
"Ini dimana Kung?" tanya Darto setengah sadar karena baru bangun.
"Kamu sudah di rumah Kakung Dar,"
"Bukannya kemarin kita masih di hutan Kung?"
"Iyo Dar, Kamu pingsan sampai tiga hari, Kakung yang gendong kamu sampai sini," ucap Kakung menjelaskan.
'Apa benar selama itu? Aku hanya mampir ke rumah Simbah Wajana sampai sore, tapi disini sudah lewat tiga hari' gumamku dalam hai, sembari mengamati cincin yang kini sudah terpasang di jari tengah milikku.
"Kung, saya sebenarnya diajak Kakek Sastro penghuni kalung ini Kung, katanya buat mencegah pocong merah yang terus mengikuti kita, karena waktu itu Kakung tidur, jadi lebih aman kalau Darto ikut Kakek Sastro," penjelasan dariku di jawab anggukan kepala Kakung.
"Pantas Dar, Kakung cuma heran kenapa kamu tidur lama sekali. Pas Kakung bangun kamu sudah lagi rebahan di tanah, di tambah sosok pocong merah juga terus mengintai kamu Dar. Tapi Dar, untuk sekarang kamu sudah aman di sini," jawanya dengan pandangan ke atas mengingat apa yang sudah terjadi.
"Kung, Darto ketemu sama teman Kakek Penunggu kalung ini, dan Darto di beri ini, apa boleh Darto pakai terus Kung?" tanyaku sembari menunjukkan cincin yang tengah aku kenakan.
Seketika mata Kakung terbelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia bergegas bangun dan menarik lengan tanganku menuju ruangan sebelahnya.
"Lihat Dar lukisan itu," ucap kakung sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah lukisan besar yang menggantung di tengah ruangan.
Terlihat ada dua orang laki-laki bersorban dengan pakaian serba putih tengah duduk berdampingan di dalam lukisan itu. Satu orang sekilas mirip dengan Simbah Turahmin, dan seorang lainya mirip dengan Kakung, bedanya mereka lebih kurus.
"Ini siapa Kung?" tanyaku penasaran.
"Itu pendiri pesantren ini Dar, moyamgmu, dan juga moyang Kakung. lihat Dar tangan kanan orang itu," ucap simbah kembali menunjuk lukisan itu, mengarah ke pada salah satu orang di dalam lukisannya.
"Ah... kenapa ini mirip sekali?" ucapku terkejut ketika melihat cincin yang moyangku kenakan,bentuknya sama persis dengan cincin pemberian Mbah Wajana.
"Mungkin memang itu diwariskan ke kamu Dar, Kamu dapat dari siapa?" tanya Kakung kembali.
"Namanya Adipati Wajana Kung, tapi Darto di suruh manggil dia Simbah, Dia bilang kalau dia murid leluhurnya Darto"
"Hoalah, pantas saja, mungkin memang sudah takdirmu Dar, Kakung juga tau kalau kamu berbeda Dar" jawabnya dengan mimik lega.
"Karena kamu sudah bangun, cepetan sana mandi. Nanti Kakung ajak kamu keliling, sekalian Kakung kenalkan ke para santri," ucap kakung sembari menunjuk arah kamar mandi.
__ADS_1
Perintah Kakung langsung aky sanggupi, setelah itu aku langsung bergegas pergi. Tak butuh waktu lama, badanku sudah wangi, pakaian terbaik yang aku miliki pun sudah melekat di badanku. "Ayo Kung, Darto sudah ganteng ini hehehe," ucapku kepada Kakung yang masih duduk di ruang tengah, menunggu diriku bersiap sedari tadi.
Mendengar ucapanku, kita berdua bergegas meninggalkan ruangan untuk berkeliling pesantren milik Kakung. Mataku dimanjakan dengan bangunan-bangunan megah dengan tembok yang terbuat dari semen, dengan masjid yang begitu besar di tengahnya. Kata Kakung masjid itu untuk umum, orang pribumi juga memakainya, bukan hanya untuk para santri dan ustad disini. Banyak lagi tempat yang asing bagiku, seperti aula, tempat mandi dengan bak panjang dan pancuran air berjajar di sisinya.
Hingga akhirnya hampir semua tempat pesantren berhasil diperkenalkan oleh Kakung. Kini kita tengah berdiri di belakang pesantren, di depan sebuah pintu kayu yang di kunci dengan rantai besar dan gembok seukuran kepalan tangan.
"Ruangan apa ini kung?" tanyaku penasaran.
"Yah karena kamu juga bisa lihat, mari Dar, simbah perkenalkan kamu dengan penduduk belakang pesantren" Jawab kakung sembari merogoh kantong di bajunya, dia mencari kunci yang akan dia gunakan untuk membuka gembok di depannya.
"Krieeeeet" suara engsel yang sudah berkarat begitu nyaring di telinga ketika pintu itu berhasil Kakung buka.
"Lihat Dar, kamu bakal sering ketemu sama mereka selama kamu disini" ucap Kakung sembari menunjuk ke kerumunan orang yang tengah beraktivitas di sana.
wajah mereka pucat, kulitnya seputih kapas, mereka tengah belajar bercanda dan mengaji layaknya santri.
"Assalamu'alaikum pak Yai" ucap salah satu lelaki yang tiba-tiba muncul di depan kami dan meraih tangan Kakung kemudian mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsalam.. gimana? Sudah hafal berapa jus?" tanya Kakung hanya di jawab dengan garukan kepala.
"Halah kamu itu Le, pasti keseringan main sampai lupa belajar" Kembali Kakung berbicara.
"Enggak papa Le, yang penting jangan menyerah, aku juga nggak maksa kalau kamu nggak lanjutin lagi, toh yang dapat pahala juga kamu kalau sampai bisa hafal. Dir, kenalin Ini cucuku" ucap Kakung mencoba mengenalkan.
"Salam kenal, nama saya Kodir" ucapnya menyodorkan tangan hendak berjabat denganku.
"Saya Darto, salam kenal" ucapku dan bergegas menjabat tangan dingin miliknya.
"Pak Yai, Kodir pamit dulu, mau lanjut belajar" ucapnya kemudian pergi, menghilang bagai asap.
"Kamu lihat semua kan, Dar? selain Kodir?"
"Njih Kung, Darto lihat semua"
"Kamu harus tau, yang belajar di sini bukan hanya manusia Dar, banyak juga murid Kakung yang berasal dari Alam Sebelah" ucap kakung sembari menatapku lurus.
__ADS_1
"Yasudah Mari kakung perkenalkan kamu sama
seseorang yang juga tau semuanya Dar" sambung Kakung kemudian kita meninggalkan halaman belakang.
Setelah itu, kita berdua berjalan kembali menuju pusat pesantren. Dan setelah sampai di depan sebuah ruangan, Kakung menghentikan langkah kakinya.
"Nduk.. Nduk Harti.." panggil Kakung dari depan ruangan.
"Njih Pak Kyai..." jawab seorang wanita dari dalam ruangan, kemudian dia berlari menemui kami.
Setelah mengucap itu, dia keluar menemui kami. wanita itu benar-benar cantik, hidungnya Bangir, mulut tipis, mata sendu, dengan kulit putih, dan tingginya sama denganku.
"Ada apa Pak Yai?" tanya Harti sembari mencium punggung tangan Kakung.
"Kenalin Nduk, Ini cucuku namanya Darto" ucap Kakung mendorong bahuku agar cepat lebih mendekat kepada Harti.
"Nama saya Darto" ucapku sembari menyodorkan tangan hendak bersalaman.
"Nama saya Harti Mas" tidak menggapai jabatan tanganku dia hanya menyatukan kedua telapak tangan.
"Hilih, bukan mahram main ajak salaman aja kamu Dar... hahahaha!" tawa Kakung menyaksikan jabatan tanganku diabaikan.
"Kalian punya kelebihan sama, Kakung harap kalian bisa saling bantu, dan lebih dekat kedepannya" ucap Kakung kemudian meninggalkan kami berdua untuk berkenalan.
"Maaf, apa Mbak Harti juga bisa lihat mahluk halus?"
"Iya Mas, Saya juga lihat yang ada di cincin dan kalung yang Mas kenakan" jawabannya sedikit membuatku kaget, karena kalung yang aku gunakan bersembunyi rapi di balik bajuku.
"Apa sudah lama Mbak?"
"Sudah dari saya kecil Mas, Makanya orang tua saya mengirim Saya kesini" ucapnya dengan pandangan menyapu sekeliling area pondok.
"Ada apa Mbak? Kenapa terus melihat ke sana?" tanyaku sembari menunjuk arah kebun di samping tempat kami berbicara.
Dengan raut sedikit takut, dia mengintai kembali area sekeliling, kemudian berbisik lirih di depan telingaku.
__ADS_1
"Sejak Mas datang kesini, Saya sering lihat pocong merah Mas. Apa dia temen Mas?"
Bersambung,-