
Setelah setuju, Jaka memberikan Kalung pemberian ibunya ke tangan Darto, kemudian meraih uang yang Darto sodorkan dan langsung memberikan kepada Si Mbah Akbar tanpa berunding.
"Mbah, semoga uang ini cukup buat biaya hidup Si Mbah," ucap Jaka sembari menyodorkan empat puluh lembar uang kepada Pak Akbar.
"Enggak! Si Mbah nggak butuh uang sebanyak itu," ucap Pak Akbar dengan nada sedikit tinggi. Dia merasa tidak pantas untuk menerima pemberian cucu yang baru saja dirinya temui.
"Mbah... Mungkin sebentar lagi Si Mbok dan Jaka juga tinggal di sini. Gunakan saja uang ini untuk membangun rumah yang lebih layak. Jaka percaya kalau Si Mbok pasti lebih memilih untuk hidup di rumah yang nyaman, semuanya kecukupan dibanding harus menyimpan kalung itu," jawab Jaka masih dengan menyodorkan uang di tangannya.
"Sudah.. Ambil saja, Pak. Tidak baik menolak rezeki. Nanti malah rezeki bapak hilang semua karena Gusti Allah malas memberi, sama orang yang suka pilih-pilih rezeki," sambung Darto mencoba merayu Pak Akbar.
Mendengar ucapan Darto, Pak Akbar berangsur memasang wajah bimbang. Dia masih ragu untuk menerima pemberian cucunya, namun di dalam hati kecilnya dia ingin menerima uang itu setelah mendengar ucapan Jaka. Dia ingin menyiapkan tempat tinggal yang layak jika anak dan cucunya sudah kembali ke rumah miliknya.
"Apa tidak apa-apa jika Si Mbah menerima ini semua?" tanya Pak Akbar kepada cucunya.
Mendengar itu, Jaka langsung tersenyum begitu lebar, dia merasa bahagia sembari berkata "Justru itu yang diinginkan Si Mbok. Dia selalu memikirkan Si Mbah dan Rayi, tapi sayang sekali Mbah Rayi sudah meninggal. Si Mbok tau kalau kalian dulu sampai jual rumah cuma buat beli kalung itu, ditambah kami di sana kami tidak pernah memakai uang, Mbah. Akan jauh lebih berguna jika Si Mbah yang memegang semuanya."
__ADS_1
Simbah langsung mendekap Jaka kali itu. Tangisnya seketika pecah, dia juga mengabaikan uang yang masih Jaka sodorkan. Setelah cukup puas dia mendekap cucu kandungnya itu, dia akhirnya menerima uang yang Jaka sodorkan dengan berberat hati. Dengan tangan bergetar dia meraih uang di tangan Jaka sembari berkata "Semoga besok pas kamu ke sini, rumah ini sudah jadi bagus. Besok Si Mbah akan menyewa tukang untuk membangun, dan Si Mbah akan belikan kasur besar buat kamu dan Si Mbok kamu."
Semua orang yang mendengar itu langsung ikut hanyut dalam ucapan Pak Akbar. Darto, Ki Karta Dan Harti tidak kalah bahagianya setelah melihat Pak Akbar mau menerima uang itu, mereka bahkan ikut memampangkan barisan gigi milik mereka.
"Nah.. Kalau begitu ini aku kasih ke kamu, Jak. Terserah mau kau apakan, tapi aku lebih suka jika kamu memberikan ini ke Si Mbok kamu lagi," ucap Darto secara tiba-tiba, dia menyodorkan kalung yang baru saja ia beli kepada si pemilik semula.
"Maksudnya bagaimana, Kang?" Jaka bertanya dengan wajah kebingungan.
"Enggak ada maksud, saya enggak butuh barang seperti ini. Tapi saya yakin kalau Si Mbok kamu sebenarnya sayang sekali dengan benda ini," jawab Darto.
"Berarti uangnya saya kembalikan saja, Nak," sahut Pak Akbar tergesa-gesa sembari menyodorkan uang di tangannya.
Pak Akbar langsung menunduk setelah mendengar ucapan Darto, sedangkan Jaka hanya bisa tertegun setelah melihat Darto memarahi Pak Akbar di depannya. Jaka tidak bergerak dalam bungkam dengan bibir yang menganga. Namun setelah Darto menepuk pundaknya, dia berangsur kembali tersadar dari rasa herannya, kemudian meraih kalung di tangan Darto sembari berkata "Sekali lagi terimakasih, Kang. Kamu orang yang tidak akan pernah Jaka lupakan dalam hidup Jaka."
Pak Akbar yang melihat itu langsung tersedu, dia mendekap Darto sembari terus mengucapkan kata terimakasih tanpa henti. Hari ini dia merasa bertemu dengan malaikat yang menyerupai manusia. Dia sungguh bersyukur karena cucunya membawakan seorang malaikat ke dalam gubuk sederhana miliknya.
__ADS_1
"Jadi, urusan kita sudah selesai di sini, saya mau pamit terlebih dahulu, Pak. Saya masih harus ke kampung ijuk, takutnya kalau terlalu lama disini, nanti terlalu malam di jalan," ucap Darto sembari menatap Pak Akbar ,kemudian menoleh ke arah Jaka dan kembali bertanya "Kamu mau tinggal di sini atau ikut kami?"
"Saya ikut, Kang. Nanti saya balik ke sini kalau sudah sama Si Mbok saja," jawab Jaka tanpa ragu-ragu.
"Nak... Menginap dulu semalam di sini, atau setidaknya biar saya carikan makanan dulu." sahut Ki Karta.
"Tidak usah, Pak. Nanti kita bisa makan di warung pinggir jalan. Kalau begitu kita langsung pamit ya Pak," jawab Darto tanpa berbelit. Dia merasa akan merepotkan jika semua orang singgah terlalu lama di dalam gubuk tersebut.
"Baiklah kalau begitu, Nak. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Semoga kamu diberi keselamatan, dan juga diberi kelancaran dalam segala urusanmu," sambung Pak Akbar dan langsung mendapat jawaban kata 'Amin' yang keluar dari semua pendengarnya.
Setelah itu, Darto, Harti, Ki Karta dan juga Jaka langsung keluar dari rumah Pak Akbar. Mereka bergegas kembali ke masjid tempat mobilnya terparkir, dengan Pak Akbar yang mengantar perjalanan mereka. Setelah sampai di masjid, tanpa menunggu terlalu lama Darto langsung menyalakan mesin dan kembali melakukan perjalanan. Mereka melesat meninggalkan Kampung Kesemek dan sampai di rute utama dalam waktu satu jam lamanya. Akhirnya perjalanan menuju Kampung ijuk pun kembali di teruskan.
Berjam-jam lamanya mereka berkendara, dan hanya berhenti ketika melakukan shalat maupun makan. Hingga tidak terasa, langit sudah mulai menyajikan warna jingga. Hari sudah hampir malam, mereka pun memutuskan untuk beristirahat kembali. Dari tempat Darto memarkir mobilnya, ada satu masjid megah yang terletak tidak jauh dari posisinya. Bergegas semua orang melangkah menuju Masjid tersebut, dan melakukan shalat maghrib berjamaah. Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan kembali tanpa beristirahat. Sebenarnya Darto sudah mengusulkan untuk beristirahat, namun setelah mendengar Ki Karta berkata jika jaraknya sudah dekat, terpaksa Darto kembali memacu kendaraan milik Kakung tanpa pikir panjang.
Setelah tiga jam lamanya, akhirnya mereka sampai di kampung ijuk. Waktu yang terpampang menunjukkan hampir tengah malam, jadi mereka memutuskan membawa barang yang diperlukan saja menuju rumah Ki Karta. Mengingat daripada harus bolak balik lebih baik diangkut besok. Darto memarkirkan mobil milik Kakung di dekat saung sama seperti dulu kala, dan pergi menuju rumah Ki Karta melalui jalan setapak yang masih dirinya ingat di dalam kepalanya.
__ADS_1
Malam itu mereka beristirahat dengan begitu tenang di rumah Ki Karta. Tanpa mereka sadari, ada sesuatu hal aneh yang terjadi pada tubuh Jaka.
Bersambung,-