
Setelah sampai di samping air terjun, Darto bergegas mencari tempat dirinya menaruh barang bawaannya. Dia juga berharap bahwa bisa melihat Mbah Turahmin di sana. Namun sayang tidak ada siapapun dan juga benda apapun yang tergeletak di tepian sungai tersebut. Sungguh Darto harus kembali menelan rasa kecewa atas harapan yang dia punya.
"Kamu cari apa, Kang?" tanya Wajana penasaran, setelah melihat Darsa berlari.
"Tidak, Jan. Saya hanya memastikan sesuatu," ucap Darto sengaja menutupi. Kemudian kembali menuju tempat Sastro dan gadis itu tengah berdiri.
"Dar, kamu tau nggak? kenapa curug ini di kasih nama Maheswari?" tanya Sastro sedikit tersenyum, sembari menatap mata Darsa di depannya.
Mendengar pertanyaan itu, tidak ada seorang pun yang tau jawabannya, selain Sastro mereka menggeleng kepala berjamaah, sebagai isyarat tidak tahu.
"Maheswari itu artinya Bidadari, Dar. Dulu pernah ada orang nyasar di hutan, saking tidak tau arahnya dia jalan kaki sampai sini. Anehnya pas dia sampai sini, ada tuju bidadari yang lagi mandi, makanya sejak saat itu curug ini di beri nama curug Maheswari" ucap Sastro sembari sedikit tersenyum.
"Apanya yang lucu? kenapa senyum-senyum terus?" ucap Darto di dalam tubuh Darsa, dia heran dengan tingkah lelaki di depannya.
"Semoga besok mereka pada mandi, Dar. Biar kita bertiga bisa ngintip bidadari tanpa busana, ha ha ha ha!" Sastro terbahak, disambut gelak tawa ketiga teman perjalannya.
"Nduk... Sekarang kamu berendam saja di situ, tapi kalau terlalu dingin, kita tunda besok pagi saja, nanti kamu jadi sakit malah repot si Darsa," ucap Sastro kembali, sembari menatap gadis di sebelahnya. Tanpa sepengatahuan Darto, Sastro tengah berkedip kepada gadis di depannya.
Setelah mendengar ucapan dan melihat tingkah Sastro, gadis itu terpaksa mengangguk, meski sebenarnya gadis itu sudah tidak sabar ingin merendam badan miliknya, agar cepat sembuh dari segala penyakit yang menyerang kulitnya. Namun apa daya, dia dipaksa untuk kembali bersabar menunggu matahari menampakkan kegagahannya.
Malam itu berlalu begitu saja, Darto langsung menyandarkan punggungnya di batang pohon yang tumbuh di tepi sungai, tidak butuh waktu lama hingga akhirnya dia terlelap setelah bersandar.
"Nduk, mumpung Darsa tidur, kamu celupkan dulu kakimu di sungai! Cepat!" bisik Sastro di barengi anggukan kepala Wajana. Mereka menyuruh gadis itu segera membasuh kakinya dengan air yang mengalir di depan mereka.
__ADS_1
"Cuma kaki?" bisik gadis kembali bertanya.
"Iya! kalau Darsa tau syarat kesembuhan kamu, dia pasti bakal marah!" bisik wajana dengan terus memandang arah Darsa alias Darto tertidur.
"Memang apa syaratnya?" kembali gadis itu berbisik.
"Nanti kamu tau sendiri! pokoknya cepat masukkan kaki kamu ke kali!" paksa Sastro sembari sedikit mendorong tubuh gadis penuh nanah di depannya.
Mendengar paksaan mereka berdua. Sang gadis langsung menurutinya tanpa fikir panjang. Dia bergegas berjalan menuju kali, kemudian memasukkan ke dua kaki miliknya ke dalam arus.
"Lalu apa lagi yang ha...." ucap gadis itu terhenti, dia kebingungan dengan Sastro, Wajana dan juga Darsa yang sudah hilang Dari tempatnya. Dia benar-benar tidak bisa melihat mereka semua di tempat semula.
Bermaksud hendak mencari ketiga teman perjalanannya, gadis itu langsung mengangkat kakinya dari dalam air. Sayangnya dia tidak bisa, ada sesuatu yang menahan pergelangan kakinya dari dalam air, sehingga dia hampir terjatuh dibuatnya.
"Apa permintaanmu?"
Bisikan itu begitu jelas terdengar di telinga sang gadis, namun matanya tidak bisa menangkap sumber suara itu berasal dari mana. Gadis itu benar-benar bingung dibuatnya, hingga dia tidak bisa berkata-kata sama sekali.
"Hei! kau tuli?!" ucap bisikan itu kembali, disusul arus sungai di beberapa bagian berubah haluan, riak air mulai tampak menciptakan ombak kecil yang tak beraturan.
Tidak lama setelah arus sungai menjadi aneh, sosok ular hitam yang sangat besar muncul dari dalam air, ular itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, hingga melebihi kepala Gadis di depannya. ular itu benar-benar terlihat sangat panjang, meski tubuh belakang miliknya masih terendam di dalam air.
Dengan tatapan merendah, ular itu terus memperhatikan bentuk tubuh gadis di depannya. Sesekali dia tertawa melihat penyakit yang di miliki gadis itu, bahkan dia juga sempat mencela.
__ADS_1
"Sssttt Gadis yang malang, aku bisa memberimu kulit yang bagus dan juga wajah yang menawan, tapi ada syaratnya. ssssttt!" ucap ular hitam tanpa membuka mulutnya, dia terus menjulurkan lidahnya dan juga mendesis.
Ular itu kini menurunkan kepalanya, hingga sejajar dengan kepala gadis di depannya. Kini wajah ular bertatapan langsung dengan wajah gadis buruk rupa sembari berkata, "Jika kamu tidak menjawab, lebih baik aku makan jiwamu sekarang juga sssttt,"
Mendengar ancaman itu, sang gadis langsung memaksa bibirnya yang kelu, dia berusaha sebisa mungkin agar bisa membuka suara. Sungguh dia benar-benar ketakutan hingga sekujur tubuhnya serasa tidak bisa mengikuti kemauannya.
"A ap apa syaratnya?" jawab sang gadis terbata, meski suasana malam ini sangat dingin, ditambah kakinya terendam air, keringat tetap mengucur dari pelipis hingga menetes di dagu wajahnya.
"Tubuhmu! ssttt," jawab sang ular sembari mulai melingkar dan melilit tubuh pelan tubuh gadis di depannya sembari terus mendesis.
"Tenang saja, kamu tidak akan mati. Jika kamu terus memberiku makan, maka tubuh itu akan tetap akan menjadi milikmu," sambung sang ular, kini dia mulai mengencangkan lilitan di tubuh Gadis tersebut.
"Baik! argh!" jawab sang gadis sembari kesakitan, lilitan sang ular benar-benar hampir meremukkan seluruh tulang di badannya.
"Tenang saja, aku hanya akan bersemayam di dalam tubuhmu, beri aku makan jiwa manusia, maka akan aku beri kecantikan serta umur yang tak akan habis dimakan usia. Tapi, ingat! jika sampai kamu tidak memberiku jiwa, jiwamu yang akan aku ***** seutuhnya!" ucap sang ular, lalu melepas lilitannya dan masuk ke dalam air sungai kembali.
"Rendamlah tubuhmu hingga pagi, biarkan anak-anakku masuk kedalam tubuhmu terlebih dahulu. Dan satu lagi, untuk selamanya kamu tidak diperbolehkan berwudhu dan juga menikah," suara ular itu kembali terdengar, meski tubuhnya tidak terlihat lagi.
Menyanggupi permintaan sang ular. Gadis itu langsung merendam hampir seluruh badannya di dalam air, dia duduk bersila dan memejamkan mata hingga arus menenggelamkan sebagian badan sebatas leher. Perlahan arus kembali berubah, yang semula sungai di penuhi air, kini berubah menjadi arus yang di penuhi ular kecil berwarna hitam yang bergerombol bergerak menuju tempat yang sama. Ribuan anakan ular datang dari segala penjuru arah, mendekati gadis yang tengah berendam, kemudian masuk melalui setiap lubang yang ada di dalam tubuh sang gadis.
Malam itu, Tanpa Darto ketahui, kedua temannya menjalankan sebuah muslihat, sedangkan sang gadis juga membuat perjanjian jiwa dengan mahluk yang tak kasat mata.
Bersambung,-
__ADS_1