ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERMINTAAN


__ADS_3

Malam itu hujan lebat dan angin ribut berangsur mereda, pertarungan panjang yang Darto lakukan juga sudah usai. Sekarang yang tampak di tepi rawa hanyalah belasan pocong yang terus ketakutan, karena pemimpin mereka sudah binasa.


Beberapa dari sosok itu menangis, ada juga yang terus tertawa dengan suara menyeramkan, namun ada juga yang tersenyum menghampiri Darto dengan bibir mengambang di wajah hancur miliknya.


Melihat semua itu, Darto kembali berteriak. Dia mencoba menenangkan semua mahluk yang tengah dirundung rasa kalut di depannya. Dengan Lantang dia membuka suara "Tenanglah! Kalian akan bebas besok pagi!"


Mendengar teriakkan yang Darto lontarkan, semua pocong serentak berhenti. Mereka seketika bungkam, tubuhnya berdiri tegak tak bergeming, sembari menoleh ke arah Darto. Mereka semua benar-benar tidak percaya, dengan kalimat yang baru saja mereka dengarkan.


"Apa itu benar?" ucap salah satu pocong yang muncul dihadapan Darto secara tiba-tiba.


"Lebih baik besok kalian tidak usah menampakkan diri. Karena besok akan ada banyak orang yang datang, untuk membuatkan sebuah tempat peristirahatan baru, yang akan kalian gunakan," ucap Darto sedikit lantang. Dia sengaja berbicara keras agar semua sosok di depannya bisa mendengar ucapannya.


Suasana kembali gaduh, belasan sosok di depan Darto benar-benar terharu. Suara tangis mereka saling bersaut, semua sosok pocong itu merasa senang juga tidak percaya di waktu yang sama. Mendengar besok mereka akan terlepas dari belenggu, yang sudah mengikat mereka begitu lama.


"Terimakasih," ucap salah satu pocong di depan Darto.


"Boleh kami tahu siapa nama anda, tuan?" Timpal pocong yang lainnya, sembari melompat pelan dan terus mendekat ke arah Darto.


"Saya Darto, lebih baik kalian sekarang pergi. Saya takut jika ada seseorang yang melihat kalian, lalu dia mengurungkan niat mereka untuk membantu kalian," ucap Darto sedikit beralasan. Sebenarnya dia merasa tidak enak karena terus memandang wajah hancur dari semua mahluk di depannya.

__ADS_1


"Baik. Semoga tuan Darto selalu di beri perlindungan," ucap pocong yang paling dekat dengan Darto, kemudian dia menghilang begitu saja.


Semua pocong yang tadi begitu ramai di samping rawa sudah tidak ada lagi, semuanya mengucap kata terimakasih sembari meneriakkan nama Darto, sebelum akhirnya mereka menghilang dan tidak menampakkan diri kembali.


Melihat situasi yang sudah kondusif, Darto bergegas melepas baju yang sudah kuyup dengan air hujan bercampur keringat dari badannya, dilanjut meraih pakaian kering dari dalam tas yang ia simpan di bawah pohon yang cukup besar di samping rawa.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, meski lelah Darto kembali berjalan sedikit masuk ke dalam hutan. Dia berjalan sendiri tanpa siapapun yang menemani, karena Sastro dan Wajana juga sudah pamit untuk memulihkan kembali tenaga mereka yang terkuras.


Setelah cukup lama berjalan, Darto akhirnya sampai di tempat tujuannya. Tempat yang dulu pernah dia datang bersama dua temannya, tempat yang tidak lain adalah tempat salah satu teman masa kecilnya beristirahat.


Malam itu dalam sepi Darto membersihkan beberapa ranting dan daun yang sudah menumpuk. Dia hanya menggunakan tangannya, tanpa alat bantu untuk menyingkirkan semua itu dari atas makam temannya. Setelah cukup bersih, ia bergegas duduk bersila di sampingnya, kemudian mulai melafalkan rentetan ayat demi ayat dalam khusyuknya. Dengan tulus Darto terus berdoa, meminta sebuah pengampunan untuk segala dosa yang Dining pernah lakukan semasa hidupnya. Kemudian kembali meninggalkan makam Dining dan beristirahat tidak jauh jauh tempat tersebut.


Tidak lama setelah matahari mulai meninggi, rombongan yang Anto bawa sudah sampai di tepian rawa. Mereka langsung menggali satu persatu tempat yang sudah Darto tandai, hingga separuh dari jumlah tumbal berhasil terangkat siang itu.


Setelah semua tumbal sudah terangkat , tulang belulang mereka langsung disucikan dengan air rawa, kemudian dibalut dengan kain kafan baru, lalu dishalati dan dikubur ulang di tempat Dining beristirahat.


Hari itu semua orang benar-benar bergidik dibuatnya. Mereka tidak mengira jika di bawah tanah ada begitu banyak mayat yang dikubur dengan posisi yang salah. Belum lagi ketika istirahat, Darto menjelaskan proses kematian mereka. Beberapa orang langsung murka sembari mengutuk pelaku pesugihan, mereka tidak percaya jika orang tua mereka rela mengubur anaknya hidup-hidup, hanya untuk kepuasan yang mungkin tidak pernah ada ujungnya.


Hari itu semua orang tampak sibuk, mereka hanya beristirahat beberapa kali saja untuk sekedar menunaikan shalat dan juga mengisi perut. Mereka semua hampir selesai memindahkan 19 mayat yang sudah menyisakan tulangnya saja, menuju peristirahatan baru mereka yang cukup jauh.

__ADS_1


Hingga saat langit sudah mulai menggelap, jenazah ke 19 akhirnya selesai melewati proses pemakamannya. Semua orang tampak lega, mereka bahkan terus bercanda dengan baju yang masih begitu kotor di badan mereka. Hari itu mereka merasa sudah mendapatkan dua burung dalam satu lempar. Sudah mendapat bayaran yang banyak, ditambah pahala yang pasti juga berlimpah atas kegiatan yang mereka lakukan.


Setelah cukup lama berbasa-basi, mengingat langit sudah menggelap, semua orang memutuskan untuk beristirahat kembali. Mereka setuju untuk melakukan perjalanan pulang di hari selanjutnya, karena rasa lelah sudah benar-benar menguasai tubuh mereka.


Setelah usai melakukan jamaah Isya, semua orang langsung terlelap satu persatu. Hingga seperti biasa, hanya Darto dan Anto saja yang tersisa. Mereka berdua terus berbincang tentang masa lalunya, hingga akhirnya Darto membuka sebuah percakapan yang cukup serius dengan temannya itu.


"Tok, bagaimana kalau kamu sama istrimu tinggal saja di rumahku," tanya Darto sembari menatap Anto dengan pandangan lurus.


"Memang kenapa, Dar?" tanya Anto sedikit mengernyitkan dahi.


"Sri sudah ditandai, Tok. Aku takut jika orang yang bunuh Ibuku mencelakai Istrimu," sambung Darto tertunduk.


Bagai tersambar petir. Dada Anto benar-benar sesak seketika, dia tertegun mendengarkan ucapan Darto yang terus menggema di dalam gendang telinganya. Detik itu juga, Anto benar-benar merasa khawatir dengan istrinya.


"Kamu jangan ngacok, Dar!" sergah Anto sedikit emosi, setelah mendengar pernyataan yang Darto lontarkan.


"Kamu sahabatku, Tok. Aku benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu dan juga keluargamu," ucap Darto sedikit sendu, sembari menepuk pundak Anto dan menatap mata Anto dengan wajah yakin.


Mendengar ucapan Darto, emosi Anto sedikit mereda, kemudian dia melontarkan sejuta pertanyaan malam itu juga. Hingga akhirnya dia mendapatkan cerita dari semua yang Darto alami selama ini. Dari cerita tentang asal mula wanita terkutuk tercipta, hingga teror yang keluarganya alami. Darto menceritakan itu semua secara urut dan rinci, hingga akhirnya Anto berhasil menyanggupi permintaan Darto untuk singgah di rumahnya.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2