
Darto kembali memimpin jalan, sedangkan lima temannya terus mengikuti arah yang Darto tunjukkan.
Mereka terus memasuki goa yang Darto pilih, karena setelah keluar dari goa, yang tampak selalu saja puluhan goa yang lainnya.
Hampir dua jam enam pria itu menelusuri jalan yang begitu panjang, goa demi goa terus mereka susuri, hingga sudah tidak terhitung lagi seberapa banyak goa yang sudah mereka lewati.
Untung saja, semua musuh penunggu goa benar-benar sudah mati, tidak ada satupun kehidupan yang dijumpai oleh enam lelaki tersebut.
Dampak serangan Darto tidak bisa dianggap remeh. Mungkin sudah berkilo-kilo meter mereka berjalan, namun mereka selalu saja menemui bangkai musuh yang sudah menjadi debu di atas tanah.
"Kamu yakin belum membunuh semuanya, Dar?" tanya Komang sembari melihat ke atas tanah. Dia terheran dengan tumpukan debu yang kian menebal, kian mereka masuk semakin dalam.
"Belum, ada dua tempat yang tidak bisa digapai energi milikku. Ada penghalang yang kuat disana, itu satu-satunya petunjuk jalan yang bisa aku rasakan," jawab Darto sembari menyeka keringat.
Darto dan Jaka benar-benar berkeringat, mereka bahkan merasa pengap. Semakin jauh mereka masuk, semakin susah untuk Darto dan Jaka bernafas.
Satu jam setelahnya, Darto menghentikan langkah kakinya, dia menatap dua mulut goa yang berdiri tepat di depan wajahnya sembari berkata, "Mulai dari sini, kita akan bertarung lagi."
"Ini tempat tujuan kita, Kang?" tanya Jaka.
"Iya, Jak," jawab Darto singkat.
"Lalu kita pilih jalan yang mana, Dar?" timpal Sastro.
"Yang kanan jalurnya pendek, Dar ... aku bahkan bisa melihat dinding di dalam," Maung memotong pertanyaan Sastro.
"Kalau begitu kita ambil kiri terlebih dahulu," jawab Darto.
"Kenapa kiri?" tanya Wajana.
"Mungkin musuh kita mengira jika kita akan memilih jalan yang pendek, tapi tidak untukku, setidaknya kita harus bunuh yang paling jauh dulu, agar energi milik pemilik goa ini bisa kita jadikan petunjuk arah untuk kembali," Darto menjelaskan.
"Brahmana berkata jika ada dua pemilik kamar, jadi kita harus menyisakan satu sebelum latihan usai, agar pemilik kamar nomor sembilan tidak menyadari apa yang sedang kita lakukan di dalam sini," sambung Darto kembali menjelaskan.
"Baiklah ... sekarang ayo cepat kita berangkat, Dar," pinta Maung.
Darto mengangguk, kemudian kembali memimpin jalan menuju goa sebelah kiri, dan hanya dalam beberapa ratus langkah saja, goa sebelah kiri juga menemui sebuah ujung.
__ADS_1
Di ujung terowongan goa terdapat sebuah tempat yabg begitu luas, ukurannya bisa disamakan dengan sebuah desa.
Di dalam ruangan tersebut terdapat puluhan gundukan tanah, dengan empat gundukan agak besar, dan satu gundukan yang sangat besar di tengahnya.
"Sastro ... Wajana ... Tolong kalian mundur sebentar, naik saja ke punggung Maung dan Komang," ucap Darto singkat.
Sastro dan Wajana langsung mengangguk, mereka melompat ke punggung Maung dan Komang, kemudian mereka berempat melesat mundur untuk kembali ke depan mulut goa yang terletak tidak terlalu jauh.
Setelah empat temannya pergi, Darto berkata pada Jaka, "Jak buat energi sepadat mungkin, lalu lempar ke gundukan paling besar itu."
Jaka mengangguk, kemudian menciptakan bola api seukuran bola tenis di atas telapak tangannya.
Jaka terus menyalurkan energi yang keluar dari telapak tangannya, menuju bola api yang kini sudah terlihat cukup padat.
"Segini cukup, Kang?" Jaka ragu.
"Belum, Jak. Tambah lagi," Darto meminta.
Darto benar-benar menurut, dia kembali menyalurkan energi yang terus mengalir dari dalam tubuhnya, menuju sebuah bola yang kini benar-benar terlihat siap meledak.
"Cukup, Jak. Sekarang lempar ke atas gundukan besar itu. Jangan lupa lindungi tubuhku juga dari dampaknya," pinta Darto sembari menciptakan busur panah chandrabha di tangan kanannya.
Bola api tersebut melambung sangat tinggi, dan menukik turun tepat di atas gundukan tanah yang begitu besar.
"Sekarang, Kang!" teriak Jaka sembari menciptakan sebuah kubah.
Darto tidak mendengar teriakkan Jaka, dia sangat fokus melihat lintasan bola api milik Jaka, sembari menarik anak panah sekuat tenaga.
Darto benar-benar berkonsentrasi kala itu, dia bahkan tidak berkedip meski keringat mengalir melewati bola mata miliknya.
Sepersekian detik sebelum bola api menyentuh atap gundukan besar, Darto melepas anak panah yang sudah dia tahan cukup lama.
Anak panah Chandrabha melesat lurus ke arah bola api, dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat menggunakan mata telanjang.
Kecepatan laju anak panah Darto benar-benar gila, bahkan waktu saat Darto melepas cengkeraman dan waktu ketika anak panah mengenai bola terasa sama, tidak ada selisih satu detik pun di antara dua kegiatan tersebut.
Tepat ketika ujung anak panah Darto menyentuh bola api milik Jaka, angin berhembus begitu kencang menyapu seluruh ruangan besar tersebut.
__ADS_1
Setelah angin kencang bak topan melanda, suara ledakan langsung terdengar begitu lantang. Udara seketika menjadi begitu panas, dengan tekanan yang sangat besar hingga mampu mengoyak tubuh siapa saja yang berada di area tersebut.
Darto dan Jaka benar-benar berdiri di tengah sebuah ledakan energi dahsyat, mereka berdiri bersebelahan di dalam sebuah kubah yang Jaka ciptakan.
Darto langsung melapisi kubah milik Jaka setelah melepas ajak panahnya, hingga mereka benar-benar merasa aman ketika dua lapis kubah energi menahan dampak dari serangan tiba-tiba yang mereka lancarkan.
Maung, Komang, Sastro dan Wajana hampir terhempas meski mereka berdiri jauh dari dua temannya.
Hempasan angin dan dampak ledakan sungguh mencapai mulut goa yang jaraknya lebih dari seratus meter. Untung saja mereka berempat tidak menolak permintaan Darto untuk sejenak menjauh dari ruangan di dalam.
Setelah dampak ledakan mereda, empat pria itu langsung melesat kembali ke arah goa, mereka berlari sekuat tenaga kemudian tercengang setelah melihat apa yang tengah mata mereka saksikan.
Tempat yang sama dengan tempat yang baru saja mereka tinggalkan, namun terlihat sangat berbeda dan tidak memiliki kesamaan sama sekali.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Maung khawatir sembari mendekat ke arah Darto dan Jaka.
"Ya!" jawab Darto dan Jaka serentak.
"Untung Kang Darto melapisi kubah, kalau tidak kita mungkin ikut terbakar," sambung Jaka kembali.
"Tapi gundukan itu benar-benar kuat. Mereka bahkan hanya runtuh sebagian saja," ucap Darto sembari menunjuk gundukan yang paling besar, dan juga empat gundukan lain yang masih tersisa setengah bagian saja.
Setelah menerima serangan gabungan Darto dan Jaka, lima gundukan itu tidak sepenuhnya hancur, meski puluhan gundukan yang lainnya sudah rata dengan tanah.
Kepulan asap berwarna hitam benar-benar keluar dari setiap puing-puing gundukan yang sudah hancur, namum tidak untuk lima gundukan yang masih berdiri di depan enam pria tersebut.
Perlahan sebuah kaki keluar dari salah satu gundukan berukuran sedang. Sebuah kepala menyusul setelahnya hingga kemudian lima penghuni gundukan keluar hampir secara bersamaan.
Darto dan lima temannya langsung memasang posisi sigap, mereka saling membentuk senjata menggunakan energinya masing-masing, kemudian saling bertatap untuk sejenak.
Saat ini, Darto dan lima kawannya tengah berhadapan dengan satu ekor ratu rayap yang memiliki kepala kecil dan tubuh yang begitu besar hingga terlihat sama sekali tidak selaras dengan ukuran kepala, beserta empat penjaga yang memiliki kepala lebih besar dari tubuhnya.
Akankah pertarungan berjalan mudah?
Atau mereka bahkan harus mengeluarkan segalanya?
Mari kita tunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Bersambung ....