
Setelah cukup lama mengambang di udara, Maung dan Komang yang tengah membawa Darto serta Jaka akhirnya mulai bisa melihat satu titik terang. Mereka akhirnya bisa menyentuh tanah meski kaki mereka benar-benar patah ketika sampai di dasar jurang tersebut.
"Kalian sembuhkan dahulu luka di kaki itu, biar aku dan Jaka yang memastikan kondisi di sekitar," ucap Darto setelah melihat Maung dan Komang mengerang ketika mencoba berdiri.
"Apa tidak masalah jika kamu berjalan kaki?" sahut Maung segan.
"Kalian bisa mencari bau kami, Kan? tanya Darto memastikan.
"Bisa sekali. Kami berdua itu mahluk yang memiliki penciuman lebih tajam dibanding yang lain," timpal Komang sembari meringis menahan nyeri pada kaki mereka.
"Nah ... kalau begitu, biar aku dan Jaka berjalan terlebih dahulu, sepertinya tempat dia tinggal tidak jauh dari sini," ucap Darto kemudian melangkah menjauh dari Maung dan Komang.
Melihat Darto dan Jaka sudah melangkah, akhirnya Komang dan Maung langsung berubah wujud dan duduk bersila dengan wujud manusia. Mereka mengedarkan energi ke seluruh kaki mereka, untuk memulihkan luka yang mereka derita secara perlahan.
Semakin jauh Darto dan Jaka melangkah, kegelapan yang menyelimuti semakin terpampang lebih dan lebih pekat lagi. Mereka terus menapaki jalan menurun, hingga tanpa sadar mereka sudah masuk sangat jauh ke dalam tempat yang berbeda.
"Jak?!" panggil Darto untuk memastikan Jaka masih berada di dampingnya.
"Saya di sini, Kang," jawab Jaka sembari mencoba meraba, dan dia akhirnya berhasil menyentuh sesuatu yang ada di dekatnya.
"Kang?! Apa ini?" tanya Jaka setelah meraba benda tersebut. Benda yang ada di tangannya serasa licin, bagai sebuah benda halus yang dipenuhi lendir.
"Kamu bicara apa, Jak?" sahut Darto sembari mencoba menciptakan cahaya menggunakan korek api yang selalu dia bawa.
Sesaat setelah Darto menyalakan korek api berbahan minyak tanah di tangannya. Dari pancaran cahaya redup berwarna kekuningan tampak begitu jelas bentuk dari satu mahluk yang tengah Jaka pegang.
Wujudnya terlihat seperti manusia, namun dia memiliki postur yang begitu tinggi dengan badan yang begitu kurus. Sosok jangkung itu tengah mematung sembari menjulurkan lidah panjangnya, dengan tubuh yang seutuhnya tidak terbalut dengan kulit.
Badannya begitu merah menandakan warna darah segar, dengan setiap urat dan otot yang terpampang begitu kentara di sekujur tubuhnya.
Jaka yang terkejut langsung melepaskan telapak tangannya pada tubuh sosok tersebut. Dia menarik lengannya secepat mungkin, sebelum akhirnya menunduk dan memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
Sungguh perut Jaka dan Darto benar-benar sangat mual kala itu, mereka tidak menyangka akan disuguhi pemandangan yang sangat mengerikan seperti itu, meski mereka belum menemukan tempat tujuan dari perjalanan tersebut.
Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Darto mengusap bibirmu menggunakan punggung tangannya kemudian bertanya pada sosok itu, "Siapa kamu?"
"Kalian sudah ditunggu ...." jawabnya singkat kemudian berbalik dan melangkah menjauh.
Darto dan Jaka yang masih terheran tidak bisa menemukan alasan untuk tidak mengikuti sosok tersebut. Mereka secara terpaksa terus memandang pundak menjijikan milik sosok yang tengah menuntun jalan, agar mereka bisa sampai menuju tempat tujuan.
Untuk waktu yang cukup lama Darto dan Jaka berjalan di belakang sosok tersebut, hingga satu ketika mereka berdua kehilangan pandangan kepada sosok yang sudah seutuhnya dilumat kegelapan.
Namun meski begitu, Darto dan Jaka terus melangkah mengikuti jejak darah yang ditinggalkan oleh sosok penuntun mereka, jejak berbentuk kaki yang terbuat dari darah yang menggenang, di setiap tempat yang sudah diinjak oleh sosok tersebut saat dia melangkah.
Perlahan namun pasti mereka terus melangkah menurun, hingga akhirnya satu cahaya yang menyilaukan mulai bisa ditangkap oleh mata telanjang milik Darto dan Jaka dari kejauhan.
Darto dan Jaka sempat kebingungan untuk sesaat. Mereka saling beradu pandang atas rasa herannya, karena jika dipikir secara matang, mereka terus menukik turun sejak pertama datang ke dasar jurang. Namun saat ini di depan mata mereka benar-benar ada tempat yang sepenuhnya memiliki cahaya yang begitu terang.
Meski itu terasa sangat aneh, Darto dan Jaka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena pilihan yang mereka punya hanyalah masuk ke dalam tempat tersebut.
"Biar aku yang di depan, Jak," ucap Darto sebelum akhirnya masuk ke dalam lubang yang mirip dengan ujung goa.
Setelah mereka berdua memasuki lubang tersebut, satu pemandangan yang tersaji benar-benar jauh dari perkiraan mereka. Mereka bagai keluar dari dalam goa, dan melihat dunia yang sepenuhnya berbeda.
Yang ada di depan mata Darto dan Jaka adalah hamparan hutan yang sepenuhnya terisi rerimbunan pohon berdaun merah terang, dengan batang pohon yang berwarna seutuhnya merah padam.
Tanah yang terbentang di sepanjang mata memandang benar-benar berwarna coklat kehitaman. Hingga gambaran yang tersaji di dalam pikiran Darto dan Jaka langsung mengacu kepada darah.
Tempat ini benar-benar cocok dengan namanya, karena arti dari kata alas getih, tidak lain adalah hutan darah. Merasa tempat tujuan mereka sudah terpampang di depan mata, Darto dan Jaka kembali saling beradu tatap, kemudian melompat turun dari mulut goa, menuju tanah yang terletak cukup jauh di bawah kaki mereka.
Meski mulut goa itu terletak di tengah tebing yang cukup tinggi, Darto dan Jaka benar-benar mendarat dengan mulus. Mereka tidak mengalami cidera, maupun terkilir, karena posisi pendaratan mereka sempurna.
Tapi ... karena tanah yang ada di bawah kaki Darto dan Jaka sangat lembek, kaki mereka sampai terbenam hingga sebatas mata kaki, mengingat mereka melompat dari tempat yang cukup tinggi.
__ADS_1
"Ini darah, Jak!" teriak darto sedikit panik setelah menarik satu kaki miliknya dari tanah. Darto sedikit khawatir jika darah itu berasal dari kakinya, namun dia langsung merasa lega setelah memastikan kakinya baik-baik saja.
"Kakiku juga berdarah, Kang. Sepertinya tanah di sini dipenuhi darah," sahut Jaka sembari menunjukkan kaki miliknya. Kaki Jaka juga sama halnya dengan kaki Darto, ujung kaki mereka terlihat selayaknya tengah memakai kaos kaki berwarna merah, yang menutup hingga sebatas mata kaki mereka.
"Benar, Jak. Tanah disini berdarah," sahut Darto sembari meraih sejumput tanah di bawah kakinya. Dia menggenggam tanah tersebut untuk sesaat, dan setelah membuangnya bekas darah langsung tertinggal pada telapak tangannya.
Setelah cukup lama terheran, mereka akhirnya memutuskan untuk melangkah ke arah yang mereka pilih dengan asal. Karena mereka benar-benar tidak memiliki petunjuk sama sekali, tentang letak lokasi yang akan mereka datangi.
Darto dan Jaka benar-benar terus melangkah tanpa henti, mereka berjalan semakin masuk ke dalam hutan yang sempurna berwarna merah, hingga satu ketika mereka melihat satu sungai yang terbentang cukup lebar di depan mata mereka.
Sungai tersebut memiliki arus yang begitu kencang, dengan sebuah air terjun yang terbentang begitu tinggi di atasnya. Sungai tersebut juga berwarna merah, warnanya benar-benar seperti warna darah segar, dengan bau anyir yang terpapar jelas di udara.
Untuk sesaat Darto dan Jaka tertegun menyaksikan semua darah yang mengalir begitu deras di depan mata mereka. Dua sahabat itu sangat kebingungan dengan jumlah darah yang terpampang di depan wajahnya. Mereka bahkan sampai berfikir keras untuk menemukan jawaban dari mana tempat darah ini berasal.
"Jak ... bagaimana kalau kita ikuti sungai ini. Mungkin di ujung sana kita bisa melihat tempat darah ini berasal," usul Darto setelah cukup lama terhenyak.
"Aku ikut saja, Kang. Asal jangan diajak berenang di dalam sungai itu," jawab Jaka sembari bergidik ngeri.
"Siapa juga yang mau renang di tempat seperti itu, Jak?" timpal Darto sedikit mengejek.
"Itu ... mereka berenang tuh, di sana," sahut Jaka sembari menunjuk arus sungai.
Darto benar-benar menganggap Jaka sedang bercanda, namun ketika dia menoleh ke arah yang ditunjuk oleh temannya, satu pandangan yang mengejutkan kembali tertangkap oleh matanya.
Tepat di seberang sisi sungai dari tempat Darto dan Jaka berdiri, sekumpulan manusia tidak berkulit tampak tengah duduk berbaris di sepanjang tepian sungai. Mereka merendam bagian tubuh bawahnya ke dalam arus sungai dan membiarkan tubuh atasnya tetap berada di atas daratan.
Semua mahluk itu tampak menikmati hal yang tengah mereka lakukan, mereka bahkan sesekali meraup air merah di bawah tubuhnya, sebelum akhirnya membasuh wajah tanpa kulit miliknya menggunakan air tersebut.
Beberapa dari mereka ada yang meminumnya secara langsung, dan ada juga yang turun ke sungai untuk merendam seluruh badan hingga batas leher miliknya.
Setelah Darto dan Jaka memperhatikan mereka secara seksama, tiba-tiba satu hal mengejutkan datang kembali. Secara serentak mereka menoleh secara bersamaan, dan menatap dua sahabat itu dengan tatapan yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Satu persatu mahluk itu menyeringai secara bergantian, sebelum akhirnya mereka beranjak masuk ke dalam arus dan mulai berenang untuk menyebrangi sungai tersebut. Mereka berbondong mendekat ke arah Darto dan Jaka, dengan niat membunuh yang bisa dirasakan, bahkan sebelum mereka berhasil menyebrangi sungai tersebut.
Bersambung ....