ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
BERKUNJUNG


__ADS_3

Bakda magrib ini suara terpampang sunyi, hanya dentingan dari sendok yang berbenturan dengan piring keramik yang terdengar di ruang makan di rumah Kakung. N*fsu makan mereka seakan lenyap, tidak seperti ketika berbuka puasa di hari-hari sebelumnya. Kakung dan Darto tenggelam dalam pikiran mereka tentang jalan keluar yang harus di dapatkan untuk segera menolong Harti.


"Dar... Kita harus tolong Harti, soalnya Kakung kenal betul dengan siapa yang orang tua Harti pinjam duitnya," Kakung membuka pembicaraan ketika makanan sudah berhasil dia gilas separuh porsi dan di diamkan di meja.


"Siapa juragan itu Kung? kenapa harus kita tolong? bukannya malah bagus? semisal Harti jadi istrinya? dia kan orang kaya Kung?" jawab Darto yang tengah menyalakan rokok mengabaikan sisa makanan di piringnya.


"Besok kamu ikut Kakung, biar kamu bisa narik kesimpulan sendiri Dar!" Kakung menyandarkan punggung di kursi kayu itu dan menghisap panjang rokok yang sudah menyala di tangannya.


"Kita mau kemana Kung?"


"Bukan cuma kita, tapi Harti juga harus ikut!''


jawabnya kemudian berdiri dan meninggalkan ruang makan.


Ucapan Kakung benar-benar berhasil mendaratkan rasa penasaran di dalam dada Darto. Malam berlalu begitu pelan seakan tidak mendukung agar rasa penasaran Darto cepat terselesaikan. Hingga semalam suntuk Darto terus memikirkan apa yang hendak Kakung tunjukkan dan juga rasa tidak rela gadis yang di sukai hendak pergi menjadi milik seseorang yang bahkan pantas menjadi bapaknya.


*****


Hari berganti, terlihat Harti dan Kakung sudah bersiap di depan rumah pagi ini. Setelah Darto bergabung, Kakung pergi membuka sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu, bahkan saking besarnya, pintu lipat itu memenuhi sisi tembok ruangan.


"Sebenarnya apa yang ada di dalam Kung?"


tanya Darto penasaran. Karena selama 5 tahun di pesantren, dia belum pernah melihat isi dari ruangan tersebut.


"Kakung kasian Dar, kalau Harti harus jalan kaki," ucapnya kemudian berhasil membuka pintu lipat dari kayu tersebut.


Terlihat 1 unit mobil holden kingswood warna putih tulang, mobil yang biasa di sebut mobil tempe oleh anak-anak. Masih kinclong meski sedikit berdebu. Kemudian Kakung membersihkan debu yang terletak di gagang pintu, kemudian masuk dan menyalakan mesinnya.


"Alhamdulillah, masih nyala?!" ucap Kakung tampak lega.

__ADS_1


"Kakung punya mobil?" mata Darto terbelalak melihat mobil yang bahkan jarang sekali dia lihat di dalam hidupnya itu, sudah berdebu di dalam ruangan yang Kakung sebut garasi.


"Yah.. meski jarang di pakai Dar, dan bensinnya masih cukup, jadi Kakung rasa lebih baik pakai ini Dar!"


tidak tunggu perintah, Darto langsung menerobos masuk ke dalam mobil tersebut. mengagumi seluruh interiornya, melompat-lompat kecil dalam posisi duduknya, mengagumi ke empukan jok yang tengah ia duduki.


"Kenapa Kakung tidak pakai ini? pas jemput Darto dulu?"


"Kamu pikir bensin tinggal ngambil di sungai Dar? mana berani Kakung pergi ke desa pelosok pakai mobil, di tambah jalan ke desa kamu mana cukup di masuki mobil," ucap kakung menyindir jalanan pedesaan menuju rumah Darto, jalanan curam yang menyibak hutan belantara.


"Memang rumah Mas Darto di mana?" timpal Harti yang sedari tadi menyimak obrolan Darto dan Kakung.


"Darto tinggal di dusun Kemoceng Har," jawab Kakung singkat karena tengah fokus mengemudi.


"Dusun Kemoceng? bukannya itu tempat Bulik (Ibu cilik alias bibi) yang menemui Harti 5 tahun yang lalu ya Mbah?" tanya Harti membuat Kakung mengernyitkan dahi, mencoba mengingat siapa yang menjenguk Harti di waktu itu, padahal seingat Kakung, Harti baru mendapat jengukkan sekali selama dia berada di pesantren.


"Kamu keponakan Bu Lastri?!" ucap Darto dan Kakung serentak, yang membuat wajah Harti tampak kebingungan. dan menjawab dengan anggukan kepala.


pedal gas kembali Kakung injak perlahan, di dalam perjalanan Darto menjelaskan tentang kejadian yang harus Harti ketahui, Kakung hanya berdiam dan fokus mengemudi sembari menguping. Wajah tidak percaya terpampang dari wajah harti, menanggapi rentetan cerita yang Darto lontarkan.


..."Iya Ndok, pocong merah yang kamu lihat itu Bulik kamu, sudah kita bahas saja lain waktu," ucap kakung yang membantu meyakinkan, agar Harti percaya akan cerita yang Darto beberkan....


Suasana kembali sunyi, mereka mencoba untuk menyingkirkan pikiran lain yang menganggu, karena merekapun tengah di hadapi dengan masalah yang harus mereka hadapi selepas mobil itu berhenti, ya, masalah hutang dan pernikahan Harti.


"Brak...! brak..! brak..!"


bunyi pintu mobil tertutup setelah mereka bertiga sampai di depan halaman rumah orang tua Harti.


"Mari kita luruskan masalah ini!" ucap kakung kemudian melangkahkan kaki di ikuti Darto dan Harti, menuju rumah berdinding kayu dan beratap genting membentuk kerucut di depan mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" ucap kakung sembari mengetok pintu.


"Wa'alaikumsalam" teriak seorang wanita dari dalam rumah, yang tidak lain adalah Ibu kandung Harti yang kini tengah membuka daun pintu di rumahnya itu.


"Harti? Pak kyai? silahkan masuk!" ucapnya mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Tak lama setelah kami duduk, Ibunya kembali dari dalam ruangan, dengan membawa nampan dan berisi 3 gelas teh yang kemudian dia sajikan kepa kami.


"Silahkan di minum, Pak Kyai, Dan Nak...," ucapnya terhenti karena bingung dengan Darto yang baru dia temui.


"ini Darto Buk.. Cucu saya," jawab Kakung singkat.


"Owalah, kamu cucunya Pak Kyai to, ini di minum nak Darto, maaf tidak tau kedatangan kalian, jadi belum ada yang pantas saya sajikan,'' ucapnya kembali mendekatkan gelas yang masih tertata di atas nampan ke pada kami.


"Tidak apa-apa Buk, di tambah saya puasa, jadi silahkan teh ini di minum Ibu saja," ucap darto kembali menyodorkan segelas teh yang di suguhkan ibu Harti.


"Langsung saja Buk, sebenarnya berapa jumlah hutang yang kalian miliki, Harti sudah seperti cucu saya sendiri, Saya mungkin bisa bantu meringankan" ucap Kakung yang kemudian meraih teh yang Ibu Harti suguhkan. Yah semalam Darto sahur sendirian, karena sudah 5 tahun, sekarang Kakung tidak selalu menemani Darto berpuasa setiap hari, seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Hutang saya sangat banyak Pak Kyai, saya tidak pantas menerima bantuan dari orang yang sudah merawat anak saya selama ini, bahkan tanpa imbalan," wajahnya tertunduk merasa bersalah.


"Sudah tidak usah sungkan, uang yang saya punya itu bukan sepenuhnya milik saya, di situ juga rezeki orang lain, karena harta saya juga cuma titipan, jadi semisal saya masih mampu anggap saja ini bantuan dari kakeknya Harti!" Kakung coba meyakinkan.


"Sebenarnya dulu kami pinjam uang sama juragan Agam cuma 50 ribu pak Kyai, untuk membeli bibit, dan menyewa lahan. Tapi naaz panen kami gagal total, bahkan cuma kembali seperempat modal dari pinjaman kami, sampai sekarang kami belum bisa membayar karena modal kami benar-benar kekurangan untuk menyewa lahan lagi, dan sekarang bunga yang kita miliki sudah menumpuk, kira-kira totalnya sampai 400 ribu pak Kyai," ucap Ibu Harti dengan wajah tertunduk. Dia merasa malu, karena uang 400 ribu sudah cukup untuk membeli sepetak tanah untuk dijadikan rumah kala itu.


"Alhamdulillah, tidak sebanyak yang saya kira, Mari kita ke rumah juragan Agam?," Ucap Kakung dilanjut menenggak habis teh di depannya itu dan bergegas meninggalkan ruangan itu.


"Nanti Kamu lihat sendiri Dar, apa menurutmu juragan Agam pantas jadi suami Harti!"


Bersambung,-


...Ada apakah dengan seseorang yang biasa di panggil juragan Agam? nantikan di cerita selanjutnya ya, jangan lupa tinggalin jejak dengan komen, like, dan vote kalian 😁...

__ADS_1


__ADS_2