kepala manusia, namun usahanya benar-benar gagal dalam satu kali coba.


Sang Ratu benar-benar hilang dari tempatnya, dia bisa berpindah tempat hanya dalam sekejap, meski perut miliknya seukuran dengan tubuh gajah.


"Apa kalian kira hanya kalianlah yang bisa tehnik lempit?" Ratu bertanya dengan wajah sombongnya.


"Yah ... Aku tidak heran. Aku malah merasa aneh jika bawahan iblis nomor sepuluh tidak bisa memberikan perlawanan seperti yang lainnya," Darto terkekeh.


Setelah membalas ejekan Ratu, Darto kembali menghilang. Jaka yang melihat Darto sudah berpindah langsung ikut melayangkan serangan dari kejauhan, dia melempar tombak api ke arah ratu kemudian membiarkan Darto menebas dari arah belakang lawannya.


Namun sekali lagi sang Ratu tidak tergores, meski kecepatan miliknya tidak secepat milik Darto dan Jaka, namun Ratu selalu saja bisa menebak arah serangan dari dua lawannya.


Sungguh lawan yang terlihat aneh. Bagaimana bisa badan gempal sebesar itu berpindah dengan kecepatan yang hebat.


Meski terus menerus gagal, Darto dan Jaka terus mencoba memberikan serangan demi serangan. Mereka tidak menyerah sama sekali, dan terus berusaha untuk menyayat musuh yang tengah mereka hadapi.

__ADS_1


Sedangkan empat teman Darto yang lainnya juga tampak sama saja. Mereka terlihat setara dengan keempat lawannya, membuat mereka bertarung tanpa keuntungan maupun kerugian yang berpihak pada salah satu sisinya.


Sastro, Wajana, Komang dan Maung terus mengayun senjata mereka, namun serangan mereka selalu saja berhasil dihalau dengan dua capit yang tumbuh di samping mulut lawannya.


Merasa usaha penyerangan selalu mengalami kebuntuan, Darto memalingkan pandangan untuk sejenak. Dia mengamati setiap pertarungan yang tengah kawannya lakukan, namun tiba-tiba Jaka berteriak, "Kang! Menghindar!"


Darto terkejut, hanya beberapa detik saja dia memalingkan wajah, musuh yang dia lawan benar-benar sudah melayang di atas kepalanya.


Darto yang panik langsung memindah tubuhnya, menuju tempat acak tanpa berfikir terlebih dahulu.


"Terimakasih, Jak!" ucap Darto sembari menyeka keringat. Jantungnya benar-benar berdebar hebat, karena terkejut ketika perut lawan yang berukuran melebihi seekor gajah hampir jatuh menimpa tubuhnya.


"Apa yang kamu pikirkan, Kang?" tanya Jaka sembari terus berpindah.


Darto dan Jaka menyusun rencana ketika tengah menyerang musuhnya, mereka benar-benar berpindah ke tempat yang sama secara terus menerus, agar Darto bisa menjelaskan rencana yang sudah dirinya susun dalam waktu beberapa saat yang lalu.


Jaka langsung tersenyum setelah mendengar apa yang Darto ucapkan. Dia langsung mengangguk kemudian berkata, "Sekarang, Kang!"


Darto dan Jaka kembali menghilang, Ratu yang mengawasi gerak gerik maupun lintasan perpindahan dari dua lawannya seketika merasa sedikit kebingungan.


Darto dan Jaka tidak berpindah ke arah Ratu kala itu, melainkan berpindah ke arah Maung dan Komang.


Darto menebas lawan yang tengah Komang lawan dari belakang, sedangkan Jaka menusuk musuh yang tengah Maung tahan dengan Tombaknya.


Dua prajurit penjaga ratu seketika menjadi arang dalam waktu yang bersamaan. Ratu begitu murka melihat kelicikan Darto dan Jaka, dia berteriak begitu lantang, kemudian berpindah tepat ke atas Maung yang sedang kebingungan karena mendadak mendapat bantuan dari Darto.


Darto benar-benar tidak memperdulikan sang Ratu, begitu juga dengan Jaka. Mereka berdua kembali menghilang ke arah Sastro dan Wajana, kemudian membunuh dua penjaga yang tersisa.


Sang Ratu kembali berteriak dengan kencang. Dia merasa sangat kesal karena kehilangan empat penjaga yang dirinya percaya, dan juga merasa jengkel karena Maung bisa menghindari serangannya dengan sangat cepat.


Suara teriakkan sang Ratu benar-benar memekakkan telinga, enam pria di dalam ruang tersebut bahkan sampai menutup lubang telinga menggunakan telapak tangan mereka.


Setelah teriakan mulai mereda, Darto langsung mengucap sebuah kalimat, "Sekarang enam lawan satu, sepertinya kamu bukan lagi seekor lawan yang susah untuk kita hadapi."


"Diam!" Ratu berteriak kemudian mengibas perut raksasa miliknya, dia terus berpindah ke arah acak untuk menindih satu musuh yang dia pilih sesuka hatinya, untungnya Darto dan lima temannya bisa menghindar tanpa kesusahan.


Setelah cukup lama mereka menghindar, akhirnya enam pria berpindah ke satu tempat yang sama.

__ADS_1


Mereka berkumpul dan bergerombol di samping bekas gundukan milik sang Ratu, kemudian menunggu aba-aba dari Darto untuk serangan selanjutnya.


Tidak disangka, sang Ratu yang sudah tersulut emosinya langsung menyerang tanpa pikir panjang. Dia berpindah tepat ke atas kepala enam lawannya, kemudian terjun bebas tanpa aba-aba.


Saat musuhnya tepat berada di atas kepala enam pria tersebut, Darto berteriak sembari menciptakan tombak yang mirip seperti milik Jaka, hanya saja warnanya putih, tombaknya bersinar bagaikan lentera.


Saat itu Darto berteriak mengucapkan kata, "Sekarang!"


Enam pria itu menghilang secara serentak, mereka berpindah tepat di atas tubuh lawannya, dengan senjata yang sudah mengayun di atas udara.


Sang Ratu benar-benar menerima serangan telak dari enam lawannya, dia menerima luka fatal di enam titik yang berbeda, sehingga tubuhnya tidak bisa digerakkan kembali.


"Ampuni aku ... akan aku lakukan apapun yang kamu minta," sang Ratu memelas ketika tubuh babak belur miliknya jatuh ke atas tanah.


"Kamu pernah membunuh manusia?" tanya Darto singkat sembari berjalan pelan ke arah kepala lawannya.


"Aku tidak pernah melakukan itu," elak sang Ratu.


"Kamu yakin? Apa perlu aku bertanya pada pemilik kamar yang lain? tentang kejahatan yang pernah kamu lakukan pada manusia?" Darto kembali bertanya sembari menyentuh kepala sang Ratu dengan tangan kirinya.


"Tidak! tugasku hanya untuk berkembang biak, bukan aku yang membunuh mereka," jawab Ratu dengan tubuh gemetar.


"Mereka? sepertinya tidak sedikit yang sudah kamu binasakan. Bisa kulihat dari jumlah tulang yang ada di dalam gundukan yang kamu singgahi tadi," jawab Darto sembari mengingat apa yang sudah dirinya lihat belum lama tadi.


Saat enam lelaki itu berdiri di samping bekas gundukan Ratu, dia melihat ada tumpukan tulang manusia yang berserak di dalam lubang tempat musuhnya beristirahat. Dari situ Darto bisa menyimpulkan, bahwa makanan sang Ratu adalah manusia.


"Ti ... tidak! Anakku yang memberikan itu, aku tidak melakukan apapun!" Ratu masih mengelak


"Anakmu sungguh berbakti, sepertinya mereka akan senang jika bisa bertemu dengan induknya lagi," ucap Darto sembari mengangkat pedang di tangan kanannya.


"Tidak! Ti ...," ucapan Ratu terhenti, dia tidak bisa lagi berbicara, karena kepala miliknya sudah berhasil Darto pisahkan dengan tubuh gempal miliknya.


Detik ini, dekali lagi Darto dan lima temannya berhasil mengalahkan satu penghuni kamar. Mereka merasa senang, meski nafas mereka benar-benar tidak beraturan.


Melihat tubuh dan kepala sang Ratu mulai terbakar, enam lelaki itu langsung berbaring di atas tanah. Mereka sejenak merebahkan tubuh dari rasa lelah, agar bisa melanjutkan rencana yang sudah ditetapkan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2