ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SINGGAH


__ADS_3

Malam itu, Darto dan Mbah Turahmin benar-benar tertegun melihat pagelaran yang pemuda-pemudi itu sajikan. Mereka terkejut karena menyaksikan pertarungan yang hampir mirip seperti apa yang Darto alami. Dan ketika pertunjukan wayang orang itu selesai, Darto langsung bergegas menemui Asep dan Ujang yang sedang melakukan tos dengan semua kru yang menjalankan pagelaran itu.


"Dari mana kamu tau pertarungan itu?" Tanya Darto penasaran.


"Kami tanya sama Ki Karta, Dar. Maaf ya Dar, kami tidak minta izin dulu sama kamu. Kami berniat untuk memberi kejutan sebelum kamu pulang, dan maaf juga, kami yang buat mobil kamu kempes, kami tidak mau kalau kamu tidak bisa melihat pertunjukan rasa terimakasih kami," jawab Asep dibarengi anggukan kepala Ujang.


"Kalian ini ada-ada saja. Tapi kalian benar-benar hebat bisa salto-salto gitu," jawab Darto sedikit terkekeh, kemudian kembali bertanya "Kenapa kalian beri judul Chandrabha?"


"Aku sempat bertanya seperti apa panahnya sama Ki Karta, dia bilang panah kamu seperti cahaya rembulan, yang nggak bakal hilang ditelan kegelapan," serobot Ujang.


"Kami sampai cari bahasa jawa yang pas untuk menggambarkan panah yang di jelaskan oleh Ki Karta. Dan salah satu pemeran tadi memiliki kakek dari jawa, dia mengusulkan nama chandrabha. Katanya itu dikutip dari bahasa sansekerta yang artinya kilau cahaya rembulan, Dar," sahut Asep dengan wajah puas.


Darto tidak bisa memberi komentar untuk apapun yang sudah dua teman barunya itu ucapkan, dia bahkan tertawa melihat Asep dan Ujang yang terus merasa bangga, dan akhirnya dia mengucap sesuatu dengan nada sedikit ketus "Jadi? Bagaimana saya pulang? Kalau mobilnya kempes begitu?!"


"He he he maaf, Dar. Besok biar saya yang pompa rodanya," ucap Ujang sembari menggaruk kepala.


Setelah mengucap itu, Darto beserta Si Mbah kembali menuju rumah Ki Karta. Malam ini Darto menginap di ruang tamu rumah Ki Karta, karena Asep dan Ujang begadang bersama warga untuk memberesi sisa acara selamatan di balai desa.


Darto langsung tidur di atas tikar pandan dengan tas yang dia gunakan sebagai bantal. Sebelum terlelap dia sempat memikirkan kembali acara pagelaran tadi, dia melamun sembari tersenyum kemudian mengeluarkan panah di tangannya. Ruangan gelap di rumah Ki Karta seketika menjadi terang, Darto yang masih terus memperhatikan busur di tangannya akhirnya bergumam dengan pelan, mengucap kalimat "Mulai sekarang kamu saya beri nama chandrabha."

__ADS_1


Setelah cukup lama melamun, akhirnya Darto terlelap dengan begitu pulas. Malam berlalu begitu saja, Darto terlelap begitu pulas, hingga tidurnya serasa berlangsung hanya dalam hitungan detik saja. Pagi ini Darto, Mbah Turahmin bersama Ki Karta dan putrinya tengah duduk di dalam saung. Mereka menunggu Asep dan Ujang bergantian memompa roda mobil secara bergantian. Tampak mereka berdua sampai berkeringat karena memompa roda mobil, wajar saja karena memompa mobil sangatlah jauh berbeda dengan memompa roda sepeda.


Darto dan lainnya hanya terus menertawakan Asep dan Ujang. Mereka sengaja tidak membantu, karena mereka ingin memberi pelajaran pada dua pemuda usil tersebut. Setelah cukup lama, akhirnya ke empat roda sudah terisi penuh. Darto dan Si Mbah langsung masuk kedalam, kemudian menginjak pedal gas dalam-dalam, melaju pesat meninggalkan kampung ijuk beserta Ki Karta dan putrinya.


Singkat cerita hari sudah mulai malam, kali ini mereka memutuskan untuk beristirahat di kampung yang terletak di tengah perjalanan. Meski sebenarnya tidak ada hutan di depan, namun tenaga Si Mbah dan Ki Karta sudah begitu terkuras. Mereka berdua tampak lelah meski hanya duduk selama berjam-jam, hingga akhirnya Darto memutuskan untuk singgah, sekedar untuk beristirahat di kampung tersebut.


"Sebentar Mbah, saya cari tempat buat istirahat dulu. Kalian tunggu di sini saja, ya?" Ucap Darto dari luar mobil, dengan kepala yang mengintip masuk melalui jendela depan sebelah kiri mobil tersebut.


"Iya, Dar. Kalau tidak ada, kita nginap di mobil juga tidak apa-apa," ucap Mbah Turahmin sembari menyandarkan punggung miliknya di kursi sembari menghisap rokok di tangannya.


Mendengar itu, Darto bergegas menuju sebuah rumah yang terdekat. Kampung itu tampak begitu sepi, sedari mobil Darto berhenti dia hanya melihat beberapa orang saja yang tengah berlarian menuju rumah mereka. Namun meski terkesan aneh, Darto benar-benar kasihan melihat dua orang tua di dalam mobil itu terus duduk u tuk berjam-jam lamanya.


"Assalamu'alaikum?!" Ucap Darto sembari mengetuk pintu kayu sebuah rumah. Rumah itu tampak bersih, terurus namun terpampang sunyi.


"Permisi, Nek. Saya mau tanya, apa di daerah sini ada pondok penginapan?" Ucap Darto setelah melihat wajah wanita yang membukakan pintu di depannya.


"Tidak ada penginapan, nak. Tidak ada yang berkunjung juga di kampung ini kalau sudah malam. Memang berapa orang yang mau menginap?" Sahut nenek di dalam rumah itu masih dengan posisi sama, dia sedari tadi hanya menampilkan separuh wajah dari celah pintu yang sengaja dia buka hanya sejengkal.


"Empat orang, nek. Selain saya masih ada dua Kakek saya dan satu perempuan," ucap Darto kembali.

__ADS_1


"Menginap saja di sini. Tapi saya cuma ada satu kamar kosong, kalian mau tidur di atas lantai?" Sambung Nenek.


"Wah... Terimakasih Nek, biar saya panggil mereka ya, Nek. Sekali lagi terimakasih banyak," ucap Darto langsung bergegas berjalan menuju mobil.


"Iya, nak. Sebaiknya kalian cepat. Kampung ini tidak aman kalau malam," ucap Nenek sedikit berteriak karena Darto sudah cukup jauh, sayangnya Darto tidak mendengar ucapan nenek dengan seksama, dia hanya mengangguk meski tidak mendengar secara keseluruhan.


Darto langsung memanggil Mbah Turahmin dan yang lainnya. Mereka meninggalkan barang di dalam mobil dan menguncinya dengan rapat. Hanya beberapa barang saja yang Darto bawa, seperti sarung untuk selimut dan pakaian ganti yang mungkin akan dia gunakan besok pagi.


Tanpa membuang waktu mereka langsung menuju rumah nenek tersebut. Tidak ada yang aneh dalam perjalanan kakinya, hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah, barulah Darto menyadari bahwa ada yang memperhatikan mereka dari dalam kegelapan di bawah pohon rambutan yang tidak jauh darinya.


Darto sempat memicingkan matanya ke arah pohon tersebut. Namun kondisi gelap yang terpampang di tempat tersebut benar-benar membuat Darto tidak bisa melihat apapun di sana. Dan akhirnya dia masuk menuju rumah Nenek tersebut, dengan sejuta pertanyaan dan juga rasa was-was yang sudah bersarang di dalam hatinya.


"Ini, di minum dulu, kalian dari mana?" Ucap nenek sembari menyodorkan satu nampan berisi empat gelas teh pahit di ruang tamu.


"Kami dari kampung ijuk, nek," jawab Darto singkat kemudian meraih teh di depannya.


"Jauh, ya. Lebih baik kalian langsung tidur saja setelah minum. Yang perempuan bisa tidur di kamar, sisanya tidur di sini tidak apa-apa, Kan?" Ucap Nenek kembali dan langsung mendapat anggukan kepala dari kami berempat.


"Eh, iya. Saya hampir lupa. Kalian jangan buka pintu kalau ada yang mengetuk lebih dari jam 9 malam," sambung Nenek kemudian berjalan masuk menuju kamar miliknya.

__ADS_1


Mendengar itu, Darto dan yang lainnya langsung dirundung rasa penasaran, mereka bingung dengan perkataan sang nenek, namun tidak bisa bertanya karena sang nenek sudah masuk ke dalam kamarnya.


Bersambung,-


__ADS_2