
Dalam rasa gundahnya Darto dan Jaka berlari sekuat tenaga sembari terus berharap agar tidak ada yang terjadi dengan anaknya.
Ketika sampai di ruang bayi, dua pemuda itu langsung membulatkan mata mereka. Satu sosok kelabang yang pernah Darto lawan tengah menempel di sudut ruangan tersebut. Dia menempel di dinding tepat di atas tempat anak Darto menangis.
Darto dan Jaka seketika berpindah, Darto langsung memegang kelabang itu, kemudian membawa mahluk tersebut berpindah ke belakang rumah sakit yang masih merupakan area persawahan.
Saat Darto dan Jaka berpindah, seorang suster yang berjaga malam juga tengah berlari menuju ruangan yang sangat berisik tersebut. Namun ketika dirinya sampai di ruang bayi, dia langsung melihat Jaka dan Darto yang tiba-tiba hilang begitu saja.
Suster itu terus mengerjap mata miliknya, dia merasa bingung dengan dua orang yang tiba-tiba lenyap dari pandangannya. Dalam rasa bingungnya, dia hanya bisa menutup pintu ruang bayi, karena semua bayi tiba-tiba berhenti menangis setelah Jaka dan Darto membawa kelabang itu berpindah tempat.
"Jaka!" teriak Darto sesaat setelah berpindah.
Darto berteriak sembari melayang, sedangkan Jaka berpindah langsung ke bawahnya. Setelah mendengar teriakan Darto, Jaka seketika langsung menciptakan tombak merah di tangannya. Dia mengarahkan tombaknya ke atas, dan tak lama setelah itu Darto membanting sosok kelabang besar itu ke arah Jaka.
CRAT!
Tombak Jaka berhasil menembus sisik keras kelabang itu setelah Darto membanting sosok itu sekuat tenaganya.
"Kamu akan mati manusia! Bukan hanya kamu! Setiap keturunan kamu akan menjadi incaran tuanku!" teriak kelabang sebelum tubuhnya terbakar sempurna.
"Datanglah! Aku tidak takut sama kalian!" ketus Darto sesaat setelah sampai ke atas tanah. Dia menginjak kepala kelabang yang tengah terbakar kemudian meludahi tubuhnya yang mulai hangus tak tersisa.
"Kang ... lebih baik kita kembali sekarang, Kang," ucap Jaka sedikit memasang wajah takut, setelah melihat wajah Darto yang begitu merah dan tampak sangat marah.
__ADS_1
"Astagfirullah ...." Darto menghembuskan nafas panjang, "Mari, Jak," sambungnya lagi.
Setelah itu mereka berjalan menuju depan rumah sakit. Mereka berdua langsung mencuci kaki yang penuh lumpur, di tempat wudhu masjid depan rumah sakit. Kaki mereka benar-benar belepotan, mengingat mereka berpindah ke tengah persawahan yang dipenuhi tanaman padi. Setelah kaki mereka bersih, mereka langsung menuju kamar Harti kembali.
"Mas?! Tadi kalian berdua ke ruang bayi?" Tanya suster yang sempat melihat mereka berdua menghilang beberapa saat yang lalu.
Mendengar pertanyaan itu, Jaka dan Darto langsung saling bertatapan. Untuk beberapa saat mereka bungkam, sebelum akhirnya Darto mengungkapkan jawaban, "Seharian saya terus ke ruang bayi, Sus, tapi barusan kami dari masjid. Memang ada apa, Sus?"
"Pas bayi nangis tadi kalian di ruang bayi nggak?" Tanya suster itu lagi, dia masih merasa bingung dengan jawaban Darto.
"Anak saya nangis, Sus?" Darto kembali bertanya.
"Aduh, nggak jadi deh, Mas. Mungkin saya salah lihat. Maaf sudah bertanya yang tidak-tidak," sahut suster kemudian melangkah menuju poskonya sembari terus mengelus tengkuk lehernya.
Setelah mendengar ucapan suster, Darto dan Jaka kembali saling bertatap, kemudian membungkam mulut mereka sendiri dan menahan tawa bersama-sama.
"Ssttt jangan keras-keras, nanti dia dengar, Jak," sahut Darto sembari menower kepala Jaka.
Setelah suster tidak tampak lagi, mereka berdua akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan Harti. Di sana Darto menceritakan tentang pertarungannya dulu melawan kelabang itu, sedangkan Jaka terus mendengarkan dengan seksama.
"Kalau masih ada sungutnya bahaya, Jak. Dia benar-benar kuat kalau masih punya antena," ucap Darto ketika mengakhiri ceritanya.
"Dia beneran bisa menangkis panah Kang Darto pakai sungutnya?" tanya Jaka dengan wajah tidak percaya.
__ADS_1
"Beneran, Jak. Kalau masih ada sungutnya mana mungkin aku berani bopong dia tadi, bisa-bisa dibelah jadi dua tubuhku," jawab Darto sembari bergidik ngeri, "Besok-besok kalau mau pindah kita lihat situasi dulu ya, Jak, takutnya ada yang lihat lagi kaya tadi," sambungnya lagi.
Mendengar penuturan Darto, Jaka langsung mengangguk, mereka benar-benar panik saat itu hingga tanpa sadar menggunakan teknik yang bisa membuat siapapun yang melihat langsung keheranan. Untung saja suster yang tadi melihat Jaka dan Darto belum sepenuhnya sadar. Dia terperanjat setelah mendengar tangisan bayi, dan akhirnya membuatnya bangun dari tidur colongan ketika berjaga. Jadi dia langsung berasumsi, jika dirinya hanya berhalusinasi.
Singkat cerita, Darto dan Jaka melanjutkan berjaga. Tidak ada satupun dari mereka yang tertidur, karena rasa was-was terus menghampiri mereka. Setelah matahari meninggi, Kakung datang seorang diri, dia sengaja datang sendiri, agar mobilnya cukup untuk menampung Jaka, Darto dan Harti.
Setelah selesai mengurus administrasi, Kakung langsung membawa semua barang menuju mobil dengan bantuan Jaka dan Darto. Harti benar-benar sudah sehat, dia bahkan sudah mampu menggendong anaknya sembari berjalan menuju parkiran.
Setelah semua rampung, mereka akhirnya berangkat menuju pesantren yang merupakan tempat teraman yang mereka ketahui. Sebuah penjara suci yang selalu berhasil mengusir segala kejahatan, yang datang dengan maksud melukai.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai dan berkumpul di ruang tamu milik Kakung. Satu persatu tamu mulai datang, sekedar untuk memberi selamat dan melihat si jabang bayi.
Tanpa terasa satu minggu sudah berlalu, semua tampak biasa dan tidak ada ancaman sama sekali. Hari ini Darto dan keluarganya menyembelih dua kambing berukuran sangat besar, untuk sekedar melakukan acara aqiqah untuk anak Darto.
Setelah semuanya selesai, Jaka dan Darto membagi gulai ke rumah tetangga yang berada di sekitar pesantren. Mereka terus mondar mandir dengan berjalan kaki, hanya untuk membagikan satu buah mangkok gulai yang tertutup selembar kertas pada setiap rumah.
Kertas yang bertuliskan nama dari jagoan cilik Darto, yang sengaja diberikan untuk semua orang agar mereka mengenalnya.
"Arti dari namanya apa, Kang? Kenapa Si Mbah sangat suka sekali dengan nama itu?" tanya Jaka sembari melangkah menuju pesantren, mereka tengah pulang setelah mengirim mangkok terakhir.
"Ahmad itu terpuji, Eka itu anak pertama dan Davanka adalah orang yang taat pada agama. Ahmad Eka Davanka ... cantik sekali bukan? Aku berharap dia menjadi anak pertama yang terpuji di mata manusia dan dekat dengan tuhannya, sama seperti namanya," jawab Darto dengan mata berbinar, dia merasa sangat senang setelah mendapat usulan nama dari Abah Ramli, Kakung dan Mbah Turahmin setelah mereka berunding cukup lama semalam.
"Nanti kalau Jaka punya anak, Jaka mau minta dibuatkan nama yang bagus kaya Dava," jawab Jaka kemudian melangkah dengan begitu riang, dia bahkan selalu sedikit melompat sembari mengayun kaki dengan begitu semangatnya.
__ADS_1
Melihat tingkah lugu Jaka, Darto hanya bisa mengulum senyum sembari bergumam dalam hatinya, "Semoga kita baik-baik saja sampai saat itu tiba, Jaka."
Bersambung ....