
Mendengar penuturan pemuda di depannya, Darto seketika langsung mengangguk sembari berkata, "Sudah aku bilang, pasti akan kita tolong kalian semua jika kami mampu."
Mendengar ucapan Darto pemuda itu kembali bertanya, "Maaf sebelumnya, tapi ... Siapa nama kisanak?"
"Astagfirullah, maaf kami sudah tidak sopan karena belum memperkenalkan diri sama sekali. Saya Darto, ini Jaka, dan di belakang kami ini Maung dan Komang," sahut Darto sembari memperkenalkan diri dan yang lain.
"Baik, Mas Darto. Nama saya Arya, sekarang kita bisa mulai," sahut Arya itu kemudian mendekat dan duduk bersila di depan Darto.
"Apa yang akan kita mulai?" Darto sedikit kebingungan.
"Jika saya hanya menjabarkan, nanti kalian akan mengira jika itu hanya kebohongan. Lebih baik Mas Darto lihat sendiri apa yang terjadi pada pimpinan kami," sahut Pemuda itu kemudian berkata, "Maaf ...."
Setelah mengucap kata maaf, Arya memegangi kepala Darto menggunakan satu tangan. Dia mendekatkan kening Darto dengan miliknya, hingga kening mereka berdua beradu.
Sesaat setelah kening Darto dan Arya bersentuhan, Arya mulai mengucapkan mantra menggunakan bahasa yang sangat kuno, dia menyebut nama Darto di tengahnya, dan tiba-tiba tubuhnya menghilang bagai kepulan asap, sedangkan Darto langsung ambruk di depan ketiga teman perjalanannya.
Jaka, Maung dan Komang sedikit terkejut karena Darto tiba-tiba pingsan, namun rasa khawatirnya berlangsung mereda setelah dua orang tua Arya berkata jika anaknya sedang membawa Darto untuk melihat kejadian yang pernah mereka alami.
Mendengar penjelasan itu, akhirnya Maung, Komang dan Jaka langsung memasang wajah lega, dan sepakat untuk menunggu kepulangan temannya.
Di sisi lain, Darto dan Arya kembali menuju saat-saat terakhir Ki Gandar melihat warganya terbakar. Hal keji yang masih membuat hati Darto teriris, meski sudah dua kali dia melihatnya.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini, Arya?" tanya Darto dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Mari kita masuk," ajak Arya sembari melangkah menuju kobaran api.
Darto yang tidak mempunyai pilihan langsung menuruti permintaan Arya tanpa pikir panjang, dia melangkah di belakang Arya hingga mereka sampai di tengah tumpukan mayat yang tengah berkobar tanpa suara.
Selangkah demi selangkah Darto dan Arya melewati tumpukan mayat itu, hingga sampai di mana ada seorang lelaki yang masih berdiri tegap dengan pakaian yang sudah hampir sempurna terbakar. Lelaki itu tengah berhadap-hadapan dengan satu mahluk yang tidak asing di mata Darto, mahluk yang pernah Darto dan Jaka lihat, ketika memasukkan wajah mereka ke dalam kubangan atas permintaan Eyang Semar dulu. Dari situ bisa dipastikan jika lelaki itu tengah membicarakan satu permintaan terakhirnya sebelum tubuhnya terbakar sempurna, dia meminta pada sosok yang menjadi sesembahan musuhnya, untuk satu kepentingan miliknya.
Semakin mendekat, semakin jelas wajah lelaki yang tengah berdiri di depannya, Ki Gandar yang masuk paling akhir ke tumpukan mayat warganya, ternyata tidak ikut hangus menjadi bagian dari kejadian keji itu di masa silam. Dia tampak baik-baik saja, hanya bajunya saja yang mulai terkikis api hingga semua kain hampir habis di badannya.
"Bagaimana, Gandar?" Terdengar suara yang begitu besar mengucap kata tersebut, dia mencoba menawari sesuatu kepada ki Gandar.
"Sudah jelas, akan aku berikan apapun yang kamu minta, asal aku bisa membalas semua perlakuan yang keluargaku dan semua warga terima!" jawab Ki Gandar dengan tatapan yakin.
"Baiklah, sekarang balas lah semua orang yang berhubungan dengan Sendang Langit, jangan sisakan satu pun yang hidup, entah itu anak prajurit maupun kekasih yang belum mereka nikahi. Semakin banyak yang kau bakar, maka kita akan mendapatkan keuntungan yang sama. Aku mendapat jiwa mereka, dan kamu membalaskan dendam kalian. Sebagai imbalannya, jiwa warga milikmu tidak akan aku sentuh sedikitpun, itu bagian kamu," sahut sosok itu sembari menyeringai memampangkan barisan gigi yang sepenuhnya tajam.
Melihat Ki Gandar mengangguk, sosok itu langsung menggigit jari telunjuk miliknya, kemudian berkata, "Hadap ke atas, dan buka mulut kamu."
Ki Gandar langsung menurut, dia membuka mulutnya lebar-lebar kemudian membiarkan sosok buruk rupa di depannya menjulurkan jari di atas mulutnya. Dari luka bekas gigitan di telunjuk sosok itu, darah segar berwarna hijau menetes ke dalam mulut Ki Gandar.
Setelah tiga tetes darah miliknya masuk ke dalam mulut Ki Gandar, perlahan tubuh Ki Gandar menjadi merah merona. Semua tubuh yang sudah sepenuhnya tidak terbalut busana berubah menjadi begitu merah, semerah kepiting yang tengah direbus dalam air panas.
Dalam sekejap Ki Gandar langsung ambruk dan menggeliat di atas tumpukan mayat yang tengah berkobar, dia bahkan sampai mencekik lehernya sendiri yang terasa sangat terbakar. Perlahan tubu Ki Gandar menjadi semakin merah, dia terus berubah menjadi semakin cerah hingga akhirnya tubuhnya benar-benar menjadi sebuah bara yang menyala, namun meski begitu kesadarannya tidak meninggalkan tubuhnya sama sekali.
Ki Gandar menjadi sebuah sosok yang dikenal dengan sebutan Banaspati, dia bisa mengendalikan api sesuka hatinya dan tanpa pikir panjang dia berkeliling menyentuh setiap tubuh warga yang tengah terbakar.
__ADS_1
Setiap tubuh yang tersentuh oleh jemari Ki Gandar, seketika menjadi sebuah arang yang berkobar selayaknya tubuh miliknya. Setelah semua selesai disentuh oleh tangannya dia kembali menemui sosok yang sudah mendapat kesepakatan darinya sembari berkata, "Kembalikan jiwa mereka."
"Baiklah, ambil jiwa mereka. Tapi ganti dengan semua jiwa yang memiliki hubungan dengan sendang langit! Bahkan semua keluarga petarung yang tidak lulus menjadi raja, harus kamu serahkan tanpa sisa!" jawab sosok itu sembari menyentuh pundak Ki Gandar.
Setelah pundak Ki Gandar tersentuh, bagaikan terkena aliran sebuah air terjun yang sangat tinggi menerpa tubuhnya. Ratusan jiwa yang semula sudah diambil oleh sosok di depannya, secara paksa dimasukkan ke dalam tubuh menyala milik Ki Gandar.
Setelah menerima ratusan jiwa, kobaran pada tubuh Ki Gandar benar-benar membesar. Dia berubah menjadi bola api raksasa dan melambung tinggi setelahnya. Lalu Ki Gandar memecah tubuhnya menjadi delapan, kemudian menuju segala tempat yang memiliki hubungan dengan sendang langit.
Tempat pertama yang dia datangi adalah kerajaan itu sendiri, dia benar-benar membumi hanguskan segala yang ada di sana, bahkan sampai semut yang tinggal di bawah tanahnya juga ikut terbakar oleh amarahnya.
"Jadi? Kamu hanya ingin menunjukkan perjanjian itu?" tanya Darto setelah menyaksikan semua kejadian naas itu.
"Pegang tanganku, masih ada " jawab Arya sembari menjulurkan tangannya.
Darto langsung memegang tangan Arya, kemudian mereka berpindah menuju tempat yang juga sudah pernah Darto dan Jaka kunjungi sebelumnya. Dia dibawa oleh Arya menuju rumah Ki Gandar, di mana Ibu moyangnya masih menunggu kepulangan suaminya meski sudah seminggu lamanya tragedi itu terjadi.
Tampak raut wajah bersalah dari Ki Gandar yang tengah memperhatikan Istri dan kedua anaknya dari sudut ruangan. Ki Gandar benar-benar ingin berpamitan kepada istri dan kedua anaknya, namun tubuhnya sudah menjadi bagian dari penduduk alam sebelah.
Jadi ketika sesudah semua balas dendamnya terbayar, Ki Gandar hanya memiliki satu keinginan kecil di dalam hatinya. Dia inggin menyudahi semua kejadian duka ini, setelah berpamitan dengan istri dan anak-anak tercintanya.
Hingga hari ini, di mana Darto dan Jaka sampai di kampung yang berpindah ke alas ireng, Ki Gandar masih terus mengurung diri karena belum bisa mengucap kata perpisahan, bahkan setelah Istri dan anaknya mati.
Bersambung ....
__ADS_1