
Setelah semuanya setuju, Darto, Jaka, Maung dan Komang langsung melangkah kembali menuju goa. Mereka masuk dengan langkah sejajar, sembari terus menyapu pandangannya ke segala arah.
Suasana semakin mencekam ketika langkah kaki mereka susah begitu dalam memasuki goa tersebut. Udara yang terpampang benar-benar sangat pengap, hingga nafas mereka semua benar-benar tercekat dibuatnya.
Namun meski begitu, mereka terus melangkah masuk dan tidak mempedulikan tentang dada mereka yang mulai berangsur terasa sesak.
"Kemana ini, Kang?" tanya Jaka ketika goa yang ada di depan matanya memiliki cabang.
"Sebentar ... ," sahut Darto kemudian sejenak memejamkan mata, "Kita ambil yang kanan saja," sambungnya setelah membuka matanya kembali.
Mendengar penuturan itu, Jaka, Maung dan Komang langsung mengangguk. Mereka tidak bertanya lagi, dan langsung melangkah menuju arah yang ditunjuk oleh kawannya.
Setelah beberapa langkah, mereka kembali dihadapkan dengan persimpangan. Kali ini ada tiga cabang yang mengharuskan Darto untuk kembali memejamkan mata.
Darto benar-benar terus fokus untuk menentukan jalan, dengan cara mendeteksi energi banaspati yang terpampang di salah satu cabang persimpangan tersebut.
"Ini seperti labirin, Dar," ucap Komang setelah cukup lama berjalan. Sudah beberapa kali mereka dipertemukan dengan persimpangan yang selalu terpampang setelah mereka menentukan pilihan.
"Mungkin dia tidak mau diganggu, Komang. Makanya dia berdiam diri di tempat seperti ini," sahut Darto sembari menunjuk arah pilihannya.
Setelah semuanya setuju, mereka kembali memasuki salah satu persimpangan atas arahan Darto. Sejurus kemudian setelah mereka masuk, pemandangan di dalam goa benar-benar sangat berbeda.
Ada sinar matahari yang begitu menyilaukan mata, dan juga dipenuhi tumbuhan yang sama persis dengan yang ada di alas ireng. Tumbuhan yang sempurna berwarna hitam dan juga tanah gersang yang terpampang di bawahnya.
"Hati-hati! Di sini tempat mahluk itu singgah!" ucap Darto sembari memasang posisi siaga.
Mendengar penuturan itu, Maung, Komang dan Jaka langsung ikut memasang posisi siap. Mereka bersiap dengan serangan yang bisa datang secara tiba-tiba, dari sosok yang sepenuhnya belum terlihat.
"Kalian hebat juga manusia ... bisa sampai di sini tanpa sedikit pun terluka. Sekarang ... apa yang akan kalian lakukan?" suara seorang lelaki menggelegar di atas udara.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Darto langsung menyapu pandangannya ke segala penjuru sembari berkata, "Aku mau meluruskan sesuatu denganmu."
"Meluruskan apa? Kamu mau menciptakan alasan agar aku memaafkan kamu?" sahut suara menggelegar itu.
"Tidak. Aku sudah membunuh mereka karena mereka yang sudah menyerang terlebih dahulu," jawab Darto, "Jadi aku tidak masalah jika kamu ingin menyalahkan aku. Tapi apa kamu tahu jika kamu mencoba melukai keluargamu sendiri?" sambung Darto.
"Jangan bercanda manusia! Rasakan ini!" teriak sosok itu, kemudian sebuah bola api tiba-tiba muncul di atas kepala Darto, Jaka, Maung dan Komang.
Melihat bola api yang tengah terjun ke arah mereka, Jaka spontan melompat dan memegangi bola itu menggunakan tangan kosongnya.
Perlahan bola itu menciut dan terus mengecil. Hingga akhirnya berhasil Jaka serap ke dalam tubuhnya. Dengan wajah penuh keringat Jaka berkata, "Berhasil, Kang! Benar yang dikatakan Si Mbah Samasta!"
"Syukurlah kalau begitu, Jak. Sekarang aku percayakan keselamatan Maung dan Komang kepada kamu," sahut Darto singkat. Dia sebenarnya belum bisa percaya jika Jaka mampu menahan serangan banaspati, namun keraguannya benar-benar terbantahkan setelah melihat dengan mata kepala sendiri.
"Wah ... kau cukup layak manusia. Bagaimana caramu melakukan itu? Kenapa wajahmu sangat mirip dengan seseorang yang sangat aku benci?!" ucap suara itu kembali, "Coba tahan ini kalau memang kau bisa," sambungnya lagi.
Kali ini sosok itu memunculkan empat bola api yang ukurannya cukup besar. Bola api itu datang dari empat arah yang berbeda, dan menerjang ke arah yang sama dengan kecepatan yang cukup gila.
Empat bola api itu benar-benar mengenai tubuh Jaka secara bersamaan, hingga satu ledakan besar langsung terdengar begitu lantang, dari arah di mana Jaka tengah berdiri.
Kepulan asap tiba-tiba memenuhi udara, Jaka yang tidak terlihat lagi tubuhnya mulai mengerang di tengah kepulan asap. Jaka benar-benar merasa begitu kepanasan, karena mencoba menyerap empat bola api secara bersamaan.
Ketika kepulan asap mulai menipis. Tampak tubuh Jaka yang kini benar-benar berwarna merah, kulitnya melepuh dan juga bersinar dengan warna merah yang begitu menyala.
"Aaaaaa!" teriak Jaka begitu lantang, dari teriakannya asap yang memenuhi udara di sekeliling tubuhnya benar-benar terpental, selayaknya ledakan energi yang terjadi ketika ada dua senjata berbenturan.
Setelah berteriak, tubuh Jaka mulai berangsur kembali menjadi warna coklat, dia mulai bisa menyeimbangkan lonjakan energi di dalam tubuhnya, dan langsung terduduk setelah dia berhasil menyerap semuanya.
"Hebat! Ha ha ha ha! Kamu cukup layak untuk menjadi anak buahku, manusia!" Ucap suara itu kembali.
__ADS_1
"Anak buah? Maaf saya tidak berminat!" Sahut Jaka dengan wajah santainya.
"Kamu tidak apa-apa, Kan?" tanya Darto setelah berpindah ke samping tubuh Jaka.
"Sepertinya aku belum bisa menyerap banyak, Kang. Rasanya sangat sakit! Tubuhku benar-benar bisa meledak," sahut Jaka dengan ekspresi wajah yang kurang semangat.
"Tetap saja, itu akan merepotkan jika kamu tidak bisa menghalaunya tadi. Pokoknya terimakasih, Jak, ayo kita pancing agar dia mau menunjukkan batang hidungnya," sambung Darto sembari menatap tajam pada Jaka.
"Baiklah ... kalau memang kamu tidak mau menjadi anak buahku, maka akan aku ambil jiwa yang ada pada tubuhmu itu," ucap sosok itu.
Setelah mengucap kata tersebut, serangan demi serangan berbentuk bola api terus menerjang empat pria tersebut. Sesekali Jaka menghisap serangan dari lawannya, namun tidak semuanya dia hisap mengingat tubuhnya tidak bisa menampung melebihi kapasitasnya.
Banaspati mulai kesal setelah serangan demi serangan yang dia lontarkan bisa dimentahkan oleh lawannya, dia berangsur menampakkan tubuhnya kemudian mendekat dengan kecepatan yang sangat gila.
Kurang dari satu detik, Komang dan Maung yang menjaga punggung Darto dan Jaka sudah berhasil dilumpuhkan. Harimau dan macan itu benar-benar langsung tergeletak, setelah menerima tamparan dari telapak tangan Banaspati yang tengah memakai wujud Ki Gandar.
"Sekarang tinggal dua lagi," ucap Ki Gandar sembari menciptakan api pada tangannya.
Mendengar ucapan Ki Gandar, Darto dan Jaka spontan menoleh ke belakang. Mereka terkejut karena dua temannya sudah tergeletak di atas tanah tanpa mereka sadari, ditambah lagi Ki Gandar yang sudah siap menyerang menggunakan dua telapak tangan yang tengah mengarah pada leher Darto dan Jaka.
Melihat serangan itu, Darto dan Jaka spontan langsung berpindah, mereka menghilang bagai kepulan asap hingga serangan dari musuhnya benar-benar tidak berhasil menyentuh tubuh mereka.
"Cih! Dasar tikus sialan! Yang kalian bisa lakukan cuma lari!" ketus Ki Gandar setelah tangannya tidak bisa menggapai dua lawannya.
"Sekarang coba kalian lari dari serangan ini" ucap Ki Gandar singkat.
Setelah mengucap kata itu, energi berbentuk api tiba-tiba berkobar mengelilingi tubuhnya. Ledakan energi panas yang meletup-letup benar-benar terpampang sangat kentara, hingga setiap pohon yang berada di dekatnya seketika terbakar menjadi debu dalam hitungan detik saja.
Setelah memendarkan energi yang begitu banyak, Ki Gandar tersenyum masam ke arah Darto dan Jaka. Dia berpindah dengan kecepatan yang gila, hingga tubuhnya benar-benar sampai di samping dua lawannya dalam satu kedipan mata.
__ADS_1
Darto dan Jaka benar-benar terkejut, mereka bahkan tidak bisa memprediksi perpindahan lawannya, hingga mau tidak mau mereka harus menghalau serangan kali ini, menggunakan tubuh dan juga energi milik mereka sendiri. Dalam pertarungan sengit itu, satu tubuh menerima serang telak dari Banaspati. Dia menerima serangan di dada, hingga membuat kulitnya langsung memiliki bekas luka bakar yang terpampang di tempatnya.
Bersambung ....